Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 35


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Seorang cewek yang sedang terduduk lemas di lantai kamar mandi segera berdiri ketika mendengar suara ketukan pintu rumahnya. Tubuhnya bergetar hingga hampir terjatuh ketika mencoba berdiri karena ia sudah duduk di lantai kamar mandi yang dingin selama hampir setengah jam membuat kakinya terasa kaku.


Cewek itu lalu menghadap ke kaca, membersihkan tangannya lalu membasuh wajahnya. Pandangannya terarah ke pantulan dirinya di kaca. Itukah aku? Semenyedihkan ini? pikir cewek itu.


Cewek itu memutuskan untuk membenahi penampilannya dulu dengan menyisir rambut kusutnya dengan tangan supaya sedikit rapih,  setelahnya ia mencuci tangannya lagi sebelum akhirnya keluar dan berjalan menuju ke depan untuk membuka pintu.


Pintu terbuka dan terpampanglah seorang cowok yang akhir-akhir ini menghabiskan waktu bersamanya. Cowok itu mengangkat kresek yang dibawanya ke atas lalu tersenyum seraya berkata. "Waktunya makan."


Si cewek membalas tersenyum. Sebelum ia sempat membuka pintu lebar-lebar, cowok itu sudah lebih dulu menyerobot masuk ke dalam sehingga tangan si cewek yang bertengger di knop pintu pun terlepas.


"Perasaan gue belom ngasih izin lo buat masuk" kata si cewek menutup pintu dan menyusul cowok itu yang pergi ke dapur.


"Dikasih atau enggak, gue juga bakalan tetep masuk." jawab si cowok sambil mengeluarkan isi kreseknya yang isinya makanan dan susu.


Si cewek mencibir."Sifat lo banget ya, seenaknya sendiri, tukang paksa, tukang ngatur dan--"


"Ganteng." sela cowok itu sambil menyeringai.


Spontan, si cewek menampilkan raut wajah jijik, seakan mau muntah. "Ganteng kalau dilihat dari sedotan WC."


"Terima kasih, gue anggep itu sebagai pujian." Si cowok bukannya tersinggung malah tertawa lebar menampilkan giginya yang seputih susu.


"Pagi ini ada masalah lagi?" tanya si cowok


Si cewek menggeleng. "Gak ada." katanya berbohong. Padahal tadi ia  sempat tertahan di toilet sampai setengah jam, tapi kalau ia bicara, si cowok ini akan khawatir dan ia tidak ingin cowoknya khawatir, jadinya ia berbohong saja.


"Syukur deh kalau enggak. Tapi kalau ada apa-apa lo gak usah malu buat hubungin gue."


"Lo terlalu baik."


"Gak sebaik itu." Cowok itu mengambil piring, meletakkan dua buntelan nasi dan dua potong ayam ke satu piring sekaligus. Lalu ia sodorkan piringnya itu ke depan si cewek.


"Kok buat gue se--"


Si cewek akan memprotes karena terlalu banyak tapi cowoknya sudah menyela. "Demi kebaikan lo juga, biar lebih gemuk nanti jadi badannya gak kurus kering gitu.


Mendengar itu alhasil si cewek bungkam. Benar juga kata si cowok. Selama satu bulan terkahir ia jarang sekali makan banyak, hingga menyebabkan berat badannya turun. Jadi tidak ada salahnya kalau sekarang ia makan dengan porsi dobel. Toh benar ini demi kebaikannya juga.


"Terima kasih." ucap si cewek ketika mengambil alih piring berisi nasi dan ayam yang cowok itu berikan.


Cewek itu makan perlahan hingga sudah habis setengahnya. Ia bisa merasakan tatapan si cowok yang tertuju ke arahnya. Si cewek lalu mendongak.


"Lo-- mau makan bareng?" tawar si cewek sambil mengunyah.


Si cowok menggeleng. "Gak usah."


"Tapi lo gak makan."


"Gue udah makan tadi di sana waktu nunggu pesanannya selesai."


Si cewek hanya manggut-manggut dan meneruskan acara makannya. Sedangkan si cowok menahan diri untuk tidak menyomot makanan si cewek. Ia berbohong kalau sudah makan, padahal kenyataannya ia belum menyentuh makanan sama sekali.


Tadi dia hanya membeli ayam dua porsi, niat hati satu untuk si cewek dan satunya lagi untuknya. Tapi ternyata satu porsinya itu sedikit sekali menurutnya. Alhasil ia memberikan bagiannya ke si cewek. Bukannya ia pelit tidak mau membeli ayam lagi, tapi masalahnya ia lupa membawa uang. Dompetnya tertinggal di rumah, ini pun ia beli karena tidak sengaja nemu duit di saku celana jeans yang ia pakai. Mau balik ke rumah, tapi lama. Lagian kalau ceweknya nunggu dia terlalu lama kan kasihan.


"Gue ke toilet dulu ya." kata si cowok tiba-tiba.


Si cewek mengangguk, tidak bisa menjawab dengan ucapan karena mulutnya sudah penuh sama nasi. Cowoknya bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Setelah menutup pintu, ia merogoh saku celananya dan mendapati dua lembar uang dua ribuan.


"Buat beli mi instan masih bisa dapet satu gak yah." katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Coba dulu aja deh." cowok itu memasukkan kembali uang itu ke saku. Ia keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati si cewek sedang menunggunya di depan pintu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya.


Dan jawaban dari si cewek membuat dirinya rela meneguk air liurnya sendiri.


"Gue tiba-tiba pengen es krim, lo bisa beliin lagi buat gue gak?"


***


Hari ini adalah waktu pembagian kostum Letta sedang menunggu gilirannya dipanggil untuk memgambil kostum miliknya.


Pemeran utama... Seorang Putri... Snow White... Ketiga kata itu terus saja berputar-putar di otaknya.


Letta tidak bisa membayangkan akan seperti apa dirinya nanti. Teman-temannya memang memuji aktingnya bagus ketika latihan, kata mereka raut wajahnya sudah pas, intonasinya bagus, gerak tubuhnya juga terlihat alami tak seperti dibuat-buat. Tapi kan itu hanya pas latihan, belum tentu nanti pas acaranya di panggung, semuanya bisa saja gagal. Dilihat orang satu sekolah dan orang luar, dirinya bisa gerogi, gugup, dan akhirnya melakukan kesalahan. Ditambah lagi lawan mainnya adalah Alex, bisa tambah gugup.


"Letta."


Letta tersentak ketika mendengar namanya dipanggil. Ia berjalan ke depan dan mengambil tas berisi gaun untuk peran putrinya. Letta kembali ke belakang. Ia melirik ke dalam tas itu berusaha melihat seperti apa gaunnya. Sejauh yang bisa ia lihat sih warnanya putih. Bukan warna-warni seperti yg ada di film Snow White yang pernah ia tonton.


Setelah semua anak kebagian kostumnya masing-masing, pembimbing ekstrakulikuler Madater alias Mading dan Teater --yang meminjamkan kostum untuk drama Snow White ke kelasnya-- segera undur diri.


"Coba dibuka." perintah Alex dengan tangan yang ia tujukan ke tas Letta begitu sudah tidak ada pembimbing di kelas.


Letta meraih tasnya dan mengeluarkan gaun putri miliknya. Ia sempat terkejut karena gaunnya jatuh menjuntai ke bawah. Ditelisik dari panjang gaunnya, sepertinya ini pas sekali dengan Letta. Letta menempelkan gaun itu di depan dadanya.


"Cocok gak sama gue?" tanya Letta sambil melihati gaun warna putih itu.


Tanpa dipakai dulu Letta sudah bisa menebak kalau gaun ini akan sedikit lebih banyak memamerkan bagian bahunya, dengan model ramping dibagian perutnya dan mengembang dari pinggul ke bawah. Ada banyak manik-manik mutiara di bagian yang mengembang itu. Walaupun bukan gaun baru, tapi masih terlihat putih bersih seakan baru dan belum dipakai.


"Alex?" Letta memanggil nama Alex karena cowok itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


Alex mengerjapkan matanya. "Cocok kok. Tapi kayaknya buat ukuran anak sekolah, gue rasa ini kelebaran." Alex menunjuk ke arah bagian bahu gaun itu. "Ini terlalu terbuka."


Letta setuju dengan omongan Alex. "Bener juga, tapi udah gini dari sananya. Mau gak mau gue harus pake." katanya lalu memutar badannya sambil memegangi gaunnya.


Cukup puas dengan gaun miliknya, Letta melipatnya kembali dan memasukannya ke dalam tas.


Tanpa perlu dijawab Alex, Letta meraih tas kostum Alex dan mengambil kostum pangeran milik cowok itu. Ternyata ada dua setel. Letta merentangkannya satu dulu dan itu adalah bajunya. Baju berwarna abu-abu muda khas keluarga kerajaan dengan beberapa corak keemasan. Yang satunya lagi adalah jubah. Tapi jubahnya berwarna merah pucat. Letta mengernyit melihatnya. Seingat dia properti Alex tidak ada jubahnya.


"Ini punya lo?" tanya Letta sambil melihati jubah itu.


Dalam sekali  lihat aja Alex sudah bisa menjawab. "Bukan, itu punya lo."


"Kok punya gue? Kan ini di tasnya lo."


Alex menjawab datar. "Mungkin orang yang masukin jubah itu salah masukin ke tas gue. Yang jelas itu bukan punya gue, tapi punya lo, lo kan pake itu sewaktu ke hutan sama pengawal, terus waktu lo pura-pura dibunuh, si pengawal ngasih jubah itu ke ratu pura-pura kalau pengawalnya udah bunuh lo."


Letta menyengir lebar mendengarnya. Ia sekarang jadi ingat. "Tahu bener lo. Gue bahkan sempet lupa sama bagian itu."


"Apa sih yang gak gue tahu." Alex menyeringai menjawabnya.


Letta mencibir. Ia menyampirkan jubah itu ke bahunya lewat belakang badan hingga jubah itu jatuh menjuntai ke bawah. Panjangnya sedikit di atas mata kakinya Letta. Bagian pinggiran jubah itu terbuat dari bulu-bulu halus berwarna putih.


"Gimana menurut lo?" Letta bertanya meminta pendapat.


Ia melongokkan pandangannya ke bawah ke sisi kanan dan kiri. Merasa senang karena ternyata jubahnya pas dan sesuai dengan keinginannya.


Letta menaikkan pandangannya kembali dan melihat Alex yang terdiam tanpa niat menjawab pertanyaannya.


"Untuk kedua kalinya, lo ditanya jawabnya telat mulu." omel Letta membuyarkan Alex.


Alex menjawab dengan tenang dan datar juga singkat. "Cantik."


"Apanya yang cantik?" tanya Letta selanjutnya.


Bohong kalau ia tidak menginginkan jawaban Alex sesuai dengan yang diinginkannya. Jantungnya sudah menggila menunggu jawaban Alex. Beberapa detik hanya diisi dengan keheningan sebelum akhirnya Alex menjawab dengan jawaban yang membuat Letta menahan nafas.

__ADS_1


"Dua-duanya." jawab Alex yang ambigu.


Letta mencoba membuat suaranya biasa saja ketika satu pertanyaan terlontar lagi dari mulutnya. "Apa itu?"


Alex berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain lalu menjawab. "Gaun lo, sama jubah itu."


Letta hampir saja menjatuhkan rahangnya ke bawah mendengar jawaban Alex selanjutnya. Dalam hati ia berpikir, mana mungkin Alex akan mengatainya cantik, secara teman-teman yang perempuan Alex saja anak kota semua. Alex mungkin lebih suka dengan cewek yang suka dandan dan merawat diri, bukan sepertinya yang wajahnya selalu polos ke sekolah. Pake bedak aja terakhir kali sudah minggu-minggu yang lalu saat ia menangisi Hami, ketika mengingat kisah cintanya yang gagal.


Letta melihat Alex berjalan keluar kelas dan ia berinisiatif akan ikut dari belakang. "Tungguin gue!" teriak Letta yang cepat-cepat menyampirkan jubah miliknya ke kursi.


Letta berlari mengejar Alex tapi tubuhnya menabrak seseorang tepat ketika ia keluar kelasnya. Bokong Letta mendarat mulus duluan ke lantai. Ia meringis, mendesahkan pantatnya yang nyeri setelah pendaratan tadi.


"Letta, lo gak apa-apa?" suara seseorang yang tak sengaja Letta tabrak.


Baru saja Letta akan menjawab : Baik-baik saja kepalamu. Tapi kalimat itu tertahan di ujung lidahnya setelah melihat siapa gerangan yang ia tabrak.


"Eh lo, Ham. Gue gak apa-apa kok." aku Letta seraya berdiri dan menepuk-nepuk roknya menghilangkan debu yang menempel.


"Lo mau kemana?" tanya Letta dan Hami berbarengan.


Keduanya lalu tanpa sadar tertawa berbarengan.


"Lo duluan yang jawab." ujar Hami.


Letta menjilat bibirnya yang kering. Ia tadi kan mau mengejar Alex tapi malah nabrak Hami. Letta mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi tidak mendapati sosok Alex.


Tuh anak pergi kemana coba, batin Letta.


"Lo nyari seseorang?" pertanyaan Hami yang tiba-tiba membawa Letta kembali sadar. Rupanya tanpa sadar ia mencari Alex, melihat ke penjuru sekolah yang masih terjangkau oleh matanya, tapi cowok itu tetap tidak kelihatan.


"Enggak kok, gue gak lagi nyari siapa-siapa." aku Letta bohong lagi.


"Kalau gitu jawab pertanyaan gue."


Letta mengernyit. "Pertanyaan yang mana?"


Hami tersenyum dan membalas. "Yang lo mau kemana."


"Ooh itu, gue gak mau kemana-mana kok. Cuma kebetulan aja keluar kelas terus nabrak lo." Letta memilin jari-jemarinya. Bohong lagi bohong lagi. Tapi kalaupun ia jujur lagi ngejar Alex, gak ada gunanya juga. Alex juga gak tahu kemana perginya.


"Kalau lo mau kemana?" sambung Letta.


Hami sempat tersenyum simpul. "Ketemu lo."


"Gue? Buat apa?" kata Letta sambil mengernyit. Tumben sekali, padahal sejak Hami pacaran sama Ajeng, Hami tidak pernah datang ke kelasnya terang-terangan mencari dirinya. Ini kali pertama lagi.


"Iya, lo."


"Kenapa gue?"


"Gue juga gak tahu." Hami tertawa kecil, mendekati miris. "Gue cuma bosen di kelas, pelajaran kosong semua. Gak ada yang asik diajak ngobrol juga. Terus gue langsung kepikiran buat datengin lo."


Letta hanya ber-oh ria. Jadi Hami datang kepadanya hanya karena cowok itu merasa bosan. Apa mungkin selama ini juga begitu? Apa selama ini Hami mendekatinya hanya saat cowok itu bosan dan butuh teman bicara. Dan sikap Letta yang senantiasa mau meladeni, pasti menjadi sasaran empuk buat Hami.


Hami yang melihat sebersit kekecewaan melintas di wajah Letta segera menengahi sebelum cewek itu salah paham.


Sebelum dapat menghindar, ia mengarahkan tangannya ke puncak kepala Letta, mengacak pelan rambutnya. "Jangan salah paham, Ta."


"Gue gak salah paham." Letta mundur satu langkah hingga tangan Hami tidak bisa menjangkau kepalanya lagi.


"Gue udah kenal lo dari lama bahkan dari gue kecil, jadi tahu apa yang lo pikirin. Otak lo ini pasti lagi buat skenario kalau gue cuma jadiin lo pelampiasan dari rasa bosan gue, padahal aslinya gak begitu---"


Letta terdiam. Tebakan Hami benar. Lalu apakah soal perasaan Letta, Hami juga tahu? Apakah cowok itu tahu kalau dulu Letta suka sama Hami? Letta mendesah, menyesal buat apa mengingat masa lalu. Mungkin untuk bagian itu pengecualian. Hami tidak mungkin tahu, Hami itu kan cowok paling tidak peka yang pernah Letta kenal. Kalaupun Hami tahu, bagaimana bisa dia membuat Letta sakit hati dan jatuh terlalu dalam. Hami tidak akan sejahat itu.


Sebelum Letta sempat berpikir, Hami sudah berbicara kembali yang membuat jantungnya berdenyut.

__ADS_1


"---Justru karena lo berharga bagi gue. Orang yang selalu terlintas pertama kali  di pikiran gue itu lo, Arletta Zachary."


__ADS_2