
Tidak terasa sudah satu minggu lamanya sejak pengumuman tentang renang itu terpasang di mading, sekarang semua anak kelas XI sudah berada di halaman depan sekolah menunggu kedatangan bis yang mengantarkan mereka ke kolam renang.
Sekolah ini memang rutin mengadakan praktek renang tiap 2 bulan sekali. Dari 6 kelas yang ada, sekolah hanya menyewa 4 bus. Alhasil ada 2 kelas yang harus terpaksa berpencar masuk ke bis kelas lain.
Beruntung kelas Xl IPS 2 bergerak cepat jadinya satu kelas itu bisa dapat jatah satu bis dan anak sekelasnya tidak terpecah ke sana sini.
"Ehh tolong ambilin ikat rambut di tas gue dong." pinta Letta yang sedang mencoba mengikat rambutnya.
Mira yang duduk di sebelahnya segera membuka tas Letta dan mengambilkan ikat rambut seperti yang Letta minta.
"Nih," Mira menyerahkan ikat rambut yang ia ambil.
"Makasih ya." kata Letta sembari menguncir rambutnya jadi satu dan mengikatnya kencang.
Mira menggeser bokongnya lebih dekat ke Letta. Lalu ia berbisik. "Ngomong-ngomong kita gak apa-apa nih duduk di sini?"
Letta yang baru selesai dengan acara mengikat rambutnya mengernyit. "Emangnya kenapa?"
Mira memberi isyarat dengan mengarahkan dagunya ke depan.
Letta berdiri melihat ke arah yang di tunjuk oleh Mira. Benar saja temannya ini bertanya seperti itu, rupanya di depannya ini duduklah dua orang cewek yang hobinya dandan, semprot parfum sana sini. Dan bukan hanya di depannya saja, ketika ia mengedarkan pandangan matanya ke samping dan belakang, yang dapat Letta lihat itu anak-anak cewek yang masih dalam satu tipe.
Suka sekali dandan, membawa make up kemanapun mereka pergi, dan jangan lupakan bau parfum mereka yang sangat menyengat karena selalu semprot parfum ketika dirasa baunya sudah hilang. Padahal baunya masih sangat melekat. Entahlah Letta heran hidung mereka semua itu terbuat dari apa hingga tak mencium bau parfum sendiri yang rasanya sudah melebihi batas kewajaran. Pikir Letta sih mungkin mereka menghabiskan satu botol parfum untuk sehari.
Letta menatap Mira ngeri sambil menggigit bibir bawahnya. "Terus gimana dong."
Mira terlihat berpikir. "Kalau lo mau, kita ke belakang aja."
"Tapi di belakang tempat duduknya sudah penuh semua." desah Letta begitu melihat ke arah belakang yang mana sudah penuh semua.
Bukan tanpa alasan kalau ia tidak mau duduk di tempat itu. Alasan terbesarnya adalah karena dirinya yang tidak bisa tahan dengan bau-bauan yang wangi. Apalagi ditambah di dalam bis. Letta ini tipe anak yang bisa mabok kendaraan kalau mencium bau menyengat seperti parfum.
Perutnya akan secara otomatis mual-mual dan kalau terlalu lama bisa sampai mabok. Maka dari itu Letta ingin sekali pindah agar tidak berdekatan dengan anak-anak yang suka dandan ini.
"Bentar, gue coba cari anak siapa tahu ada yang mau tukeran." Mira bangkit dari tempat duduknya. Tapi gerakannya terhenti ketika mesin bisnya tiba-tiba menyala. Dan tak lama setelahnya masuklah gerombolan anak-anak dari kelas lain yang kelasnya harus berpencar. Jalan Mira untuk ke belakang juga sudah penuh dengan anak-anak.
Semua itu tidak luput dari mata Letta. Cewek itu menghela nafas pelan.
"Ya udahlah, kita di sini aja. Gue gak apa-apa kok." kata Letta berusaha tenang.
"Tapi..."
Mira menghadap Letta dengan perasaan bersalah. Letta tahu itu dan ia tidak suka kalau Mira menatapnya seperti itu.
"Lo gak usah ngerasa bersalah deh. Gue kuat kok. Lagian gak lama kan sampai ke kolam renangnya." Letta meraih tangan Mira lalu meremasnya pelan, berusaha membuat Mira percaya kalau ia akan baik-baik saja.
Mira kemudian mau tidak mau mengangguk. Ia takut kalau Letta tidak kuat karena perjalanan dari sekolah ke tempat renang tidak sebentar seperti yang Letta katakan, perjalannya sampai satu jam. Mira berdoa saja semoga Letta bisa kuat sampai tempat tujuan.
Setelah guru pengampu pelajaran olahraga masuk kedalam bis dan mengabsen satu persatu siswanya, bis pun bergerak meninggalkan sekolah. Kebanyakan anak memilih untuk tidur selama di perjalanan walau tidak sedikit juga yang bermain hp sembari menunggu bis sampai ke tujuan.
Tak terasa sudah setengah jam perjalanannya, tinggal menunggu setengah jam lagi hingga sampai ke kolam renang.
"Ya ampun, panas banget. Bedak gue kan jadi luntur gini."
Letta yang sedang terdiam sambil memandang ke luar jendela bis menolehkan kepalanya ke samping. Dilihatnya seorang perempuan yang duduk berseberangan dengannya sedang sibuk melihati cermin.
"Lo bawa bedak kan? Sini gue minta. Sama parfumnya sekalian, baju gue kena keringet nanti gak wangi lagi." anak perempuan yang sedang Letta lihati tampak meminta sesuatu ke teman yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Letta mendumel dalam hati, mau ke kolam renang saja pake acara bedakan. Bukannya nanti juga langsung ilang kalau kena air. Jadi buat apa coba.
"Nih parfumnya,"
"Okee, makasih."
Letta masih bisa mendengar percakapan dua orang anak itu dan kali ini dari lirikan matanya ia mendapati kalau si anak yang meminta bedak dan parfum tadi sudah mendapatkan barang yang tadi ia minta.
Sedetik kemudian anak perempuan itu menyemprotkan parfumnya ke seluruh bagian badan, baik itu depan, belakang, kanan maupun kirinya. Naasnya, waktu ke bagian kiri yang mana itu bagian Letta, anak itu menyemprotnya sampai beberapa kali karena parfumnya sudah rada kosong makanya mencoba menyemprotnya berulang-ulang.
Kening Letta mengernyit dalam ketika hidungnya menangkap bau aneh yang tak lain adalah bau parfum itu. Ughh.... Ia sebal sekali akan hal ini. Mau melarang juga tidak bisa, semua orang kan punya hak mau ngapain aja.
"Ehmm..." Mira menggeliat dalam tidurnya ketika hidungnya mencium bau yang menyengat.
"Ada apa sih, kok baunya gak enak banget." Mira membuka matanya dan refleks langsung menutup hidungnya pakai tangan.
"Ya Allah, nih anak tampilannya lebih cocok jadi temen emak gue daripada jadi temen gue. Muka udah tebel sama bedak gitu masih aja mau ditebelin." Mira menggerutu kecil ketika matanya menangkap seorang cewek yang duduk di seberangnya sedang memakai bedak.
Rupanya, cewek itu cewek yang sama dengan yang Letta lihati tadi. Setelah memakai parfum sebanyak mungkin, kini cewek itu sedang pakai bedak.
"Ra..." panggil Letta dengan lirih.
Mendengar Letta memanggilnya, Mira terkesiap kaget. Astaga, ia bahkan lupa dengan kehadiran Letta walau hanya untuk sesaat. Mira khawatir bagaimana yang dirasakan Letta saat ini.
"Kenapa, Ta? Lo sakit?" tanya Mira cemas. Kini ia sudah duduk menyamping menghadap Letta.
"Baunya nyengat banget." ujar Letta yang sedang menutupi hidungnya dengan telapak tangan.
***
Alex menggerakan jemarinya lihai di atas handphone, rupanya ia sedang mengganti lagu yang ia putar dan dengarkan lewat earphone. Tadi lagu yang terputar itu Nightmare milik Avenged Sevenfold, tapi karena rasanya tidak cocok dengan suasana saat itu makanya ia ganti jadi Dear God.
"Mau?" Galih duduk di samping Alex dengan membawa satu bungkus kacang sukro.
Alex yang mendengar tawaran Galih segera melepaskan earphonenya sebelah.
"Apa?" tanyanya singkat.
Galih menyengir lebar ketika tangannya ke atas menampakan sebungkus sukro ke Alex.
"Ngepet ke mana lo? Tadi kan lo gak bawa begituan." Alex terkekeh.
Lagi-lagi Galih menyengir. "Gue minta sama anak kelas lain, gak tahu namanya siapa. Anaknya pendek, item pula. Tinggal ancem aja kalau gak mau ngasih jajan ya goodbye, gue turunin di di tengah jalan. Dan begonya dia percaya."
Alex tertawa keras lalu menonjok bahu Galih. "Harusnya lo ajak gue sekalian biar bisa dapat lebih banyak."
Galih ikutan tertawa. "Oke, lain kali gue bakalan ajak lo."
"Ini lo mau gak?" Galih menyorongkan bungkusan kacang sukro itu ke Alex.
"Nanti aja, belum laper."
"Kalau lo maunya nanti, keburu habis nih jajan." Galih mulai memasukan kacang sukro itu ke mulutnya.
"Makan aja semuanya."
Alex memasang kembali earphone yang tadi ia lepas. Pikirannya kini sudah melayang akan kenangannya dulu di sekolah sebelumnya. Dulu ia juga suka seperti itu, malak siswa lain dan memberi ancaman yang tidak-tidak dan selalu berakhir siswa itu dengan begonya percaya.
__ADS_1
Alex tersenyum simpul ketika mengingatnya. Ia jadi rindu suasana sekolahnya dulu yang dekat dengan teman-teman satu gengnya dan bisa berpacaran dengan cewek-cewek cantik. Berbeda dengan sekolahnya yang sekarang. Ia sudah tidak bisa berbuat seenaknya, dirinya harus mampu bisa menjaga sikap.
Bukankah kalau ia berlaku baik, itu artinya ia akan lebih cepat untuk kembali ke kota. Ya, Alex ingin sekali kembali ke rumahnya yang dulu. Semuanya di kota serba enak daripada di desa. Di kota sinyalnya penuh dan kuat, berbeda di desa yang sedikit dan lemot. Kalau dulu dirinya kalau mau internetan bisa pakai sarana wifi yang terpasang di rumahnya, sekarang ia malah harus menumpang ke rumah Letta.
Ahh, Letta. Memikirkannya membuat Alex seketika ingat kalau ia belum melihat cewek itu lagi semenjak keduanya pisah saat tadi sampai di sekolah. Mereka masih berangkat bersama dan pulang bersama dengan sepeda. Tidak ada yang berubah sama sekali.
Alex jadi berpikir dimana cewek itu duduk, pikirnya sih jauh di depan sana karena Alex tidak melihat tanda-tanda Letta di sekitarnya.
"Alex."
Alex mengernyit heran, tidak mungkin kan disaat ia sedang memikirkan seseorang, ia bisa mendengar suara orang itu. Mungkin ini semua hanya halusinasinya.
"Alex."
"Gue pasti udah gila." Alex menutup mata dan menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba mengusir suara Letta yang masuk ke telinganya.
"Alex."
Tiga kali. Iya, tiga kali ia mendengar suara itu. Ingatkan Alex nanti untuk memeriksakan telinganya siapa tahu ada yang bermasalah karena suara halusinasi itu terasa sangat nyata.
"Alex."
Alex malah terkekeh dan melepaskan kedua earphonenya. "Gue--"
Ucapan Alex terhenti ketika dari sudut matanya melihat sesosok yang tadi sedang ia bayangkan. Dia Letta. Cewek ini sudah berdiri di samping tempat duduknya Galih dan Galih juga sudah berdiri. Otomatis tempat duduk itu kosong.
"Kenapa?" Alex menaikkan sebelah alisnya.
Letta menggigit bibir bawahnya bingung. Tadi ia memang dipaksa oleh Mira untuk pindah ke belakang. Awalnya ia tidak mau dan menolak dengan tegas, tapi nyatanya ia tidak kuat bertahan lama-lama di depan sana karena bau parfum yang berhasil membuatnya mual. Alhasil di sinilah ia sekarang dengan Mira, berusaha mencari siapa yang mau tukeran tempat duduk dengannya.
Begitu Mira melihat Alex, tanpa mau mencoba meminta tukar dengan nak lain, Mira menyeret Letta menemui Alex.
"Kok diem?" Alex menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
Letta yang hendak menjawab terhenti karena sudah didahului oleh Mira.
"Letta sakit dan gak bisa lama-lama duduk di depan. Jadi gue mau minta sama lo buat tukeran tempat duduk."
Alex mengedarkan pandangannya ke Letta. Wajah cewek itu memang sudah putih pucat. Mungkin dia memang sedang sakit. Tapi kenapa harus meminta ke Alex.
"Kenapa harus tukeran sama gue? Kenapa gak sama yang lainnya aja?"
"Karena lo kan temennya gue sama Letta. Please, gue minta tolong banget sama lo, kalau minta sama anak lain belum tentu mereka mau--"
Ucapan Mira terhenti karena Alex memotongnya di tengah-tengah.
"Emang lo pikir gue mau gitu?"
Galih yang melihat interaksi hanya diam melihat bagaimana kelanjutanya nanti. Tadi saat ia sedang enaknya makan kacang sukro, Mira datang dan membisikkan sesuatu padanya yang intinya meminta tukeran tempat duduk.
Letta yang sudah geram dengan basa basi Alex dengan kesal menjatuhkan badannya ke tempat duduk bekasnya Galih.
"Apa sih susahnya tukeran doang." pekik Letta lumayan keras cukup membuat teman sekelasnya yang lain terganggu.
Letta tidak peduli perutnya yang sudah terasa mual dan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang setelah memekik tadi. Sialan...
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi bus sambil memejamkan mata. Rasanya sungguh sudah tidak enak, ia ingin cepat-cepat sampai dan keluar dari busnya.
__ADS_1
Mira dan Galih melongo melihat Letta. Mira yang akan berkata agar Alex pindah segera ditahan oleh Galih. Galih memberikan tatapan biarin-aja-mereka-berdua. Seakan keduanya satu pikiran, Galih menarik tangan Mira agar pergi meninggalkan Alex dan Letta yang sudah duduk di bangku yang sama.