Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 48


__ADS_3

(Masih) Flashback.


Lanjutan part sebelumnya. Mau digabungin tapi kepanjangan, nanti yang baca keburu tidur di tengah-tengah 😂 Jadi aku bagi jadi dua part.


Satu hari kemudian.


"Terima kasih karena telah menolong putri saya. Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi apabila anda tidak cepat menolongnya." Ucapan terima kasih itu terucap dari Haris kepada orang yang menolong Letta yang ia ketahui bernama Anto.


"Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi kewajiban saja menolong orang lain. Saya senang bisa menolong. Saya doakan semoga putri anda baik-baik saja dan cepat sembuh." balas Anto sambil mengelus puncak kepala cucunya yang sedang berdiri sambil memegangi kakinya.


Anto dan cucunya ini menyusul ke rumah sakit tempat Letta dirawat sehari setelah Anto menolong Letta. Ia dekat sekali dengan cucunya makanya ketika ia akan ke rumah sakit yang walaupun jaraknya cukup jauh dari rumah, cucunya ini tetap ngotot mau ikut.


"Sekali lagi terima kasih banyak." ucap Haris dengan tulus.


"Iya sama-sama."


"Kakek ayo pulang." rengek cucunya Anto.


"Udah capek ya." kata Haris lalu berjongkok agar tingginya sejajar dengan cucu Anto. "Anak cantik siapa namanya?" tanyanya kemudian.


Cucu Anto itu tidak menjawab. Ia kelihatan takut dan semakin erat memeluk kaki kakeknya. Hal itu membuat Anto tertawa lalu mengelus kembali kepala cucunya. "Dia kalau sama orang asing memang pemalu."


"Kakek, ayo pulang." rengek anak perempuan itu sekali lagi.


"Kalau begitu saya dan cucu saya pulang duluan." pamit Anto.


Setelah Haris mengiyakan, Anto dan cucunya itu pun pergi dari ruangannya Letta. Mereka berdua hanya melihat Letta dari kaca jendela karena belum boleh ada orang yang masuk kecuali dokter.


"Kakek, yang tadi di rawat itu yang namanya Letta?"


Anto yang sedang berjalan sambil memegangi tangan cucu perempuannya itu menoleh. "Iya, kenapa? Mira kenal?"


Cucu Anto yang bernama Mira itu menggeleng tapi terus tersenyum. "Aku ingin berteman sama dia kalau udah sekolah nanti."


***


Enam hari kemudian.


Selama itu Alex tidak mau meninggalkan ruangan Letta. Letta sudah boleh dijenguk sejak tiga hari yang lalu walau masih dibatasi jumlah orang yang boleh masuk. Walau begitu, nyatanya Letta masih belum bangun.


Selama itu juga Alex masih terus menyalahkan dirinya sendiri bahkan kali ini lebih parah. Tatapan Alex kosong seakan hidupnya berhenti. Alex seringkali bergumam atau mengigau dalam tidurnya dengan mengatakan semua ini salahnya. Iya, Alex menganggap semua yang terjadi ini karena salahnya. Salahnya kenapa ia tidak bisa menjaga Letta dengan baik, salahnya kenapa Alex meninggalkan Letta. Salah Alex, iya ini semua salahnya.


Keluarga Letta sama sekali tidak menyalahkan Alex. Justru mereka meminta maaf kepada keluarga Alex karena dengan kejadian ini membuat jiwa Alex terguncang. Haris dan Wulan selaku orang tua Letta mengatakan bahwa putrinya memang  sedang tergila-gila ingin memancing ikan. Tetapi Haris tidak pernah bisa membawa Letta ke sungai untuk memancing karena ia tahu Letta anak yang pecicilan, Haris tidak ingin Letta lepas dari pengawasannya dan hal yang buruk terjadi. Tapi sekarang, karena ketidakinginannya membawa Letta, pasti membuat anak itu malah semakin ingin pergi dan mengajak Alex. Alex, anak ini memang selalu menuruti apa yang putrinya mau, makanya kedua anak ini nekat mencuri pancing miliknya dan pergi ke sungai hanya berdua.

__ADS_1


Sekarang semua sudah terjadi, tidak ada waktu untuk menoleh ke belakang lagi. Ia hanya berdoa agar Letta bisa cepat sadar dan ceria kembali. Haris melihat istrinya, Wulan, tertidur di sofa dalam ruangan Letta. Wulan khawatir setengah mati ketika diberitahui Letta mengalami kejadian itu. Setiap malam, Wulan yang bertugas berjaga, siapa tahu Letta akan sadar, sedangkan siangnya ia yang menjaga Letta. Pasti istrinya itu sangat lelah, kantung mata hitam terlihat jelas di bawah matanya. 


Di samping Wulan ada Alex. Kedua lutut Alex tertekuk di atas sofa. Kepalanya ia benamkan ke lekukan kakinya. Dari jarak beberapa meter, Haris tetap dapat mendengar rintihan Alex. "Semua salah Alex, maafin Alex." begitu yang ia dengar.


Aji dan Dinda sedang pulang. Biasanya mereka ikutan menjaga Letta. Apalagi dengan Alex yang tidak mau dibawa pulang sejak tiba di rumah sakit tujuh hari yang lalu. Alex seringkali tidak mau makan, katanya ia akan makan kalau Letta bangun. Haris sungguh sedih melihat Alex seperti itu. Pasti rasanya sangat menyakitkan bagi Alex.


Haris mengalihkan pandangannya ke Letta, berharap ia dapat mengalihkan perhatiannya dari kesedihan Alex, dan jantungnya berdegup kencang ketika melihat mata Letta perlahan bergerak. Segera ia memencet tombol yang ada di bagian ranjang agar dokter segera datang.


Rupanya gerakannya cukup berisik hingga Wulan terbangun dan Alex mendongak menatap penuh ingin tahu kepadanya.


"Apa anak kita sudah bangun?" tanya Wulan yang masih mengantuk.


"Mungkin sebentar lagi. Kita nunggu dokter datang dulu, ya." balas Haris dengan tersenyum senang.


Tak lama setelahnya seorang dokter dan suster datang. Mereka memerintahkan agar Letta ditinggalkan dahulu sehingga Haris menghela Wulan dan Alex agar keluar ruangan. Wulan, walau wajahnya terlihat lelah, ia terus tersenyum ketika dibertahu Haris kalau Letta akan bangun. Lain halnya dengan Alex. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa ia di bawa keluar ruangan. Kenapa tadi ada dokter masuk.


Apakah Letta-- apakah dia---


Ughhh... Mata Alex mulai berair dan ia mulai terisak lagi. Saat itu juga Haris dan Wulan sadar kalau masih ada Alex. Wulan berjongkok di depan Alex lalu memegangi pipinya.


"Apa Letta baik-baik saja? Kenapa ada dokter?" tanya Alex pelan-pelan.


Wulan tersenyum. "Letta baik-baik saja dan dia akan bangun setelah ini. Dokter di dalam ruangan itu sedang memeriksa Letta dahulu."


Dan selama hidupnya, Alex kecil tidak pernah merasa sesenang ini.


"Kalian siapa?"


***


"Paman... Paman..." suara kecil Alex memecah keheningan.


Haris menghiraukan Alex karena ia sedang terlibat pembicaraan yang serius dengan dokter, dan mamanya Letta yang sedang duduk bangku depan ruangan sedang menangis tersedu-sedu. Apakah ada sesuatu lagi? Bukankah seharusnya mereka senang karena Letta sudah bangun. Bahkan Alex belum sempat berbicara dengan Letta. Karena tadi setelah mereka ke kamar Letta, baru beberapa detik tetapi Haris sudah menggiringnya keluar dan memanggil dokter lagi. Tapi bukankah Letta sudah sadar, lalu apa masalahnya?


Mereka tidak tahu saja kalau Alex sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Letta dan meminta maaf padanya. Karena Alex, Letta jadi terluka dan harus dirawat di rumah sakit.


Karena papanya Letta masih terus mengabaikannya dan Wulan yang sibuk menangis, Alex jadi berkeinginan untuk masuk ke kamarnya Letta sendiri. Dengan hati-hati ia mulai berjalan ke arah pintu. Karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, mereka tidak menyadari Alex yang sudah masuk ke dalam dan menutup pintunya lagi.


Alex kecil berjalan terseok ke arah ranjang tempat Letta berada. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merasakan perasaan senang yang terus membuncah di hatinya. Lettanya sudah bangun. Untuk pertama kalinya selama tujuh hari terakhir ini Alex tersenyum lagi.


Mata Letta yang bulat membesar melihat orang asing masuk ke ruangannya. Namun Alex menganggap itu sebagai tanda Letta terkejut dan senang. Ia tidak menyadari tubuh Letta yang sudah mulai bergetar takut.


Sungguh Alex terlampau senang. Selama tujuh hari ini rasanya seperti berada di neraka. Menunggu dan menunggu Letta hingga pada akhirnya sekarang Letta terbangun.

__ADS_1


"Letta, maafin Alex, ya." katanya serak.


Letta beringsut ke belakang. Ia menggeleng takut. "Siapa kamu?! Pergi!!"


Kening Alex mengernyit bingung. "Ini aku Alex, temannya Letta."


Letta menggeleng cepat dan ia ketakutan sekali. "Bukan, aku gak punya teman kayak kamu. Pergi!!!"


Penolakan Letta membuat Alex ketakutan dan akan menangis. Alex berjalan ke sisi ranjang Letta. "Ini aku Alex. Teman kamu." suaranya bergetar takut. Alex bingung kenapa Letta berbohong dengan tidak mau mengenalinya.


"Bukan!! Pergi dari sini!!" Letta berteriak di depan muka Alex.


Wajah Alex pucat pasi seakan darah berhenti mengalir di wajahnya. "Aku---"


"Pergi!!!"


"Enggak, ini aku Alex, teman kamu."


"Aku gak punya teman kayak kamu!"


"Letta jangan ngomong gitu." Alex mulai meneteskan air matanya. "Letta kan temannya Alex."


"Kamu bukan teman aku. Aku gak mau punya teman kayak kamu!" pekik Letta.


Sambil menangis, Alex semakin mendekati Letta dan hendak meraih tangannya tetapi Letta sudah menghindar lebih dahulu. Sayangnya Letta menghindar terlalu jauh hingga ia menabrak barang di nakas dekat ranjangnya hingga berjatuhan ke lantai. Seakan belum cukup, Letta terjungkal ke bawah, setelah badan Letta menghantam lantai, tiang penyangga infusnya pun terjatuh dan tepat mengenai kepalanya.


Alex berjalan cepat ke Letta dan jantungnya mencelos melihat Letta tidak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan darah.


Pergi!


Aku gak punya teman kayak kamu!


Kamu bukan teman aku. Aku gak mau punya teman kayak kamu!


Alex terjatuh merosot ke lantai. Tubuhnya bergetar hebat. Lagi-lagi Letta terluka dan berdarah karenanya. Air mata yang tadinya mengalir sudah berhenti digantikan dengan tatapan matanya yang kosong.


Pergi!


Aku gak punya teman kayak kamu!


Kamu bukan teman aku. Aku gak mau punya teman kayak kamu!


Bertepatan dengan itu, pintu menjeblak terbuka. "Alex! Letta!"

__ADS_1


***


Part selanjutnya nanti sudah balik lagi ke masa kini.


__ADS_2