
"Letta..."
Wajah Indra memucat, begitupun dengan Mira. Keduanya sama-sama tidak menyangka kalau pembicaraan mereka ternyata didengar oleh orang lain. Padahal seingatnya tadi ketika mereka datang, mereka berdua hanya sendiri.
Mulut Indra terasa kelu untuk bicara lagi. Ia tidak siap mengetahui bahwa Letta sekarang tahu semua perbuatannya. Indra jadi merasa hina dan sangat bersalah. Ia memang ingin mengungkapkannya ke Letta, tapi bukan sekarang, bukan dengan cara seperti ini juga. Indra ingin menjelaskan ke Letta sendiri secara langsung. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Letta pasti sudah mendengar semua pembicaraanya tadi dengan Mira dan ia tidak bisa mengelak lagi. Ia udah ketahuan.
Indra melihat mata Letta memerah menahan air mata yang menggenang mau keluar. Ia juga bisa melihat kedua tangan cewek itu terkepal di sisi tubuh. Melihatnya membuat Indra ikut merasakan sakit dan semua ini salahnya.
"Gue-- gue bisa jelasin." dari semua kata yang ingin ia keluarkan, malah itu yang keluar.
Letta tampak menggeleng dengan sorot mata terluka. Kemudian yang terjadi adalah cewek itu mulai mundur perlahan. Melihat itu membuat Indra maju selangkah, tapi gerakan tangan Letta membuat langkahnya terhenti. Letta menempatkan kedua tangannya di depan seakan memberitahu Indra agar berhenti.
Melihatnya membuat Indra seakan dihantam sesuatu dengan keras. Rasanya sakit. Letta menolaknya karena tidak mau ia mendekat. Kalau ia jadi Letta, jelas Indra juga akan melakukan hal yang sama karena pasti akan merasa jijik dengannya. Ia jadi tidak bisa membayangkan betapa menyedihkan dirinya saat ini.
"Letta," panggil Indra sekali lagi dengan pelan.
Namun belum sempat Indra berbicara lagi, Letta sudah memutuskan untuk berbalik dan mulai berlari pergi menjauh. Menjauh darinya.
Indra lemas. Kedua bahunya terkulai di sisi tubuh. Selesai sudah. Ia tahu mulai sekarang pasti hidupnya tidak akan sama lagi seperti dahulu. Ia akan kehilangan teman-temannya. Ia harus siap karena inilah hasil dari apa yang ia lakukan. Atau lebih tepatnya bukan hasil, melainkan akibat.
Gue pantas dapetin ini dan bahkan yang lebih buruk lagi, batin Indra menimpali.
***
Sambil memaki dalam hati atas perbuatan Indra yang menurutnya kurang ajar, Alex berlari mengejar Letta, berharap agar cewek itu belum terlalu jauh. Tepat ketika ia berbelok di koridor, ia melihat Letta yang terus berlari entah mau kemana. Alex pun mengejar Letta dengan menambah cepat langkah kakinya.
Setelah dekat, Alex meraih lengan cewek itu dan membaliknya. Ia bisa melihat bekas air mata yang mengalir di pipi Letta. Melihat itu membuat Alex ingin sekali menghajar Indra yang telah membuat orang yang disukainya ini menangis. Bisa-bisanya seorang teman melakukan hal seperti itu.. Ahh iya, Alex lupa kalau teman itu menikamnya dari belakang bukan dari depan, karena kalau dari depan itu namanya musuh.
"Alex, lepasin gue!" seru Letta.
Ketika Letta berusaha melepaskan diri, saat itu juga mata Alex melirik ke ruangan sebelah. Unit Kesehatan Sekolah alias UKS, dan tempatnya kebetulan sekali sedang kosong tidak ada orang ataupun petugas PMR yang biasanya suka berjaga-jaga di UKS siapa tahu ada anak yang sakit datang. Tanpa aba-aba, Alex membawa Letta masuk ke dalam. Tentunya dengan Letta yang terus memberontak.
"Lepasin gue!" seru Letta sekali lagi sambil menarik tangannya yang dicekal Alex.
Alex yang sudah berhasil membawa Letta ke dalam ruang UKS pun melepaskan tangan cewek itu.
"Kenapa lo bawa gue ke sini?" desis Letta mrah begitu Alex melepaskan pegangannya.
"Gue takut lo pergi jauh gak tahu kemana dan di luar jangkauan gue. Dan gue mau lo tenang dulu." ujar Alex dengan lembut.
__ADS_1
Letta menatap Alex terperangah. "Lo pikir gue bisa tenang setelah tahu apa yang cowok sialan itu lakuin ke gue, hah?!" bentak Letta sambil terisak.
Ia menutup mukanya dengan kedua tangan ketika dirasa air matanya terus-terusan mengalir keluar. Memalukan sekali rasanya menangis seperti ini dan dilihat orang lain. Padahal yang Letta inginkan sekarang memang menangis sekeras-kerasnya tapi ia inginnya sendiri. Bukan di depan Alex seperti sekarang ini.
"Gue akui dia memang cowok sialan."
"Iya dia memang sialan, kampret, baj---"
Belum sempat Letta selesai, Alex sudah menyela dengan cepat dan serius. "Letta, jangan ngomong itu." katanya.
Mata Letta membelalak kemudian berujar sinis. Bisa-bisanya Alex malah mengatakan hal seperti itu. "Kenapa? Lo mau belain dia?"
Alex menggeleng. "Enggak, gue gak belain dia."
"Bohong! Lo temannya Indra dari lama dan lo pasti bela dia. Lo pasti mau ketawain gue sekarang, kan?" Letta berujar dengan tajam, ia mendorong Alex keras hingga Alex terhuyung sedikit ke belakang.
Tapi Alex hanya diam dan tidak akan pernah melawan. Ia tahu Letta sedang menumpahkan isi hatinya dan pikiran cewek itu sedang tidak tenang makanya bicaranya kasar padanya. Biarkanlah dirinya menjadi samsak kemarahannya Letta.
Kali ini Letta memukuli dada Alex. Ia tetap terisak ketika mengatakan. "Lo pasti bakalan ketawain gue kan?"
"Enggak, Letta, enggak." balas Alex dengan sabar.
"Tapi lo belain dia tadi."
Alex yang mulai merasa dadanya nyeri karena pukulan Letta yang terus menerus segera memegangi tangan cewek itu untuk berhenti. Isakan cewek itu perlahan berhenti. Keduanya sempat beradu tatap ketika Alex mulai mengeluarkan suaranya. "Gue gak bela dia. Gue cuma gak mau lo sampai ngucapin kata gak baik seperti itu. Gue gak mau hanya karena cowok itu, mulut lo sampai ternoda dengan kata-kata kasar seperti apa yang mau lo ucapin tadi."
"Lo benar dan gue pantas dikasihani karena itu." Tanpa diduga, Letta berbalik dan hendak pergi lagi. Dan gerakan itu membuat Alex kaget. Tangan cewek itu sudah membuka pintu sebelum pintu itu tertutup lagi karena Alex sudah bergerak lebih cepat di belakangnya membuat pintunya tertutup kembali.
Alex jadi frustasi dan bingung sendiri dengan jalan pemikirannya Letta. Ia bicara apa tapi cewek ini nyahutnya apa. Memang cewek kalau sedang sedih suka ngelantur, yah? Pikirnya.
"Berhenti berpikir yang enggak-enggak. Gue gak pernah ketawain lo atau berpikir lo itu menyedihkan. Dan yang pantas dikasihani itu bukan lo, melainkan Indra." bisik Alex dari belakang. Tubuh cowok itu berdiri tepat di belakang melingkupi Letta. Letta bahkan bisa merasakan nafas hangat Alex mengenai bagian tengkuknya.
Tetapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas bagian itu. Sekarang hatinya masih terlalu sakit karena perbuatan Indra. Letta ragu ia akan bisa memaafkan Indra dengan cepat. Kesalahan Indra menurutnya terlalu besar. Indra tidak pernah berpikir dulu sebelum bertindak. Cowok itu tidak tahu apa akibat perbuatannya bagi semua orang.
Letta kehilangan orang yang ia sukai, ia juga kehilangan sahabat masa kecilnya, Hami. Orang yang sejak kecil sudah bersamanya. Letta telah kehilangan perhatian dan kasih sayang dari seorang Hami, karena saat ini Hami sudah menjadi milik orang lain, Ajeng. Tentunya semua perhatian yang pernah Letta terima sudah berpindah tangan ke orang lain.
"Lo boleh cerita ke gue kalau itu buat lo bisa ngurangin rasa sedih lo." bisik Alex kemudian yang masih di belakang Letta.
Letta memejamkan matanya dan berpikir ada benarnya ucapan Alex. "Gue--- sebelumnya gak pernah sedikitpun berpikir kalau semua yang terjadi ini hasil rekayasa. Maksud gue adalah tentang kemunculan Ajeng yang tiba-tiba sampai dimana Ajeng dan Hami pacaran. Gue selalu berpikir kalau itu terjadi secara alami, bukan hasil rekayasa orang lain. Gue pikir kalau Ajeng datang karena kemauannya sendiri dan gue amat benci ke dia karena harus hadir di tengah-tengah hubungan gue. Gue gak berpikir kalau ternyata semua ini udah direncanain sebelumnya."
__ADS_1
Letta yang tidak mendengar Alex berniat menjawab itupun segera mengatakan hal lain lagi sebagai bentuk dari luapan hatinya.
"Gue dari dulu suka sama Hami."
"..."
Letta yang tidak tahu kalau Alex sudah berubah tegang di belakangnya segera melanjutkan.
"Gue selalu berpikir dia suka sama gue sampai ketika dia pacaran sama Ajeng. Mulai saat itu gue selalu merutuki kebodohan gue karena sempat-sempatnya berpikir kalau cowok itu bakalan punya rasa yang sama seperti apa yang gue rasain dan bakalan balas perasaan ini suatu hari nanti."
"..."
"Dan sewaktu gue dengar perkataan Indra tadi, jujur gue senang. Gue senang karena ternyata sebenarnya Hami punya perasaan yang sama seperti apa yang pernah gue rasain." Letta lalu tertawa tapi miris.
Tapi sayangnya... Ketika rasa itu terbalas, ternyata rasa itu sudah padam dan pindah ke hati yang lain. Letta hanya bisa meneruskannya dalam hati.
***
Bohong kalau Alex bilang ia tidak kecewa dan tidak sakit hati mendengarnya. Mendengar cewek yang ia sukai dengan terang-terangan mengatakan menyukai orang lain. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang diambil dengan paksa.
Gue dari dulu suka sama Hami.
Itu kalimat yang Letta ucapkan beberapa detik yang lalu dan benar-benar menampar Alex. Ia dihadapkan kepada fakta bahwa dari dulu memang Letta menyukai Hami. Alex harusnya sadar dan ingat itu. Tapi ia rupanya lupa atau bahkan tidak mau mengingatnya. Alex terlalu sibuk dengan perasaannya, tanpa berpikir dulu apa yang orang lain rasakan.
Gue senang karena ternyata sebenarnya Hami punya perasaan yang sama seperti apa yang pernah gue rasain.
Dan gue gak senang karena itu, batin Alex menimpali.
Alex menarik nafas dahulu sebelum ia mundur selangkah dua langkah ke belakang. Memberikan Letta ruang kembali. Ia berusaha tenang dan tidak menunjukan rasa kecewanya. "Lalu setelah tahu ini apa yang bakalan lo lakuin?"
Seharusnya Alex tidak usah menanyakan itu karena ia tahu jawaban selanjutnya mungkin akan menyakitkan untuk di dengar.
Letta menggeleng lemah. "Gue belum tahu."
Jawaban dari Letta mampu membuat Alex bernafas lega. Karena ia jelas belum siap seandainya Letta menjawab. "Gue bakalan ngadu ke Hami. Gue bakalan jujur sama perasaan gue dan minta dia buat putus sama Ajeng. Habis itu tinggallah gue dan Hami seorang."
Yahh... Walaupun Alex tahu Letta bukan tipe cewek yang akan seperti itu, tapi ia tetap saja merasa takut. Orang yang sedih apalagi karena dikhianati seperti Letta kan bisa nekat melakukan apa saja.
Alex melihat ke Letta dan ternyata cewek itu sudah berbalik dan sedang melihat ke arahnya juga. Keduanya beradu tatap, tetapi Alex mengalihkan pandangannya yang pertama kali. Lalu ia mengibaskan tangannya meminta Letta mendekat.
__ADS_1
Letta pun berjalan selangkah mendekati Alex. Kemudian ia dikagetkan ketika tangan Alex merapihkan rambut-rambutnya yang menjuntai ke depan dan menempel ke pipi. Alex membawa rambut itu ke belakang melalui atas telinganya.
Lalu Alex berkata. "Gue harap lo bahagia suatu hari nanti dan dapetin cinta dari orang yang lo sukai."