Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 45


__ADS_3

Malam yang cerah tetapi tidak secerah hatinya Letta. Cewek itu sedang menghadap ke luar dari jendela kamarnya yang terbuka. Membiarkan angin malam yang dingin masuk ke dalam kamarnya. Di tengah kesunyian ini ia jadi kepikiran dengan kejadian tadi siang di sekolah saat dimana ia mendengarkan dengan telinganya sendiri bahwa Indra selama ini sengaja membuatnya dan Hami tidak bisa bersama.


Tindakan Indra ini menurutnya tidak bisa dimaafkan dengan cepat. Masih jelas di ingatannya ketika dirinya jatuh dan sedih setelah kehilangan Hami, Indra datang sambil menyemangatinya. Letta berpikir itu tulus tapi ternyata semua ini palsu. Semua sudah direncanakan sedemikian rupa.


Tetapi... Dari semua fakta yang ia dapatkan, yang paling membuatnya sedih bukan lagi terbongkarnya rahasia Indra ini, tapi karena perasaannya ke Hami yang sudah menghilang. Nyatanya Letta sudah tidak merasakan apa-apa lagi pada cowok itu karena jelas sekarang hatinya sudah terpaut ke cowok lain. Alex. Cowok yang tidak ia sangka akan ia sukai sebelumnya. Cowok menyebalkan cucunya nenek Sari.


Sekarang Letta menyukai Alex dan tidak bisa menampik fakta itu. Lalu bagaimana dengan fakta kalau Hami ternyata menyukainya juga? Letta jadi merasa dilema. Selama bertahun-tahun ia menyukai Hami, dan berharap Hami membalasnya. Kenapa ketika perasaannya terbalas, Letta sudah tidak menyukai cowok itu. Kenapa ia tidak tahu sejak dulu. Kenapa dan kenapa...


Seandainya tidak ada Alex, Letta yakin ia akan dengan senang hati menyambut kabar gembira kalau Hami menyukainya. Tapi... Sekarang ia bingung.


Letta melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Diputuskannya untuk menutup jendela, berniat untuk tidur dan membuang jauh-jauh kebingungannya.


Paginya ia terbangun kesiangan. Ia bahkan melewatkan acara sarapannya. Letta segera keluar rumah sebelum Alex marah karena menunggunya terlalu lama. Namun bukannya Alex, ia malah mendapati Kang Asep dengan motornya ada di depan rumah Letta.


Kening Letta mengernyit. "Kang Asep kenapa di rumah Letta? Mau ketemu papa?"


Kang Asep menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, ini Kang Asep katanya disuruh nganterin kamu ke sekolah."


Letta bergerak kebingungan. "Tapi kan aku biasanya sama Alex." jawabnya pelan-pelan takut Kang Asep tersinggung.


"Oalah jadi kamu belum tahu?" tebak Kang Asep dan Letta menggeleng. "Hari ini cucunya Sari itu gak berangkat sekolah. Jadi kang Asep disuruh buat nganterin kamu."


"Ooh." Letta mendesah lesu dan mendadak moodnya ke sekolah hancur berantakan.. Padahal ia sudah ingin bertemu Alex. Kalau Alex hari ini tidak berangkat, Letta tidak jamin ia akan betah di sekolah.


Tapi kenapa Alex tidak berangkat sekolah masih menjadi tanda tanya. Letta bisa saja ke rumah nenek Sari dulu dan bertanya Alex kenapa, siapa tahu dia sakit. Tapi seperempat jam lagi bel masuk sekolah. Kalau ia tidak berangkat sekarang nanti bisa terlambat. Akhirnya dirinya hanya bisa menelan kekecewaannya.


***


Benar saja, selama seharian ini Letta tidak betah, atau malah sangat tidak betah di sekolahnya. Yang ia inginkan hanya pulang, pulang, dan pulang. Jadi begitu bel pulang sekolah berbunyi, Letta mampu bernafas dengan lega. Ia membereskan bukunya dengan cepat dan segera pergi meninggalkan kelas ketika sudah dipersilahkan.


Ia punya rencana, ia akan ke rumahnya Sari dan mengecek keadaan Alex. Siapa tahu Alex sakit lagi seperti dulu. Karena terlalu semangat untuk pulang dan segera bertemu dengan Alex, Letta sampai tidak memperhatikan langkahnya dan ia menabrak bahu seseorang. Hampir saja ia terjatuh namun orang yang ia tabrak dengan sigap memegangi bahunya. Letta jadi terkaget dan segera melepaskan diri. Rasanya tidak nyaman sekali dipegang oleh orang lain. Sewaktu ia berputar dan akan minta maaf, kata-katanya tertelan kembali begitu melihat orangnya. "Hami."


Hami tersenyum cerah. "Letta."


Letta balas tersenyum tapi tidak secerah Hami. "Maaf karena udah nabrak lo."


"Iya gak apa-apa, santai aja. Lo tadi kelihatan lagi buru-buru banget, emangnya ada apa?" tanya Hami penasaran.


Letta membuka mulutnya hendak menjawab Gue mau pulang biar cepet ketemu Alex. Tapi ia menutup mulutnya lagi. Rasanya tidak enak kalau ia sampai ngomong begitu ke Hami apalagi setelah mendengar percakapan Indra yang mengatakan kalau Hami suka padanya. Entah Letta tak tahu apakah Hami masih suka padanya atau tidak, tapi Letta akan berusaha menjaga perasaan Hami kali ini.


"Gak ada apa-apa sih sebenarnya, cuma udah pengen pulang aja." balas Letta tak sepenuhnya berbohong.


Hami mengangguk mengerti. Kemudian matanya menyusuri ke sekeliling. Begitu tidak mendapat apa yang ia cari, ia lalu berkata ke Letta. "Lo sendirian?"


"Iya."


"Temen lo yang cowok mana?"


"Maksud lo Alex?" Hami mengangguk sebagai jawaban. "Dia gak berangkat."

__ADS_1


"Syukurlah." bisik Hami lirih hingga Letta hanya samar mendengarnya.


"Lo tadi ngomong apa?" tanya Letta curiga.


"Bukan apa-apa, gak penting." Hami menjawab dengan salah tingkah. Jangan sampai Letta tahu, karena bisa dipastikan kalau cewek ini tahu bisa marah besar. Mana mungkin Letta mau temannya disyukurin karena tidak berangkat sekolah. "Lo pulangnya juga sendiri, kan?" tanyanya mengalihkan perhatian.


Mendengar itu seketika Letta menepuk dahinya. "Aduhh iya, gue bahkan lupa sms Kang Asep buat jemput gue. Biasanya naik sepeda sih jadi kelupaan." seru Letta kemudian ia mencoba mencari ponselnya di saku tapi tidak ketemu, dan ketika ia akan mencari ke tas, perkataan Hami selanjutnya membuat gerakannya terhenti.


"Pulang sama gue aja, mau?" ajak Hami pelan-pelan takut Letta menolak.


Letta memalingkan mukanya ke Hami dan tangannya teralih dari tas. Ia tidak menyangka kalau Hami menawarinya pulang bersama lagi setelah dua kali cowok itu gagal mengajaknya pulang karena Alex sudah menyela mereka. Dan sekarang ia bingung akan ikut Hami atau minta dijemput kang Asep saja.


Kalau dengan Hami, jelas ia tidak mau terlibat masalah dengan gosip. Dimana dirinya bisa saja besok menjadi trending topik di sekolahnya dengan sebutan pelakor baru, mengingat Hami ini kan pacarnya Ajeng. Tapi kalau ia tidak ikut Hami, itu tandanya ia harus minta Kang Asep menjemputnya dan Letta harus menunggu Kang Asep datang. Belum lagi kalau ternyata Kang Asep sedang sibuk. Argh... Letta jadi bingung.


"Jadi?"


"Hhmm... Gue---" Letta berkata dengan ragu.


"Pulang sama gue?" sela Hami.


Letta menggigit bibirnya bingung. "Tapi langsung pulang, kan?" tanyanya.


"Iya, emangnya lo mau mampir ke mana?" kata Hami sambil ketawa lihat Letta yang lucu menurutnya.


Letta menggeleng dengan cepat. "Enggak-enggak. Gue cuma mau langsung pulang ke rumah."


"Berarti pulang sama gue, kan?" Hami tersenyum lebar.


Dan jawaban Letta membuat Hami semakin melebarkan senyumannya. "Ayo!"


***


Alex sedang tiduran di kamarnya sambil menonton televisi ketika pintu kamarnya diketuk tiga kali. Ia pun beranjak dan membukakan pintu. Dirinya cukup terkejut melihat siapa yang datang. Alex menaikkan alisnya seakan bertanya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." ucap Mona dengan hati-hati.


Tanpa menjawab, Alex dengan malas membuka pintu lebih lebar agar Mona bisa masuk. Mona menahan rasa sakit hatinya karena Alex masih belum mau menerimanya dengan tangan terbuka. Kemarin malam ia, Alex, Sari juga Fabian sudah mendiskusikan bagaimana ini ke depannya. Dan hasilnya diputuskan kalau Alex akan bertanggung jawab pada Mona. Orang tua Alex juga sudah dikabari. Walaupun mereka semua sempat marah pada Alex, tetapi beruntung kedua orang tua Alex mau menerimanya dengan baik seperti Sari.


"Ada apa?" tanya Alex datar sambil meraih remot dan mematikan siaran televisinya.


"Gue--- gue mau minta maaf." ujar Mona dengan terbata.


"Buat?" tanya Alex.


"Buat--- semuanya. Buat semua yang sudah gue hancurin."


Kening Alex mengernyit tidak paham lalu menggeleng pelan. "Mona, ngomong yang jelas. Kepala gue lagi gak mau diajak main teka-teki."


Mona tampak kikuk ketika akan bicara lagi. Kedua tangannya ia taroh ke depan dan jemarinya saling bertautan. "Maksudnya, gue minta maaf karena udah masuk ke kehidupan lo. Gue minta maaf karena gue udah hamil anak lo. Gue beneran minta maaf. Kalau bisa gue juga gak mau lakuin ini semua."

__ADS_1


Alex menghela nafas lelah. "Tapi semua udah terlanjur terjadi, bukan? Nasi udah jadi bubur."


"Iya makanya gue minta maaf. Karena gue, hidup lo berantakan. Karena gue lo gak bisa sama cewek yang lo suka." balas Mona lirih.


"Cewek yang gue suka?"


Mona mengangguk. "Iya, cewek yang waktu itu tampil jadi Snow White di pensi sekolah lo. Gue waktu itu nonton bareng Fabian dan seketika itu gue tahu kalau lo suka sama cewek itu. Dan begonya gue tetap hancurin semuanya." ujar Mona dengan bersalah.


Sekali lagi Alex menghembuskan nafasnya dengan panjang. "Udahlah, Mona, jangan dibahas. Gak ada gunanya."


"Tapi gue ngerasa jahat banget. Gue jadi penghancur hubungan lo."


"Sekali lagi gue bilang semua udah terjadi. Gak ada waktu buat ngulang masa lalu. Sekarang lo--- lo hamil anak gue dan gue akui itu. Gue mau bertanggung jawab sama kehamilan lo itu." tegas Alex.


"Tapi kalau lo gak mau bertanggung jawab, kayaknya gak masalah." cicit Mona lirih tapi masih di dengar Alex.


"Dan dengan begitu gue bakalan jadi pengecut dan ayah--- yang tega nelantarin anaknya sendiri, begitu maksud lo?" balas Alex yang merasa tersinggung dengan perkataan Mona. Ia sudah memutuskan untuk bertanggung jawab tetapi cewek ini malah menolak.


"Bu-bukan, bukan begitu. Gue cuma berpikir lagi kalau gue udah banyak salah sama lo. Dengan anak ini jelas udah jadi beban buat lo---"


"Gue gak pernah anggep anak gue sebagai beban." sela Alex dengan tegas.


Alex tampak frustasi. Ia menyisir rambutnya ke belakang. "Sekarang lo ngomong aja maksud lo itu apa? Intinya aja. Gak perlu muter-muter ngomong gak jelas. Karena sekali lagi gue tegasin, gue bakalan tetap bertanggung jawab. Mau lo suka atau enggak, karena itu anak gue juga."


Mona tampak pucat saat ini. Jadi Alex menghela Mona untuk duduk dulu ke sofa dan membiarkan Mona tenang. Alex tahu pasti cewek ini terlalu banyak pikiran. Sama sepertinya.


"Jadi jelasin langsung ke gue maksud dari pembicaraan tadi itu apa?"


"Alex,"


"Iya."


"Gue--- gue sakit."


"Sakit? Apanya yang sakit?" seketika Alex merasa khawatir. Jangan-jangan ada apa-apa dengan bayinya. Semoga saja tidak, karena Alex tidak akan bisa membayangkan yang buruk-buruk terjadi. "Lo mau kita ke dokter?"


Mona menggeleng. "Bukan itu."


"Terus?"


"Gue sakit, kanker payudara. Udah parah."


"..."


Ada jeda sebelum Mona mengatakan sesuatu yang terasa bagai bom bagi Alex. "Dan ini beresiko buat kehamilan gue. Ada kemungkinan antara gue atau bayi gue yang selamat sewaktu melahirkan nanti."


***


Pulang sekolahnya, Letta segera ke rumah Alex dan harus menelan kekecewaan karena Sari mengatakan kalau Alex sedang ada temannya yang datang dari kota dan keduanya sedang pergi jalan-jalan entah kemana.

__ADS_1


Hal itu membuat Letta senang dan sedih sekaligus. Senang karena ternyata Alex tidak sakit. Dan sedih karena seharian ini Letta tidak bisa bertemu dengan cowok yang ia suka.


__ADS_2