Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 58


__ADS_3

Keesokan paginya ketika bangun tidur Alex mendapati kalau Milo sudah tidak dalam dekapannya. Alex melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Alex berpikir semua ini aneh ekali, karena sepanjang hidupnya setelah ada Milo, dirinya selalu bangun sebelum pukul enam pagi dan ini untuk pertama kalinya ia bangun sampai jam delapan pagi. Apalagi ditambah Milo yang sudah tidak dipelukannya, padahal biasanya ia yang bangun lebih dahulu daripada Milo. Milo itu cerminan dirinya yang suka tidur siang sewaktu masih muda apalagi ini hari libur, Milo bisa tidur seharian kalau tidak dibangunkan. Dan juga, kenapa Milo atau Dinda atau lagi Aji tidak membangunkannya.


Alex memang masih tinggal bersama orang tuanya karena mereka tidak mau membiarkan Milo sendirian di rumah kalau tiba-tiba Alex ada pekerjaan yang harus diurus. Lagipula masalah sekolah Milo juga diurus Dinda semua, bukan? Kata mama dan juga papanya, Alex boleh memiliki tempat tinggal sendiri bersama Milo dengan catatan kalau sudah punya istri.


Istri istri istri, Alex mengerang dalam hati, gimana gue bisa punya istri kalau cewek yang selama ini ingin gue jadiin istri aja udah mau jadi istri orang lain.


Alex jelas tidak akan sebodoh itu untuk menghadiri pernikahan Letta nanti bersama si sialan Hami. Ia lebih suka mengubur dirinya dalam pekerjaan daripada datang ke acara pernikahan paling terkutuk sepanjang sejarah hidupnya itu. Sejak ia meninggalkan desa sampai setahun yang lalu ia sempat mengira apakah ada kemungkinan kalau Letta masih suka padanya seperti dirinya yang masih suka sama Letta. Tapi rupanya pertanyaannya ini terjawab dengan sangat cepat, karena pada tahun itu juga ia mendapat undangan pertunangan Letta dan Hami.


Cihh tunangan aja pake acara. Tinggal nyelipin cincin doang padahal. Dasar pamer. Alex mencibir seperti itu dulu begitu undangan itu berada di tangannya. Dan ia tidak pernah datang ke acara pertunangan itu walaupun kedua orang tuanya datang.


Namun siapa yang menyangka kalau setahun kemudian yang artinya beberapa hari yang lalu, undangan kedua dikirimkan kepadanya. Dan kali ini benar-benar menampar Alex, karena kali ini undangan nikah! Tega sekali Letta sampai mengirimkan undangan pernikahannya ke Alex.


Dengan hati dongkol karena memikirkan itu, Alex menyingkirkan selimut yang membelit tubuhnya lalu memutuskan untuk keluar kamar. Berharap ia bisa segera bertemu dengan Milo, jadi rasa dongkolnya ini segera padam. Biasanya di hari libur kalau jam-jam segini Milo sedang bermain dengan Aji, sedangkan Dinda menyiapkan makanan. Kebiasaan utama keluarganya adalah makan bersama setelah semua anggota berkumpul. Jadi hari ini bisa dipastikan kalau mereka semua juga belum makan karena menunggu dirinya.


Alex berjalan menuruni tangga sambil terheran, karena suasana rumah yang sangat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, kecuali suara langkah kakinya yang menggema ke penjuru rumah.


"Milo!" panggil Alex seraya melangkahkan kakinya menuju ke ruang televisi berharap anaknya sedang bersama Aji bermain di sana atau sekedar menonton televisi. Namun ternyata kosong.


"Ma!" teriak Alex. Ia mengubah tujuannya ke dapur yang dirancang satu ruangan dengan ruang makan, tapi lagi-lagi kosong. Bahkan meja makannya masih bersih, tidak ada piring-piring berisi makanan seperti hari biasanya. Tempat cuci piringnya juga tampak kering, dengan semua peralatan makan masih tersimpan rapih di rak seakan belum tersentuh sejak dari pagi. Alex baru saja akan mencari ke ruangan lain sebelum kemudian matanya menangkap secarik kertas menempel di pintu kulkas.


Dengan penasaran Alex mendekat lalu menarik kertas itu, dengan dahi mengerut ia membaca setiap kata yang tertulis di kertas itu.


"Kalau kamu baca ini, sekarang pergi nyalain televisinya."


Apa-apaan ini, Alex menggerutu dalam hati. Melihat sekilas saja Alex tahu itu tulisan mamanya, dan bukan tulisan papanya. Itu jelas sekali dari kebiasaan Dinda menulis huruf s yang lebih mirip dengan angka 5.


Walau tahu ini konyol, tetapi tetap saja Alex melakukan apa yang tertulis di kertas itu. Ia berjalan ke ruang televisi untuk yang kedua kalinya, mengambil remot dan menyalakan televisi. Alex terus menunggu walau sudah kurang lebih sepuluh detik lamanya hanya menampilkan layar hitam. Lalu pada detik berikutnya sebuah video muncul.


Dan orang yang ada di dalam video itu membuat Alex terkaget. Spontan saja Alex berjalan lebih dekat ke televisinya.


"Papa! Milo diculik mimih sama pipih!" Milo berseru di dalam video itu sebelum akhirnya mulutnya dibekap oleh Aji, membuat suara Milo teredam. Tangan mungil Milo berusaha melepaskan tangan kakeknya itu yang membekap mulutnya tetapi jelas itu hal yang sia-sia saja.


Milo terus meronta tetapi Aji malah tertawa. Dan Alex juga dapat dengan jelas mendengar suara tawa Dinda. Setelahnya kamera itu tampak bergerak tidak karuan sebelum akhirnya sosok Dinda muncul di kamera.


"Alex, kalau kamu mau Milo kembali, kuncinya kamu harus datang ke pernikahan Letta. Titik. Kalau tidak, mama sama papa bakalan tinggalin Milo disana sampai kamu jemput dia sendiri."


Alex mendengus, mamanya tidak akan melakukan itu. Mana mungkin Dinda akan tega membiarkan Milo berpisah sama papanya sendiri. Jadi Alex memutuskan untuk tidak percaya dan tidak takut pada ancaman mamanya itu.


Alex memfokuskan pandangannya ke layar televisi kembali. Mamanya tampak keluar dari dalam mobil. Kali ini Alex baru sadar kalau tadinya tiga orang itu berada di dalam mobil. Kamera bergerak tidak tentu kembali. Lalu kamera mulai tenang.


"Kamu lihat ini baik-baik ya."

__ADS_1


Selanjutnya yang tersorot adalah tiga buah koper besar dalam bagasi.


"Kamu salah kalau gak percaya sama mama. Ini semua isinya baju mama, papa, dan juga Milo. Juga seragam sekolah Milo semuanya di sini." kata Dinda sambil membuka kopernya satu persatu dan menunjukkan pakaian yang dibawa. Punya mama dan papa hanya satu koper. Sedangkan dua koper lainnya berisi pakaian dan mainan Milo. Dan tentu saja seragam sekolah anaknya juga termasuk di dalamnya.


Alex menggeram kesal. Bisa-bisanya kedua orang tuanya melakukan semua ini pada dirinya. Rasanya ia ingin melempar remot yang ia pegang ke layar televisi itu.


Dinda menutup bagasinya kemudian bicara lagi. "Udah sih gitu aja, pokoknya kalau kamu mau Milo balik, kamu harus jemput dia sendiri ke desa."


Video itu hampir berakhir, tapi Alex masih mendengar seruan papanya dari dalam mobil di detik-detik terakhir. "Kali ini kami semua gak main-main!" katanya.


Kemudian televisi menampilkan layar hitam kembali pertanda video itu selesai.


What the hell!


***


Beberapa jam setelah menonton video itu, Alex mendapati dirinya sudah berada dalam perjalanan menuju ke desa. Dan satu jam setelahnya ia mendapati dirinya sudah sampai di desa neneknya. Ia tahu karena ia sudah melewati tugu dengan nama desa neneknya. Walau sudah lebih dari tujuh tahun, tapi Alex masih ingat sewaktu pertama kali masuk ke desa ini sewaktu ia pindah sekolah dirinya meihat tugu itu. Alex terus menjalankan mobil miliknya sampai akhirnya ia sampai di rumah Sari dan mobilnya masuk ke halaman.


Rumah itu tampak sepi, mungkin semua orang sedang di dalam dan tidak mendengar kedatangannya. Rumah neneknya ini masih sama seperti saat terakhir kali ia tinggal. Tidak ada bagian bangunannya yang berubah, hanya catnya saja yang diganti walau masih dengan warna yang sama.


Alex mematikan mesin mobilnya, tetapi ia memilih untuk diam saja di dalam. Ia belum ada niatan untuk keluar apalagi di saat serbuan memori lamanya masuk. Ia samar-samar ingat ketika pertama kali datang ke rumah ini, waktu itu ia malas sekali apalagi ia dengan kekanakannya mempermasalahkan sinyal hapenya yang darurat. Lalu begitu masuk ke dalam rumah, Alex dihadapkan dengan cewek ceroboh bernama Letta yang menjatuhkan gelas-gelas berisi minuman saat akan menghidangkanya. Alex tertawa kecil mengigat itu.


Lalu Alex juga sekolah bersama Letta, mereka berdua baik sepeda bersama. Ia ingat waktu hari pertama ia pulang bersama Indra naik motor cowok itu, yang berakhir dengan dirinya mencari Letta saat akan petang karena cewek itu tidak kunjung pulang.


Sakit karena mengingat segala kenangan indah itu. Dan Alex ingin sekali kembali ke masa lalu, yang kemudian akan ia habiskan dengan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin dengan Letta. Tapi Alex tahu ia tidak akan pernah bisa mengubah yang sudah terjadi, sekarang terpampanglah dengan jelas di hadapannya kalau Letta akan menjadi milik orang lain.


Yahh bisa dikatakan kalau semua ini  memang kesalahannya, kebodohannya, kebegoannya dan juga keidiotannya karena terus-terusan memblokir segala sesuatu tentang Letta selama tujuh tahun terakhir ini. Jadi bukankah tidak salah kalau Letta menjalin hubungan dan memilih cowok lain untuk diajak menikah. Dan yang dipilih Letta tidak tanggung-tanggung adalah Hami, cowok yang disukai Letta sebelum Alex datang.


Alex menggertakan giginya karena malah mengingat bagian itu. Jadi daripada pikirannya semakin terlarut ke masa lalu, Alex memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan ke depan pintu. Ia bisa saja langsung masuk ke dalam, tapi itu nantinya hanya akan memgejutkan orang yang di dalam sana dan juga memberikan contoh yang kurang baik kalau Milo sampai melihatnya. Akhirnya Alex mengetuk pintu di depannya.


Sambil menunggu terbuka, Alex melarikan matanya ke rumah Letta. Sekarang rumah itu lebih besar dari dulu, sudah direnovasi menjadi lebih baik dan besar dari yang dulu rupanya. Alex segera mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara kenop pintu diputar. Ia menunggu selagi pintu dibuka.


Ternyata bukan Dinda, Aji, ataupun Sari yang membuka pintunya. Tetapi sang malaikat kecilnya.


"Papa!"


***


Alex menggendong Milo ke kamarnya yang ada di lantai atas. Kamar itu sama dengan kamar yang pernah ia gunakan dulu. Kedua tangan Alex memegangi Milo, sedangkan tubuh bocah itu menempel ke punggungnya dengan kedua tangan melingkari leher Alex.


Tadi sewaktu ia masuk ke rumah ini, hanya ada Milo dan Aji. Ayahnya bilang kalau Dinda dan Sari sedang pergi karena ada urusan. Ngomong-ngomong soal Sari, sebenarnya neneknya itu sering dijemput ke kota. Entah itu untuk sekedar bertemu dengan Milo atau ingin menghabiskan waktu bersamanya atau orang tuanya. Jadi jangan heran kalau nanti tidak ada acara kangen-kangenan saat ia bertemu dengan Sari lagi. Toh terakhir ia bertemu nenekya itu baru sebulan yang lalu.

__ADS_1


"Milo kira papa mau datangnya besok." ucap Milo dalam gendongan Alex.


Alex tersenyum mendengarnya. Ia belum bisa membalas karena harus membuka pintu kamarnya dahulu. Alex membuka pintu itu dengan menendangnya karena kedua tangannya sedang digunakan untuk memegangi Milo jadi tidak memungkinkan untuk membuka pintu.


Setelah masuk, barulah Alex bisa menjawab. "Papa kan gak mau lama-lama pisahnya sama Milo. Jadi papa milih buat cepat datang ke sini."


Alex merasakan Milo mengangguk dalam gendongannya. Lalu suara Milo terdengar kembali. Hanya saja kali ini tersdengar lebih antusias daripada sebelumnya. "Papa papa, Milo suka sama rumah nenek uyut."


Nenek uyut adalah panggilan Milo kepada Sari.


"Kenapa Milo suka?" tanya Alex selagi ia menurunkan Milo ke kasur. Alex lalu segera berbalik menghadap anaknya. Milo yang berdiri di atas kasur, membuat tingginya dengan Alex sekarang nyaris sama.


"Milo suka di sini udaranya bersih, terus sejuk, beda sama di kota. Kalau kata ibu guru, di desa itu udaranya masih bagus, tetapi kalau di kota katanya banyak po... populusi." ujar Milo dengan tampang polosnya. Matanya yang bulat berbinar.


Alex tertawa seraya mengusap puncak kepala Milo. "Bukan populusi, tapi polusi." koreksi Alex.


"Iya itu maksudnya. Ibu guru aku yang bilang itu juga katanya asalnya dari desa, Pa. Ibu gurunya baik, suka bawain makanan buat Milo sama teman-teman." jelas Milo.


Alex meringis mendengarnya, ia kan tidak tahu menahu tentang guru yang mengajar di sekolah anaknya itu. "Ibu guru kamu bawain makanan apa biasanya?" tanya Alex.


Milo membat gerakan dengan merentangkan tangannya ke samping. "Banyak banget, Pa. Ada lemper, pukis, bubur kacang hijau, kutu ayu---


"Putu ayu." sela Alex.


" --- lumpia, donat, terus apa lagi ya..."


"Milo suka?"


"Suka banget, enak banget, Pa. Itu makanannya ibu guru yang buat sendiri loh."


"Berarti ibu gurunya pintar masak dong."


"Iya, nanti Milo kalau udah besar mau pintar masak kayak ibu guru biar bisa masakin buat papa."


Alex tersenyum sayang ke Milo. "Kemarin dikasih makanan apa sama ibu guru?"


Tepat setelah Alex bertanya, senyum Milo pun perlahan menghilang. Hal tersebut tentunya membuat Alex bertanya-tanya kenapa.


Milo menghitung dengan jarinya sendiri ketika berkata. "Udah satu dua tiga empat, empat hari ibu gurunya gak masuk sekolah, Pa. Kata ibu guru yang lain ibu gurunya itu lagi pergi dulu jadi belum bisa ke sekolah lagi."


"Pergi kemana?"

__ADS_1


Milo menggeleng tidak tahu. Wajahnya berubah jadi cemberut. Alex jadi menduga kalau ibu guru yang dibicarakan Milo ini pasti dekat dengan anaknya.


"Semoga ibu gurunya cepat pulang dan Milo bisa cepat bertemu sama ibu gurunya lagi." ujar Alex menenangkan.


__ADS_2