
Sialnya, keesokan harinya mata Letta sedikit membengkak. Ia jadi tepaksa harus memakai bedak bayi agar penampilannya tidak terlihat terlalu berantakan. Ketika ia akan berangkat sekolah, ia malah disuruh Wulan--mamanya-- untuk mengantarkan gudeg alias sayur nangka ke rumah Sari.
Katanya Wulan masak gudegnya terlalu banyak jadi sengaja membaginya ke Sari yang ia ingat suka makanan yang berasal dari Yogyakarta ini. Dan di sinilah Letta sekarang, di depan rumah Sari dengan memegangi kedua sisi mangkuk penuh gudeg buatan mamanya menunggu nenek Sari membuka pintu.
Tak lama karena ia mendengar langkah kaki dari dalam.
"Ehh Letta, nenek kira siapa. Ayo, masuk dulu." Sari membuka pintunya lebar agar Letta bisa masuk. Letta pun duduk setelah dipersilahkan.
"Ada apa pagi-pagi ke sini, terus itu kamu bawa apa?"
"Ini tadi mama masak banyak, terus katanya biar dibagi ke nenek." Letta lalu menyerahkan mangkuk berisi gudeg itu ke Sari.
"Makasih banyak loh." kata Sari lalu tersenyum, keluarga Letta memang sering kali memberinya banyak makanan, sudah seperti keluarga sendiri.
"Kamu tunggu sebentar disini dulu mau? Nenek mau naro ini ke dapur sekalian ada yang mau nenek bicarain sama kamu."
"Iya gak apa-apa, Nek."
Bohong kalau Letta bilang tidak apa-apa, karena dalam hati ia sudah merapalkan berbagai doa agar cepat keluar dari sini. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 yang artinya tinggal 15 menit lagi ia akan terlambat ke sekolah karena sekolahnya masuk jam 06.45.
"Nenek kemana lagi, ini gue nanti kalau telat gimana. Udah gitu jam pertama Pak Fadil lagi, kalau telat nanti disuruh hafalan surat gimana?" kata Letta cemas.
Letta menghentakan kakinya ke lantai karena Sari tak kunjung terlihat kembali. Tak lama setelah itu ia mendengar suara ribut dari arah tangga, Letta jadi mendiamkan kakinya agar tidak kentara kalau dirinya sedang gugup.
Turunlah seorang cowok dengan penampilan serba acak-acakan khas anak baru bangun tidur. Rambutnya tidak tertata rapi, matanya masih menyipit dengan kaki yang berjalan sedikit terseok, bajunya lusuh tak berbentuk.
Mata Letta spontan melotot melihat pemandangan di depannya. Kalau tidak salah Letta ingat namanya Alex, yang beberapa hari lalu ia liat di rumah Sari, yang pertemuan keduanya sungguh tidak mengenakan. Letta kira kalau ia tidak akan pernah lihat Alex kembali karena sepulangnya ia dari rumah Sari saat itu ia tidak pernah melihat batang hidungnya Alex lagi.
Berbeda dengan Alex yang tampak tidak terkejut sama sekali, ia hanya menampilkan raut wajah datarnya. Ia bangun karena rasa haus di tenggorokannya, makanya ia turun ke lantai bawah. Kalau tidak, ia juga jam segini biasanya belum bangun, karena jelas jam bangunnya itu pukul sembilan pagi.
"Ngapain lo di rumah gue? Numpang ngemis minta makan?" sindir Alex.
"Itu mulut gak ada saringannya apa? Baru bangun aja udah numpuk dosa." cibir Letta. Fix, pertemuan keduanya dengan Alex tak jauh berbeda dengan pertemuan pertama mereka, sama-sana tidak menyenangkan.
"Terus ngapain lo di sini? Masih pagi pula."
"Bukan urusan lo sama sekali." jawab Letta cuek.
"Lo...sekolah?" tanya Alex.
"Ya iyalah, liat gue udah pake seragam ya kali mau nguli."
"Masih jaman yah sekolah?" kekeh Alex.
Letta menatap horor ke arah Alex. Cowok di depannya ini sukses membuat moodnya hancur, padahal waktu masih pagi.
"Lo anak pedalaman? Makanya gak ada sekolah disana?" geram Letta.
Alex tidak menjawab. Ia malah menyandarkan punggungnya ke dinding dan menyedekapkan kedua tangannya ke depan sambil terus meneliti penampilan Letta dari atas hingga bawah. Letta yang ditatapi seperti itu merasa risih.
"Apa liat-liat?" bentak Letta galak.
Lagi-lagi Alex terkekeh dan Letta tidak menyukai cara cowok itu memandangnya dengan tatapan yang meremehkan. Tanpa Alex sadari, tujuannya untuk membuang rasa hausnya malah terhenti karena terlalu senang mengganggu cewek yang satu ini.
__ADS_1
"Rambut diikat atas, pake dasi serapih mungkin, pake sabuk juga, seragamnya dimasukin, rok selutut, kaos kaki panjang sampe atas, sepatunya hitam. Khas banget anak cupu." ledek Alex setelah mengeja satu persatu penampilan Letta.
Jangan bilang kalau Letta baru saja mendengar Alex mengatainya cupu. Astaga, ia sama sekali tidak cupu. Letta hanya mengikuti semua peraturan sekolah. Ia bukan anak dari kalangan nerd, bukan maksud menyombongkan, tapi ia cukup dikenal oleh anak sekolahnya. Jadi kalau dibilang cupu tentu itu mengusik ego Letta.
Harusnya Letta bisa bersabar sedikit dan lebih memilih tidak mementingkan ucapan Alex dan harusnya ia menganggapnya angin lalu. Tapi memang dasarnya Alex suka sekali membuatnya kesal, ia jadi tidak bisa menahan amarahnya untuk sekarang ini.
"Heh, kalau punya mulut dijaga yah!" bentak Letta. Ia kini sudah berdiri dari duduknya dengan muka merah padam.
"Ada apa ini?" Sari tiba-tiba muncul. Untung saja Letta tidak sempat mengucapkan kata-kata kasar pada Alex. Kalau sampai itu terjadi, tercorenglah namanya dipandangan Sari sebagai cewek baik-baik. Eh tapi dia emang cewek baik-baik, kan.
"Gak apa-apa, Nek. Cuma kesel aja ada setan lewat tadi." ujar Letta dengan menekan kata setan.
Letta bisa melihat kerutan jelas di dahi Sari begitu ia menyelesaikan ucapannya. Tapi Letta tidak mau mengatakan lebih, toh memang benar bukan kalau Alex si setan. Lihat saja sekarang Alex masih saja memandangnya dengan tatapan menyela.
"Kebetulan kamu di sini juga, ada yang mau nenek bicarakan dengan kalian berdua." Sari menarik tangan Alex agar ikutan duduk di sofa. Alex tentu saja berjalan ogah-ogahan.
Sedangkan Letta hanya bisa mendesah dalam hati. Setelah tadi Alex membuatnya sebal, sekarang giliran Sari mengajaknya bicara dengan Alex pula. Tidak tahu saja kalau ia sudah dipastikan telat sekolah karena jam sudah pukul 06.45.
"Ada apa sih, Nek. Aku ini lagi haus mau minum." Katakanlah Alex tidak sopan karena ia memutar bola matanya malas di depan orang tua.
"Diam kamu, nenek gak minta kamu buat bicara. Cukup kamu dengerin aja, gak usah ngebantah atau apapun." tegas Sari membuat Alex seketika diam.
Letta tertawa dalam hati melihat Alex yang mati kutu hanya karena gertakan kecil Sari.
"Letta, kamu sekolah di SMA Prisma bukan?"
Letta mengangguk mengiyakan tanpa berucap sepatah katapun. Sedangkan Alex, pikirannya sudah kemana-mana.
"Nenek mau minta kamu buat sekolah bareng sama Alex di sana. Nenek minta bantuan kamu buat nemenin Alex sekolah ya. Alex bilang dia belum tahu letak sekolahnya sedangkan nenek juga tidak terlalu paham, dan juga Alex belum ada teman satu pun di sini, nenek mau kamu bisa jadi teman Alex." kata Sari panjang lebar.
Letta tentu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih mencerna setiap kalimat yang diucapkan Sari, dan inti yang ia dapat adalah ia harus sekolah bersama Alex.
Oh, big no! Berdekatan dengannya saja membuat tekanan darah Letta naik apalagi sekolah bersama. Bisa-bisa ia mati muda. Lagian kalau Alex mau sekolah ya tinggal sekolah, kenapa juga harus meminta bantuan Letta.
"Nenek mohon ya. Gak ada anak lain yang nenek percayain selain kamu." kata Sari penuh permohohan.
Entah ia harus senang atau sedih, senang karena Sari mempercayainya daripada anak lain atau sedih karena bertemu dengan Alex yang tadi dengan jelas mengejeknya karena sekolah. Heh, mengingatnya saja membuat Letta kesal sendiri.
"Nek, Alex gak perlu sekolah lagi, Alex juga udah pinter." sedetik kemudian Alex menyesali ucapannya karena Sari langsung menghadiahkannya sebuah pukulan di kepala.
"Pinter darimana, kalau kamu pinter kenapa harus dikeluarin dari sekolah? Dan juga gak ingat kamu perjanjiannya sama nenek kemarin kalau kamu mau sekolah lagi hah?" sembur Sari.
Alex meringis memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Percayalah walaupun neneknya ini sudah tua tapi tenaganya gak kalah sama tukang bangunan, kuat.
"Ooh jadi Alex dikeluarin dari sekolahnya yah, Nek?" ledek Letta yang tiba-tiba tertarik dengan topik mengenai Alex yang dikeluarkan dari sekolah. Pantas saja ia dikeluarkan, kelakuannya saja selalu buat kesal orang lain.
"Fitnah, mana ada gue dikeluarin. Yang ada sekolahnya rugi kalau gak ada gue." bela Alex karena memang ia tidak dikeluarkan.
"Cucu nenek yang satu ini rupanya pintar bohong yah, Nek."
"Letta benar, kamu gak usah bohong. Nenek juga tahu dari papa kamu kalau kamu keluar dari sekolah. Papa kamu udah cerita semuanya sama nenek."
"Nek, Alex gak dikeluarin. Aku ini murni pindah bukan dikeluarin." Alex jadi kesal karena bisa-bisanya neneknya ini malah membela anak orang lain dibandingkan dirinya.
__ADS_1
"Kalau kamu pindah, memangnya pindah kemana?"
"SMA Prisma." jawab Alex cepat.
Ia tidak tahu saja kalau Sari sengaja mengerjainya sekarang. Lihat saja nanti.
"Nah itu dia, kamu bilang kalau kamu pindah di Prisma. Kalau kamu pindah ke sana kenapa sekarang kamu disini bukannya sekolah?"
Skakmat. Mampus bro.
Tolong siapa saja perbolehkan Alex untuk menelan neneknya ini hidup-hidup. Disaat Alex diam tak bersuara karena sudah kalah dengan Sari, Letta dengan senang hati memperhatikan raut wajah Alex yang terlihat konyol layaknya seseorang baru kalah dalam taruhan.
"Letta rasa Alex gak perlu sekolah deh, Nek. Tadi aja dia bilang katanya sekarang itu udah gak jaman yang namanya sekolah." Astaga, mulut Letta gak mau diam. Malah dengan saja menambah derita Alex karena sedetiknya langsung Sari menatap tajam Alex.
"Siapa suruh kamu ngomong begitu?"
Alex berdecih. "Nenek ini percaya sama omongannya cewek gak jelas ini daripada sama cucu nenek sendiri?"
"Ya nenek lebih percaya sama Letta daripada kamu, orang kamunya masih baru disini. Berapa kali sih nenek ketemu sama kamu hingga nenek tahu kamu luar dalemnya. Nenek kan belum tahu isi otakmu itu apa. Beda sama Letta, dia udah bertahun-tahun nenek kenal. Dia gak bisa bohongin nenek."
Tuh kan, sekali lagi Sari yang notabennya nenek kandungnya sendiri membela Letta yang jelas hanya anak tetangga.
Apalagi ditambah wajah Letta yang memancarkan aura kemenangan di dalamnya membuat Alex tak bisa terima. Ia tidak pernah kalah dengan siapapin itu, selama ini dia selalu jadi pihak pemenang bukan pihak yang tertindas.
"Pokoknya besok kamu sekolah. Letta kamu mau kan sekolah bareng sana Alex?" tanya Sari.
Kalau tadi Letta dengan mantap tidak mau, sekarang ia dengan senang hati mau menerimanya. Letta hanya sedang terlena karena kali ini ia yang menang, jadi ia tidak tahu kalau ia mengambil pilihan yang pastinya nanti akan membuatnya menyesal.
"Baik, Nek. Letta mau kok, asal Alexnya juga mau sekolah. Kan katanya dia udah pintar gak perlu sekolah lagi." Letta dengan sengaja menyindir.
"Gak, Alex gak pintar sama sekali. Jauh masih pintaran kamu kok."
Sari mah kalau ada maunya terus saja memuji Letta.
"Nenek bisa aja."
"Lo gak berangkat sekarang? Udah mau jam setengah delapan loh, gak takut telat?"
Lettta terbelalak. Ia memang sudah telat, tapi di dalam pikirannya ia akan berangkat sekitaran jam 07.00 tapi sekarang malah jam sudah menunjukan pukul 07.30. Mampus sudah telat 45 menit dan hampir satu jam.
"Astaga..." Tanpa mengucap salam atau apa Letta langsung berlari cepat keluar dari rumah Sari. Ia melihat ke layar ponselnya yang ia simpan di saku roknya. Dahinya berkerut karena jam masih menunjukan pukul 07.00. Lah kok?
***
"Kamu tuh ya, kasihan dia lari-larian kayak gitu. Udah tahu jam rumah ini kecepetan malah bilang udah jam setengah delapan." gerutu Sari karena ia masih senang dengan adanya Letta di sini.
"Lagian dia juga udah telat kali, Nek. Prisma kan masuknya jan 06.45. Mending telat lima belas menit daripada sampe setengah jam."
"Perhatian juga kamu ya."
Cih perhatian darimana, Alex hanya tidak ingin Letta terus disini, ia ingin cewek itu pergi. Jadi bukan karena rasa perhatian atau apa. Tolong jangan salah paham.
Bisa-bisanya gue perhatian sama cewek kayak dia, mimpi!
__ADS_1