Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 2


__ADS_3

Mulmed : Letta


Happy Reading ...



Satu sekolah gempar mengetahui kepindahan dari Roby, cowok terbandel yang sudah dikenal seantero sekolah. Catatan kriminalnya bahkan memenuhi buku pelanggaran siswa. Tak sedikit juga anak yang takut padanya, apalagi adik kelas Roby yang sering ia palak alias minta uang dengan cara paksa.



Kalau menolak, jangan harap akan selamat dari Roby karena ia bakal membuat perhitungan dengan semua anak yang mencoba melawannya. Ia tidak pandang bulu mau cewem atau cowok akan ia kasih perhitungan yang sama.



Salah satu contoh kegilaan yang pernah ia lakukan adalah menggantung tas milik salah satu siswa di tiang bendera dengan keadaan tas sudah terbuka lebar dan entah kemana isinya, atau memasukan sepatu siswa ke dalam kloset sekolah lalu meninggalkannya begitu saja.



Dengan hukuman gila seperti itu siapa coba yang tidak takut akan sosok Roby. Hingga puncaknya adalah saat Roby memfoto seorang siswi cewek yang sedang berganti baju di wc dan menempelkan foto itu di mading sekolahan. Wajah si cewek memang tidak terlihat jelas karena diblurkan dan juga sebenarnya ia baru membuka tiga kancing atas.



Namun sial bagi Roby karena rupanya si cewek ini orangtuanya cukup berada. Dirinya yang tidak terima tentu melaporkan kasus ini atas dasar pencemaran nama baik dan pelecehan seksual. Walaupun Roby akhirnya bebas dan hanya mendapat surat peringatan dari pihak berwajib, tetapi untuk sekolah, ia terpaksa harus pindah.



Sekolah sebenarnya belum mengeluarkan Roby apalagi mengingat hubungan pemilik sekolah dengan ayah Roby yang cukup baik jadi membuat Roby selalu selamat. Tapi takdir berkata lain, ayah Roby lah yang memindahkan Roby ke sekolah lain berharap sikap anaknya itu berubah.



"Hei, Letta, jadi si Roby itu beneran mau pindah sekolah?" tanya Almira atau biasa dipanggil Mira, dia teman sebangku Letta.



Sepertinya Mira baru tahu soal ini karena ia baru berangkat sekolah. Kemarin ia sakit jadi tidak bisa berangkat makanya ia ketinggalan berita. Memang kemarin Roby bilang ia akan pindah, dan sekarang waktunya ia pamitan. Mungkin sekedar basa-basi meminta maaf atas semua kelakuannya selama ini.



"Heem, dengernya sih gitu. Tadi kalau gue gak salah denger si Agus ngomong kalau Roby mau pindah ke pondok pesantren." ujar Letta yang tadi sempat mendengarkan percakapan Agus dan Roby ketika di kelas.



"Pondok! Ya ampun?! Apa gak salah tuh anak masuk pondok?!" Mira tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.



Letta malah dibuat mengernyit melihat tanggapan Mira. "Iya, pondok pesantren. Emang apa salahnya, Ra? Kan malah bagus jadi kelakuannya bisa lebih baik, jadi lebih dewasa lagi, gak kekanak-kanakkan terus." kata Letta.



Mira mengusap matanya yang basah sebelum mulai bicara. "Gue yakin tuh anak satu bakalan susah berubah jadi baik, secara jiwa nakalnya udah mendarah daging. Susah banget loh ngerubah kebiasaan yang udah melekat banget di diri kita." Mira sekarang memilih menopang dagunya di atas meja.



Kali ini Letta mengiyakan. "Iya juga sih, apalagi nakal itu udah jadi makanan dia sehari-hari. Tapi gue yakin dia bakalan bisa berubah suatu hari nanti, entah itu sekarang, besok atau lusa. Karena nakal itu bukan bawaan dari lahir, tapi cuma kebiasaan. Dan kebiasan itu bisa dirubah. Kalau nanti Roby membiasakan diri sama hal-hal yang baik di pondok, gue jamin dia bakalan lupa sama kebiasaan buruknya selama ini." kata Letta panjang lebar.



Mira pun setuju. "Semoga aja begitu. Dan semoga juga gak bakalan ada Roby-Roby lainnya di sekolah kita."



"Roby-Roby lainnya?" Letta mengernyitkan kening tak dapat menangkap maksud perkataan Mira.



"Maksud gue semoga gak ada cowok lain yang senakal Roby lagi di sekolah kita. Biar sekolah kita adem ayem, damai dan tentram, begitu, Mbak Letta." Mira dengan sengaja meledek Letta dengan menambah embel-embel mbak di akhir kalimatnya.



"Ya udah gak ada lah, secara yang nakal disini juga cuma Roby. Kalaupun ada cowok nakal lainnya juga gak seburuk Roby. Mereka masih dalam batas wajar."



Lalu keduanya diam. Baru beberapa detik, Mira sudah bicara lagi. Kali ini ia bicara dengan semangat dan antusias. "Oh iya Ta! Bicara soal Roby, bukannya lo dulu juga pernah jadi korban bulinya dia kan?"



"Kapan ahh, gak pernah kok." elaknya.



"Iiih pernah dulu. Jangan diilang-ilangin. Bukannya itu salah satu momem yang paling lo ingat, ya kan?" goda Mira sambil menjawil bahu Letta.



Letta pura-pura menampik tangan Mira sambil cemberut. "Ternyata lo punya ingatan yang kuat juga. Padahal gue pikir lo gak ingat."



Letta jadi teringat waktu lalu. Roby memang pernah sekali mengerjainya. Dulu saat Letta sedang kebelet pipis dan akan masuk ke dalam wc, tapi malah saat pintu terbuka, tubuhnya terguyur air satu ember besar dari atas. Iya, Roby yang menaruh ember itu di atas sana dengan beberapa ikatan dari tali rafia yang Letta tidak tahu sama sekali bagaimana cara mengikatnya jadi saat ia buka pintunya secara otomatis airnya tumpah ke bawah.



Tapi karena keadaan waktu itu sangat mendesak, Letta menghiraukan gelak tawa Roby dan gengnya di luar sana. Ia tetap masuk ke toilet dan melanjutkan acara buang air kecil yang sudah tak dapat ia tahan lebih lama lagi.



"Lo cuma dikerjain sama dia satu kali doang yah, Ta?"



Letta mengangguk mengiyakan karena memang benar hanya sekali itu saja Roby menganggunya.


__ADS_1


"Mungkin dia gak tertarik buat ngerjain gue lagi karena gue ngacuhin dia waktu itu. Coba aja kalo gue waktu itu koar-koar gak jelas dan marah sama Roby pasti dia bakalan seneng dan bakalan terus ngerjain gue lagi. Jadi saat gue diam aja pasti dia mikir gue ini anaknya gak asik buat dikerjain. So, dia gak deketin gue lagi. Kesimpulan gue sih kayak gitu."



"Atau jangan-jangan Roby suka sama lo."



Letta tersedak ludahnya sendiri begitu mendengarnya. "Jangan ngaco deh." jawab Letta singkat.



"Ya kan ada kemungkinan loh, Ta. Secara lo cantik gitu, bisa aja si Roby suka sama lo."



"Lo ngomong gitu sekali lagi besok jangan duduk sama gue lagi." ancam Letta yang tidak didengarkan Mira.



"Tapi kalau gue jadi lo gue mau kok kalau tiba-tiba Roby nembak gue. Dia sebenernya kan cakep banget, cuma kelakuannya aja yang buruk atau bahasa kerennya sih bad boy gitu."



"Tapi gue heran, Ra. Kenapa cewek pada sukanya sama cowok jenis bad boy gitu. Kebanyakan juga kalau cowok kayak gitu sukanya mainin hati perempuan. Udah tahu mereka playboy tetep aja suka. Giliran sakit hati dibilang brengsek. Gue heran kalau udah kayak gitu yang salah siapa."



"Haduh, ngomong sama lo mah selalu beda. Gue heran otak lo itu terbuat dari apa sampai pikiran lo selalu beda sama kebanyakan anak cewek lainnya." keluh Mira.



"Harusnya tuh lo jangan nanya gue, tanya tuh si Roby sebelum dia pulang dari sekolah. Tanya otaknya kebuat dari apa sampe seneng banget njahilin anak satu sekolah."



Mira mencibir, temannya ini memang sangat berbeda sama anak lain. Tapi itu justru yang membuatnya betah berteman dengan Letta. Merasa tidak ada bosannya ngobrol dengan Letta, ya walaupun seringkali meteka selisih paham karena berbeda pendapat tapi bukankah itu yang membuat pertemanan mereka semakin erat kan.



Mengingat nama Roby tadi membuat Mira teringat akam sesuatu.



"Ta, tapi lo pastinya ingat kan siapa yang nolongin lo waktu itu." Mira tersenyum penuh arti ke arah Letta



Letta pura-pura saja tidak paham. "Nolongin gue? Emang ada?" Letta menaikkan satu alisnya ke atas.



"Iya, pangeran berkuda put--oke lebay, maksud gue cowok yang nolongin lo pas dikerjain sama Roby dulu."




"Letta, kenapa baju lo basah semua?" tanya cowok itu begitu melihat Letta yang bajunya basah kuyup.



"Gak apa-apa. Tadi gue jatoh di wc terus nyemplung ke bak jadi basah deh." jawab Letta dengan cengiran lebarnya berharap cowok di depannya ini percaya dengan alasan yang ia buat spontan.



"Ta, gue udah kenal lo dari lama. Dan gue tahu kalau sekarang lo bohong sama gue."



"Gue gak bohong kok, gue emang tadi--"



"Jujur sama gue, Ta." tegas cowok itu.



Inilah sifat yang tidak sukai Letta dari cowok itu, selalu saja tahu kapan dirinya berbohong. Lalu Letta akhirnya mengatakan alasan kenapa bajunya basah semua.



"Ini baru Letta yang gue kenal. Gue mau lo jujur sama gue, Ta. Kalau ada anak lain yang jahilin lo, lo harus bilang ke gue. Jangan buat gue khawatir, oke?"



"Iya." ujar Letta pelan. Jantungnya sudah berdebar kencang ketika bilang kalau ia tidak boleh membuat cowok ini khawatir.



"Sekarang lo bisa pakai seragam gue kalau lo mau." Yang Letta tahu setelahnya, cowok itu langsung mengambil tangan Letta untuk menerima seragam cowok itu yang masih kering. Berbeda jauh dengannya yang basah.



"Gak bisa gitu, Ham."



"Ta, gue memaksa." tegas cowok itu.



"T--tapi nanti lo pake apa?" ucap Letta terbata. Bukan karena seragam ini yang membuatku terkejut sampai gerogi seperti itu. Melainkan karena ia melihat pemandangan dada bidang cowok itu tepat di hadapannya.


__ADS_1


Si cowok hanya memakai kaos dalaman tipis berwarna putih menunjukan otot kekarnya yang sudah mulai berisi karena rajin olahraga tentunya, dan dia tepat di depan Letta dengan jarak tak lebih dari satu meter. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Letta saat ini. Detak jantung yang sudah tidak karuan lagi, dan juga kakinya yang terasa sangat lemas rasanya mau meleleh.



"Gue masih ada kaos rumahan atau kaos olahraga di tas. Kebetulan pelajaran nanti gurunya kosong jadi gue bisa pakai salah satunya dan lo yang pakai seragam ini. Tapi kalau lo gak mau pake punya gue, ya gue juga gak bakalan pake apapun sampai pulang nanti."



"Jangan gitu dong, Ham, gue masih bisa pakai seragam gue sendiri. Lagian gak apa-apa, cuma basah sedikit." sedikit dari Hongkong lanjutnya dalam hati.



"Lo milih pakai atau gue yang bakalan tetep kayak gini selama sekolah sampe pulang." tekan cowok itu.



"Ham..."



"Ya udah kalau lo milih gak mau make seragam gue. Lo bisa buang aja ke tempat sampah." cowok itu membalikkan badannya tapi sebelumnya Letta sudah mencekal lengannya hingga cowok bernama Hami itu berhenti.



"Oke kali ini gue nurut, akan gue pakai."



Merasa tak punya pilihan lain akhirnya Letta menyetujuinya untuk memakai seragam Hami yang kebesaran untuk badannya yang mungil ini.



"Begitu dong, nurut sama gue." ujar Hami sambil mengacam rambut Letta dengan lembut.



"Ciee... mbayangin apa sampe pipinya merah-merah kayak terong." ledek Mira membuyarkan lamunan Letta tentang kejadian hari itu.



Letta juga tersentak kaget karena rupanya tadi ia memang mengingat akan Hami.



"Apaan sih, Ra." ia kesal karena ketahuan sedang berpikir ke sana, ke kejadian yang dulu. Tapi tak ayal, pipinya memunculkan semburat warna merah.



"Sampe blushing gitu." Mira menoel-noel kembali pipi Letta yang segera ditepis Letta sedetik kemudian.



"Lagian lo sih pake ungkit-ungkit segala kan gue jadi ingat dia lagi." Letta mengerucutkan bibirnya ke depan beberapa senti.



"Ingat cowok yang disukai juga gak salah kali, Ta. Hami juga gak bakalan ngelarang lo buat ingat kebersamaan lo sama dia kok." jelas Mira.



"Tapi kalau gue ingat terus kayak gini gue semakin susah move onnya dari dia, Ra." ucap Letta lirih.



Letta memang cewek korban gagal move on. Ia kira selama ini cintanya bukan cinta bertepuk sebelah tangan tapi ternyata takdir berkata lain, cowok itu suka dengan perempuan lain hingga akhirnya pacaran dan Letta hanya bisa mengibarkan bendera putih ke atas alias mengalah dan mundur secara perlahan.



Ini nih gak enaknya cinta bertepuk sebelah tangan, jatuhnya tuh selalu sakit. Entah itu sakit karena perhatian dia yang kita anggap sebagai sesuatu yang lebih atau sakit ketika melihat dia akrab sama cewek lain. Serba salah.



"Sok-sokan mau move on, mau pacaran aja gagal mulu." Mira malah tertawa lumayan keras sehabis mengatai Letta sebelum langsung membungkamnya cepat-cepat.



Untung saja kelas sedang sepi karena sedang jam kosong yang kebanyakan anak lain akan habiskan bermain main di luar kelas entah itu ke kantin, main di lapangan atau sekedar mencari tempat wifi yang cepat yang sekiranya tidak banyak yang pakai jadi tidak lola alias loading lama.



Sedangkan Letta, ia semakin kesal begitu kata itu terucapkan dari mulut Mira. Sedetik kemudian ia segera memukuli bahu Mira dengan kedua tangannya. Mira mengaduh kesakitan mencoba menghalangi tangan Letta yang akan memukulnya lagi.



"Sekali lagi lo bahas itu gue patahin tulang lo terus gue masukin ke kolam lele Pak Ujang mau?!" Letta melotot ke arah Mira yang sedang mengusap bahunya nyeri akibat pukulan maut ala Letta.



"Iya, tahu. Lo juga gak perlu mukulin gue segala. Ntar kalau bahu gue cidera terus gak bisa gerak lagi gimana? Lo mau tanggung jawab hah?"



"Lebay lo. Orang gue mukulnya gak keras-keras amat. Lagian lo yah, badan tuh diisi daging bukan tulang doang." sekarang tinggal Letta yang meledek Mira karena badannya yang kurus. Tidak kurus-kurus amat sebenarnya, malah terliat ideal di mata Letta. Tapi Mira selalu bilang kalau ia terlalu kerempeng jadi cewek, alhasil hal itu dijadikan bahan ledekan oleh Letta.



"Daripada lo, gak badan gak otak sama hati isinya Hami semua." Mira menjulurkan lidahnya ke arah Letta sebelum melesat pergi karena Letta sudah mengejarnya secepat kilat dengan muka merah padam.



"MIRAAAAA?!"



__ADS_1


__ADS_2