Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 36


__ADS_3

"---Justru karena lo berharga bagi gue. Orang yang selalu terlintas pertama kali di pikiran gue itu lo, Arletta Zachary."


***


Letta mengerjapkan matanya karena tidak mengerti. Jujur saja ia dibuat bingung dengan perkataan Hami, cowok ini memang suka membuat segala sesuatunya membingungkan. Bicaranya sering kali membuat Letta salah paham. Kalau dulu waktu masih dekat, Letta menganggap kalau Hami ada rasa padanya dengan memberikan perhatian lebih. Tapi kalau sudah tinggal jadi teman, maksudnya apaan coba. Apa Hami mau membuatnya baper lagi, lalu meninggalkannya seperti yang pernah cowok itu pernah lakukan.


Hahh... Coba saja lakukan kalau berani. Lagipula perasaan Letta pada Hami sudah hampir terkikis habis. Sekarang Letta sudah punya harapan baru dan tentunya dengan orang yang baru juga.


"Gue--- gak tahu maksud lo apa." kata Letta sambil menggelengkan kepalanya.


Hami tersenyum simpul menjawab. "Gak ada maksud apa-apa. Jangan terlalu dipikirin. Maaf kalau selama ini buat lo bingung."


Tuhkan, Hami aneh lagi. Hampir saja Letta memutar bola matanya. Huuhh... Tadi jelas-jelas Hami mengatakan sesuatu yang tidak bisa Letta pahami, dan ketika Letta mencari tahu artinya, Hami malah menolak memberinya jawaban. Kalau begini caranya, jangan salahkan Letta kalau punya pemikiran sendiri tentang Hami. Semisal seperti tadi, Letta menyangka Hami hanya menjadikannya sebagai ajang pelampiasan rasa bosan saja.


Tapi... Tadi Hami sudah menyangkal semuanya dan sejujurnya Letta percaya. Cowok yang sedang bersamanya ini jarang bohong, makanya dengan cepat Letta percaya. Kalau begitu, Letta harus menyingkirkan semua prasangka buruknya dulu, ia juga belum tahu maksud kedatangan Hami ke sini untuk apa, kan? Jadi Letta membuat keputusan untuk tetap santai dengan Hami.


"Kenapa lo gak nemuin Ajeng?"


Pertanyaan bagus, pikir Letta.


"Gak kepikiran."


Pacar sendiri malah gak diinget.


"Jadi karena lo udah terlanjur kesini, niatnya lo mau ngapain?"


"Ketemu lo."


"Maksud gue habis itu ngapain setelah ketemu gue."


"Entahlah, gue juga bingung. Tapi yang jelas gue pengen ketemu lo aja."


"Kangen yah sama gue." canda Letta.


Jawaban Hami selanjutnya membuat Letta menyesali candaannya tadi. "Iya, kangen banget. Sampe gak bisa tidur."


"Apaan sih lo." Letta menonjok lengan Hami berusaha tidak memikirkan perkataan Hami barusan.


Lalu ia mengajak Hami masuk ke kelasnya kalau mau ngobrol. Hami setuju, ia pun mengikuti Letta masuk ke kelas dan duduk di kursi sebelahnya Letta.


Kening Hami mengernyit melihat tas yang ada di kursi itu. Ini kan tas cowok, pikirnya. Setelah Hami duduk ia baru bertanya pada Letta. "Ini tasnya Mira?"


Letta yang sedang melipat jubahnya yang tadi ia sampirkan ke kursi segera menoleh. "Bukan, itu bukan punya Mira. Punya Mira itu disana." Letta lalu menunjuk tasnya Mira berada, di kursi yang tak jauh dari tempat duduknya.


"Terus ini punya siapa?" Hami bertanya lagi sambil memegangi tas berwarna hitam itu.


Letta yang selesai melipat jubahnya dan menyimpannya ke dalam tas baru menjawab. "Itu punya Alex."


Kontan, hal itu membuat Hami terkejut dan menoleh ke Letta dengan cepat. "Alex?"


Letta mengangguk. "Iya,"


"Alex yang anak baru itu kan?"


Sekali lagi Letta mengangguk mengiyakan.


Melihat jawaban Letta membuat kening Hami berkerut dalam. "Kok bisa?"


"Ya bisa, karena gue sama Alex teman satu meja soalnya." Letta menjawab dengan santai.


"Setahu gue lo sama Mira."


"Iya tapi itu dulu sebelum Alex datang gue emang sama Mira. Terus pas Alex jadi murid baru dan dia belum kenal sama orang lain disini kecuali gue, makanya dia akhirnya duduk sama gue."


"Ooh begitu." Hami mengambil tas yang ada di meja, membuka isinya yang ternyata kostum. "Ini apa?" tanyanya.


"Itu kostumnya Alex buat pentas seni besok."


"Lo juga udah dapet kostumnya?"


"Dapet, semua anak disini udah dapet semua. Emang kelas lo belum?"


Hami tampak mengangkat bahunya. "Belum, katanya sih besok-besok."


"Ngomong-ngomong kelas lo kebagian drama apa?"


"Malin Kundang."


"Gue tebak lo jadi Malin yah?"


Hami menggeleng. "Enggak, gue jadi warga desa biasa."


"Kenapa gak ambil peran utama? Lo kan pinter."


"Awalnya emang gue dijadiin peran utama, tapi gue nolak dan akhirnya ada yang bersedia yang mau gantiin posisi gue. Kalau lo gimana?"


"Lo beruntung, gue malah jadi pemeran utama. Padahal gue udah nolak mentah-mentah peran itu. Tapi ada aja halangan buat gue gak jadi pemeran utama."

__ADS_1


"Kelas lo kebagian drama apa emangnya?"


"Snow White."


"Berarti lo yang jadi Snow White?"


Letta mengangguk kepalanya. "Iya."


Hami tersenyum seraya menjawab. "Gue jadi gak sabar pengen liat penampilan lo di panggung."


"Jangan gitu, gue takut malu-maluin." ujar Letta sambil mengibaskan tangannya.


"Gak bakalan, lo pasti bisa. Terus pasangan lo siapa?"


"Pangerannya?"


Hami mengangguk. "Gue penasaran  siapa cowok yang beruntung bisa berpasangan sama lo."


"Alex." kata Letta mantap.


Hami mengernyitkan dahinya dalam-dalam mendengar nama Alex. "Dia lagi?"


"Maksud lo?"


"Tadi lo bilang lo satu bangku sama Alex, dan sekarang lo bilang kalau pasangan drama lo Alex juga. Emang gak ada cowok lain apa." kata Hami tiba-tiba kasar.


Letta tidak tahu akan membalas apa. Hami tampak keliatan marah, tapi apa salahnya coba. Apa Hami tidak setuju kalau Alex yang jadi pasangannya, tapi itu kan bukan maunya Letta. Kalau Letta boleh milih, ia juga tidak mau dipasangkan dengan Alex. Lebih baik perpasangan dengan orang yang tidak membuat jantungnya berdebar tidak karuan, dripada resiko salah tingkah sendiri di panggung.


"Itu bukan kehendak gue. Gue juga udah bilang tadi kalau gue udah nolak biar gak jadi pemeran utama tapi gagal."


"Seharusnya lo nolak lebih keras lagi, Ta." bentak Hami.


Kali ini Letta dibuat terperangah. Hami membentaknya. Padahal seumur-umur kenal Hami, cowok itu tidak pernah membentaknya atau berlaku kasar.


Letta mengerjapkan matanya, tanpa sadar ia tadi sampai menutup matanya ketika Hami membentak dirinya. Mata Letta memanas karena ini pertama kalinya ia dibentak Hami seperti ini dengan alasan yang sangat tidak jelas. Letta menatap nanar Hami yang tampak khilaf.


Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Lalu berdiri dan memegangi kedua pundak Letta. "Letta, gue minta maaf, gue gak ada maksud buat bentak lo. Gue-- gue cuma---"


"Cuma mencoba berlaku kasar sama cewek, heh?" sela Alex yang datang tiba-tiba. Alex berhenti dan berdiri dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku.


Letta dan Hami menoleh ke Alex yang baru masuk ke kelas. Seketika itu juga, Hami melepaskan tangannya di pundak Letta. Cowok itu menatap Alex tidak senang.


"Bukan urusan lo." kata Hami sengit.


Alex tertawa keras. "Tentu ini urusan gue. Lo ganggu Letta, itu artinya lo ganggu gue juga." desisnya.


Alex melihat Hami sesaat, lalu menganggukan kepala dan berkata dengan pelan. "Hhmm, jadi gue pengganggu?" 


"Iya, lo mirip parasit yang nempel--"


"Hami!" Letta menyela ucapan Hami tapi rupanya Alex sudah bergerak lebih cepat.


Alex berjalan cepat dan meraih kerah seragam Hami, menyeret keluar dari bangkunya. Mendorong Hami hingga punggung cowok itu menabrak dinding di belakanganya dengan keras. "Sekali lagi lo ngomong hal kayak gitu dari mulut bacot lo ini, gue gak segan-segan buat lo gak bisa berdiri pake kaki lo sendiri lagi." Alex berbisik dengan tajam.


Namun rupanya Hami tidak takut. Ia balas menatap Alex menantang. "Gue sama sekali gak takut sama ancaman lo itu."


Mendengar perkatan Hami, membuat Alex semakin geram, Alex menaikkan cengekeramannya lebih ke atas hingga Hami kesulitan bernafas.


Sedangkan Letta sudah berdiri kebingungan akan menengahi tapi bagaimana caranya. Ia tidak pernah menangani orang berkelahi sebelumnya. Ia juga tidak tahu apa yang sedang mereka ributkan. Dasar, dua cowok aneh yang membingungkan.


Beruntung bel masuk segera berbunyi, membuat Alex terpaksa melepaskan cengkeramannya di kerah Hami dengan kasar. Keduanya sempat beradu pandang sesaat dengan tidak menyembunyikan sarat kebencian di antara mereka. Ketika anak kelasnya Letta mulai masuk kelas, barulah Hami berjalan keluar dari kelasnya Letta.


Sepeninggalan Hami, Alex menarik kursinya dengan kasar. Membawanya ke bangku anak lain. Lalu Alex mengganti kursi anak itu dengan kursi miliknya. Kursi lain itu dibawa Alex dan ditaruh di tempat bekas kursinya berada.


"Kenapa ganti?" tanya Letta yang bingung.


Alex lalu menjawab dengan serius. "Gue gak suka milik gue disentuh sama tuh anak."


***


Bel tanda pelajaran selesai sudah berbunyi. Semua anak beranjak pulang, begitupun Letta dan Alex. Tapi begitu mereka sampai di tempat parkir, mereka mendapati ban sepeda yang biasa mereka naiki bocor bagian belakangnya. Padahal seingat Alex, sepeda itu masih waras-waras saja ketika berangkat.


Tidak mau berpikir terlalu lama yang hanya akan membuang waktu, akhirnya keduanya memutuskan untuk jalan kali. Sebenarnya bisa saja sih dibawa ke bengkel dulu, tapi sayang sekali, kedua anak itu sama-sama tidak membawa uang cadangan alias bawa uang saku pas. Dan sudah sama-sama habis. Jadi keinginan untuk dibawa ke bengkel harus ditunda dulu. Toh nanti ayahnya Letta pasti bisa memperbaiki sepeda itu di rumah.


Alex yang sedari tadi berjalan sambil menuntun sepedanya melirik sebentar ke Letta yang diam saja. Berkeinginan untuk memecah keheningan, Alex pun bertanya. "Tadi selama gue gak ada, lo ngomong apa aja sama Hami?"


Letta menoleh sesaat lalu memfokuskan pandangannya ke depan lagi. "Bukan apa-apa. Gak penting." Letta berkata sambil menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga.


Jawaban Letta tentu saja tidak membuat Alex puas. "Kalau gak penting kenapa tuh anak sampe dibawa ke dalam kelas. Bahkan sampe duduk di bangku gue."


"Daripada duduk di depan teras kelas dan dilihati anak satu sekolah, mending dibawa ke dalam aja, kan. Kalau di luar nanti gue dikira pelakor, secara Hami kan pacarnya Ajeng." jawab Letta.


"Emang mereka masih pacaran?"


"Kenapa lo nanya begitu?"


"Soalnya gue jarang liat mereka bareng lagi. Tadi gue liat Ajeng, dia pulang sendirian."

__ADS_1


"Terus kalau dia sendirian kenapa? Lo pengen nganter dia gitu?" Letta berujar sinis. Selalu saja hal menyangkut Ajeng membuatnya naik darah. Seakan-akan ia ditakdirkan untuk membenci nama itu.


"Siapa bilang gue pengen nganter dia. Udah cukup satu cewek aja, gue gak mau nambah."


Sesaat, setelah mendengar itu, Letta jadi tidak fokus dan hampir saja terjungkal ke depan karena ia tersandung kakinya sendiri. Konyol.


Satu cewek? Maksudnya gue gitu?


Pemikiran itu tiba-tiba saja mencuat ke otaknya, membuat pipi Letta merona.


"Lo kenapa? Sakit?" Alex bertanya seraya berhenti. Memandang Letta yang pipinya merah padam.


Sedangkan Letta, ia tergagap menjawab. "Eng--enggak. Kenapa lo mikir begitu?"


Alex lalu menunjuk pipi Letta. "Pipi lo merah."


Dibilang begitu malah membuat Letta semakin malu. Dan kini ia merasakan panas tidak hanya menjalari pipinya, tetapi juga merambat ke telinganya. Astagaaa... Memalukan. Pasti sekarang pipi dan telinganya jadi merah.


Agar Alex tidak melihatnya, Letta pun berinisiatif menangkup kedua pipinya. "Bukan apa-apa." katanya sambil menggeleng. "Mending kita jalan lagi aja." Letta yang tidak mau Alex menanyainya lebih lanjut segera melangkahkan kakinya kembali lebar-lebar.


Sial sial sial... Bego, lo bego... Letta mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


Letta terus berjalan cepat. Berharap Alex tidak sampai menyamai langkahnya yang sudah jauh. Tapi betapa terkejutnya ia ketika sebuah tangan yang hangat menyentuh lengannya dan dengan cepat membalikkan badannya hingga menghadap orang itu. Alex.


Dan perkataan Alex selanjutnya membuat Letta ingin terkubur ke tanah dibawahnya saat itu juga.


"Ta, gue gak nyangka lo bisa blushing."


***


Malam harinya, Letta mantap berlatih untuk dramanya. Pada bagian akhir, ada beberapa kalimat yang masih tersendat-sendat makanya ia mencoba untuk terus menghafalnya dengan harapan nanti kalau sudah tampil di panggung, ia tidak akan lupa.


Tangannya menaikkan naskah dramanya agar sejajar dengan wajahnya dan mulai membaca lagi. Lalu tiba-tiba saja ia teringat akan sikap Hami tadi siang di sekolah. Hami yang awalnya setuju Letta menjadi pemeran utama dan mengatakan tidak sabar untuk menonton, malah menjadi marah padanya setelah Letta mengatakan siapa lawan mainnya. Jadi sekarang, Letta berlatih sungguh-sungguh dan ia bisa membuktikan kalau ia bisa dan sanggup menampilkan penampilan terbaiknya.


Ia harus membuang jauh-jauh rasa pesimis dalam dirinya, tidak boleh terlalu berpikir yang tidak-tidak dan ia harus percaya diri. Ia akan membuat Hami melihatnya, melihat kalau dirinya mampu menjadi pemeran utama.


Lalu bagaimana dengan bagian dramanya sama Alex? Ketika latihan saja, Letta cenderung tidak mau menatap mata Alex. Takut ia terbawa suasana karena akting.


"Gue pasti bisa." ujar Letta menyemangati dirinya sendiri.


Letta kemudian membaca naskahnya lagi dan sampai ke bagiannya dengan Alex. Karena sejak tadi ia duduk dan capek, Letta memutuskan untuk membacanya sambil tiduran. Badannya terlentang menghadap ke atas dengan dua tangannya memegangi sisi kertas naskahnya.


"Siapa kau?" Letta berkata mengikuti yang ada di naskah.


"Terus nanti Alex bakalan jawab kau terbangun. Aku Pangeran yang menyelamatkanmu."


"Benarkah kau yang telah menyelamatkanku?"


"Alex bakalan jawab Iya, itu benar.


Terus nanti sehabis ngomong itu, gue ngehadep ke kurcaci sambil nanya benarkah itu kurcaci?"


"Kurcaci menjawab walaupun susah untuk diakui, tapi dia memang satu-satunya orang yang berhasil menyembuhkan Anda, Tuan Putri."


Letta membalik halaman selanjutnya. Lalu mulai membaca bagiannya. "Terima kasih banyak karena telah menolongku, pangeran. Sebagai ucapan terima kasihku, aku bersedia mengabulkan apapun satu permintaanmu."


Letta tertawa seteleh membaca bagian dialog yang itu. "Gue kok kalau ngomong di bagian ini ngerasa jadi jin yang ada di iklan rokok."


Kemudian Letta fokus lagi ke naskahnya. Tapi bukannya fokus pada kalimat selanjutnya, Letta malah mendapati otaknya memutar ulang suara Alex ketika mengucapkan kalimat selanjutnya pada saat latihan drama kelas mereka beberapa hari yang lalu.


Latihan kedua yang membuat kesehatan jantungnya patut dipertanyakan. Latihan yang sudah mencakup keseluruhan naskah, tidak seperti latihan pertama yang hanya sampai tuan putri makan apel, latihan kedua sudah sampai pada bagian akhir cerita. Dan Letta harus mengerahkan segala tenaganya untuk bisa lancar latihan saat bagiannya dengan Alex.


Kalau begitu menikahlah denganku.


Oh shit.


Letta beranjak dari tidurnya. Suara Alex rasanya terngiang-ngiang di otaknya.


Kalau begitu menikahlah denganku.


menikahlah denganku.


menikahlah denganku.


Letta berdiri, ia tidak kuat. Lalu ia berjalan keluar kamar menuju ke dapur mengambil air dari dalam kulkas. Air dingin itu kemudian masuk ke tenggorokkannya yang kering.


Kalau begitu menikahlah denganku.


"Gue bisa gila kalau begini caranya." Letta mengibaskan tangannya ke wajah. Pipinya terasa memanas membayangkan perkataan Alex.


Kalau begitu menikahlah denganku.


"Kenapa otak gue mikirin itu mulu sih." Letta menggeram frustasi.


Cewek itu lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Letta naik ke kasur dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


Ia kemudiian bergumam kesal. "Lo apain otak gue sih, kenapa terus-terusan jadi mikirin lo."

__ADS_1


__ADS_2