Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 51


__ADS_3

Selama hidupnya tidak pernah ada yang merendahkannya serendah ini. Alex memang benar-benar kejam dan tidak punya perasaan. Setelah menghancurkan hatinya hingga tidak tersisa, cowok itu malah dengan seenaknya mencium Letta. Walau hanya kecupan singkat tetap saja itu namanya ciuman dan ini yang pertama bagi Letta. Menyedihkan sekali rasanya ciuman pertamanya diambil dengan cara seperti itu dan bahkan dengan orang yang secara terang-terangan tidak akan membalas perasaannya.


Letta berjalan tidak tentu arah sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Rasanya ia ingin menangis keras-keras tapi ia ingat ia masih berada di sekolah. Terkutuklah Alex karena melakukan ini padanya. Awalnya Letta ingin pergi ke tempat sepi untuk meluapkan rasa sakitnya sendirian, tetapi entah kenapa langkah kakinya ini mengantarkannya ke tempat yang lain.


"Letta lo kenapa?" tanya seseorang yang menghentikan langkahnya.


Dan orang inilah yang Letta cari.


"Hami." tiba-tiba saja Letta merasa beban di pundaknya terangkat dan dengan segera ia memeluk Hami. Baru saat itu Letta bisa menangis lepas.


"Hei, lo kenapa?" tanya Hami khawatir pasalnya Letta tiba-tiba saja datang dan langsung memeluknya. Ditambah lagi cewek ini langsung menangis. Hami sendiri akan mengikuti pelajaran olahraga makanya ia berada di luar kelas dan akhirnya bertemu dengan Letta.


Bukannya menjawab, Letta malah semakin terisak. Ia bisa pastikan sekarang seragamnya Hami basah oleh air matanya.


Hami yang mengerti bahwa Letta belum bisa bercerita hanya bisa membalas pelukannya. Ia mengusapi punggung Letta agar cewek ini tenang.


"Dia... ugh... Dia jahat sama gue." isak Letta di pelukan Hami.


"Dia... Dia bilang perasaan gue ini konyol... Ugh... Katanya, dia gak sudi buat balas perasaan gue." Letta semakin menangis ketika kata-kata Alex terlintas di benaknya.


"Lo bisa. Karena gue gak sudi dan gak akan pernah balas perasaan lo. Jadi lebih baik daripada lo ngehayal sendiri, mending lo buang jauh-jauh mimpi lo itu."


Letta sempat merasakan Hami terkesiap namun segera rileks kembali dan cowok itu tetap mengelus punggungnya secara beraturan. Rasanya hangat dan menenangkan. Mungkin memang di sini tempatnya yang sebenarnya, bukan bersama Alex.


"Lo-- lo suka sama dia?" tanya Hami dengan nada serak.


Letta terdiam ketika mendengar suara Hami yang berbeda. Ia akan melepaskan pelukannya dan melihat ke cowok itu, tetapi Hami tidak membiarkannya. Karena Hami malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Jawab gue. Apa lo suka sama dia?" desak Hami.


Tanpa harus bertanyapun, Letta tahu siapa dia yang dimaksud oleh Hami. Letta hanya bisa mengangguk dalam pelukan Hami, dan sialannya ia mulai menangis lagi. "Maaf, maafin gue." bisik Letta di sela tangis.


Hami tidak membalas perkataan Letta, namun ia menambah erat pelukannya.


***


Alex marah. Marah kepada dirinya sendiri. Terlalu marah hingga rasanya ia ingin meninju apapun termasuk kalau bisa dirinya sendiri. Dirinya tidak habis pikir kenapa bisa sampai melakukan hal seperti itu. Terlampau brengsek dirinya karena menyakiti cewek yang ia suka sampai begitu dalam. Ia masih ingat ketika Letta memandangnya dengan terluka, dan benci sekaligus. Atau mungkin Letta akan merasa jijik padanya, bisa jadi bukan?


Dengan amarah yang masih membumbung tinggi, Alex keluar dari UKS, membanting pintunya keras-keras. Alex berjalan sepanjang koridor dengan tangan terkepal. Lalu tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada seorang cowok yang lari terburu-buru hingga tidak sengaja menabrak bahu Alex dengan lumayan keras.


Alex menjadi murka. Kasihan cowok yang menabraknya karena sebebtar lagi akan dijadikan samsak kemarahan Alex.


"Gue min---"


Belum selesai cowok yang menabrak Alex bicara, dirinya sudah terkapar di lantai karena Alex baru saja memberikan tinju ke rahangnya. Sudut bibir cowok dengan name tag Danu itu mengeluarkan darah.


"Sialan!" Danu mengelapkan jempolnya ke sudut bibirnya yang robek dan ia langsung meludah ke samping melihat warna salivanya yang merah.


Danu yang merasa tidak terima langsung berdiri dan hendak membalas. Namun Alex sudah bergerak cepat hingga ia bisa menghindar. Postur tubuh Danu saja jauh di bawah Alex, jadi sia-sia saja melawan Alex karena bisa dipastikan akan kalah. Apalagi, Alex sedang dalam mode marah tingkat tinggi dan terlalu ingin melampiaskan amarahnya ini. Mungkin Danu akan menjadi pilihan yang tempat sebagai tempat pelampiasannya. Yahh... Alex tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, bukan?


Danu mencoba memberikan pukulan sekali lagi tetapi Alex dengan sigap menangkap kepalan tangan Danu lalu dilanjut Alex memutar tangan cowok itu hingga Danu memekik kesakitan. Alex tidak merasa kasihan sama sekali, ia malah menambah siksaannya dengan menarik cowok itu mendekat lalu memberikan pukulan terbaiknya.


"Sekarang gue mau nanya, dan lo harus jawab jujur. Apa pernah terlintas nama gue di hati lo?"


Satu kali.


"Gak."

__ADS_1


Dua kali.


"Jadi di sini cuma gue yang ngerasa berbeda."


"Lo aja yang gampang baper."


Sampai tiga kali Alex menghantamkan tinjunya bertubi-tubi ke rahang Danu. Alex meraih kerah cowok yang sudah lemas itu lalu menariknya ke atas hingga Danu kehabisan nafas.


"Jadi selama ini sikap baik lo ke gue cuma pura-pura biar lo cepat balik ke kota gitu? Dengan kata lain lo jadiin gue--- alat."


"Gue nyesal pernah suka sama lo! Gue benci sama lo!"


"Gue benci sama lo! Mulai sekarang gue bakalan lupain lo dan anggap kita gak pernah kenal!"


"Le-- lepasin gue." pinta Danu memelas. Salah satu mata dan pipi cowok itu sudah dipenuhi lebam.


"Tidak segampang itu." desis Alex tajam. Lalu Alex menghempaskan tubuh Danu ke lantai dengan kasar hingga menimbulkan suara debam yang nyaring.


Seakan lupa diri dan tak punya hati, Alex meraih kerah Danu kembali, mengangkat tubuh cowok itu lalu mendorong Danu ke dinding, memberikan pukulan ke limanya ke wajah Danu hingga ia bisa mendengar bunyi retakan disusul suara lengkingan keras dari cowok yang ia pukul ini. Mungkin hidung dia patah, pikir Alex begitu.


"Segitu doang kemampuan lo, heh?" ejek Alex sambil melihati Danu yang sudah hampir pingsan.


"Alex!" suara tegas seseorang membuat Alex menoleh. Kepala Sekolah SMA Prisma.


"Lepasin dia." perintah sang kepala sekolah.


Alex pun menurut, ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar.  Membiarkan Danu yang lenah tak berdaya merosot ke lantai.


"Cepat bawa dia ke UKS, dan kamu Alex, ikut ke ruangan saya." perintah kepala sekolah kepada beberapa siswa di sekitarnya dan juga kepada Alex.


Baguslah, pikirnya.


***


"Kamu memang secara resmi sudah keluar dari sekolah ini, tetapi bukan berarti kamu boleh berkelahi dengan siswa yang masih sekolah di sini."


Alex tidak merasa bersalah atau terintimidasi sama sekali dengan perkataan kepala sekolah yang bernama Pak Iwan itu. Sejak masih di kota ia juga sudah keluar masuk BK dan ruang kepala sekolah jadi ia sudah terbiasa dan tidak merasa takut sama sekali.


Pak Iwan tampak belingsatan. Ia bergerak ke sana ke mari. "Kamu tahu, kamu itu keponakan teman saya, Anjar. Dia kepala sekolah di sekolah kamu yang dulu, bukan?"


Alex mengangguk sebagai jawaban.


"Dia meminta saya buat ngawasin kamu dan ngasih tahu kelakuan kamu selama di sekolah. Dan selama ini juga saya tidak mendapati ada pelanggaran atau sikap buruk yang kamu lakukan, sampai hari ini." Pak Iwan tampak menghela nafas. "Orang tua Danu bisa saja menuntut kamu karena sudah membuat anaknya babak belur."


Alex tidak ada niatan untuk membalas atau membela diri. Ia hanya diam di tempat duduknya.


Pak Iwan mengusap dagunya seraya berpikir, lalu ia mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. "Kita harus tetap ikuti prosedur, sekarang telfon orang tua kamu."


"Orang tua saya di kota."


"Kalau begitu siapa saja yang bisa menjadi wali kamu. Suruh dia datang ke sekolah. Danu pun demikian, orang tuanya nanti akan ke sekolah. Akan ada banyak kemungkinan kalau orang tua Danu marah sampai menuntut kamu secara kamu hampir saja buat sekarat anak orang. Suruh siap-siap saja kalau nanti orang tua dia meminta ganti rugi."


Alex memutar bola matanya mendengar perkataan Pak Iwan. Namun, tak ayal ia tetap menerima ponsel milik Pak Iwan, lalu menelfon ke orang di rumahnya yang tentu saja bukan Sari.


Satu menit dihabiskan Alex untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada orang yang ia telfon. "Sudah." kata Alex setelah selesai sambil menyerahkan ponselnya ke Pak Iwan kembali.


Pak Iwan menerima dan memasukannya ke dalam saku lagi. Kemudian ia berdiri sambil merapihkan jas yang ia pakai. "Kamu tetap di sini, selagi saya menjenguk Danu terlebih dahulu."

__ADS_1


***


Alex didampingi oleh Fabian, sedangkan Danu diwakili oleh ibunya. Danu sendiri masih di ruang UKS dan belum sadarkan diri sejak dibawa ke sana. Tadi ibu Danu sempat histeris ketika melihat kondisi anaknya yang mengenaskan. Beruntunglah karena Danu tidak sampai harus sampai dibawa ke rumah sakit. Cowok itu hanya pingsan dan mengalami luka lebam, walaupun hidungnya sedikit patah, namun masih bisa ditangani tim PMR sekolah. Danu bisa saja dilarikan ke rumah sakit, tetapi sekolah tidak mau kalau nanti ada pihak luar yang tahu mengenai perkelahian ini.


Satu jam kemudian setelah mereka semua membicarkan masalah perkelahian antara Alex dan Danu yang sembilan puluh persen kesalahan Alex, ibu Danu dengan baik hati mau memaafkan Alex dan tidak menuntut ganti rugi. Walaupun begitu, Fabian sebagai wali Alex yang merasa tidak enak memutuskan untuk tetap memberikan beberapa komisi untuk pengobatan Danu sebagai ganti rugi dan permintaan maaf.


Setelah semuanya selesai, sekarang Fabian dan Alex sedang berjalan menuju ke tempat parkir. Niatnya mereka akan langsung pulang ke rumah. Ini adalah hari terakhir Alex di sekolah, jadi ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Satu persatu kenangan akan dirinya di sekolah ini menyeruak masuk ke ingatannya. Apalagi kebanyakan kenangan itu berisi dirinya dengan Letta.


Tidak mau berlama-lama dalam lamunannya, Alex berniat masuk ke dalam mobil Fabian karena cowok itu sudah berada di dalam, tetapi seakan ada tarikan kuat, Alex tiba-tiba memutar kepalanya ke belakang saat tangannya sudah memegang pintu mobil.


Jauh di sana, ia melihat Letta. Letta juga sedang melihat ke arahnya. Sesaat ia merasa dunia ini berhenti dan hanya ada ia dan Letta. Rasanya Alex ingin sekali berlari ke sana dan meminta maaf sebanyak mungkin atas perlakuan kasarnya hari ini. Dan yang paling membuatnya gila adalah Alex ingin sekali mengungkapkan isi hatinya, ia ingin mengatakan pada cewek itu kalau sebenarnya ia juga suka sama Letta. Tetapi situasi saat ini sangat tidak mendukung.


Alex terus melihat ke arah Letta tanpa ada niatan untuk mengalihkan pandangannya. Dan jantungnya mencelos begitu melihat ada cowok lain mendatangi Letta hingga Letta mengalihkan pandangan darinya. Dari kejauhan saja Alex bisa melihat kalau cowok itu adalah Hami. Alex melihat Hami berbicara sesuatu ke Letta lalu keduanya pergi. Alex merasakan darahnya naik ketika melihat Hami melingkarkan tangannya ke bahu Letta.


Brengsek!


"Alex, ayo masuk!" seru Fabian dari dalam mobil.


Dibukanya pintu mobil Fabian lalu Alex menutupnya dengan kasar. Fabian sedari tadi melihati Alex, jadi ia tahu kemana arah pandangan temannya itu selama di masih di luar mobil. Sebenarnya kalau dilihat seperti tadi, ia merasa tidak tega karena memisahkan Alex dan cewek yang Alex sukai. Tapi mau bagaimana lagi, Alex pernah melakukan sesuatu yang fatal di masa lalu dan harus bertanggung jawab di masa ini.


Fabian menyalakan mesin lalu menjalankan mobilnya keluar dari wilayah sekolah.


Alex menyandarkan kepalanya ke kaca lalu ia melihat ke sekolah lagi untuk terakhir kalinya.


***


Letta merasa bingung ketika Hami tadi mengatakan padanya kalau Pak Iwan sedang mencarinya. Hami akhirnya mengantarkan Letta ke ruang kepala sekolah. Dan selagi Letta masuk, Hami pun pergi meninggalkannya.


"Kamu yang namanya Letta?" tanya Pak Iwan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


Letta mengangguk. "Iya, Pak."


"Silahkan duduk."


Letta menurut, ia duduk di sofa di ruang kepala sekolah. Kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan. "Ada apa bapak memanggil saya?"


"Sebentar." kata Pak Iwan lalu ia mengambil rapor berwarna hitam dengan logo SMA Prisma di tengah. Kemudian Pak Iwan duduk berseberangan dengan Letta. "Ini rapor punya pacar kamu, tolong kamu kasih ke dia."


Perkataan Pak Iwan membuat Letta mengernyitkan dahinya. "Pacar?"


"Iya, Alex, dia pacar kamu, bukan?"


"Buk--" Letta mau menyela dan membantah tapi ia kalah cepat karena Pak Iwan malah tertawa keras.


"Sudah sudah, tidak usah malu. Kalau dihilang-hilangin nanti hilang beneran, loh."


Dan saat itu juga Letta hanya diam. Membiarkan Pak Iwan berspekulasi sendiri mengenai hubungannya dengan Alex yang aslinya jauh dari ekspektasi.


"Jadi Alex kemari niatnya mau mengambil rapor miliknya tapi malah mungkin dia lupa. Dan pasti anak itu sudah pulang. Apalagi dia tadi habis berkelahi sama anak lain."


"Berkelahi?"


"Kamu tidak tahu?" tanya Pak Iwan heran dan dijawab gelengan kepala oleh Letta.


"Entah ini Alex yang terlalu bersemangat atau lawannya yang terlalu lemah sampai-sampai lawan Alex terkapar gak sadar di UKS sekarang. Nanti kamu tanya sendiri detailnya ke pacar kamu, sekarang ini rapor kamu ambil. Habis itu tolong kamu kasih ke Alex, ya. Saya dengar, rumah kalian bertetanggaan, jadi kamu tentu tidak akan menolak permintaan saya, bukan?"


"Baik, Pak." jawab Letta lesu lalu ia mengambil rapor milik Alex.

__ADS_1


__ADS_2