Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 55


__ADS_3

Setelah mengungkapkan perasaannya, Alex menurunkan tangannya dari pipi Letta, membawanya kembali ke tangan cewek itu. Sekarang tangannya yang hangat sudah melingkupi tangan Letta kembali.


"Gue gak tahu akan seperti apa hubungan kita nanti ke depannya, bisa saja kita menjadi musuh bebuyutan. Kalau bukan, mungkin kita bisa jadi teman, pacar, atau rekan kerja, suami-istri juga bisa jadi, atau mungkin malah tidak kenal sama sekali. Tapi, walaupun begitu, setidaknya gue udah pernah jujur mengenai perasaan gue dan tidak akan menyesal di kemudian hari." kata Alex sekali lagi.


Letta sendiri tidak bisa mengeluarkan suaranya. Mulutnya terasa kelu bahkan untuk mengatakan satu kata sekalipun. Bibirnya membuka untuk mengatakan sesuatu tetapi tidak ada apa-apa yang keluar. Pernyataan Alex tadi benar-benar mengejutkannya. Mengguncang dirinya sampai ke titik yang paling dalam. Dalam mimpinya sekalipun, Letta tidak pernah bermimpi kalau Alex akan membalas perasaannya bahkan sampai mengatakan secara langsung kepadanya. Semua ini masih terasa seperti tidak nyata.


"Letta." panggilan Alex membuat Letta mengerjap dan kembali ke dunianya. Ia menatap tepat ke mata Alex, berusaha mencari kebohongan atau kilat jahil di sana, tetapi betapa keras Letta mencari, semua itu tidak ada. Yang ia lihat di sana hanya kejujuran dan ketulusan. Perutnya mencelos begitu menyadari kalau Alex tidak bercanda mengenai perasaannya tadi.


Letta tidak bisa menahan perasaan senang yang membuncah di hatinya. Kemudian tanpa aba-aba ia mulai menitikkan air matanya kembali, namun bedanya kali ini air mata yang keluar karena bahagia.


"Letta, lo kenapa?" tanya Alex bingung melihat reaksi Letta. Ia kira Letta akan berseru senang atau tersenyum bahagia, tetapi cewek ini malah menangis. Hal itu tentu saja membuatnya dilanda rasa takut. Bagaimana kalau Letta sudah tidak suka lagi padanya, maka dari itu cewek ini menangis.


"Please ucapin sesuatu." pinta Alex. Tetapi bukannya menjawab, Letta malah semakin terisak. Astaga, Alex membuat cewek ini menangis lagi dan tangisannya semakin keras.


Tiba-tiba saja Letta menarik tangannya dari genggaman Alex. Hal itu tentu saja membuat pikiran-pikiran aneh mulai berseliweran di kepala Alex. Dirinya sudah membayangkan yang tidak-tidak. Teringatnya kembali kalau Letta pernah bilang sudah benci padanya, apa mungkin jangan-jangan Letta sudah tidak mau menerima perasaannya ini.


Alex menggelengkan kepalanya, Letta tidak seperti itu. Di dalam sana Alex merasa frsutasi, merasa ia bisa gila kalau Letta tidak kunjung membuka suara dan membuatnya terus bertanya-tanya. Dilihatnya Letta kembali dan sekarang Alex menjadi pihak yang terkejut karena ia baru menyadari kalau Letta sedang... Tertawa?


Letta tertawa sambil menyeka air matanya yang terus keluar. Setelah selesai, kedua tangannya menangkup pipinya yang sudah bertambah merah dari sebelumnya. Campuran antara hasil menangis dan gugup. Sampai dirasa cukup dan sanggup bicara, Letta membuka mulutnya dengan malu-malu.


Alex tidak sadar kalau dirinya menahan nafas selama menunggu Letta bersuara.


"Bodoh." bisik Letta lirih sekali namun Alex masih bisa mendengarnya. Hanya satu kata itu akan tetapi Alex paham maksud di dalamnya. Dan itu membuat Alex tersenyum lebar layaknya orang idiot.


"Gue tahu, gue memang bodoh."


***


Setelah pengakuan Alex tadi, keduanya sudah tidak merasa malu atau takut dengan perasaannya masing-masing. Sekarang mereka bahkan sudah duduk bersebelahan di pasir pantai yang kering sambil melihat ke arah pantai ditemani dengan semilir angin yang adem.


Alex merasa bahagia sekaligus lega karena telah jujur ke Letta. Percayalah, rasanya akan menyenangkan sekali bisa mengungkapkan isi hati ke orang yang kita suka. Seakan-akan tali tak kasat mata yang menjeratmu selama ini terlepas sudah hingga membuatmu bisa bernafas lega dan bebas. Kalau saja Alex tahu rasanya akan seperti ini, sudah ia katakan saja rasa sukanya ke Letta sejak jauh-jauh hari.


Berterima kasihlah ia kepada Fabian yang sudah mendorongnya sampai ke titik ini. Bahkan kalau boleh jujur ide membawa Letta ke pantai ini ide dari temannya itu. Awalnya Alex hanya mau meminta tolong ke Indra dengan memberikan surat ke Letta lewat Indra. Tapi ketika Fabian mengetahui rencananya, ia malah dikatain bego dan goblok. Berakhirlah dengan Fabian yang merancang semuanya. Alex awalnya tidak mau dengan ide Fabian karena ia merasa tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Letta mengingat apa yang sudah ia lakukan ke cewek itu. Namun Fabian terus mendorongnya dan mengatakan berbagai ceramah percintaan yang entah darimana bisa dipelajari temannya itu sampai akhirnya Alex menurut dan mau mengikuti ide milik Fabian.


Pikiran Alex mengenai dirinya dengan ide Fabian terhenti ketika dirasanya Letta menyandarkan kepala ke bahunya. Ia menoleh ke Letta dan mendapati pipi Letta merona namun Alex tidak akan berkomentar apa-apa yang takutnya akan membuat Letta mengangkat kepalanya lagi karena malu. Biarlah seperti ini, Alex merasa sangat nyaman.

__ADS_1


Letta sendiri sedang membasahi bibirnya dahulu sebelum akhirnya bertanya dengan pelan. "Dia sudah berapa bulan?"


Sedetik Alex merasa badannya jadi kaku. Ia menoleh sebentar ke Letta dengan terkejut. Beruntung Letta sedang memfokuskan diri menghadap ke bawah jadi tidak melihat ekspresi wajahnya.


"Lo gak masalah kalau kita bahas ini?" tanya Alex karena ia takut Letta akan menjadi tidak nyaman dengan topik itu. "Lo gak perlu maksain diri. Gue gak mau kalau masalah ini buat suasana kita sekarang berubah jadi buruk."


"Enggak." Letta menggeleng sebagai jawaban. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa dan kuat. Bagaimanapun ia harus mendapatkan beberapa penjelasan dari Alex. Daripada ia berspekulasi sendiri, bukankah lebih baik menanyakannya saja secara langsung ke orangnya dan menghadapi kenyataan yang ada.


Alex menarik nafasnya terlebih dahulu. Baiklah kalau Letta merasa bahwa itu tidak masalah, lagipula cewek ini berhak tahu yang sebenarnya. Alex berdehem sebelum menjawab. "Sekarang sudah lima bulan." ucapnya.


Letta terdiam seakan menghitung. "Itu sebelum---"


"Sebelum gue pindah ke desa." sambung Alex. "Letta, asal lo tahu kehidupan gue di kota dan di desa itu jauh berbeda. Lo boleh bilang gue bukan anak baik-baik karena itu memang kebenarannya. Gue juga dipindah sama bokap gue ke desa juga gara-gara masalah Mona ini."


Letta nampaknya kurang setuju karena ia mengernyitkan dahi begitu Alex selesai bicara. "Gue gak berniat bilang lo bukan cowok baik-baik. Karena setahu gue, Alex yang gue kenal itu tidak seburuk itu. Mungkin masa lalu lo memang buruk, tapi gue cuma kenal Alex yang sekarang, bukan Alex yang dulu."


Alex mendengus geli mendengar pernyataan Letta tentang dirinya. Ia menoleh ke Letta dan dengan satu gerakan, ia menarik hidung cewek iti hingga si empunya memekik kesakitan.


"Sakit tahu ih..." Letta mengusap hidungnya lalu ia menegakkan badannya lagi membuat Alex merasa kehilangan.


Letta tertawa karena Alex-nya kembali lagi. Suasana di antara keduanya juga jadi lebih santai daripada sebelumnya. Ia mendorong bahu Alex dengan pelan. "Apaan sih."


Keduanya pun tertawa lepas bersama. Tidak sampai satu menit, Alex lah yang pertama kali berhasil meredakan tawanya. Untuk kesekian kalinya ia mengambil satu tangan Letta lalu menggenggamnya. Di posisi mereka ini dengan tangan bertautan, Letta jadi berpikir, mirip foto-foto relationship goal aja.


"Letta, gue jadi gak tahu harus menyesal atau malah bersyukur, gue bingung." aku Alex.


Letta memberikan Alex pandangan bertanya sehingga Alex kembali melanjutkan.


"Gue bersyukur karena dengan adanya masalah ini gue jadi pindah sekolah dan bisa kenal sama lo. Gue jadi tahu gimana rasanya suka sama cewek. Selama ini gue penasaran dengan orang yang pacaran di sekolah, gue ingin tahu gimana rasanya kalau jadi mereka. Semenjak itu gue jadi sering nekat dan mencoba sesuatu sama cewek. Gue kira gue bakalan rasain apa itu cinta dengan mereka semua. Tapi selama ini gue gak bisa rasain itu sampai akhirnya gue bisa rasain itu di diri lo, Arletta Zachary."


Jantung Letta rasanya melompat-lompat sendiri mendengar penuturan Alex. Ia menatap ke arah tangannya yang digenggam Alex. "Gue mau dengar bagian menyesalnya."


Alex mendesah kasar. "Gue menyesal karena harus dengan cara ini gue bisa ketemu sama lo. Gue menyesal dengan semua hal buruk yang udah gue lakuin di masa lalu gue. Coba aja gue ketemu lo gak dengan cara seperti ini, mungkin nanti cerita kita akan lain."


Dengan tangan satunya lagi yang bebas, Letta meletakannya di atas tangan Alex lalu mengusapkannya. "Yang penting sekarang lo harus berubah. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kita gak mungkin bisa mengulang waktu buat bisa rubah masa lalu agar lebih baik, karena yang ada hanyalah merubah diri sekarang untuk lebih baik lagi untuk masa depan. Karena yang bisa dirubah itu masa depan, bukan masa lalu."

__ADS_1


"Terima kasih karena lo masih nerima gue setelah apa yang udah gue lakuin ke lo."


Letta terdiam. Ia kemudian bertanya pertanyaan yang paling ingin ia tanyakan sejak tadi. "Kalau lo nanti balik ke kota, apa lo mau nikahin cewek itu?" tanya Letta yang gagal menyembunyikan suaranya yang sedikit bergetar.


Dengan terpaksa Alex mengangguk mengiyakan. "Gue harus bertanggung jawab atas apa yang udah gue lakukan di masa lalu. Gue rasa lo setuju kan sama gue?"


Tidak. Gue gak setuju!!! Gue mau lo tetap di sini. Di samping gue.


Namun jawaban itu tidak mungkin pernah Alex dengar karena Letta mengatakannya di dalam hati. Ingin sekali Letta menjawab seperti itu dan membuat dirinya seegois mungkin dengan meminta Alex tetap di sisinya sedangkan di sana sudah ada yang lebih membutuhkan Alex.


"Gue setuju." jawab Letta bohong.


Ia membenamkan wajahnya lagi ke bahu Alex dan menghadap ke bawah. Untaian rambutnya yang terlepas dari ikatan jatuh ke depan wajah sehingga cowok itu tidak akan dapat melihat betapa ia sebenarnya terluka dengan semua ini.


"Lo gak apa-apa?" tanya Alex khawatir pasalnya ia merasa ada yang aneh dengan Letta.


"Gak apa-apa. Gue setuju dan dukung lo bertanggung jawab juga."


Gak. Gue gak setuju. Gue gak mau liat lo sama dia!


"Bukankah memang itu yang dilakukan oleh cowok sejati." bisik Letta pada akhirnya sambil menahan tangis. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak sampai terisak kembali. Rasanya menyakitkan membayangkan orang yang kita sukai bersanding dengan cewek lain. Apalagi kalau sudah sampai ke tahap pelaminan. Rasanya seperti ada yang mencekiknya kuat-kuat hingga sesak dan tidak bisa bernafas.


Nyatanya Alex juga merasakan apa yang Letta rasakan. Ia tetap diam di tempatnya tanpa ada niatan untuk melihat ke arah Letta karena ia tahu sekali saja ia melihat wajah cewek itu sekarang, Alex pasti tidak akan kuat. Bisa-bisa ia memberontak kepada keadaan dan menolak untuk tanggung jawabnya yang akhirnya memilih untuk menjadi brengsek yang mengutamakan kesenangannya sendiri.


Dialihkannya pandangannya ke arah lain kecuali ke Letta. Hanya itu saja yang Alex butuhkan sekarang. Dipejamkan matanya sampai dirinya berangsur merasa tenang kembali. Sungguh rasanya begitu nyaman saat ini di posisinya sekarang.


Kalau saja.. Kalau boleh... Kalau bisa, semua ini jangan sampai berakhir.


Yang Alex inginkan hanya saat-saat seperti ini.


Hanya dia.


Hanya Letta.


Hanya mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2