Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 52


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari minggu, di mana Letta bangun kesiangan. Letta mengerang ketika melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Semua ini gara-gara semalaman ia memikirkan tentang rapor Alex. Apakah ia harus memberikannya secara langsung kepada Alex atau ia titipkan saja ke mamanya supaya ke rumah nenek Sari. Letta bingung. Seharusnya ia tidak boleh memilih opsi pertama karena bagaimanapun juga Alex sudah mematahkan hatinya dengan setiap perkataan cowok itu kemarin di sekolah. Tapi entah kenapa seakan ada sesuatu yang mengganjal dan memaksanya untuk memberikan sendiri rapor itu ke Alex.


Letta menyibakkan selimut yang ia pakai lalu bangun, kemudian memutuskan untuk berjalan ke kamar mandi. Setengah jam kemudian ia sudah selesai mandi dan berpakaian. Tak lupa ia mengikat rambutnya ke atas. Rapih sudah.


Diambilnya rapor milik Alex yang ia letakkan di atas nakas. Kemudian Letta keluar kamar dan menemukan orangtuanya sedang menonton televisi bersama.


Wulan lah yang pertama kali melihat kedatangannya. "Letta, kamu mau ke mana?" tanya Wulan.


"Aku mau ke rumah nenek Sari, ma." jawabnya.


"Mau ngapain? Masa cewek yang ngapelin cowok." goda Haris ke putri semata wayangnya.


Letta tersenyum kecut mendengarnya. "Hubunganku sama Alex bukan begitu. Lagian ini sebenarnya aku mau nganterin rapor punya Alex." Letta memperlihatkan rapor Alex yang ada di tangannya.


"Papa kira ada apa-apa sama kalian berdua." aku Haris.


"Gak ada apa-apa."


"Letta tadi kamu bilang mau nganterin rapor Alex, emang sudah waktunya bagi rapor?" Wulan bertanya heran.


Letta menggeleng. "Belum, Ma." kemudian ia melihat ke arah kakinya dan berusaha untuk terlihat cuek. "Cuma ini Alex mau pindah ke kota lagi dan rapornya kemarin tertinggal di sekolah."


Wulan dan Haris sama-sama terkejut mendengarnya. Mereka berdua bisa melihat raut wajah sedih Letta ketika mengatakan itu kepada keduanya.


"Jadi dia mau pindah ke kota lagi, papa kira dia mau di sini sampe lulus." ucap Haris lalu seketika ia berdiri mendekat ke Letta. Ditepuknya bahu Letta. "Baik-baik ya, sana kamu antarin rapornya, siapa tahu dicariin."


Letta mengangguk. "Iya, Pa."


***


Tangan Letta berkeringat ketika sampai di depan pintu rumah nenek Sari. Ia beberapa kali hendak mengetuk pintu tapi mengurungkan niatnya. Letta bertanya-tanya apakah pilihannya ini sudah benar. Ia memejamkan matanya sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam sambil menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Kenapa gue jadi deg-deg-an yah?


Mengusir perasaan tidak nyamannya, Letta akhirnya mengepalkan tangannya dan dengan mantap ia mengetuk pintu di depannya tiga kali. Ia menunggu, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kalau pintu itu akan dibuka. Letta pun mengulanginya tiga kali lagi. Barulah ia mendapat jawaban.


"Sebentar!" teriak seseorang dari dalam rumah Sari.


Letta dibuat mengernyit karena suara itu suara perempuan. Bukan, itu bukan suara nenek Sari. Karena suara perempuan itu masih muda, bahkan mungkin seumuran dengannya. Tapi siapa? Rasa penasarannya semakin menjadi ketika mendengar derap langkah mendekati pintu.


Sedetik kemudian pintu terayun terbuka oleh seorang cewek dan benar dia seumuran Letta. Hanya saja lebih pendek mungkin lima senti di bawahnya. Kulitnya putih pucat. Dan anehnya Letta merasa familiar dan tidak asing. Tapi kapan ia pernah melihat cewek ini dan ada urusan apa dia bisa sampai di rumah nenek Sari?


"Maaf, mau cari siapa?" tanya cewek itu membuyarkan lamunan Letta.


Letta mengerjapkan matanya. Ia hendak membuka suara, tapi terhenti ketika matanya tanpa sengaja melihat ke arah perut cewek di depannya. Astaga! Cewek ini hamil!


Mona mengikuti pandangan Letta yang tertuju ke perutnya. Merasa tidak nyaman, ia mengetatkan jaket yang ia pakai sehingga perutnya sekarang tertutup jaket seluruhnya. Baru saat itu ia mendengar Letta menjawab.


"Gue mau ketemu sama Alex." kata Letta.

__ADS_1


Mona tidak terkejut mendengar jawaban Letta. Sejujurnya ia sudah kaget ketika mendapati cewek yang disukai Alex ini di depan matanya. Mengetahui kalau dia mencari Alex, membuat perasaan Mona semakin merasa bersalah karena sudah memisahkan mereka berdua. Kemudian Mona membuka pintu lebar agar Letta bisa masuk. "Silahkan masuk, biar aku panggil Alex dulu."


Letta memotong cepat-cepat. "Jangan! Gak usah, biar gue aja yang ke kamarnya." balasnya memakai gue-lo walaupun Mona memakai aku-kamu.


"Baiklah."


Bukannya segera beranjak, Letta masih diam di tempatnya. Keduanya tampak canggung. Tapi Letta tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk bertanya lebih ke cewek yang sedang bersamanya ini. "Kalau boleh tahu lo siapanya nenek Sari? Kok bisa ada di rumahnya?" tanyanya pelan-pelan takut kalau pertanyaannya ini menyinggung.


Mona sesaat gelisah bingung akan menjawab apa. Masa iya harus menjawab dengan jujur. Rasanya tidak mungkin. Ia pun akhirnya berbohong. "Aku saudara jauhnya nenek Sari." bohongnya.


"Ohh saudaea jauhnya." Letta mengangguk paham. "Terus nama lo siapa?" tanya Letta sekali lagi. Dan ia berjanji setelah ini, ia tidak akan bertanya lagi.


"Mona."


Letta mengangguk paham sekali lagi. Ia bingung sebenarnya melihat cewek yang sekarang ia ketahui bernama Mona itu gugup. Buktinya tangan Mona saling bertautan. Tidak mau berlama-lama, Letta pun pamit untuk menemui Alex.


***


Alex sedang menonton televisi ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia menebak itu Mona. Soalnya siapa lagi kalau bukan cewek itu di rumah ini selain dirinya. Neneknya sedang pergi, begitupun dengan Fabian. Alex beranjak lalu membukakan pintu. Betapa terkejutnya Alex ketika bukan mendapati Mona di depannya, melainkan Letta.


"Letta." bisik Alex spontan. "Lo ngapain di sini?" tanyanya kemudian.


Letta memandang ke depan tetapi bukan ke arahnya. "Boleh gue masuk dulu?" baik Alex maupun dirinya sama-sama terkejut sendiri mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya itu.


Alex menelan ludahnya kasar. Kalau ia memperbolehkan Letta masuk, cewek itu akan melihat semua barang-barangnya sudah dikemas di dalam koper. Dan koper itu sudah tertata rapih di samping tempat tidurnya.


"Gue anggap sikap diam lo sebagai jawaban iya."


"Jadi ada apa lo nemuin gue?" tanya Alex datar. Walau sejujurnya jantungnya berdetak cepat dan ia diserbu keinginan untuk memeluk Letta dari belakang. Gila saja...


Tidak segera mendapat jawaban, Alex berjalan maju dan berhenti di depan Letta. "Jadi?" tanyanya.


Letta menghela nafas kasar. Dadanya naik turun karena di dalam sana rasanya sesak. Dialihkan pandangannya dari koper-koper milik Alex dan ia mengarahkan pandangannya ke arah Alex.


"Gue mau nganterin ini." aku Letta lalu ia menyodorkan rapor milik Alex ke depan cowok itu.


Alex memandang rapor yang disodorkan kepadanya. Terlalu fokus pada Letta jadi ia tidak melihat kalau Letta tadinya membawa rapornya di tangan. Diambil alihnya rapor itu dari tangan Letta. "Makasih."


Setelahnya, kedua anak manusia itu diam. Suasana canggung menghiasi keduanya selama beberapa menit. Hingga akhirnya keheningan itu dipecah oleh Letta.


"Secepat itu?" tanya Letta sarkas.


Alex menaikkan alisnya. "Maksud lo?"


Letta berusaha untuk menjaga suaranya tetap normal. "Kepindahan lo ke kota. Lo bahkan sudah nyiapin semuanya." ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah koper Alex berada.


Alex mengangguk. "Tentu, gue udah kangen sama suasana kota. Gue gak sabar buat segera pindah."

__ADS_1


Balasan Alex membuat Letta sakit. Namun ia dengan cepat menahan rasa sakitnya dalam-dalam. Ia teringat ketika kemarin di sekolah Alex sudah menghina dan merendahkannya habis-habisan, jadi jangan sampai hal itu terulang kembali dan Letta hanya diam saja seperti sebelumnya. Kali ini ia harus berontak dan lebih tegar.


Letta sudah memikirkan ini sebelumnya kemarin setelah ia pulang sekolah dan menangis sejadi-jadinya. Setelah acara menangisnya, Letta memutuskan untuk bersikap seakan semua yang Alex lakukan padanya tidak berpengaruh apa-apa padanya. Walaupun pada kenyataanya hatinya sudah rusak di dalam sana. Ia tidak akan bersikap lemah lagi yang akan membuat Alex semakin gencar menjatuhkannya.


Letta membuat gerakan, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Baguslah, gue juga udah gak sabar nunggu lo pindah dan jauh-jauh dari kehidupan gue." katanya dengan sinis.


Sesaat ia melihat sesuatu berkilat di mata Alex tetapi dengan cepat sesuatu itu menghilang sebelum Letta bisa menarik kesimpulan apa artinya. Letta merasa senang karena ucapannya tadi membuat Alex diam tidak berkutik. Kali ini Letta yang harus membalas perlakuan Alex kemarin.


"Gue jadi senang bisa lebih dekat sama Hami lagi." lanjutnya.


"Lo bilang lo suka sama gue." bisik Alex lirih. Bibirnya membentuk garis lurus karena marah yang entah Letta tidak tahu alasannya.


"Itu dulu sebelum kemarin lo hancurin perasaan gue. Gue masih ingat dengan jelas sewaktu lo ngatain kalau perasaan gue ini konyol dan cuma mimpi. Sekarang lo harus beri gue ucapan selamat, karena rasa suka gue ke lo hampir tidak tersisa, persis seperti yang lo mau." balas Letta telak.


Alex tertawa hambar. Ia menarik nafasnya, ia akan mengatakan sesuatu yang sejatinya sudah ia janjikan agar Letta jangan sampai tahu. Ia bahkan sudah meminta neneknya dan temannya untuk merahasiakan semuanya dari Letta. Tetapi mendengar setiap ucapan Letta tadi membuatnya terdorong untuk mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan itu. Apalagi tadi Letta sempat membawa-bawa nama Hami dalam percakapan mereka.


"Kalau begitu harusnya lo ngucapin gue selamat juga." ucap Alex. Ia menyeringai ketika melihat raut wajah Letta yang bingung.


"Untuk?"


"Karena pacar gue datang kemari jemput gue. Gue tebak lo udah ketemu dia." aku Alex bohong. Ia kemudian berjalan mendekat ke Letta hingga jarak keduanya hanya tinggal satu langkah lagi.


Sedangkan Letta, jantungnya sudah berdetak tidak karuan, nafasnya mulai memburu membayangkan cewek lain menjadi pacar Alex. Tangannya yang tersilang di depan dada otomatis terlepas dan jatuh menjuntai ke kedua sisi tubuhnya. Pacar Alex? Jadi selama ini Alex sudah punya pacar? Dan darimana asal kata kalau ia sudah pernah melihat pacar Alex itu?


Letta menggeleng tidak percaya. "Lo bohong, karena gue yakin belum pernah melihat pacar lo." ucap Letta dengan suara bergetar. Walau sudah menahan diri agar suaranya tetap normal, namun tetap saja gagal. Sebagai kekuatan, ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh.


"Lo yakin kalau gue bohong?" tanya Alex memastikan dan dijawab anggukan oleh Letta. "Lo kenal sama cewek yang ada di rumah ini? Namanya Mona."


Letta menahan nafas ketika Alex selesai mengucapkan kalimat itu.


Gak mungkin... Cewek itu mengaku jadi saudara jauhnya nenek Sari.


Ini pasti ada yang salah...


Jangan sampai...


Jangan bilang kalau...


"Kenalin, dia pacar gue." kata Alex santai seakan-akan kebohongannya adalah sesuatu yang sangat sepele. Seakan belum cukup, ia menambahkan. "Dia sama gue udah pacaran bahkan sejak gue masih di kota." bohongnya lagi membuat rasa sakit Letta semakin besar.


Mata Letta tampak berkaca-kaca. Lidahnya kelu untuk mengeluarkan suara. Matanya mengerjap menghalangi butiran bening yang menggumpal di sudut matanya. Jadi selama ini Alex dekat dengan dirinya dan membuatnya suka snaa cowok itu, tetapi padahal Alex sudah punya pacar di kota.


Ughh... Mengapa dirinya semenyedihkan ini. Menyukai cowok yang sudah menjadi milik orang lain. Mengapa kisah cintanya selalu saja berujung tragis dan tidak bahagia. Dulu Hami, dan sekarang Alex. Lalu Letta teringat sesuatu.


Astaga, tapi cewek itu, dia... dia...


"Dan dia sedang mengandung anak gue."

__ADS_1


Setelah mendengar pernyataan Alex itu, Letta tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang ia ingat hanyalah dirinya yang berusaha


lari sejauh mungkin.


__ADS_2