
Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Seperti kebanyakan anak lainnya, Letta dan Mira sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin. Apalagi setelah jam pelajaran Pak Tugiyo, guru fisika yang membuat kepalanya hampir pecah karena banyaknya rumus yang tidak ia ketahui dan tak bisa ia pahami.
Kadang Letta suka berpikir buat apa rumus-rumus itu dipelajari, toh nantinya kalau cewek juga bakalan jadi ibu rumah tangga. Jadi gak ada gunanya.
"Lo masih hutang penjelasan ke gue, Ta." kata Mira sambil memakan baksonya.
"Penjelasan apa?" Letta yang sudah habis makanannya hanya bisa menyeruput es teh miliknya sampai tandas.
"Yang tadi pagi. Gak usah pura-pura lupa."
"Oh yang itu. Gak ada yang perlu gue jelasin ke lo."
"Kebiasaan banget sih buat orang lain penasaran. Udah spoiler tapi gak mau lanjutin cerita." sungut Mira kesal.
Keduanya sekarang sudah selesai acara makannya. Hanya saja bel masuk belum berbunyi jadi lebih baik duduk-duduk santai di kantin.
"Siapa sih cowok nyebelin yang lo bilang tadi pagi?"
"Bukan siapa-siapa." jawab Letta cuek.
Letta enggan membahasnya dengan Mira karena ia tahu sahabatnya ini pasti akan berpikir yang macam-macam dan jauh dari kenyataan. Pernah dulu Letta bercerita tentang Asep, Mira dengan semangat mengira kalau Asep itu gebetannya Letta. Padahal Asep kan tukang ojek barunya Letta buat sekolah tepat ketika Hami tidak bisa berangkat bersamanya lagi. Mira ini terlalu mendukungnya mencari pengganti Hami.
"Cakep gak anaknya?" Mira menopang dagunya dengan tangan.
Letta mengernyit, ia lalu membayangkan wajah Alex. Sial, harus Letta akui kalau Alex memang cakep, tapi masa iya dia bilang kalau Alex cakep ke Mira. Bisa-bisa Mira semakin berpikir yang aneh-aneh. Dan juga sikapnya Alex yang kelewat nyebelin sama sekali gak cocok sama mukanya.
Tadi pagi aja dia dibohongi Alex, walaupun ia malah bersyukur karena Letta jadi ingat untuk cepat-cepat sekolah. Bersyukur lagi karena guru piketnya belum ke gerbang, ditambah guru yang mengajar jam pertama belum masuk. Kurang beruntung apa coba.
"Enggak sih, wajahnya biasa aja. Masih cakepan juga Hami." jawab Letta pada akhirnya.
"Ampun dah, Hami lagi Hami lagi. Lo gak ingat apa tadi malem udah dipatahin lagi hatinya sama dia. Lo lupa kalau lo nangis-nangis kemarin malem."
"Ya namanya juga suka mau disakitin berapa kalipun masih terima aja."
"Tapi kan nggak gitu juga kali, Ta."
"Lagian yah, Mir, gue yakin kalau itu yang upload fotonya bukan Hami. Palingan hpnya dibajak sama Ajeng."
"Alasannya?"
"Lo tahu sendiri kalau Hami gak suka ngumbar apapun di sosial media. Masa iya tiba-tiba dia upload foto dia sama pacarnya."
"Yang namanya juga orang pacaran mah bebas mau ngapain."
"Udahlah, jangan bahas dia lagi. Orangnya baru ke kantin tuh."
Mira mengalihkan pandangannya dan benar saja Hami dan juga Ajeng baru masuk kantin. Kebiasaan banget. Selama ini mereka berdua selalu ke kantin saat jam masuk sudah akan berbunyi. Letta tak terlalu memusingkan apa yang mereka berdua lakukan saat istirahat sampai-sampai ke kantin saat jam sudah mepet seperti sekarang ini.
"Ta, dia mau datengin lo lagi tuh." bisik Mira yang melihat Hami berjalan ke arah mereka.
Letta yang duduk membelakangi Hami hanya bisa menggeram kesal. Apa tidak cukup kemarin Hami mengusik ketenangannya saat di kantin dan malamnya malah upoad foto dirinya dan Ajeng. Sekarang malah Hami dengan terang-terangan mau mendatanginya lagi.
"Ke kelas sekarang." Letta langsung berdiri dan suara bangku bergeser keras menghentikan langkah Hami dan Ajeng.
Hami diam melihat sepertinya Letta sudah tahu kalau ia akan datang makanya Letta jadi beranjak pergi. Padahal maksud hati baik ingin meminta maaf karena kemarin meninggalkannya begitu saja dan juga ingin hubungannya dengan Letta membaik. Tapi sepertinya memang cewek itu tidak mau berhubungan dengannya lagi bahkan untuk bersitatap muka saja Letta enggan.
Yang sekarang terjadi adalah Letta dengan cepat menarik lengan Mira dan berjalan cepat melewati Hami keluar dari kantin.
"Dia pergi lagi." Hami menghela nafas lelah.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Nanti juga kalau dia butuh bakalan deketin kamu lagi." ujar Ajeng menenangkan. Ia mengusap punggung Hami.
Jujur, Ajeng sendiri sering kesal karena Hami terlalu memaksakan diri untuk berbaikan dengan Letta. Kalau Letta tidak mau baikan yasudah biarkan saja. Beruntung Letta itu sahabatnya Hami, kalau tidak sudah pasti Ajeng akan memaksanya baikan dengan Hami agar pacarnya itu tidak lagi mencak-mencak karena persahabatannya yang tidak kunjung membaik.
__ADS_1
Tapi Ajeng tentu tidak mau memikirkan masalah itu. Yang penting Hami bersamanya dan mencintainya.
***
"Lo kenapa bisa ada disini?" Letta mengernyitkan keningnya heran karena mendapati Alex berada di dalam rumah pohon miliknya.
Niat hati ingin mengusir rasa penat sehabis pulang sekolah, eh malah bertemu sama Alex yang notabennya cowok yang bisa membuat moodnya hancur dalam sekejap.
Alex tidak menjawab. Ia hanya diam memfokuskan pandangannya ke layar hp tanpa menoleh ke arah Letta sama sekali. Ia paham kalau cewek barusan yang bertanya itu Letta karena Alex sekarang sudah cukup hafal dengan suaranya walaupun baru dua kali pertemuannya dengan Letta.
"Lo punya mulut gak sih? Gue nanya kok gak dijawab." bentak Letta.
"Perlu banget gitu gue jawab?" kata Alex datar dengan pandangan tetap fokus ke arah layar ponselnya.
Alasan kenapa ia disini adalah tadi Alex dibawa Sari untuk ke rumah salah satu tetangganya untuk dikenalkan sebagai cucu Sari. Alex awalnya sedikit kaget karena tetangga yang Sari maksudkan adalah tetangga yang punya wifi yang sempat Alex manfaatkan kemarin malam.
Alex hanya tidak tahu kalau Haris dan Wulan, orang yang dikenalkan Sari itu orangtuanya Letta. Dan Alex malah dengan tanpa malu meminta izin untuk menggunakan fasilitas wifi di rumah Haris. Haris tentu saja memperbolehkannya menggunakan wifi miliknya ditambah ia dipersilahkan untuk menggunakannya di dalam rumah pohon. Tentu saja Alex tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Maka dari itu Ales berada di rumah pohon ini yang ternyata punya Letta.
"Ahh gue tahu palingan juga numpang internetan. Miskin banget sih gak ada paketan sampe numpang wifi orang." sindir Letta.
"Lah itu tahu, kenapa tadi musti nanya."
Letta melongo, cowok ini benar-benar....
"Letta, Alex, kalian di atas?"
Letta yang tadinya ingin membalas ucapan Alex tidak jadi karena ia mendengar suara Sari di bawah sana. Letta jadi melongokan kepalanya lewat jendela kecil di rumah pohon itu.
"Iya nek, Letta disini. Tapi Letta lagi sama setan, bukan sama Alex."
Mampus, mulut gak bisa dijaga. Ia bisa melihat Sari mengernyit bingung mendengar penuturannya. Ini juga kenapa mulut gak bisa direm biar ngomong bener. Bisa-bisanya ia menjelekkan Alex di depan neneknya sendiri.
"Maksud Letta, iya ini Letta diatas, sama Alex juga." jawab Letta cepat. Takutnya Sari malah marah sama dia.
"Iya, Nek."
"Gak kurang ke depan tuh kepala, biar sekalian jatoh kebawah, terus mati deh."
Letta dengan cepat menoleh ke arah Alex yang sudah berada di ujung tangga paling atas hendak turun. Jangan lupakan seringaian khasnya yang membuatnya ingin mencincang cowok itu saat ini detik ini juga. Dan juga apa katanya tadi? Mati? Jadi dia ngedoain Letta mati. Benar-benar...
Letta mengacungkan jari telunjuknya ke depan. "Lo!?" belum sempat ia menyusul, Alex sudah sigap turun ke bawah. Dan ketika kakinya menapak di tanah, Alex melakukan sesuatu yang tidak Letta duga sebelumnya.
Alex membuang sandalnya jauh tepatnya ke jalan depan rumah. Letta bisa tahu karena ia melongokan kepalanya ke bawah lewat lubang untuk tangga.
"Dasar kampret! Kuda! Tikus!" seru Letta. Dengan kaki telanjang ia turun cepat ke bawah. Letta memang sengaja mencopot sandalnya yang alasnya sudah licin ketika akan naik ke atas. Takutnya ia tergelincir jadinya ia memilih nyeker alias telanjang kaki.
Begitu ia sampai di bawah Letta langsung berlari ke jalan dan mengambil sandalnya. Dengan membungkuk ia memasang kembali sandalnya sambil kesusahan. Jelas kesusahan karena Letta memasangnya setengah hati. Setengah hati tangannya memasang sandal di kakinya dan setengah hati sedang mengucapkan sumpah serapah untuk Alex walau hanya di dalam hati saja.
Suara jepretan kamera membuat gerakan Letta terhenti. Walau rambut Letta jatuh ke depan dan menutupi pandangannya tapi ia masih dapat dengan jelas melihat Alex dengan senyuman mengejeknya memfoto Letta dengan gaya sedang memakai sandalnya barusan.
"Awas lo yah." geram Letta. Kali ini ia sudah berhasil memakai sandalnya dengan pas.
Letta menegakkan tubuhnya dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Dengan langkah cepat ia mendekat ke arah Alex. Kalau dalam kartun mungkin telinganya sudah mengeluarkan asap dan atas kepalanya sudah tumbuh dua tanduk.
Beberapa langkah lagi ia sampai ke Alex dan tujuannya adalah merebut hp Alex, tapi semuanya sirna ketika Sari mengunterupsi.
"Letta,"
Gerakan Letta terhenti. Amarahnya seketika padam ketika melihat Sari sudah berada di sampingnya. Tidak mungkin kan ia menyerang Alex di depan neneknya sendiri. Bisa-bisa ia dituntut ke sel tahanan. Ohh no...
"Maaf ya, Alex memang gitu anaknya. Suka banget jahilin anak lain."
Eh, kok malah nenek Sari yang minta maaf.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok, Nek. Maklum kok anak kurbel kayak gitu."
Gak apa-apa dari Hong Kong.
"Kurbel apa?" tanya Sari bingung.
Tuhkan, mulut Letta kok gamparable banget sih. Kalau hanya ada Alex sih gak masalah ngomongnya, tapi ini di depan Sari....
"Yang kurbel siapa? Lo atau gue? Lo yang waktu itu ngakunya udah punya pacar tapi aslinya jomblo."
"Apa lo bilang?!" pekik Letta. Alex tahu darimana coba kalau Letta makhluk berstatus jomblo. Letta juga ingat pertemuan pertama mereka, Letta memang bilang kalau ia ada pacar.
"Ehh udah-udah. Kamu jangan usil terus." Sari menabok bokong Alex keras hingga empunya terlonjak lalu memegangi pantatnya yang terasa nyut-nyutan.
"Buset, cucu sendiri malah disiksa sih, Nek."
"Jangan diambil hati ya, Ta. Dia cuma bercanda kok." ucap Sari menenangkan Letta yang sepertinya anak Wulan ini kesal setengah mati ke cucunya. Sari akui, ia juga kesal dengan Alex tapi ia masih bisa bersabar karena ia paham sifat Alex. Kalau diladenin malah semakin ngelunjak.
"Sekarang mending kalian baikan karena ada hal yang mau nenek bicarain buat kalian berdua."
Letta dan Alex sama-sama tidak tahu maksud Sari dan hanya bisa diam menunggu lanjutan perkataan Sari.
"Tadi pagi kan udah disepakati kalau Alex bakalan mulai sekolah besok di SMA Prisma--"
"Kapan aku bilang kayak gitu, Nek!?" potong Alex cepat. Demi apa, ia rasa dirinya tidak bersepakat seperti itu sebelumnya.
"Diam, nenek gak nyuruh kamu bicara. Sekarang kalian berdua diam dan dengerin apa yang nenek katakan, paham?"
Letta pun hanya diam dan mengangguk menurut. Pikirannya sudah bercabang mengingat kejadian tadi pagi, tepatnya ketika Sari meminta ia dan Alex untuk sekolah bersama. Melihat dari gerak-gerik Sari kali ini, ia yakin seratus persen kalau tebakan yang ada di otaknya kali ini tidak akan salah.
"Paham kamu, Alex?"
Alex lalu mengangguk dengan malas.
"Jawab, kamu paham apa enggak?"
"Tadi nenek bilang supaya Alex diam dan gak bicara. Sekarang malah di suruh jawab. Gimana sih, Nek." sungut Alex.
"Lupakan saja, anggap aja kamu udah paham. Jadi maksud nenek di sini sambil ketemu kalian berdua tidak jauh dari rencana nenek tadi pagi. Nenek mau kelian berdua berangkat dan pulang sekolahnya barengan--"
Letta hendak menyela tapi segera Sari mengangkat tangannya ke atas menandakan kalau ucapannya jangan dipotong.
"Tadi nenek udah bicarain sama Wulan, mama kamu, dan dia setuju sama rencana nenek ini. Dia juga percaya kalau Alex bakalan jadi teman baik kamu suatu hari nanti. Buat kamu Letta, kamu gak perlu lagi naik ojek ke Asep karena kamu sekarang sama Alex. Dan buat Alex, kamu mulai besok harus mulai sekolah. Nenek gak mau liat kamu bolos lagi, pokoknya kamu besok sekolah sama Letta. Titik. Ada yang mau kalian tanyakan?"
Ada jeda beberapa saat karena keduanya masih mencerna perkataan Sari. Alex mendumel dalam hati, akhirnya hal seperti ini terjadi juga. Sebelumnya ia sudah memprediksi kalau Sari akan melakukan ini. Jadi kali ini mungkin ia akan diam saja melihat bagaimana akhirnya, karena mau seapapun dia menolak, perintah si nyonya besar (baca Sari) sulit diganggu gugat.
Dan untuk Letta, ia masih bingung dengan maksud Sari. Ia akhirnya membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu.
"Kalau Letta gak naik ojeknya kang Asep, nanti Letta ke sekolahnya pake apa, Nek? Selama ini kan Letta berangkatnya dianter kang Asep pake motor."
"Kan kamu sama Alex." jawab Sari dengan tersenyum ke arah Letta.
Letta balas tersenyum kikuk. Mau berkata kasar tapi tidak bisa.
"Jadi maksudnya aku sama dia--" Letta menunjuk ke arah Alex. "Bakalan jalan kaki? Begitu?"
Letta mengernyit dalam ketika Sari malah menggelengkan kepalanya. Lalu kalau tidak naik ojek, bukan jalan kaki terus pake apa? Masa iya terbang...
"Kalian bisa naik sepeda bareng kan. Lebih hemat daripada naik ojek. Kalau jalan kaki juga capek. Jadi kalian bisa pake sepeda bekas punya nenek buat sekolah kebetulan sepedanya udah dibersihin sama Haris tadi. Ayah kamu, Ta baik banget."
Mata sari lalu berbinar ketika melanjutkam kata-katanya. "Itu dulu sepedanya selalu dipake nenek sama almarhum suami nenek kalau pergi sama-sama. Nenek mau kalian berdua ngerasian hal yang kayak nenek rasakan dulu."
Gak... Gak mungkin..
__ADS_1
Batin Alex dan Letta.