
Tepat tiga jam yang lalu Ajibrata baru saja pulang dari kunjungannya ke sekolah Alex. Kemarin siang ia mendapat surat panggilan untuk orang tua dari sekolah Alex dan siang tadi ia sudah memenuhi panggilan tersebut.
Kali ini dirinya hanya tinggal menunggu Alex yang sudah ia perintahkan untuk datang ke ruang kerjanya untuk membicarakan perihal hasil panggilan tersebut. Sambil menunggu Alex datang, Ajibrata atau yang kerap dipanggil Aji itu mulai menyesap kopi hitamnya lagi yang tinggal setengah gelas hingga tandas. Ia sudah bilang pada Alex agar menemuinya jam delapan malam, namun sekarang sudah jam delapan lebih tiga puluh menit Alex tidak menampakkan batang hidungnya juga.
Seharusnya Aji tahu kalau anak laki-lakinya itu pasti akan mengulur waktu. Sudah menjadi kebiasaan Alex kalau ia tidak suka tepat waktu. Di samping Aji sudah ada Dinda, istrinya sekaligus tak lain adalah mamanya Alex. Dinda sendiri sudah diberitahu oleh Aji mengenai hasil panggilan tadi. Minus masalah terakhir yang Alex buat yang membuat putusan sekolah tadi dibuat. Aji tentu saja tidak tega mengatakannya pada Dinda yang sangat sayang pada Alex. Ia tidak bisa melihat raut kecewa dan sedih Dinda kalau sampai mendengar masalah itu.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang Aji yakini itu Alex.
"Masuk." perintah Aji keras agar yang di luar bisa mendengar suaranya.
Benar saja, kepala Alex menongol terlebih dahulu sebelum kemudian tubuhnya berangsur masuk ke dalam.
"Duduk." perintah Aji begitu melihat Alex yang masih berdiri tidak kunjung duduk.
Alex ogah-ogahan mendudukan bokongnya di sofa tepat di depan kedua orangtuanya. Ia tentu saja tahu pasti ayahnya akan mengajaknya bicara tentang hasil panggilan sekolahnya tadi walaupun sang ayah tidak memberitahunya perihal apa pembicaraan mereka kali ini.
"Kamu tentu tahu bukan kalau papa tadi siang dari sekolah kamu?" tanya Aji dengan mimik serius. Ia hendak memulai pembicaraan ini sekarang juga.
Alex hanya bergumam mengiyakan. Ia sebenarnya malas sekali untuk bicara seperti ini. Bukankah ia tidak bisa dikeluarkan begitu saja dari sekolah itu. Lalu kenapa juga ayahnya memintanya untuk berbicara mengenai hasil panggilan itu. Biasanya juga kalau Aji dipanggil, tidak akan ada pembicaraan seperti ini. Bahkan biasanya mamanya juga tidak akan ikut dipanggil. Jadi kesimpulan Alex kali ini ayahnya terlalu berlebihan sampai memanggil mamanya segala untuk ikutan.
"Papa rasa kamu belum tahu tentang hasil panggilan tadi jadi papa berniat untuk memberi--"
Ucapan Aji terhenti karena Alex segera menyela di tengah.
"Aku sudah tahu kok, Pa. Tanpa papa beritahu juga aku sudah tahu hasilnya. Jadi papa tidak usah repot-repot mengatakannya ke Alex." ujar Alex dengan santai.
Mendengar perkataan Alex yang bilang sudah tahu mengenai hasilnya membuat Aji mengerutkan keningn tak suka melihat reaksi Alex yang ternyata biasa saja. Ia kira Alex akan marah-marah tapi ternyata dia tenang-tenang saja seperti sekarang. Dan darimana Alex tahu, Aji pikir kalau Anjar yang sudah mengatakannya ke Alex.
Aji memandang Alex tajam. "Kamu tidak marah sama sekali? Tidak merasa bersalah?"
Alex sebenarnya dibuat bingung oleh tatapan ayahnya. Namun ia berusaha tetap biasa saja dan tetap santai. Ia lalu mengibaskan tangannya seraya berkata, "Buat apa marah, Pa. Lagian harusnya aku kan berterima kasih sama paman karena udah menolong Alex sekali lagi."
"Menolong kamu?" Dinda yang tadi hanya diam sekarang membuka suaranya. Ia tidak terlalu mengerti dengan apa maksud Alex, apa benar kakaknya itu menolong Alex lagi. Tapi menolong apa?
"Iya, paman sudah banyak membantu ketika aku ada masalah di sekolah dan tidak mengeluarkanku walaupun banyak sekali laporan tentang Alex. Dan yang pasti walau aku sudah banyak merepotkannya tapi paman tidak pernah mengurangi kasih sayangnya, bukan? Dia paman yang sangat hebat." Alex terkekeh.
Dinda menggeleng mendengar penuturan Alex. Selama ini dirinyalah yang merasa tidak enak pada Anjar karena kelakuan anaknya di sekolah membuat Anjar kerap kali mendapat musuh di sekolah karena memperlakukan Alex berbeda dan tak sama seperti anak lainnya alias pilih kasih.
Dinda mencoba melirik ke Aji. Namun tampaknya suaminya itu sedang menahan sesuatu, yang mungkin adalah amarahnya, jadi Dinda berinisiatif untuk yang melanjutkan pembicaraan ini dengan anaknya itu.
"Lalu apa setelah kamu tahu hasilnya, kamu tetap berterima kasih sama paman kamu, Al?" sekali lagi Dinda bertanya pada Alex.
"Tentu saja, Ma. Bukannya sudah barang pasti kalau aku harus berterima kasih pada paman." Alex berpikir sesaat. "Kira-kira enaknya ngasih apa ya sebagai ucapan terima kasih ke paman." gumamnya.
Dina akan menanyakan hal lain namun Aji mengisyaratkan dengan tangannya agar Dima berhenti dahulu.
Kali ini Aji yang angkat bicara. "Jadi dengan kata lain kamu senang dikeluarkan dari sekolah, benar begitu Alexis Ajibrata?" tanya Aji dengan sengaja menekan setiap katanya. Ia juga sengaja mengucapkan nama lengkap Alex.
Alex tidak bisa langsung mencerna perkataan Aji. Keningnya mengernyit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sang ayah. Dicoba untum mengumpulkan dan mencernanya satu persatu. Jadi-dengan-kata-lain-kamu-senang-dikeluarkan-dari-sekolah-kamu.
__ADS_1
Tunggu dulu, sepertinya otak lemot Alex lah yang bekerja kali ini. Ia tidak bisa mencerna kata itu dengan baik. Alex berpikir kalau otaknya sudah terkontaminasi banyak micin jadi lemot seperti sekarang. Ayolah, disaat otaknya sedang dibutuhkan kenapa tidak bisa bekerja dengan baik. Alex mencoba mengingat kalimat terajhir yang diucapkan Aji. Dikeluarkan-dari-sekolah-kamu.
Sedetik kemudian wajahnya berubah pias begitu mendapat maksud dari perkataan Aji. Dikeluarkan. Astaga, apa itu artinya ia dikeluarkan dari sekolahnya. Begitukah?
Aji dapat melihat wajah Alex yang memucat dan dapat menarik kesimpulan kalau tadi Alex tidak tahu apa-apa tentang hasilnya. Bocah yang satu ini memang suka sekali menebak dan mengambil kesimpulan sendiri tanpa mau mencari kebenarannya dulu, pikir Aji.
"Jadi aku dikeluarkan?" tanya Alex dengan suara tercekat. Ia masih tidak percaya dengan itu semua.
"Iya, kamu dikeluarkan dari sekolah, puas kamu?" hardik Aji.
Dinda berusaha menenangkan Aji dengan mengusap punggungnya dengan lembut. "Pa, sabar, Pa. Jangan terlalu keras sama Alex. Papa kan tahu sendiri kalau dia---"
"Ini gak lucu! Kenapa aku bisa dikeluarkan coba! Pasti paman gak bantuin kan, iya kan?!" tanpa sadar Alex berdiri dan membentak di depan orang tuanya. Hal yang sangat-sangat jarang terjadi.
"Jaga ucapan kamu Alex! Tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu apalagi di depan orang tua kamu sendiri. Dan juga jangan pernah kamu salahkan Anjar atas semua ini. Dia juga sudah membujuk semua orang agar memaafkan kamu lagi tapi mereka tidak mau dan tetap meminta mengeluarkan kamu. Jadi tak pantas untukmu bilang seperti tadi mengenai paman kamu." tegas Aji.
"Tapi, Pa tetap saja--"
"Alex, sekarang kamu duduk dulu, ya. Kita bicarakan ini sama-sama dengan kepala dingin, oke?" Alex yang masih sedikit linglung tidak tahu kalau Dinda sudah berdiri di sampingnya.
Dinda memegangi kedua sisi bahu Alex dan menyuruhnya untuk duduk kembali ke tempat semula. Alex pun menurut. Ia tahu pasti Alex merasa kesal dan marah tapi Dinda mau Alex untuk memperbaiki kontrol emosinya sekarang agar pembicaraan ini berjalan lancar sampai selesai.
Dinda juga tadi sangat kaget ketika suaminya itu bilang Alex dikeluarkan dari sekolah. Dinda sudah bertanya kasus apa lagi yang Alex buat tapi Aji hanya diam saja dan bilang kalau itu masalah biasa. Sepertinya Aji memang tidak berniat mengatakannya pada Dinda jadi Dinda lebih memilih untuk diam saja dan tak bertanya lagi.
"Alex kamu dengerin papa kali ini. Selain karena masalah terakhir kamu itu, kamu juga harus tahu kalau poin kamu di buku pelanggaran sudah mencapai lima ratus poin, hampir mencapai enam ratus. Kamu paham betul bukan kalau sekolah menerapkan prinsip bagi siapa saja yang mendapat poin mencapai dua ratus akan segera dikeluarkan. Kalau kamu jadi siswa biasa pasti kamu sudah keluar dari sekolah itu. Kamu tahu siapa yang menolong kamu? Semua itu paman kamu. Jadi kamu tidak boleh menyalahkan paman kamu kalau kamu karena dikeluarkan dari sekolah."
Mendengar penjelasan Aji tentu saja membuat Alex meringis dan tiba-tiba saja merasa bersalah. Darimana pemikiran kalau kedua orangtuanya itu tidak mendidik Alex dengan benar. Malah Alex kecil dididik terlalu disiplin hingga membuatnya bosan dan Alex kecil harus bisa mandiri ketika ditinggal oleh Aji dan Dinda bekerja. Dan kedua orangtuanya itu juga bukan workaholic yang ada untuk anaknya hanya saat weekend saja. Aji dan Dinda tentu tidak seperti itu. Mereka berdua setiap hari ada di rumah dan memberikan apa saja yang Alex mau.
"Untuk nasib sekolah kamu ke depannya sudah mama sama papa bicarakan tadi. Hasilnya nanti mau tidak mau kamu harus mau. Kali ini kamu harus menuruti keputusan papa sama mama."
Benar, bagaimana dengan sekolah Alex ke depannya. Tentu saja Alex harus pindah sekolah bukan. Tapi beruntunglah ia karena memiliki wajah yang tampan jadi tanpa harus kenalan ia pasti akan mendapat banyak teman tanpa harus repot-repot mencari teman dulu kalau ia sekolah di sekolah yang baru.
"Apa papa akan mengirim aku untuk sekolah ke luar negeri seperti Kak Alan?" tanya Alex.
Galandra Ajibrata atau biasa disebut Alan adalah Kakak Alex. Alan sudah kuliah di New York untuk belajar bisnis. Sudah jelas kalau nanti Alan lulus pasti ia akan meneruskan perusahaan Aji. Selain Alan siapa lagi coba yang akan mengurus perusahaan Aji. Alex? Ayolah Alex masih seumur jagung, belum bisa apa apa. Kalaupun sudah besar nanti, sudah bisa ditebak kalau perusahaan tidak akan berjalan lancar kalau Alex yang memimpin. Bisa aja perusahaan Aji yang sudah dibangun dari ia muda bisa bangkrut karena Alex.
"Kami tidak sebodoh itu dengan mengirim kamu ke luar negeri. Bisa-bisa kamu terbawa pergaulan bebas di disana. Bukannya semakin baik malah semakin buruk."
Pergaulan bebas. Dua kata yang sanggup membuat Alex tegang karena teringat tentang alasan terbesar pengeluarannya. Alex yakin seratus persen kalau pamannya pasti sudah bercerita tentang Alex yang melakukan itu dengan siswi sekolah lain. Alex melirik ke arah Aji yang menatapnya tajam seakan mengirim sinyal jangan-bilang-apa-apa. Yang Alex yakini adalah Dinda pasti belum tahu mengenai itu dan Aji mencoba melarang Alex unguk memberitahunya.
"Kamu juga tidak pintar bahasa inggris. Mama liat nilai ulangan kamu kemarin dapat lima." tawa Dinda berusaha mencarikan suasana.
Terkutuklah Bu Muljani selaku guru bahasa inggrisnya yang tega memberikan Alex nilai lima. Lima pemirsa !! Li-ma.
"Kamu dapat nilai lima?" Aji hanya geleng kepala. Ia heran dengan apa isi kepala Alex bisa-bisa mendapatkan nilai lima. Ia jamin kalau lima itu nilai upah menulis.
Alex yang tidak ingin membahas nilai laknat itu segera menanyakan apa isi keputusan orangtuanya tadi. "Jadi mama sama papa ngambil keputusan bagaimana mengenai masa depanku selanjutnya?"
__ADS_1
"Papa sama mama memutuskan untuk memindahkan kamu ke desa. Bareng sama nenek kamu disana. Kamu juga bakal sekolah di sana, urusan kepindahan sekolah sudah diurus sekretaris papa. Papa pikir dengan mengirim kamu kesana bisa membuat kamu jauh dari pergaulan nakal kamu itu, jadi kamu bisa memperbaiki perilaku kamu yang salah selama ini." jelas Aji panjang lebar.
Bagaimana reaksi Alex? Tentu saja matanya sudah melotot dan mulutnya membuka tak percaya.
Jadi Aji dan Dinda akan mengirimnya ke desa ke tempat neneknya tinggal?
Tiba-tiba saja Alex tertawa hambar. "Gak, aku gak setuju, Pa. Ini namanya pemaksaan kehendak. Kenapa papa sama mama gak minta pendapatku dulu sih." ujar Alex kesal. Bagaimana tidak kesal, ia saja sempat lupa kalau ia punya nenek di desa sebelum Aji mengatakan ini.
Sekarang Alex sudah ingat desa yang mana yang Aji maksud. Desa neneknya yang sudah seperti neraka baginya. Sulitnya sinyal disana membuat Alex sangat-sangat tidak betah berlama-lama di rumah neneknya. Bahkan Alex tidak kuat disana hanya dalam waktu sehari. Masih jelas di otaknya, dulu saat libur kelulusan SMP ia dan keluarganya ke desa, tapi apa yang Alex lakulan, ia malah pulang ke kota sehari kemudian karena tidak betah. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi mau diajak ke desa neneknya.
"Papa gak minat sama pendapat kamu karena sudah jelas kamu bakalan menentang soal ini."
"Tapi aku gak mau, Pa. Papa tahu bukan kalau Alex tidak su--"
"Semua ini juga buat kebaikan kamu Alex." Dinda menimpali sebelum Alex menyelesaikan ucapannya.
"Kalau mama sama papa mikirin kebaikanku seharusnya bukan kayak gini. Harusnya kalian--"
"Harusnya kami nyariin kamu sekolah lagi di Jakarta begitu?" lagi-lagi ucapan Alex terhenti. Tapi kali ini Aji yang memotongnya.
Alex mengangguk mengiyakan. Memang begitu seharusnya bukan.
"Nah itu papa juga tahu. Aku gak mungkin bisa tinggal di desa, Pa. Papa tahu bagaimana selera hidup Alex."
"Maksud selera hidup kamu adalah kelayapan tiap malam, ikut balapan motor, njahilin anak orang, juga merokok diam-diam di kamar mandi biar gak ketahuan sama papa kan." tebak Aji.
Alex menelan ludahnya sendiri. Cukup terkejut karena ternyata Aji tahu kalau dia diam-diam suka merokok di kamar mandi. Ia memang sengaja merokok di sana agar baunya tidak menyebar karena jelas ia tahu Aji tidak suka melihatnya merokok atau lebih tepatnya melarangnya merokok.
"Alex, mama mau kamu berubah. Kamu di desa juga tetap dalam pengawasan kami. Kami tetap akan memberikan kamu fasilitas yang kamu mau."
"Tidak Ma, anam kita tidak akan papa beri apa-apa. Cukup handphone saja yang bakalan papa biarkan. Selain itu akan papa tarik semua."
Alex jadi semakin dongkol. Sudah disuruh tinggal di desa, sekarang semua fasilitasnya akan ditarik?
"Tapi Pa, Alex gak mau. Emangnya gak ada alternatif lain, apa?" Alex malah menjambak rambutnya frustasi karena Aji dan Dinda kompakan menyuruhnya tinggal di desa.
Ingin marah ke Aji dan Dinda tentu tidak bisa. Bisa-bisa Alex dipecat jadi anak mereka. Walau Alex tidak sopan-- ralat sangat tidak sopan kepada orang lain, tapi kalau ke orangtua tentu ia harus selalu menjaga sikap dan perilakunya.
"Kalau kamu bisa mengubah diri kamu jadi lebih baik, papa bakal bawa kamu kembali ke sini. Dan juga, semua fasilitas kamu akan papa balikin semua. Tapi kalau kamu tidak mau berubah, jangan harap semua yang sudah papa kasih itu bakal balik lagi dalam keadaan utuh." Aji tiba-tiba berdiri dari tempatnnya.
"Papa rasa kamu sudah tahu intinya. Kamu akan pindah ke desa tinggal bersama nenek kamu. Kamu juga bakalan sekolah disana. Lebih cepat lebih baik, jadi papa minta besok kita akan berangkat, jadi sekarang lebih baik kamu ke kamar dan bereskan semua barang kamu yang akan dibawa besok." titah Aji final.
Aji kemudian keluar dari ruang kerjanya. Dinda mengelus tangan Alex yang mengepal agar mengendur kembali.
"Percayalah di sana tidak seburuk yang kamu bayangkan. Kamu bakal dapat pengalaman baru dan teman baru. Bisa saja nanti kamu betah disana dan malah tidak mau balik kesini." kata Dinda sembari mengelus tangan Alex.
"Tidak akan pernah Alex betah di sana, Ma. Di sini adalah tempat lahir Alex dan Alex bakalan tetap pulang ke sini apapun yang terjadi."
__ADS_1
Dina hanya tersenyum maklum.