Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 7


__ADS_3

Tak ada yang lebih menyenangkan lagi daripada mendapatkan wifi di sebuah desa yang kadar sinyalnya sangat minim. Entah ini cuma di rumah Sari saja yang sinyalnya sedikit atau memang satu desa seperti itu.



Yang jelas saat Alex menjajakkan kakinya keluar untuk menikmati angin malam, sinyal ponselnya berubah menjadi penuh dan yang paling membuatnya hampir berteriak girang adalah ia menemukan sinyal wifi. Entah siapa yang memasang wifi, tapi yang bisa Alex tebak kalau itu milik salah satu tetangga Sari.



Betul saja, semakin Alex melangkahkan kakinya keluar, sinyalnya semakin kuat. Tidak terlalu jauh hanya terpaut satu rumah dari rumah Sari. Sekarang Alex sudah berada di samping rumah yang Alex tidak ketahui pemiliknya itu.



Di rumah inilah sinyal wifinya sangat kuat. Beruntung tidak ada orang di luar selain dirinya karena mungkin cuacanya yang sedang dingin jadi membuat orang lain tidak mau keluar rumah. Alex yang pernah belajar cara membobol password wifi terus mencoba mengingat caranya tapi tetap saja gagal. Dulu ia pernah diberi tahu caranya oleh teman beda sekolahnya yang mengambil jurusan Teknologi Komputer dan Jaringan alias TKJ bagaimana caranya membobol password wifi seseorang. Alex menyayangkan otaknya yang super duper mudah lupa karena tidak ingat ajaran berfaedah temannya itu.



"Sial, gagal lagi." Alex mendesah frustasi karena terus saja gagal setelah percoaban entah ke berapa kali. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling takutnya ada orang yang mendengar suaranya. Sekelebat, ia melihat ada sesuatu di atasnya. Ketika ia mendongak ia mendapati ada sebuah rumah pohon tepat berada atasnya.



"Naik atau enggak ya?" tanya Alex pada dirinya sendiri. Ia berpikir mungkin dengan duduk di rumah pohon itu ia bisa merasa lebih santai. Walau ia tidak bisa pakai wifinya, toh ia masih ada paket data seluler. Lagian siapa tahu juga kalau nanti sinyal di atas bisa lebih cepat.



"Oke, kali ini gue coba. Kalau sinyalnya jelek gue bisa turun lagi." ujar Alex lalu memanjatkan kakinya ke atas tepatnya masuk ke rumah pohon itu.



Suasana rumah pohon yang gelap gulita membuat Alex menyalakan senter yang terdapat dalam fitur hpnya. Tepat ketika Alex menyalakannya, ia dapat melihat sebuah saklar berada di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Alex memencet tombolnya dan sedetik kemudian lampu di dalam rumah pohon itu menyala menerangi gelapnya rumah pohon itu.



Sekarang Alex dapat melihat keseluruhan di dalam rumah pohon itu. Rumahnya terlihat sudah tua karena ia dapat melihat beberapa papan kayunya sudah reot dan ditambal dengan kayu lain, bagian papannya juga terdapat banyak sekali coretan khas anak kecil. Hanya coretan angka, kata-kata dan beberapa gambar anak-anak.



"Kayak gini kan enak." Alex kemudian menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah pohon itu. Tanpa sengaja matanya melihat sebuah siluet kertas berwarna putih di salah satu dinding kayu. Terlihat kontras karena jelas kayunya berwarna coklat jadi kertasnya dapat terlihat dengan jelas.



"Masa gue penasaran sama kertas." gumamnya. Walau begitu, Alex memajukan tubuhnya sebentar untuk melihat sesuatu yang tertulis di kertas itu.



Jam10siang



Dahinya mengernyit bingun. "Apaan coba, kurang kerjaan banget yang nulis." Begitu Alex akan memundurkan punggungnya sebuah pikiran terlintas begitu saja di otaknya.



"Jangan bilang kalau ini password wifinya." kekehnya. Lantas ia segera membuka hp dan mencoba memasukan password itu di wifi yang sejak tadi gagal ia bobol.



"Gotcha!" teriak Alex tanpa sengaja begitu hpnya menujukkan kata terhubung dengan wifi.



Jari jemarinya mulai telaten membuka satu persatu aplikasi chat agar chatnya pada masuk. Betul saja, sedetik kemudian hpnya tak berhentinya bergetar. Beratus-ratus pesan yang kebanyakan dari teman dan juga mantannya yang ia pacari sesaat hanya demi kesenangan dan ia campakan begitu bosan semuanya masuk satu persatu sampai membuat hpnya sempat macet beberapa detik. Kebanyakan menanyakan tentang perpindahannya.



Ada yang basa-basi tanya kabar di desa bagaimana, apa ada cewek menarik di sana, apakah desanya termasuk pedalaman, apakah ada air ada listrik, ada yang menanyakan apakah ia betah karena kalau tidak ia ditawari untuk kabur, ada pula yang nanya apa benar Alex dibuang ke Papua dan segala hal-hal aneh lainnya. Semuanya benar-benar chat tidak penting.



Alex terlalu malas untuk sekedar membalasnya satu persatu bahkan kepada kedua temannya sekalipun ia sedang malas. Patut Alex syukuri karena dari matanya melihat semua pesan yang masuk dari luar ia tidak melihat adanya pesan yang menyinggung masalah terakhirnya kemarin kecuali dua sahabat kunyuknya, Dani dan Fabian. Mereka berdua selalu tahu masalah Alex karena jelas ketiganya sering kali melakukan segala sesuatunya bersama-sama jadi tidak ada satupun hal yang mereka lewatkan.



Alex juga belum menjawab pertanyaan Dani tadi siang. Sekali lagi, Alex terlalu malas untuk sekedar membalas pesan.



"Mendingan gue download film."



Satu jam kemudian ia sudah berhasil mengunduh banyak film action luar negeri. Manfaatnya jelas untuk membunuh kegabutannya selama di rumah nanti. Walau ia membawa laptop, tapi semua film di laptopnya sudah ditonton semua jadi lebih baik download lagi daripada menontonnya berulang-ulang. Gak asik.



"AKHHH... !!!"



Alex terlonjak kaget begitu mendengar teriakan lantang seorang perempuan yang entah darimana asalnya. Dadanya terus berdetak kencang karena saking kagetnya.



"Sialan, gue kira kuntilanak cuma bisa nyengir. Ternyata bisa teriak juga." ucap Alex sembari mengelus dadanya naik turun.



Ia jadi bergidik ngeri kalau membayangkan itu memang hantu berwujud kuntilanak. Apalagi waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, mungkin kalau di kotanya jam sepuluh malam masih sangat ramai, tapi berbeda disini. Jam sepuluh saja sepinya mengalahkan kuburan,  bahkan kuburan di daerahnya dulu tidak sesepi ini. Alex baru menyadari kalau sedari tadi hanya ia sendirian, suasananya juga terlalu hening, tak ada suara apapun yang ia dengar kecuali suara kuntilanak tadi.



"Anjir, masih 500 MB lagi downloadnya. Ahh bodo, mending gue balik ke rumah daripada terus-terusan di sini."


__ADS_1


Dengan gerakan cepat Alex segera beranjak dan turun dari rumah pohon itu dan melangkahkan kakinya cepat-cepat ke dalan rumahnya kembali. Toh ia masih bisa meneruskan acara downloadnya tanpa menggunakan wifi, itupun kalau ada sinyal.



Baru saja disebut, sekarang sinyalnya malah ngilang begitu saja ketika Alex tepat masuk ke dalam rumah. Alex hanya menghela nafas kasar melihat sinyal hpnya yang tidak ada sama sekali. Ia lalu memilih masuk ke dalam kamar dan bergelung bersama selimut, mencoba memejamkan mata berharap hari esok lebih baik. Dan tentu semoga saja besok ia bisa melanjutkan acara pakai wifi orang lain. Kalo ada yang gratis kenapa tidak?



***



Letta pikir kalau hari ini memang benar-benar sial. Tadi di sekolah sudah jelas kalau Hami berusaha mendekatinya lagi. Walaupun tujuannya itu untuk meminta maaf karena selama ini sudah menjauhinya dan Hami mencoba memperbaiki semuanya agar persahabatan di antara keduanya kembali ke semula, tapi Letta tentu tidak semudah itu memaafkan Hami.



Hami itu terlalu tidak peka sebagai cowok. Selama ini Hami selalu saja mencurahkan semua kasih sayangnya pada Letta, Hami selalu ada ketika Letta mengalami kesulitan dan yang paling tidak bisa Letta lupakan adalah fakta kalau selama ini Hami selalu mengantar jemput Letta untuk sekolah. Semua itu jelas berbeda ketika Hami sudah punya pacar, ditambah lagi alasannya Hami tadi hanya karena tidak ingin pacarnya berpikir yang aneh-aneh.



Hami jadi tidak pernah ada untuknya bahkan selalu menghindar kalau berada di dekat Letta. Kalau begitu sudah jelas Hami dan dirinya tidak pernah lagi berangkat dan pulang sekolah bersama lagi. Cowok itu hanya tidak tahu kalau Letta sudah menyiapkan sesuatu yang besar untuknya, sesuatu yang sangat Letta nantikan dari Hami tapi tidak kunjung tiba.



"Ngapain juga Mira nyuruh gue buat buka instagram. Gak tahu apa mood gue lagi jelek banget." gerutu Letta kesal.



Sejak tadi memang Mira memberondongnya berbagai pesan dengan satu tujuan yang sama yaitu membuka instagram. Tadinya Letta acuh tak acuh, tapi lama kelamaan ia risih juga. Akhirnya, Letta menurut dan jarinya kemudian membuka aplikasi bernama instagram itu.



"Gak ada apa-apa." cibir Letta.



Tangannya terus menggulung layar ke bawah. Yang muncul hanya foto teman-temannya, atau foto postan dari OA, terutama OA quotes yang banyak bertebaran di beranda instagramnya.



"Lucu itu ketika dulu kita sedekat nadi, tapi sekarang jauh layaknya matahari sama bumi." kata Letta membaca salah satu quotes yang muncul.



Klise. Tapi bener.



Jarinya terus menscroll layarnya ke bawah dan satu foto sukses membuat kedua bola matanya membesar.



"AKHHH... !!!" teriak Letta keras sekali.




Gak pernah nyesel gue pilih lo jadi pacar gue. Love @AjengNirmala



Cowok yang berada di dalam foto itu adalah Hami dan ceweknya sudah jelas Ajeng. Dan akun yang memposting foto itu adalah @Hami2414 yang mana itu adalah akun milik Hami, si cowok PHP dengan kadar kepekaan 0.00001 %.



"Najis banget sih post begituan. Kayak gak ada gambar lainnya aja." teriak Letta lagi cukup keras.



Tidak, Letta tidak boleh menangis lagi. Sudah cukup tadi siang ia menangis saat di kantin, sekarang ia tidak bisa lagi menghabiskan air matanya hanya untuk menangisi Hami.



Hami sudah bahagia disana. Bukankah biasanya orang akan bilang kalau bisa bahagia jika orang yang dicintainya juga bahagia. Cihh, Letta sebenarnya Letta sangat menentang pemikiran seperti itu.



Salahkan saja Ajeng yang tiba-tiba muncul dan menghancurkan semuanya. Baginya Ajeng terlalu cantik hingga Hami mudah terpikat dengannya, berbeda dengan Letta. Membuat Hami suka padanya saja mungkin butuh waktu beratus-ratus tahun lamanya.



"Apa kurangnya gue coba. Gue emang gak cantik secantik dia tapi gue beneran tulus sama lo, Ham. Gue yang selalu buat lo senyum setiap hari, cuma gue yang bisa buat lo ketawa lebar selama ini. Tapi kenapa dia yang bahkan baru datang dalam hidup lo, malah lo sukanya sama dia. Dia yang awalnya bukan siapa-siapa malah dapat status bersanding sama lo, Ham. Sedangkan gue yang udah lama banget kenal malah perlahan lo lupain begitu aja." isak Letta lirih sambil menutupi matanya dengan tangan.



Tanpa mau ia tolak, matanya tetap saja menitikan air mata. Walau hati dan pikirannya sejalan untuk tidak menangis tapi kenapa matanya memanas dan malah berair lagi.



"Waktu itu tinggal selangkah lagi biar gue dapetin lo dan lo bakalan jadi milik gue, tapi malah gue dapet kejutan paling besar dari lo, Ham. Lo hadiahin gue dengan fakta kalau lo pacaran sama Ajeng."



Letta menyeka air matanya. Ia lalu mengambil tissue yang berada di atas nakas lalu mengelap ingusnya yang sedikit keluar.



"Kenapa kisah asmara gue begini amat sih. Kenapa gak sebahagia orang lain yang dapat dengan mudah dapetin apa yang mereka mau. Mengapa disini gue jadi yang paling lemah, kenapa juga--"



Suara ketukan pintu membuyarkan celotehan tidak jelasnya Letta. Ia segera mengelap wajahnya sebaik mungkin agar tidak kentara kalau ia baru saja menangis.

__ADS_1



"Sayang, tadi mama denger kanu teriak. Kamu gak apa-apa?" terdengar suara Wulan, mamanya dari luar pintu terdengar khawatir.



Dengan menarik nafas dalam Letta menjawab. "Iya, Ma, aku gak apa-apa."



"Syukurlah, nanti tidurnya jangan kemaleman. Kalau ada apa-apa panggil mama ya."



Letta mengangguk mengiyakan. Tapi ia ingat kalau Wulan tidak bisa melihatnya, segera ia menjawabnya. "Iya, Ma."



Tak lama setelah Wulan pergi, hp Letta bergetar menandakan ada telefon masuk.



Almira is calling...



Tanpa menunggu lama, Letta menggeser tombol yang berwarna hijau. "Apa?"



"Aelah nih anak, bilang assalamu'alaikum kek, malah langsung nanya apa. Gak sopan tahu kata pak guru."



"Bodo, Mir, bodo." cuek Letta.



Dan Letta dapat mendengar suara kekehan Mira di seberang sana. "Jutek amat mbak kayak orang lagi PMS."



"Lo udah liat postan terbarunya Hami belom, Ta?"



"Udah." jawab Letta lesu. Niat hati ingin mencoba mengalihkan pikirannya dari foto itu malah Mira membahasanya.



"Yang sabar ya sayangku."



Letta tertawa kecil mendengarnya.  Ia lalu merebahkan badannya ke atas kasur dan memakai selimut sebatas dadanya.



"Gue mah selalu sabar, Mir. Kurang sabar apa lagi gue. Bertahun-tahun nunggu doi aja sabar apalagi liat hal begituan. Hati gue udah kebal rasanya."



"Halah, ngaku aja lo pasti tadi nangis kan?"



Letta menggigit bibir bawahnya. Tentu saja ia menangis tadi, bukan.



"Iya begitu lah."



Terdengar suara helaan nafas Mira. "Gue gak tahu apa yang lo rasain sekarang. Yang bisa gue tebak, sakit yah?"



"Sakit tentu aja. Gue pernah baca kalau sakit itu satu paket sama cinta kan. Kalau kamu cintanya cuma bertepuk sebelah tangan, kebanyakan sakit yang diterima. Dan itu berlaku sama gue. Cuma gue yang berharap lebih ke dia. Sedangkan dia berharapnya ke orang lain."



"Gue saran aja sih, Ta. Dengan postingan Hami tadi itu, jelas celah bagi lo buat sama Hami itu gak ada. Mending lo mundur, Ta. Gue gak suka sahabat kesayangan gue sakit hati terus. Gue mau lo bahagia, Ta."



"Dan lo tahu apa yang bisa membuat gue bahagia kan, Mir?" Letta memejamkan matanya sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue bahagia kalau ngeliat dia bisa tersenyun dan alasannya tersenyum adalah gue. Sederhana. Cuma itu aja gue seneng."



"Coba deh, Ta, lo buka hati lo ke cowok lain di luar sana. Banyak banget anak SMA Prisma yang pengen deket sama lo, cuma lonya aja yang selalu nolak mereka."



"Gue gak bisa, Mir. Hati gue masih tetep stuck di Hami. Buat saat ini gue gak bakalan ngebiarin siapapun ngisi hati gue sampai Hami tahu perasaan gue. Siapa tahu nanti dia putus sama Ajeng dan butuh sandaran. Mungkin gue bisa bantu dia dan buat dia suka sama gue." Letta tertawa miris.



"Ta, please jangan begitu. Buka hati lo, ya?"



"Sekali enggak tetap enggak, Mir."

__ADS_1




__ADS_2