Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 57


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian.


"Papa!"


Alex mendongak dari laptopnya ketika mendengar suara Milo, anak laki-lakinya. Ia melihat Milo yang berusia enam tahun itu berdiri di ambang pintu sebelum akhirnya berlari masuk dan mendekat ke Alex.


Alex dengan segera menyingkirkan laptop yang ada di pangkuannya ke atas nakas. Ia turun dari ranjang dan dengan sigap menangkap Milo yang berlari ke arahnya lalu memutar Milo ke udara, membuat anak laki-lakinya itu tertawa lepas.


Setelah tawa anaknya reda, Alex melepaskan tas, sepatu dan kaos kaki yang Milo pakai untuk ke sekolah. Sedangkan seragam sekolah taman kanak-kanak Milo masih melekat di tubuh bocah mungil itu. Masih dalam gendongan, Alex membawa Milo mendekat ke kasurnya.


"Gimana tadi sekolahnya?" tanya Alex kemudian. Alex lalu duduk ke tepi ranjang dan meletakkan Milo ke pangkuannya.


"Tadi aku berantem sama teman aku, Pa. Dan coba papa tebak siapa yang menang?" jawab Milo dengan semangat sampai menghentak-hentakan pantatnya ke pangkuan Alex.


Alex jadi semakin mengeratkan pegangannya di pinggang Milo agar anaknya itu tidak sampai terjungkal ke belakang. Jawaban Milo tadi berhasil membuatnya mengerutkan dahi karena jika dihitung Milo ini sejak masuk TK lima bulan yang lalu sudah tiga kali berantem dengan teman sebayanya termasuk yang sekarang. "Kamu berantem lagi? Kan papa udah larang kamu buat berantem." kata Alex.


Bukannya merasa takut dengan gertakan kecil ayahnya, Milo malah hanya menatap Alex dengan polos. "Tapi kan teman aku nakal, Pa. Dia tadi narik rambutnya Shila sampai Shila menangis. Aku udah bilang ke Gion biar gak nakal lagi tapi dia malah gak terima dan mukul aku."


"Kamu dipukul?" rasa marah masuk ke diri Alex mengetahui kalau anaknya dipukul. Rasanya ia ingin mencekik siapa saja yang menyakiti anaknya.


Milo mengangguk. "Iya, Pa."


"Mana yang sakit?" tanya Alex khawatir dan langsung mengecek setiap inch tubuh Milo. Takutnya Milo ini terluka.


Namun sepertinya Milo tidak paham akan kekhawatiran ayahnya, Milo malah cekikikan begitu tangan ayahnya itu terasa geli di perutnya ketika tangan ayahnya bergerak kesana kemari mengecek bagian tubuhnya.


"Gak ada yang sakit. Milo kan anak kuat."


Ucapan Milo tidak langsung  mmebuat Alex lega.


"Terus apa yang kamu lakuin setelah dia mukul kamu?" tanya Alex penasaran.


Mata Milo seketika berbinar dan ia membuat kepalan tinju lalu membuat gerakan meninju ke depan. Hal itu tentunya membuat Alex terkaget. Dan jawaban Milo selanjutnya membuat ia lebih kaget.


"Aku pukul balik." aku Milo dengan cengiran lebar sampai kedua sudut matanya menyipit.


Seharusnya Alex tidak kaget mendengar jawaban itu. Toh sewaktu dulu Milo berantem sama teman sekelasnya juga jawabannya begitu., Milo akan memukul balik temannya. Walau begitu Alex tahu dengan pasti kalau yang memulai perkelahian antara bocah cilik itu bukan Milo yang memulai, karena Alex selalu memberitahu Milo untuk menjaga sikap. Namun jika ada seseorang yang berusaha jahat pada anaknya, Alex memerintahkan Milo untuk membalas agar orang itu tahu kalau Milo kuat dan tidak mudah terkalahkan. Yahh... Mungkin ini memang pelajaran sesatnya dari Alex. Tapi Alex tetap senang karena anaknya ini tetap mau menurut.


"Nahh ini baru anak papa." kata Alex kemudian sambil mengelus rambut Milo dengan lembut. Milo tampak sangat senang juga, membuat hati Alex menghangat melihat senyuman anaknya yang kian lebar.


Alex masih terus mengelus kepala Milo ketika anaknya itu berkata."Oh iya tadi papa belum jawab pertanyaan Milo."


"Memang Milo tadi nanya apa?" tanya Alex bingung.


"Milo minta papa buat nebak siapa yang menang."


Alex menggeleng. "Papa gak tahu." Ia sebenarnya tahu jawabannya pasti anaknya yang menang. Tapi ia berpura-pura tidak tahu saja. "Mungkin Gion." lanjutnya dengan pelan.


Milo mengerucutkan bibirnya ke depan lalu ia membuat tanda silang dengan tangan di depan dada. "Papa salah."


Alex membulatkan matanya seperti terkejut. Alex berucap seakan antusias. "Terus yang menang siapa?"


Milo menarik nafas sebelum kemudian berseru. "Yang menang itu aku." aku Milo dengan bangga. Satu tangannya ia gunakan untuk menepuk dada seakan menunjukkan kalau  ia adalah seorang pemenang sejati.

__ADS_1


Belum sempat Alex menanggapi, pintu kamarnya sudah terayun terbuka kembali, memperlihatkan sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Ayah dan anak itu seketika menoleh.


"Mimih!" seru Milo senang begitu melihat neneknya datang. Benar, panggilan mimih itu untuk Dinda, mamanya Alex sekaligus neneknya Milo.


Yang terjadi selanjutnya adalah Milo melepaskan diri dari Alex, melompat turun dari ranjang dan langsung menerjang kaki neneknya. Dinda dan Alex tertawa melihat tingkah Milo.


"Milo mau digendong mimih." pinta Milo sambil menggerakkan tubuh mungilnya dengan tangannya yang masih memeluk kaki Dinda.


Dinda menuruti permintaan Milo, ia lalu menggendong Milo sebelum akhirnya berjalan ke Alex.


"Kamu makin kesini tambah berat, nanti lama-lama mimih gak bisa gendong kamu lagi." ucap Dinda seraya menarik hidung Milo karena gemas.  


Dinda memang sangat dekat dengan Milo. Maklum saja, Milo yang masih kecil sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Dan peran ibu itulah yang diisi oleh Dinda. Mona selaku ibu dari Milo meninggal dunia seminggu setelah melahirkan Milo. Penyakit yang menggerogotinya dan karena faktor umur yang masih terlalu muda untuk menjalani persalinan membuat Mona kehilangan banyak darah dan harus dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Milo. Hingga akhirnya seminggu kemudian Mona menghembuskan nafas terakhirnya. Bersyukur sekali ketika Milo dites, penyakit kanker itu tidak turun ke anaknya.


Walau selama satu minggu itu Milo sering bersama ibunya, tetapi jelas Milo tidak akan pernah bisa mengingat sosok ibu kandungnya di usianya yang sekarang. Hanya lewat foto saja Milo bisa melihat ibunya dan foto itu Alex letakkan di nakas samping tempat tidur dan juga dalam pigura di dalam kamarnya. Belum lagi foto pernikahannya dengan Mona tujuh tahun yang lalu di usianya yang masih mudah tergantung di ruang televisi.


Salah satu foto di kamar Alex diambil sehari setelah Mona melahirkan dengan Milo yang masih bayi berada dalam pelukan Mona. Alex ingat dirinya lah yang memfoto mereka berdua. Ia juga masih ingat raut wajah bahagia Mona begitu melahirkan Milo dan Alex juga mengingat betapa ia terharu ketika melihat anaknya lahir dengan sehat dan selamat. Alex sempat tidak bisa berkata-kata waktu itu ketika melihat wajah malaikat kecilnya yang sangat tampan.


Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Hanya seminggu kemudian Mona pergi meninggalkan dirinya dan anak mereka untuk selama-lamanya. Alex ingat ia sedih sampai menangisi kepergian Mona. Walau pernikahan mereka bukan karena dasar cinta, namun selama bersama Mona, Alex selalu berusaha menjadi suami sekaligus teman yang baik. Seakan mengerti kesedihan disekitarnya dan merasakan kehilangan, bayi Milo selama sebulan sejak kepergian ibunya selalu menangis dan gelisah. Mungkin Milo walaupun masih bayi yang belum tahu apa-apa tetap merasakan kehilangan ibunya. Selama seminggu cukup bagi bayi Milo untuk mengetahui dan mengenal sosok ibunya dengan baik. Makanya sewaktu Mona tidak ada, Milo terus-terusan menangis.


Penempatan foto Mona di rumah juga sengaja dilakukan agar Milo bisa selalu mengingat ibunya dan mengobati rasa kangennya akan sosok ibu. Walaupun sudah ada Dinda di sisi Milo, namun jelas peran ibu akan terasa kurang. Seringkali Milo akan menangis begitu melihat foto ibunya, dan tangisan anaknya itu berhasil membuat hati Alex seperti diremas-remas dari dalam. Milo baru akan berhenti ketika anak itu jatuh tertidur karena lelah menangis.


Milano Radiansyah Ajibrata, begitulah nama panjang Milo yang sebenarnya. Dua nama di awal itu hasil pemberian dari almarhum kakaknya Mona, si Jamal. Sedangkan Ajibrata sudah jelas dari keluarga Alex.


"Anak kamu itu, Al, tadi habis berantem lagi di sekolah." ucapan Dinda memecahkan lamunan Alex. Membuatnya kembali ke dunia nyata.


Alex tersenyum kecil. "Milo tadi udah ngasih tahu aku, Ma."


Milo yang berada dalam gendongan Dinda yang digendong seperti bayi koala hanya menyengir tak berdosa walau ia tahu kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan. Sedangkan Dinda menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Kelakuannya persis banget sama papanya."


"Pantes aja tadi mama dapet panggilan dari TK buat datang ke sekolah, mama kira bakalan pulang cepat, malah ternyata mama dikasih tahu anak kamu habis berantem lagi sama anak orang." papar Dinda sambil menggelengkan kepala.


Satu hal lagi yang harus diketahui adalah semua urusan sekolahnya Milo diurus dan ditangani oleh Dinda langsung. Kata Dinda sih biar Alex yang bekerja, sedangkan Dinda mengurus masalah sekolah Milo. Tapi yang paling membuat geram adalah Dinda hanya memberikan Alex satu kali kesempatan untuk menjemput Milo pulang sekolah selama sebulan. Yah dia hanya sekali saja dalam sebulan bisa menjemput Milo pulang sekolah. Kalau mengantar sih biasanya sekalian dengan Alex pergi bekerja ke kantor.


Namun bukan hanya masalah jemput menjemput Milo yang dilarang Dinda, melainkan acara TK dan segala macam perkumpulan orang tua pun Alex dilarang datang oleh Dinda. Alasannya lagi karena kebanyakan yang datang adalah ibu-ibu makanya Dinda yang selalu datang, bukannya Alex. Padahal Alex kan ingin tahu sekali bagaimana perkembangan sekolah anaknya. Tapi terus saja Dinda beralasan sehingga mau tidak mau Alex mengalah.


"Namanya Gion. Dia tadi juga mamanya datang ke sekolah lebih awal." ucapan Milo membuat Alex mengubah fokusnya ke anaknya itu, begitupun dengan Dinda.


"Coba aja aku bisa dijemput sama mama seperti teman-teman." lanjut Milo tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.


Alex dan Dinda terdiam membeku, mereka bingung akan menanggapi bagaimana. Sampai akhirnya Milo terisak dan membenamkan wajahnya ke lekuk leher Dinda.


"Milo mau mama. Milo pengen ketemu sama mama." gumam Milo dalam pelukan Dinda. "Milo ingin ngerasain gimana punya mama kayak teman-teman." isak Milo. Seketika itu Dinda merasakan sesuatunyang dingin membasahi lehernya. Milo menangis.


Dinda menenangkan Milo dengan mengusap punggung cucunya itu. Sedangkan Alex hanya terdiam mematung di tempatnya. Hal seperti ini sering terjadi tetapi tetap saja terus membuatnya ikutan sakit dan sedih seakan ia bisa merasakan kesedihan Milo. Bagaimanapun Milo adalah anak kandungnya, jadi Alex bisa dengan cepat merasakan apa yang Milo rasakan juga.


Keheningan cukup lama di antara tiga orang itu sampai akhirnya Dinda yang membuka suara.


"Alex, dia tidur." ujar Dinda ketika merasakan deru nafas Milo yang teratur mengenai lehernya.


Alex lalu meminta Dinda untuk menidurkan Milo ke ranjang. Ini adalah kamarnya dan Milo. Mereka berdua berbagi kamar bersama. Alex sengaja membuat kamarnya bersama Milo agar ia terus bisa dekat dengan anaknya. Setiap malam ia akan tidur memeluk Milo. Sungguh Alex sangat menyayangi anaknya ini walaupun dulu sekali ia memang sempat kurang senang awalnya dengan kehamilan Mona yang mengandung Milo karena membuatnya terpaksa berpisah dengan Letta. Ahh iya Letta, Alex penasaran bagaimana kabar cewek itu selama tujuh tahun ini. Selama tujuh tahun juga ia tidak pernah bertemu dengan Letta lagi.


"Sekarang kamu lihat kan, Milo butuh seorang ibu, Alex. Kamu seharusnya cepat-cepat cari istri lagi dan bisa jadi ibu buat Milo." cerca Dinda begitu berhasil menidurkan Milo ke ranjang tanpa membangunkan Milo.

__ADS_1


"Tapi, Ma, bagiku Mona udah cukup." desah Alex.


Dinda berubah menatap Alex tegas. Berhubung Milo sudah tidur, jadi ia bisa memarahi anaknya ini. "Gak, mungkin bagi kamu Mona udah cukup. Tapi bagaimana dengan Milo. Dia gak akan cukup hanya dengan lihat sosok ibunya lewat foto, Milo butuh merasakan, Milo butuh kasih sayang dari seorang ibu secara langsung. Bukan, bukan dari neneknya, karena jelas ini berbeda."


"Mama aku gak bisa." Alex berujar frustasi. Ia membalikkan badannya agar Dinda tidak melihat ekspresinya.


"Apa yang buat kamu gak bisa?" tantang Dinda.


"Aku gak bisa menikah lagi."


"Kenapa kamu gak bisa nikah lagi?"


Alex menghela nafas lelah karena ia tahu mamanya ini pasti tidak akan berhenti sampai Alex kalah. "Ya pokoknya Alex gak bisa."


"Bukan gak bisa, tapi menurut mama itu karena kamu menolak mau. Kamu menolak kata hati kamu buat menikah lagi."


Dan Alex menjadi semakin bingung dengan perkataan mamanya. "Ma, Mona gak akan suka kalau aku menikah lagi. Aku akan terus hormatin dia sebagai istri aku dan ibu dari anakku."


Dinda tertawa lepas dan rasanya ia geram sekali ingin memukul kepala Alex agar anaknya itu waras kembali dan otaknya bisa berpikir normal lagi. "Kamu pasti gak pikun buat ingat kalau Mona udah pernah ngasih tahu kamu soal ini. Dia bahkan minta kamu buat menikah lagi sama orang yang nantinya kamu cintai. Tapi sudah enam tahun lebih sejak dia meninggal, kamu belum penuhi permintaannya."


Tentu saja Alex tidak lupa akan hak itu, hanya saja ia pura-pura kalau ia sudah melupakan perihal itu. Alex melirik ke belakang ke arah Milo sebentar takutnya anaknya itu bangun karena merasa berisik. "Itu karena aku gak bisa, Ma. Aku gak bisa menikah lagi." bisik Alex kemudian sambil memalingkan wajahnya dari Milo.


"Itu terus alasan kamu." cibir Dinda.


"Ma---"


"Apa semua ini gara-gara dia?"


Pukulan telak untuk Alex.


"Ma, kita udah sepakat gak bakal bahas ini lagi." erangnya.


"Iya kan pasti karena dia, karena Letta. Letta aja udah mau bangun rumah tangganya sendiri sama Hami."


Alex menegang mendengarnya walaupun ini bukan untuk pertama kalinya ia mendengar tentang hal itu. "Mama."


"Apa? Toh emang itu kenyataannya. Sejak kamu balik ke kota kamu gak pernah mau ke desa lagi bahkan untuk sekedar liburan atau nemuin nenek kamu. Dan akhirnya kamu lewatin banyak hal. Sampai akhirnya setahun yang lalu Letta ngundang kamu ke acara pertunangan dia tapi kamu yang begonya gak ketulungan milih buat gak datang."


"Sekarang kamu lihat itu undangan pernikahannya udah ada di meja kamu. Kesempatan kamu udah habis dan kamu gak akan bisa lari dari undangan ini. Mama akan mastiin kamu datang ke sana."


"Sekarang mama mau keluar. Kamu di sini berpikirlah buat milih sekiranya siapa yang pantas jadi istri kamu dan ibu buat Milo."


Suara debaman pintu menyadarkan Alex kalau mamanya sudah keluar dari kamar. Sekarang hening yang menyelimuti kamarnya kecuali suara nafas teratur Milo dan detak jam dinding.


Pandangan Alex tertuju ke arah undangan pernikahan yang didesain sangat apik yang tergeletak di atas meja. Alex berjalan mengambil undangan itu dan membukanya untuk kesekian puluh kali seakan akan kalau ia membukanya terus akan mengubah isi dari undangan itu.


Di situ tercetak dengan jelas nama Letta dan Hami yang bersanding untuk ke pelaminan. Alex terus melihat ke nama Letta dan rasa sakit di hatinya menyerang tanpa ampun. Alex tidak *** undangan itu, ia hanya melipatnya kembali dan meletakannya ke atas meja kembali.


Tiga hari lagi pernikahan orang yang ia suka sejak dulu sampai sekarang akan dilangsungkan. Alex merasa tenggorokannya tercekat begitu membayangkan Letta bersanding mengucapkan janji suci sehidup  semati dengan pria lain.


Alex kemudian melarikan matanya ke arah Milo, buah hatinya, anak tersayangnya. Alex berjalan mendekat lalu ia naik ke atas ranjang, merebahkan diri tepat di samping Milo. Disingkirkannya helaian rambut Milo yang ke depan menutupi wajah anaknya. Milo sangat mirip dengan Alex sewaktu kecil, Alex sudah membandingkannya sendiri dengan foto masa kecilnya. Milo bahkan lebih mirip seperti kembarannya. Jantungnya berdenyut ketika melihat bekas air mata di pipi Milo. Kesedihan Milo ini rasanya semakin lama terus menghancurkan Alex.


Alex meraih Milo mendekat lalu memeluknya. Ia mencium kening anaknya dengan sayang.

__ADS_1


"Mungkin perkataan mama ada benarnya dan gue harus nyari ibu buat Milo."


__ADS_2