Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 46


__ADS_3

Lagi dan lagi Alex merasa kepalanya sakit seakan sesuatu baru saja menghantam kepalanya dengan keras. Sialan, ini pasti gara-gara ia terlalu banyak pikiran. Bagaimana tidak, dalam waktu semalam ia berubah menjadi sosok ayah, belum lagi kabar kalau Mona yang sakit dan itu beresiko buat kehamilannya. Alex sempat memberi pilihan untuk Mona agar merelakan bayinya tapi Mona menolak dengan tegas dan akan tetap mempertahankan bayinya sampai akhir. Mona bahkan sempat marah karena bisa-bisanya Alex menyuruhnya seperti itu.


Belum lagi masalah soal perasaannya ke Letta. Haruskah ia mengorbankan perasaannya? Haruskah ia membuang rasa sukanya ini? Dan jawabannya pasti adalah iya. Karena bagaimanapun ia akan punya anak dan mana mungkin ia akan bisa bersama dengan Letta lagi.


Tapi bisakah dirinya membiarkan Letta bersama dengan orang lain? Karena kali ini jawabannya juga pasti tidak. Tadi sore saja, ia melihat Letta diantar pulang bersama Hami. Rasanya ia ingin sekali menghantamkan tinju ke wajah cowok itu. Ia mendapati dadanya bergemuruh hebat oleh keinginannya memisahkan dua orang itu. Hami. Cowok itu memang memanfaatkan kesempatan dengan baik. Selagi iavtidak sekolah, Hami pasti mendekati Letta. Dan Alex penasaran dengan reaksi Letta bagaimana. Apakah Letta malah senang kalau ia tidak berangkat sehingga bisa bersama Hami? Kalau sampai benar, terkutuklah mereka berdua.


Tiba-tiba saja Alex memegangi kepalanya yang terasa bagai ditusuk-tusuk jarum. Sakit sekaligus nyerinya semakin terasa. Ia yang tadinya sedang berdiri langsung terjatuh merosot ke lantai.


Gue kenapa sih? Batinnya.


Alex merasa semakin gelisah. Matanya terbuka tetapi menyorotkan ketakutan yang besar. Nafasnya pun menjadi tersengal-sengal. Ia yang sedang terduduk segera beringsut ke ranjangnya. Ia memegangi pinggiran ranjang, niat hati akan berdiri tetapi kakinya terpeleset. Dan ia semakin ketakutan.


Lalu badannya menegang kaku dan membeku sesaat ketika bayang-bayang itu datang lagi. Bayangan seorang anak kecil perempuan sedang bermain dengannya. Sejurus kemudian pikirannya terlempar ke saat dimana ia dan Letta pergi ke jembatan saat pulang sekolah dulu.


"Lo gak takut kalau berada di atas sini?"


Letta menggeleng. "Gue kan traumanya bukan di jembatannya, tapi sama airnya, jadi gak ada alasan buat gue takut."


Kemudian ingatannya terganti dengan dua anak kecil yang berdiri di pinggir jembatan. Bayangan itu terasa samar-samar dan itu membingungkan Alex.


"Kamu takut gak kalau kita nyari ikannya di jembatan?"


Anak perempuan dengan mata bulat di bayangan Alex itu menggeleng. "Aku gak takut. Ayo kita ke sana sekarang." katanya dengan senang lalu menarik tangan anak laki-laki yang bersamanya dan keduanya berjalan di atas jembatan.


Kepala Alex semakin sakit, wajah anak itu terasa sangat familiar dan jantungnya berdegup dengan kencang begitu ia tahu siapa mereka. Tentunya itu dirinya dan Letta.


"Argh..." erang Alex. Lalu matanya melirik ke kiri dan kanan dengan penuh ketakutan. Ia kemudian menekuk kakinya lalu membenamkan kepalanya ke sana. Titik-titik keringat pun ikut menampakan diri dengan mulai bermunculan di dahinya. Tangan Alex yang bebas mulai menjambak rambut sendiri ketika lagi-lagi bayangan lainnya bermunculan.


Alex sedang berada di kolam renang setelah ia selesai melakukan praktek renangnya. Ketika ia akan keluar, bersamaan dengan itu melihat Letta yang ragu-ragu berjalan karena di tempatnya berdiri sedang ramai oleh anak-anak yang lewat. Alex bisa melihat kecemasan di wajah Letta. Cewek itu terlihat takut untuk melangkahkan kakinya.


Please, tetap di sana. Jangan bergerak, Ta.


Tapi harapan memang selalu berbanding dengan kenyataan.


Dengan matanya sendiri di depan sana Letta terjatuh ke kolam. Melihat itu Alex segera keluar dari kolam dengan cepat dan berlari menuju kolam tempat Letta terjatuh.


Sebelumnya Alex merasakan seperti deja vu. Tapi rasanya ini berbeda dari sebelumnya. Kakinya sempat ragu ketika ia sudah di tepi kolam. Namun Alex sudah tidak punya waktu untuk berpikir lagi kalau ia tidak mau melihat Letta celaka. Kemudian setelahnya ia menceburkan diri ke dalam kolam dan merengkuh Letta yang sudah akan pingsan dengan erat. Ia ingat betapa takut dirinya ketika itu. Alex membawa Letta keluar kolam dengan dibantu petugas kolam renang dan anak lain yang ada di dekat sana.


Alex meletakkan Letta di lantai pinggir kolam dan ketika mendapati Letta pingsan yang mungkin karena menelan banyak air, Alex segera menakan dada Letta sesuai prosedur pertolongan pertama secara beratur, dan ketika Letta memuntahkan air yang terlelan, ia baru bisa bernafas lega.


Kemudian bayangan itu mengabur dan digantikan dengan bayangan yang lain.


Anak kecil laki-laki itu yang ia pikir adalah dirinya sedang berteriak ketakutan begitu melihat anak perempuan yang bersamanya menghilang entah kemana. Padahal seingatnya, tadi sebelum ia pergi sebentar, anak perempuan itu masih di tempatnya. "Lettaaa..!!!" teriaknya dengan keras. Kepalanya ia gerakan ke kanan kiri, kakinya ia hentak-hentakan tidak tenang.


"Letta....!!!" panggilnya sekali lagi dengan suara bergetar ketakutan. Wajahnya sudah memerah menahan tangis. Kemudian matanya membelalak dan jantungnya berdegup dengan kencang ketika melihat orang yang ia cari sedang ada di tengah sungai dan berusaha untuk naik ke atas permukaan. Tangan anak itu meraih-raih ke atas dengan ujung kepala sesekali menyembul keluar permukaan sungai.


Tenggorokan Alex tercekat dan ia tidak bisa berkata apa-apa. Tidak pula dengan berteriak lagi seperti tadi. Badannya bergetar hebat dan air mata mulai merembes keluar. "Le---" Alex hampir saja kehilangan kesadarannya karena begitu terkejut dan takut. Namun di tengah itu, ia bisa mendengar suara kecil Letta yang bertabrakan dengan air.


"To-- long....!!!" suara kecil Letta itu masuk ke telinganya dan Alex segera sadar.


Dengan terisak, Alex berjalan ke tepian sungai tapi seketika ia mundur kembali. "Mama.... Alex takut." isakan Alex semakin kencang ketika mendengar lagi jeritan Letta, tapi Alex tidak bisa menggerakkan kakinya. Ia takut dengan sungai ini. Ia tidak bisa masuk dan menolong Letta. "Mama..." Alex mulai menangis dengan keras.


"Siap--apun to--long a--aku...!" jeritan Letta kembali terdengar. Suara Letta tersendat karena bertabrakan dengan air sungai.


"Mama..." Alex terus menangis. Badannya gemetar ketakutan di pinggiran sungai. Ia akan masuk dan kakinya sudah mengenai air sungai tapi Alex segera beringsut ke daratan lagi. "Mama... Alex takut."


Setelahnya Alex tidak mendengar apa-apa lagi. Ia melihat ke arah sungai tempat Letta tadi dan ia tidak melihat Letta di sana.


Peluh membasahi dahi Alex. Nafasnya memburu dan ia terengah-engah. Alex berusaha naik ke atas ranjang lagi, tapi, untuk kedua kalinya ia terpeleset karena tidak ada tenaga sehingga kepalanya terbenam ke kasur. "Sshhh?" rintihnya. Ia merasa lemas, sangat lemas. Menggerakkan kakinya saja Alex rasanya harus berjuang sekuat tenaga.


Ada apa dengan dirinya? Itu yang menjadi pertanyaan terbesarnya saat ini. Beberapa menit yang lalu ia masih dalam keadaan normal, tetapi sedetik kemudian semuanya berubah delapan puluh derajat. Bahkan kini ia tidak bisa berpikir apa-apa karena pikirannya terisi dengan bayang-bayang yang bermunculan dengan sendirinya tanpa bisa ia cegah.


Alex sedang berlarian sepanjang koridor mencari seseorang yang sekiranya bisa ia mintai bantuan. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi khawatir.


"Lo anak PMR?" Alex bertanya ke salah satu siswi cewek yang ia temui di koridor. Tapi siswi itu menggeleng. Kemudian Alex menanyai anak yang lainnya.


"Lo anak PMR?" Alex memegang bahu anak lain ketika berpapasan dan selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama. Ia bertanya ke setiap anak yang ia jumpai apakah mereka anak PMR, karena Alex membutuhkan mereka untuk menolong Letta yang sedang kesakitan di UKS. Dan akhirnya ia mendapat satu anak PMR.


"Bisa bantuin gue? Please...teman gue sakit."


"Maaf, tapi gue ada ulangan hari ini."

__ADS_1


"Please... Tolong bantuin temen gue."


"Sekali lagi maaf, gue gak bisa. Kemarin gue udah gak ikut ulangan dan hari ini gue harus ikut."


"Menyusul kan bisa."


"Gak bisa, mending lo cari anak lain aja."


"Anak PMR yang lainnya yang mana. Gue mana tahu! Sialan!" bentak Alex seketika karena ia terlalu frustasi tidak menemukan orang yang bisa ia mintai bantuan sedangkan di UKS sana Letta sedang kesakitan seorang diri. Karena bentakannya juga, anak PMR yang berhasil ia temui ini segera pergi meninggalkannya karena takut.


Karena tidak menemukan anak lain, Alex akhirnya memutuskan untuk ke kelas dan menemui Mira. Mungkin temannya Letta itu bisa ia mintai bantuan walaupun bukan anggota PMR dan semoga saja Mira tahu apa yang bisa ia lakukan demi mengurangi rasa sakitnya Letta.


"Bego! Kenapa gue gak kepikiran dari tadi." umpat Alex lalu berlari menuju kelasnya.


Alex membalik tubuhnya menghadap atas. Kepalanya masih ia sandarkan ke pinggiran ranjang. Matanya menghadap ke atas dengan pandangan kosong. Nafasnya sudah mulai melambat dan perlahan ia sedikit tenang.


"Pak... to-long ...Pak." Alex menarik ujung kaos orang tua yang sedang mencari kayu bakar tak jauh dari sungai. Beruntung begitu Alex naik ke atas, ia melihat ada orang lain yang tidak jauh dari tempatnya memancing.


Bapak-bapak yang usianya sekitaran lima puluhan itu menoleh dan ia kaget melihat ada anak kecil yang berlinangan air mata sedang meminta tolong padanya.


"Minta tolong apa? Kamu kenapa?"


"I---itu..." isakan Alex terus keras dan ia tidak sanggup mengeluarkan suaranya lagi. Ia sudah menangis tanpa henti dan saat ini tenggorokkannya seperti tersumpal sesuatu sehingga ia tidak bisa bicara.


"Itu apa?" tanya bapak itu dengan bingung.


Namun bukannya menjawab, Alex terus menangis seakan air matanya tidak akan habis. Lalu ia mengarahkan tangannya ke sungai dan menunjuk-nunjuk ke sana.


"Apa apa di sana? Ada apa?" ditanyai begitu bukannya menjawab, Alex malah semakin menangis keras dengan tangan yang masih menunjuk ke arah sungai.


Bapak itu menggaruk tengkuknya karena bingung. Tapi sedetik kemudian matanya melotot begitu sebuah pemahaman masuk ke otaknya.


"Ayo cepat!!!" seru bapak pencari kayu bakar itu.


Alex mendengar suara ribut di kamarnya tapi ia tidak menghiraukannya. Alex masih memegangi kepalanya ketika rasa sakit itu tidak kunjung menghilang walaupun bayang-bayang itu sudah pergi. Ia hanya bisa terus memejamkan matanya dan berdoa semoga semua kesakitan ini segera berakhir.


***


"Kesakitan kenapa, Ma?" tanya Aji dari seberang telepon dengan khawatir.


"Kamu pasti bisa tebak sendiri dia kesakitan kenapa!" bentak Sari.


"Kalau mama gak jelasin mana aku tahu Alex kenapa. Alex kan sama mama sekarang, bukan sama aku." balas Aji frustasi.


"Mungkin ini ada kaitannya sama masa lalu dia!" kata Sari tetap berteriak walaupun ia bisa saja mengucapkannya dengan tenang.


"Mama jangan teriak-teriak." ujar Aji mencoba membuat Sari tenang.


Sari berkata dengan galak. "Heh?! Kamu kira mama teriak gini karena apa, mama ini khawatir sama anak kamu, sama Alex."


"Iya aku tahu mama pasti khawatir karena di sini aku juga khawatir sama Alex, tapi mama bisa kan ngomongnya tenang biar aku tahu apa yang terjadi."


Di seberang sana, Aji sedang memijat pelipisnya. Ia khawatir pada Alex, tapi kalau mamanya terus berteriak seperti itu membuatnya tidak bisa bepikir dengan jelas. "Mama sekarang dimana? Di kamarnya Alex?"


Sari menggeram marah. "Astaga, ya iyalah. Mana mungkin mama di luar kalau Alex lagi kesakitan begini."


"Dia kesakitan?" tanya Aji terkejut.


"Iya." Sari melirik ke arah Alex yang sedang memejamkan matanya. Alex sepertinya sama sekali tidak terganggu. "Mama berpikir mungkin dia ingat sesuatu di masa lalunya."


"Kalau begitu, suruh Alex tiduran aja dulu, Ma."


"Terus kalau dia udah tiduran bakalan sembuh, gitu? Astaga Aji, kasih hpnya ke Dinda saja cepat!" sembur Sari.


"Ma, aku kan ngasih tahu supaya---"


"Udah cepat kasih hpnya ke istri kamu."


Sari dapat mendengar helaan nafas Aji ketika ia selesai bicara. Lalu ia mendengar suara berisik dan suara menantunya mulai terdengar.


"Ma, ini Dinda."

__ADS_1


"Kamu pasti udah dengar soal Alex, kan?" tebak Sari.


"Iya sudah, Ma."


Sari menarik nafasnya dalam-dalam agar ia bisa tenang. "Kamu tahu cara buat Alex biar tenang dan gak kesakitan lagi?" tanya Sari dengan suara yang sudah tenang, tidak seperti waktu bicara dengan Aji.


"Itu obatnya ada di tasnya Alex."


Kening Sari mengernyit mendengar jawaban Dinda yang aneh. "Obat?"


"Iya, di dalam tasnya Alex."


"Tas apa emangnya?"


"Tas sekolahnya dia. Mama coba ambil tasnya Alex dulu."


Sari mengedarkan pandangannya dan melihat tasnya Alex menggantung di belakang pintu, mengambilnya lalu meletakannya ke meja. "Lalu apa?" Sari menunggu.


Ada jeda sesaat, mungkin Dinda sedang berpikir. "Mama coba buka bagian depan tasnya."


Dibukanya tas itu oleh Sari dan ia hanya menemukan pulpen beserta alat tulis lainnya seperti pensil dan penghapus. "Iya udah." katanya dengan heran karena tidak menemukan obat yang dimaksud Dinda.


"Coba lihat di situ ada bungkusan antimo, kalau ketemu---"


"Gak ada." Sari berucap sambil menggeleng.


"--- kasih itu ke Alex."


"Kok gak ada? Coba dilihat lagi, cek bagian pojok tasnya siapa tahu nyempil ke sana."


"Tetap gak ada."


"Bagian tas belakang juga gak ada, Ma?"


Sari membuka tas yang belakang dan tetap tidak menemukan apa yang Dina cari. "Tetap gak ada. Emang itu antimo buat apa? Bukannya antimo itu obat buat mabok kendaraan?"


"Itu sebenarnya bukan antimo, Ma. Wadahnya memang tulisannya antimo tapi isinya bukan." kali ini suara Dinda mulai bergetar. Dia sudah cemas sekali karena satu-satunya cara agar Alex cepat tenang malah tidak ada.


"Emang isinya apa?" tanya Sari yang bingung.


"Obat penenang. Nanti kalau Alex minum itu dia bakalan langsung tidur."


Iya itu memang obat penenang. Dinda memang selalu menyediakannya di rumah, makanya waktu Alex akan pergi ke desa, ia mengambil obat itu. Kebetulan sekali waktu kecil Alex beberapa kali kerap mabok perjalanan, jadi Dinda bisa mengakali dengan minta ke dokter agar obar penenang itu dibungkus dengan wadah antimo supaya Alex tidak curiga. Sewaktu ia akan pulang ke kota setelah mengantar Alex ke rumah Sari, ia menyelipkan bungkusan antimo itu ke dalam tasnya Alex.


Dinda ini sudah mengatur dan memikirkan ini sebelumnya. Ia sudah menebak kalau Alex ke desa, ada kemungkinan segala sesuatu terkait masa kecilnya mungkin akan membuat Alex ingat dan membuat anaknya tertekan. Maka dari itu ia meminta obatnya kembali ke dokter yang dulu pernah menangani Alex.


"Astaga... Mungkin sama dia udah dibuang." Sari melirik ke arah Alex. "Apa ada cara lain?" tanyanya cemas.


"Kayaknya gak ada, Ma." kata Dinda lemah. Kemudian Dinda melanjutkan. "Buat Alex segera tidur aja, mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya."


"Baiklah. Kamu di sana jangan khawatir. Biar mama yang urus Alex di sini." ujar Sari menenangkan. Kemudian ia menutup telfonnya.


***


Adakah yang bingung sama part ini 😅 Huaa aku mau jelasin tapi susah bahasanya. Bingung gimana penyampaiannya.


Jadi intinya tuh begini :


Di sini aku bandingin antara peristiwa waktu Alex Letta kecil sama waktu mereka udah besar.



Sewaktu Alex dan Letta pulang sekolah akan ke jembatan \= Ketika Alex dan Letta akan ke jembatan sebelum peristiwa itu terjadi.


Letta jatuh ke kolam renang \= Letta jatuh ke sungai.


Alex mencari-cari orang buat dimintai bantuan buat nolong Letta di UKS \= Alex mencari-cari orang buat nolong Letta yang jatuh ke sungai.



Terus bagian antimo, ingat gak pas Letta di bus dulu waktu mau ke kolam renang dia dikasih obat sama Alex, dan Letta langsung tidur gitu... 😂

__ADS_1


###Wkwkwk maksa banget nih yang buat cerita##


__ADS_2