Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 28


__ADS_3

Alex membuka matanya perlahan, bersamaan dengan tangannya menghalau sinar matahari yang masuk mengenai wajahnya. Ia hendak menegakkan tubuhnya, tapi tiba-tiba ia mengerang merasakan pening yang amat sangat di kepalanya. Kepalanya bagai dihantam sesuatu yang keras. Sakit.


Alex meringis, tangannya kemudian ia gunakan untuk meraba keningnya yang malah terasa panas. Alex berusaha keras untuk duduk, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya.


Tangannya bergerak memijat pelipisnya. Pikirannya belum sepenuhnya berkumpul, ia lalu teringat kemarin ia pulang berenang langsung mandi, tanpa memakai baju dulu ia mengambil ponselnya dan berakhir dengan bertukar pesan bersama Dani dan Fabian. Ia ingat tadi malam sinyal di hpnya hilang jadi Alex memilih untuk memejamkan matanya sejenak sambil menunggu sinyal datang lagi. Dan sialnya, ia ketiduran. Itu berarti juga kalau ia...


"Shit!" Alex terlonjak kaget melihat tubuhnya yang nyaris telanjang.


Ia segera bangun dan hendak menuju lemari mengambil baju. Tapi karena gerakannya tiba-tiba, ia malah hampir terjatuh ke lantai karena lemas. Kepalanya pun menjadi terasa semakin berdenyut-denyut.


Dirinya pun mendesis kesal, ia berjalan terseok ke lemari dan mengambil pakaian untuk dipakai, lengkap atasan dan bawahan. Setelah selesai ia kembali dan naik ke atas ranjang.


Ia menarik ponselnya yang masih tergeletak di atas kasur, membuka ponsel itu yang ternyata sudah mati, kehabisan daya mungkin karena ia lupa mematikan data seluler semalaman. Alex pun menjatuhkan poselnya lagi ke kasur.


Cowok itu kemudian berbaring terlentang sambil memandangi langit-langit kamar. Kemudian ketika rasa sakit di kepalanya datang lagi, Alex memejamkan mata dan tangannya ia arahkan untuk memijati pelipisnya berusaha mengurangi rasa sakit.


Alex menghela nafas, sekarang apa yang akan ia lakukan.


***


Salah satu kebiasaan buruk semua orang pemegang ponsel adalah bermain ponsel sambil berjalan. Mereka tidak tahu saja, kalau hal tersebut sangat berbahaya apalagi kalau dilakukan di jalan raya atau tempat yang ramai. Terbukti sudah banyak kecelakaan atau penjambretan terjadi karena kelakuan manusia yang satu ini. Terlalu sibuk dengan ponselnya hingga tidak tahu kalau bahaya sudah di depan mata.


Mungkin Letta merupakan salah satu dari orang-orang dengan kebiasaan buruk tersebut. Ia sedang membalas pesan dari Mira yang menanyainya mengenai kejadian kemarin. Rupanya Mira masih khawatir dan terus memastikan kalau Letta sekarang sudah baik-baik saja.


"Arletta Zachary, perhatikan langkahmu."


Suara tegas Wulan menghentikan kegiatan dan juga langkah Letta. Letta menoleh ke kanan juga ke kiri, tapi tidak menemukan siapa-siapa. Letta mengangkat bahunya tak acuh dan hendak jalan kembali tapi ia tersentak kaget begitu mendapati Wulan sudah berdiri di depannya.


Bukan itu saja yang membuat Letta kaget dan ponselnya nyaris jatuh, tetapi karena Wulan ternyata sedang membawa nampan berisi beberapa gelas kotor. Ia teringat pagi-pagi sekali tadi ada tamu yang meminta ayahnya untuk membantu mengurus perkebunan milik orang itu. Dan gelas-gelas yang dibawa Wulan ini pasti bekas tamu tadi.


"Kebiasaan kamu kalau udah megang hp suka buat dunia sendiri. Mulai sekarang, mama gak mau lihat kamu jalan sambil mainan hp lagi, mengerti. Coba aja tadi mama gak ngehentiin kamu, bayangin apa yang akan terjadi."


Letta meringis, ia sudah mendapatkan ceramah bahkan saat masih pagi begini. Mamanya yang sekarang jauh berbeda dengan mamanya yang tadi malam. Kalau yang tadi malam terlihat lemah lembut dan perhatian padanya, lah yang sekarang kok berubah jadi garang begini.


The power of emak gue, batin Letta.


Setelah meminta maaf, Letta izin keluar, menyatakan akan menggunakan wifi di rumah pohon.


Letta hendak naik ke rumah pohon, tetapi rencananya terhenti ketika melihat Sari berjalan melintas lewat jalan depan rumahnya. Dengan dipenuhi rasa kepo, Letta berusaha mengejar Sari.


"Nenek dari mana?" tanya Letta begitu langkahnya sudah sejajar dengan Sari.


Sari menoleh sesaat sambil terus berjalan. "Dari rumah Asep, minta dia buat beliin sesuatu."


Letta melirik ke arah dua keresek putih yang dipegang Sari.


"Itu apaan, Nek?" tanya Letta ingin tahu.


Sari tersenyum. "Ini bubur ayam."


Kelihatannya enak, minta boleh tidak yah?


Keduanya lalu berbelok ke rumah Sari.


"Kalau kamu mau, nanti kita makan bareng. Kebetulan nenek beli tiga bungkus."


Rejeki emang gak kemana.


"Terus yang satu lagi itu isinya apa?" Letta bertanya lagi.

__ADS_1


Sari menghentikan jalannya karena keduanya sudah sampai di depan pintu. Ia membuka pintunya yang ia kunci, sebelum masuk Sari sempat berkata pada Letta.


"Ini obat buat Alex, dia sakit."


***


"Kalau kamu sudah selesai makannya, tolong bawain bubur sama obatnya ke kamar Alex ya, pastiin dia makan buburnya sampai habis dan minum obatnya."


Letta teringat dengan ucapan Sari beberapa menit yang lalu. Ia sudah menghabiskan seporsi bubur ayam miliknya atau lebih tepatnya milik orang lain yang kemudian menjadi miliknya. Tanpa rasa malu ia makan bubur tadi. Ia sedang lapar karena mamanya belum masak dikarenakan sibuk mengurusi tamu yang datang tadi pagi. Lagian hubungannya dengan nenek Sari itu dekat sekali, bukan? Jadi ya rasanya tidak masalah.


Letta meraih nampan dan meletakan bubur, obat dan air putih ke nampan. Ia membawanya naik ke kamar Alex. Tadinya Letta akan mengetuk pintu dahulu, tapi lalu ia teringat kalau Alex sakit dan kemungkinan besar cowok itu tidak akan bangun dari tempat tidurnya. Maka perlahan ia membuka pintu kamar Alex, dan masuk ke dalam.


Mata Letta membelalak kaget melihat pemandangan di depannya. Keadaan Alex sungguh jauh dari ekspektasinya. Ia pikir Alex akan meringkuk di bawah selimut tebal dengan kain basah yang menempel di dahi seperti orang sakit lainnya, bukannya sedang tiduran di sofa depan televisi dengan tangannya mengapit sebatang rokok.


"Ngapain lo?" Alex menaikkan alisnya ke atas mendapati Letta berdiri mematung di depan pintu.


Letta mengerjapkan matanya tersadar. "Nenek lo nyuruh gue buat bawain makanan sama obat buat lo. Btw, bisa sakit juga lo."


"Gue juga manusia kali."


Kemudian Letta berjalan mendekat jadi Alex mengubah posisinya yang awalnya tidur menjadi duduk. Ia mengisap rokoknya kuat-kuat lalu menghembuskan asapnya ke atas. Letta terperangah sampai langkahnya terhenti.


Astaga, saat sakit malah Alex merokok. Coba kalau ketahuan sama nenek Sari bakalan dibabat habis tuh anak. Batin Letta.


"Matiin rokoknya, Al." perintah Letta.


Alex tampak diam saja tidak menanggapi.


"Gue bilang matiin rokoknya." ujar Letta geram.


"Berisik lo."


"Lo itu lagi sakit, harusnya lo tuh jaga kesehatan biar cepet sembuh, bukannya malah ngerokok yang bakalan buat lo tambah sakit. Lo ini emangnya mau cepet mati?" bentak Letta.


Alex nampaknya tidak terpengaruh dengan omelan Letta karena ia hanya memutar bola matanya malas. Ia tetap tenang ketika menjawab. "Satu rokok gak bakalan buat gue mati, gak usah lebay."


Letta menggeram. "Terserah lo deh, tapi gue minta lo tahan keinginan lo buat ngisap benda beracun itu karena-- demi apa lo itu lagi sakit, Alex."


Alex hanya bergumam mengiyakan, tidak mau mendengar ceramahnya Letta lagi. Toh ia juga merokoknya sekali dua kali doang, ia bukan pecandu rokok yang bisa menghabiskan sebungkus dalam sehari. Sebungkus rokok olehnya bisa habis antara satu sampai dua bulan. Tergantung keinginannya, karena ia merokok bukan karena kebutuhan, tapi karena ingin saja.


"Lo gak mau duduk?" Alex menunjuk sofa di sebelahnya yang kosong.


Letta yang masih kesal dengan sikap Alex yang menanggapinya biasa saja menjatuhkan tubuhnya dengan kasar. Ia diam ketika melihat Alex mengambil bubur yang Letta bawa.


"Ini buat gue kan?"


"Iya, tadi Nenek lo yang beli. Nenek lo perhatian banget sampe beliin lo bubur sama obat biar lo cepet sembuh, dan lo malah dengan enaknya buat diri lo biar tambah sakit."


Alex menoleh. "Lo mending diem."


Letta mencebikkan mulutnya ke depan. Ia mengambil remot yang ada di meja lalu mengubah acara televisi yang ia tonton. Karena ia tidak menemukan yang cocok, akhirnya ia mengembalikan ke saluran semula yang Alex tonton. Acara yang isinya cewek-cewek cantik sedang berpetualang yang disiarkan salah satu stasiun televisi nasional.


Selama Alex makan, keduanya diam. Tidak ada yang membuka suara. Dan ketika selesai makan, Alex mengambil obat dan meminumnya.


"Lo gak mau pulang?" tanya Alex sambil menyandarkan badannya ke sandaran sofa.


Letta menoleh. "Lo ngusir gue?"


Alex mengangkat bahunya. "Gak juga. Tanya aja."

__ADS_1


Letta mengangkat kedua kakinya ke atas sofa lalu duduk menyilang. Ia bosan melihat acara televisi di depannya, jadi pilihannya hanya mengajak Alex bicara.


"Ngomong-ngomong lo tadi gak takut ketahuan merokok sama nenek lo?" tanya Letta ingin tahu.


"Gue tahu gak bakalan ketahuan." jawab Alex santai.


"Pede banget."


"Emang gitu kenyatannya. Nenek gue juga gak lagi di rumah, kan."


"Kok lo tahu?"


"Karena tadi gue lihat nenek gue pergi ke kebun, biasanya sih lama. Gue jadi ada waktu buat ngerokok."


Letta jadi bingung apa benar Alex sakit. Karena selihatnya, sikap Alex dari ia masuk sampai sekarang Alex tampai baik-baik saja. Anak itu juga malah masih bisa merokok dan selalu menanggapi ucapannya dengan santai dan tetap tenang. Ia jadi ragu kalau Alex ini sebenernya hanya pura-pura.


Tapi kalau Letta menelisik lagi, Alex memang tampak lebih pucat dari biasanya. Rambutnya tidak tertata rapih, eh tapi mungkin ini karena cowok itu tiduran makanya rambutnya berantakan. Lalu matanya terlihat sayu, turun ke bawah bibirnya juga tidak merah, warnanya sedikit putih pucat.


"Ngapain liatin gue?" Alex menyeringai.


Letta tersentak. Astaga, jadi dari tadi ia melihati Alex.


"Siapa juga yang lihatin lo. Gue cuma sangsi kalau lo itu gak sakit. Lo kelihatan-- baik-baik aja." kata Letta sambil mengalihkan pandangannya. Takutnya kalau melihat ke Alex, nanti cowok itu akan tahu kebohongannya ini.


Letta tahu sekarang giliran Alex yang melihatinya dan ia tidak siap balik menatap Alex karena jantungnya sudah berdegup kencang. Sialan kenapa ia jadi begini coba.


"Kalau gue gak sakit buat apa nenek gue beliin gue obat." jawab Alex tenang.


Letta berusaha menjaga agar suaranya tetap biasa tanpa bergetar karena ia merasa... gugup. "Bisa jadi kan itu cuma akal-akalan lo doang."


Alex menarik sudut bibirnya ke atas. "Gak ada untungnya buat gue ngelakuin itu. Lagian lo tahu kenapa gue bisa sakit gini?"


"Gak tahu." Letta menggeleng. Ia kini memfokuskan matanya ke televisi demi menghindari kontak mata dengan Alex.


"Alasannya itu lo."


Letta dengan cepat menoleh dan hampir saja ia terjungkal ke belakang mendapati Alex sudah berada sangat dekat dengannya. Letta bergerak gelisah dan mundur sedikit, merasa tak nyaman. Apalagi dengan jantungnya malah semakin berdegup kencang rasanya ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


"Kenapa gue?" Letta tidak sadar menatap mata Alex yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Karena kemarin gue nolongin lo waktu lo jatuh. Dan lo buat gue lama ganti baju. Lo buat gue nunggu, lo tahu gue gak bisa lama-lama pakai baju basah. Gue kedinginan dan jatuh sakit kayak gini."


Alex mengerang dalam hati. Ia berbohong hanya untuk mengerjai Letta tapi alasan yang keluar malah sangat tidak masuk akal. Kalau dipikir lagi yang harusnya sakit kan Letta, bukan dirinya. Apalagi faktanya Alex sakit karena ia tidur hampir telanjang, sedangkan cuaca malam hari itu dingin.


Ia bisa melihat dahi Letta mengernyit sesaat mungkin karena berpikir alasannya itu aneh, tapi sejurus kemudian ia melihat tatapan Letta yang merasa bersalah.


"Soal itu gue minta maaf."


"Dan juga terima kasih." sambungnya.


Alex ingin mundur tapi itu bukan ciri khasnya. Ia tahu Letta merasa tidak nyaman sekarang apalagi dengan posisi keduanya yang sudah sangat dekat.


"Bisa lo mundur sedikit." Letta yang sudah tidak tahan akan mendorong dada Alex agar mundur. Ia tidak ingin Alex tahu kalau jantungnya bereaksi hebat untuk cowok itu, ia tidak mau Alex tahu fakta kalau ia sedang gugup.


Namun badannya menegang ketika tangannya malah dicekal Alex. Letta menahan nafas ketika Alex membawa tangan Alex ke dahi cowok itu.


Saat itu juga Letta hampir terperanjat karena nyatanya badan Alex sangat panas. Jadi ternyata benar kalau Alex ini sakit, bukan cuma akal-akalan doang.


"Pelajaran buat lo hari ini, lo gak bisa menilai orang lain cuma dari penampilannya aja. Lo mengira gue gak sakit dengan alasan luarnya gue tampak baik-baik aja, tapi kenyataannya lo nggak tahu gue sedang menahan rasa sakit itu sendiri, disini, di kepala gue, di seluruh badan gue. Gue cuma-- gak mau terlihat lemah."

__ADS_1


__ADS_2