
Letta tidak bisa menahan kernyitan di dahinya ketika mendapati Indra berada di teras rumahnya ketika ia keluar rumah untuk berangkat sekolah. Sejak hari dimana ia melihat Indra setelah mendengarkan percakapan cowok itu dengan Mira di belakang sekolah, ia belum sempat bertemu dengan Indra lagi sampai saat ini.
Letta tidak dapat menahan rasa terkejutnya ketika bertanya. "Lo ngapain di sini?"
Indra tersenyum canggung, takut Letta tidak menyukai kehadirannya. "Gue mau lo berangkat sekolah sama gue." katanya dengan ragu. Dari kalimatnya saja sudah menjelaskan kalau Indra menyatakan pernyataan bukan pertanyaan.
Setelah itu baru Letta tersadar kalau kedua tangan Indra memegang helm. Satunya berwarna hitam dan yang satunya lagi berwarna putih. Ia memutuskan untuk tersenyum balik. "Oke." balasnya yang membuat hati Indra berseru senang.
Letta tidak salah mendengar kalau Indra menarik nafas lega ketika ia mengiyakan ajakan Indra. Ya walaupun kalau mengingat semua yang sudah Indra lakukan seharusnya berpotensi membuatnya benci dan marah ke cowok itu, tapi setelah dipikirkan lagi Letta merasa bisa memaafkan. Selain itu, Indra dan dia sudah berteman dekat, rasanya akan aneh kalau mereka berdua bermusuhan karena masalah itu. Letta tidak ingin, yang ia inginkan adalah hubungan mereka kembali seperti biasa dahulu kala.
Lagipula ia juga sudah tidak menyukai Hami lagi jadi buat apa menyesal dan marah pada masa yang sudah lewat. Belum lagi pengakuan Ajeng kemarin sore membuatnya jadi lebih tenang dan semakin bisa memaafkan Indra.
Kalau dilihat, Indra memang masih canggung dan kaku padanya. Mungkin karena ia malu dan merasa bersalah, pikirnya. Indra sendiri bahkan sebenarnya belum meminta maaf kepadanya, atau mungkin cowok itu mau tapi belum ada waktu yang tepat.
"Ini helm lo." kata Indra sambil menyodorkan helm yang berwarna putih.
Letta menerimanya dan menggumamkan terima kasih. Lima menit kemudian dirinya sudah naik motor bersama Indra. Karena waktu yang masih pagi jadi Indra membawanya dengan pelan. Letta juga senang karena merasa santai. Di tengah perjalanan, Letta mulai mengeluarkan suaranya, karena naik motor dan memakai helm yang kemungkinan akan sulit didengar, ia akhirnya bersuara sambil berteriak. "Ajeng beneran mau pindah?" seru Letta keras.
Indra yang mendengarnya menoleh sedetik ke belakang sebelum akhirnya memusatkan perhatiannya ke depan lagi. "Iya. Lo tahu dari mana? Seingat gue Ajeng belum ngasih tahu ke sekolah kalau dia mau pindah." balas Indra sambil berseru keras juga.
Letta menjawab jujur. "Kemarin dia datang ke rumah gue dan ngasih tahu soal itu." ia menjeda sesaat. "Dan dia juga datang ke rumah Hami."
Sesaat tubuh Indra tampak kaku tapi tak lama kemudian rileks kembali. "Lalu gimana?" tanyanya penasaran.
"Mereka putus." kata Letta namun tidak cukup keras sampai Indra mendengarnya.
"Apa?"
"Mereka putus."
"Mereka apa? Bicara yang keras. Anginnya lagi kencang." saran Indra ke Letta.
Letta sendiri menarik nafas sebelum akhirnya ia memajukan wajahnya lalu berteriak keras. "Mereka putus!"
Jeda sesaat sebelum akhirnya Indra bertanya. "Terus gimana perasaan lo?"
Cowok ini menurut Letta tidak ada kagetnya sama sekali saat ia mengatakan kalau Hami sama Ajeng putus. Ia pikir Indra akan kaget. Atau jangan-jangan Indra sudah tahu sebelumnya makanya reaksi yang ia duga tidak terjadi. Dan bukannya mengomentari masalah putusnya hubungan Hami dan Ajeng, Indra malah menanyakan bagaimana perasaannya.
"Maksud lo apa?"
"Gimana perasaan lo setelah tahu mereka putus? Lo senang?" tanya Indra.
Letta berpikir. Senang? Tidak. Sedih? Juga tidak. Semua terasa... hambar. Mungkin karena perasaannya sudah beralih ke orang lain makanya ketika tahu kalau Hami putus sama Ajeng ia merasa biasa saja. Kalau misalkan ini terjadi sebelum ada Alex atau sekiranya Alex tidak muncul di hidupnya, Letta akan menerima kabar ini dengan gembira. Bisa-bisa ia membuat perayaan berputusnya dua orang itu.
Letta menggelengkan kepalanya pelan. "Gue gak tahu." setelah mengatakan itu, Indra tidak membalasnya. Namun, Letta sempat melihat dari kaca spion kalau Indra sempat tersenyum penuh arti. Sebelum Letta bisa menebak apa arti senyuman itu, matanya membelalak ketika ia tidak sengaja memandang ke sekitar. Sial, mereka sudah melewati sekolah!!!
"Sekolahnya udah kelewatan!" pekik Letta.
"Iya, gue tahu." jawab Indra santai.
"Lo mau bawa gue kemana?!" tanya Letta histeris. Ia bergerak gelisah sambil menengok ke belakang karena sekolah mereka sudah terlewat cukup jauh di belakang sana. Dan bukannya berhenti, Indra malah menambah kecepatan laju sepeda motornya.
"Heh, jawab gue dulu lo mau bawa gue kemana?" bentak Letta karena Indra tidak segera memberi jawaban.
Indra tersenyum simpul melihat Letta yang kebingungan. "Nanti juga lo tahu."
Letta memukul bahu Indra lalu berseru. "Lo baru aja ngajak gue bolos."
"Tenang aja, Ta. Gue udah minta Mira buat ngasih tahu ke guru kalau lo sakit. Jadi lo gak perlu datang ke sekolah hari ini." ujar Indra menenangkan.
Dan Letta seketika paham. "Lo udah ngerencanain ini sebelumnya." simpulnya dengan pandangan menyelidik.
"Tentu." jawab Indra dengan santai.
***
Satu jam sudah terlewati tetapi belum ada tanda-tanda Indra akan memberhentikan motornya. Berulang kali Letta bertanya kemana tujuan mereka, tetapi Indra dengan mengesalkan selalu bilang kalau itu rahasia dan tinggal menunggu saja sampai tiba ke tempat tujuan.
Jujur, Letta merasa senang karena hubungannya dengan Indra membaik dan normal kembali seperti sedia kala. Tidak ada kecanggungan di antara keduanya lagi seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Letta yang duduk diam di belakang merasakan semakin jauh anginnya semakin kencang dan dingin. Telinganya mendengar suara samar-samar deburan ombak. Semakin lama suara samar itu semakin jelas dan ia yakin kalau itu memang suara ombak. Apa Indra membawanya ke pantai?
Tidak lama kemudian rasa penasarannya terjawab ketika Indra membawa motornya melewati sebuah tanah lapang dan dari situ Letta menoleh ke sebelah dan mendapati di seberang sana memang ada pantai. Pertanyaannya adalah untuk apa Indra membawanya ke sana.
"Kita mau ngapain di sini?" tanya Letta dengan keras yang pada akhirnya sia-sia karena tidak dihiraukan oleh Indra. Letta jadi menggeram kesal dan dihadiahi cekikian si Indra. Menyebalkan, pikirnya. Jadilah Letta memutuskan untuk diam saja. Toh kalau ia bertanya juga tidak akan mendapatkan jawaban.
Akhirnya setelah satu jam lebih perjalanannya, mereka berdua sampai ke tempat tujuan. Indra memarkirkan motor miliknya tak jauh dari wilayah pantai. Pantai ini sepi karena bukan salah satu tempat wisata unggulan di daerahnya dan juga karena ini adalah hari senin yang mana tidak ada seorangpun yang libur jadi tidak ada yang datang ke pantai kecuali ada beberapa penduduk setempat di sekitar pantai. Tidak banyak, hanya kisaran satu sampai lima orang.
__ADS_1
"Tasnya bisa lo taruh aja di atas motor, gue jamin gak bakalan hilang." perintah Indra seraya melepaskan tasnya lalu meletakkannya ke atas motor dan diikuti oleh Letta.
"Ayo, ikutin gue." perintah Indra kali ini menyuruh Letta untuk mengikutinya.
Setelah menaruh helmnya, Letta menurut. Ia berjalan mengikuti Indra dari belakang. Mereka berdua mendekat ke arah pantai sampai akhirnya sepatu Letta menyentuh pasir pantai yang kering. Letta mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Pantai ini memang tidak seindah pantai lain di daerahnya, mungkin inilah yang membuat pantai ini sepi pengunjung. Bahkan, pondok-pondok makan di sepanjang pantai dibiarkan terbengkalai karena sudah tidak beroperasi lagi.
Namun, ada satu hal yang membuat pantai ini indah menurutnya dan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan pantai lainnya, yaitu ketenangan. Bukan, bukan karena sepinya. Tetapi ada sesuatu di pantai ini yang membuat perasaan menjadi nyaman dan tenang. Suara deburan ombak terdengar halus di telinga, air pantainya juga jernih, tak ada sampah yang berserakan, ditambah lagi suara kicauan burung yang berterbangan dan hinggap di pepohonan sepanjang garis pantai. Tempat ini juga sama sekali tidak tandus, malah bisa dikatakan terlampau sejuk. Mungkin semua ini yang membuat pantai ini memberikan ketenangan hati sendiri. Sayangnya pengembangannya tidak berjalan lancar makanya pantai ini tidak banyak orang yang tahu, termasuk Letta yang aslinya juga tidak tahu nama pantai ini itu apa.
Terlalu sibuk sendiri, Letta jadi lupa kalau ia sedang mengikuti Indra. Ia mengerjapkan matanya cepat-cepat. Beruntung Indra sedang menghadap ke arah yang sama dengannya jadi cowok itu tidak tahu kalau Letta sempat melamun.
Begitu Letta menaikkan pandangannya ke Indra, cowok itu berbalik. Dan dari matanya, Letta menangkap penyesalan di sana. Dan dari situ juga Letta tahu kalau Indra akan mengatakan sesuatu padanya, makanya ia diam membiarkan Indra untuk bicara.
"Alasan kenapa gue bawa lo kesini salah satunya adalah gue mau minta maaf sama lo, Ta." kata Indra dengan tulus. Kemudian ia melanjutkan. "Gue tahu semua yang gue lakuin itu udah nyakitin hati lo. Gue akuin kalau gue udah jahat dan ngekhianatin pertemanan kita. Gue minta maaf banget soal itu, gue menyesal, gue menyesal banget udah hancurin pertemanan kita. Gue gak tahu lo mau maafin gue atau enggak karena perbuatan gue. Kalau lo gak maafin gue, gue tetap terima. Karena ini semua jelas kesalahan gue dan gue pantes dapetinnya."
Akhir kalimat Indra membuat Letta tertawa. Hal itu tentunya membuat Indra dilanda kebingungan. Melihat jelas kerutan di dahi Indra, Letta segera menengahi sebelum temannya ini salah paham. "Gue gak sejahat dan seburuk itu. Lo salah besar kalau menilai gue seperti itu." Letta berhenti sesaat karena menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang terbawa angin hingga menutupi wajah.
"Gue tahu lo anak baik dan maksud lo juga baik. Lo pernah bilang kalau lo mau jaga gue. Dan yang mana berakhir lo ngira lo suka sama gue. Tapi, gak apa, gue gak bakalan marah lagi sekarang. Semua itu udah ada di masa lalu. Gue akui waktu awal gue tahu ini gue sakit hati banget karena lo ngelakuin ini semua diam-diam di belakang gue. Tapi, entah kenapa gue juga gak bisa marah dan benci ke lo lama-lama."
"Jadi apa lo mau maafin gue dan menjadi teman gue lagi?" bisik Indra.
"Jawabannya adalah..." ucapan Letta terhenti dan terlihat menimbang-nimbang sesuatu yang kemudian membuatnya tersenyum simpul. "Mungkin."
"Mu--- mungkin?" tanya Indra dengan nafas tercekat. Mungkin itu ada dua, bisa iya, bisa tidak. Bagaimana jadinya kalau Letta memilih tidak mau memaafkannya? Pikiran itu membuat Indra dilanda ketakutan.
Letta hampir tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi ketakutan di wajah Indra. "Karena gue sama seperti lo, lo yang udah anggap gue seperti adik, dan gue juga udah anggap lo sebagai kakak gue. Jadi---" Letta berhenti untuk menarik nafas. "--- gue jelas mau maafin lo."
Wajah Indra seketika berbinar cerah. Indra tidak bisa menahan rasa senangnya sampai berseru senang sambil meninjukan tangannya ke atas.
Letta dibuat kaget ketika Indra berjalan mendekat dan memeluknya. Badannya mungil berasa tenggelam di antara kedua bahu Indra. Dan Letta anehnya sama sekali tidak merasa terganggu karenanya. Ia benar-benar merasa seperti pelukan seorang kakak kepada adiknya walaupun dalam kenyataannya ia tidak mempunyai kakak. Namun, Letta berpikir mungkin akan seperti ini rasanya kalau ia punya kakak yang sedang memeluknya.
"Makasih, makasih banget. Gue tahu lo sebaik itu. Tapi tetap aja gue takut kalau-kalau lo gak bisa maafin gue." gumam Indra dalam pelukannya.
Letta tergelak lalu menepuk-nepuk punggung Indra sambil tersenyum senang. Namun belum sempat ia bicara, Indra sudah melepaskan pelukannya.
"Maaf, gue tadi reflek meluk lo. Gue lupa ada yang bakalan marah."
"Siapa juga yang marah. Gue gak marah." ujar Letta.
"Bukan lo."
Dahi Letta mengernyit. "Terus siapa?"
***
"Dia siapa?" tanya Letta yang semakin dibuat tidak paham oleh Indra.
"Di belakang lo." jawab Indra tenang.
Letta dengan cepat berbalik dan jantungnya berdegup kencang begitu mendapati Alex berada tidak jauh darinya dan sedang berjalan mendekat ke arahnya. Letta ingin menanyakan apa maksudnya ini, tetapi ketika ia membalikkan badannya lagi, Indra sudah menghilang entah kemana.
Letta sama sekali tidak tahu maksud Indra mempertemukannya dengan Alex itu apa. Ia juga tidak tahu kenapa Alex mau bertemu dengannya lagi. Apa belum cukup cowok itu menyakitinya. Masih jelas diingatan Letta kalau Alex mengaku sudah punya pacar sejak dulu dan yang paling menyedihkan adalah Alex akan segera menjadi ayah. Bukankah itu berarti kalau Alex mungkin akan segera menikah sebelum si jabang bayi lahir? Astaga... Letta jadi ingin menangis kalau mengingat hal itu, kalau misalnya ditinggal hanya pacaran sih tidak masalah, siapa tahu masih ada kesempatan lain waktu, tapi ini ditinggal nikah bahkan udah ada calon anaknya, ya sudah tamat. Ia tidak bisa berkutik lagi.
"Letta." suara lembut Alex masuk ke telinga membuat Letta terjaga dari lamunannya dan berbalik menghadap Alex kembali.
Raut wajah Alex tampak memucat begitu melihatnya. Letta pun mengerjap, seketika ia sadar kalau ia sampai menangis. Ia tahu karena merasakan pipinya basah. Dan dengan segera ia mengusap pipinya secara kasar sampai air matanya menghilang sudah.
Alex maju selangkah mendekat dan entah kenapa secara mengejutkan Letta jadi mundur satu langkah mengindar.
"Gue yakin pasti lo bingung kenapa gue ada disini." tebak Alex yang tentunya tepat sasaran. Namun begitu Letta memilih untuk diam. Mulutnya berasa terkunci sampai ia tidak bisa berkata apa-apa.
Letta berjanji sepulang dari sini ia akan memarahi Indra karena berani-beraninya membawanya ke sini dan membiarkan Alex menemuinya. Tidak tahu saja apa yang sudah Alex lakukan padanya, kalau Indra tahu, dijamin cowok itu tidak akan membiarkan Alex bertemu dengannya.
"Kali ini gue mau jujur sama lo." ucap Alex dengan lembut dan terdengar tulus, sialannya membuat detak jantung Letta semakin menjadi-jadi. Bahkan setelah perlakuan perkataan kejam cowok ini, hatinya masih saja memberikan reaksi seperti ini, hati gue memalukan... Sekaligus menyedihkan.
Letta tidak bisa membayangkan kejujuran lain apa yang Alex miliki karena tentunya itu pasti akan melukai dirinya lagi. Menghancurkannya kembali disaat ia juga sudah hancur.
Memilih untuk diam adalah pilihan Letta. Walaupun ia tahu kalau ia tetap berada di sini dan bukannya pergi hanya akan menambah sakit hatinya, tetapi kakinya terasa terpaku di tempat seakan Alex sudah menghipnotis dan memberinya mantra untuk tidak beranjak. Jadilah Letta memilih untuk diam dan akan mendengarkan setiap kata yang Alex ucapkan. Tapi sebelum itu ia membalikkan badannya terlebih dahulu membelakangi Alex dan menghadap ke air pantai di depannya karena bisa dipastikan ia tidak akan kuat kalau harus berhadapan dengan Alex terlalu lama. Bisa-bisa ia menangis sebelum Alex mulai bicara.
Beruntung Alex pun sepertinya paham akan kemauan Letta karena cowok itu tidak berkomentar sama sekali sewaktu ia berbalik. Ketika dirasa sudah waktunya, Alex mulai membuka suara memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Pertama, gue mengaku kalau sebenarnya gue yang minta Indra buat bawa lo ke sini. Gue tahu dia mau minta maaf soal perbuatannya di belakang lo. Jadi gue minta dia buat minta maaf lo di sini, dilanjut dengan kedatangan gue. Gue minta maaf kalau ini semua buat lo merasa tidak nyaman."
Letta tidak ada niatan menyahut. Ia tetap diam sementara Alex terus melanjutkan.
"Kedua, gue mau minta maaf atas apa yang gue lakukan ke lo tempo hari. Gue tahu itu semua udah nyakitin perasaan lo---"
Sebelum Alex selesai, Letta sudah menyela. "Lo tahu kalau semua itu bakalan nyakitin perasaan gue tapi kenapa lo tetap ngelakuin? Dan sekarang dengan mudahnya lo cuma minta maaf ke gue." bisik Letta sedih.
__ADS_1
"Letta gue minta maaf, gue tahu gue salah."
Letta memeluk bahunya sendiri seraya melanjutkan. "Gak semudah itu buat maafin lo. Lo udah hancurin perasaan gue, Alex." katanya sambil memandang ke laut yang tak berujung berharap dirinya bisa pergi jauh ke sana, jauh dari cowok seperti Alex.
Alex sendiri yang awalnya sudah menyusun dan menghafal seluruh kata-kata yang akan ia ucapkan ke Letta merasa semua kata-kata itu menguap pergi entah kemana.
"Maka dari itu gue minta maaf." kata Alex dengan suara tercekat.
Letta tertawa hambar. "Apa kabar waktu lo hina gue, waktu lo rendahin gue. Apa kabar sewaktu lo ngatain gue. Lo--- lo bahkan bilang perasaan gue ke lo itu konyol."
Usai mengatakan itu, pandangan Letta memburam. Tiba-tiba ia merasakan air matanya sudah menggenang ingin keluar. Tidak, jangan sampai ia menangis lagi di depan Alex. Itu hanya akan membuat Alex senang dan membuatnya terlihat lemah. Tapi memang begitulah kenyatannya, lo yang terlalu lemah.
"Letta--"
"Lo bahkan nyium gue." luruh sudah pertahanan Letta. Ia menangis. Tangannya membekap mulutnya agar isakannya tidak meledak. Air matanya mulai turun satu persatu.
Alex yang mengetahui Letta menangis lagi karenanya merasa hatinya seakan terpilin, diremas kuat-kuat dari dalam. Salahnya sendiri yang sudah kelewatan menyakiti Letta.
"Gue minta maaf. Gue gak bermaksud buat ngelakuin itu ke lo." kata Alex parau. Ingin sekali ia memeluk Letta dari belakang dan menenangkannya, membuat wajah cewek yang ia sukai tersenyum bahagia kembali, bukannya dihiasi dengan kesedihan dan air mata seperti sekarang ini.
"Tapi lo udah lakuin itu. Dan itu yang pertama buat gue. Gue juga sudah jujur sama lo kalau waktu habis pensi Hami itu lagi bantu lepasin gaun gue yang nyangkut ke anting, bukannya lagi melakukan seperti yang lo pikirkan. Tapi nyatanya lo gak percaya." kata Letta dengan sesekali terisak.
Letta lalu meletakkan kedua tangannya untuk menutupi muka. Ia semakin terisak tapi tetap meneruskan. "Mungkin karena itu, lo gak mau kalah sama orang lain dan karena lo yang anggap gue cewek--- cewek murahan, maka dari itu lo--- lo nyium gue. Lo gak tahu seberapa sakit dan hancurnya gue di dalam sana." kata Letta.
Wajah Alex semakin pias mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga rasanya sakit karena kukunya menancap kuat di telapak tangannya. Namun ia tahu ini tidak akan seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang ia berikan ke Letta.
Letta menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan. Sekarang suaranya diselingi dengan cegukan akibat dari terus menangis. "Seakan belum cu--cukup. Lo bahkan ternyata selama ini bohongin gu--gue. Lo udah punya pacar sejak dari kota dan dia-- dia hamil anak lo. Tapi di sini lo selalu bersikap seakan lo belum ada yang punya dan perlakuan lo buat gue jatuh hati sama lo. Padahal lo sendiri tahu, kalau--- kalau gue gak bakalan bisa bersanding sama lo."
Alex sudah tidak tahan. Ia melonggarkan kepalan tangannya, disusul kakinya yang melangkah mendekati Letta sampai ia berada di depan cewek itu. Diraihnya kedua tangan Letta yang menutupi wajah cewek ini.
Namun Letta tidak mau memindahkan tangannya. "Jangan." kata Letta sambil menggeleng.
"Please, Ta. Gue mau ngomong sesuatu dan lo harus lihat gue." ucap Alex dengan suara serak. Diambilnya kembali tangan Letta tapi cewek ini masih bersikeras tidak mau memindahkan tangannya.
"Jangan, gue gak mau."
"Kali ini aja, please." pinta Alex dengan nada memohon.
Beruntung Letta sepertinya mulai melunak dan ketika Alex meraih tangan Letta, cewek itu mau. Dilepaskannya tangan Letta dari muka cewek itu lalu Alex menggenggamnya erat di antara badan mereka berdua.
Letta tahu wajahnya pasti sangat berantakan. Matanya sudah pasti sembab, hidung dan pipinya berubah warna menjadi memerah. Belum lagi helaian rambut yang menempel ke pipinya yang basah. Ia merasakan tangannya digenggam lebih erat dari sebelumnya. Dari situ, entah ini perasaannya saja tau bukan, tapi ia bisa merasakan kesedihan Alex juga. Genggaman tangan cowok itu seakan menunjukkan agar keduanya sama-sama menguatkan.
"Sekarang tatap gue." kata Alex membuat Letta mau tak mau menatap tepat ke mata Alex. Seakan tersihir, ia merasa tenggelam di balik mata Alex yang menatapnya intens. Kalimat pertama Alex membuat Letta bingung.
"Gue bohong." kata cowok itu.
Melihat Letta yang tampak tidak mengerti. Jelas tidak mengerti karena Alex saja tidak memberitahunya apa-apa. Kemudian Alex mulai menjelaskan. "Gue bohong banyak sama lo. Gue bohong soal alasan gue pindah ke kota. Itu bukan karena gue udah berlaku baik makanya bokap gue mau pindahin gue."
Letta menyela. "Pasti karena pacar lo itu kan, iya?"
Alex menelan ludahnya. "Dia memang alasan gue pindah. Tapi, asal lo tahu dia bukan pacar gue." aku Alex jujur.
"Bukan pacar lo bilang?" tanya Letta tak percaya.
"Makanya dengerin gue dulu." Alex bergerak gelisah. Ia memijat tangan Letta yang terlingkupi tangannya. "Dia bukan pacar gue. Sekali lagi gue bohong sama lo. Gue banyak bohong sama lo. Ketahuilah, apa yang gue katakan ke lo selama di sekolah, itu sepenuhnya kebohongan gue semata-mata karena gue mau lo benci sama gue."
Letta menahan isakannya ketika Alex mengingatkannya pada perkataan cowok itu ketika mereka di sekolah dan Alex baru saja mengatakan kalau semua itu bohong. "Tapi kenapa? Kenapa lo sampai bohong dan mau gue benci sama lo."
Alex menarik satu tangannya lalu digunakannya untuk merapihkan rambut Letta yang menempel di pipi. "Gue kira kalau lo benci gue, gue akan lebih mudah ketika nanti gue ninggalin lo ke kota."
Jari-jemari Alex berhenti ketika merasakan air mata Letta menetes dan mengenai jarinya yang masih di pipi Letta. "Tapi ternyata gue gak bisa lagi buat lo benci ke gue, karena selain itu nyakitin lo, itu juga nyakitin gue. Gue tahu gue bodoh karena pernah berusaha buat lo benci sama gue dengan mengatakan perkataan yang nyakitin perasaan lo."
Kali ini Letta semakin terisak keras. "Lo jahat tahu."
"Iya gue tahu dan gue minta maaf sama lo. Gue menyesal udah nyakitin lo. Dan gue gak pernah benar-benar anggap perasaan lo konyol. Kalau semisal gue anggap perasan lo konyol, berarti perasaan gue ke lo ini juga konyol."
Tangisan Letta berhenti tiba-tiba. Perkataan Alex barusan membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Lo---"
"Letta."
"Jangan."
"Gue---"
"Gue mohon jangan."
__ADS_1
"--- suka sama lo."