Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 38


__ADS_3

Setelah melakukan sesi foto bersama satu kelas, anak-anak kelasnya Letta mulai berpencar. Ada yang asyik berfoto ria, berjalan-jalan di sekeliling stand, melihat penampilan kelas selanjutnya, ada juga yang langsung melepaskan kostum dan semua riasan di wajah. Dan Letta memilih untuk ikut opsi terakhir.


Ia berjalan sambil mengangkat ujung gaunnya agar tidak sulit ketika berjalan. Kepalanya ditengokkan ke kanan kiri mencari seseorang. Alex. Ya, sehabis sesi foto tadi, Alex ditarik oleh beberapa anak yang katanya ingin foto bersama. Huhh dasar... Dan sekarang cowok itu menghilang. Menyebalkan sekali, pikir Letta.


Ia menduga pasti Alex sedang bersenang-senang sekarang. Cowok itu pasti sedang dikelilingi cewek cantik layaknya gula yang dikerubungi semut. Tapi walau begitu, Letta tetap saja harus mencari keberadaan Alex. Ia ingin bertemu dengan Alex, bertemu dengan cowok yang berhasil membuat jantungnya seketika berhenti ketika di panggung tadi. Letta baru saja akan berjalan keluar ruangan mencari Alex ketika Hami tiba-tiba masuk.


Terpaksa, Letta menghentikan langkahnya.


"Hai." sapa Hami dengan canggung.


Sudah sejak terakhir kali dimana Hami membentak Letta, keduanya tidak berjumpa lagi atau berbicara lagi. Dan baru kali ini mereka bertemu kembali.


"Hai juga." balas Letta tidak kalah canggung.


Ia jadi merasa deja vu. Dulu saat ia akan mencari Alex, Hami tiba-tiba datang. Dan ini terjadi lagi untuk kedua kalinya.


"Gue mau ngomong sama lo."  aku Hami.


Letta mengangguk mengiyakan. Sepertinya masalah antara mereka berdua memang harus dibicarakan, walaupun bukan masalah besar namun tetap saja rasanya aneh kalau tidak diluruskan. Lagian mereka bukan anak kecil lagi yang hanya bisa saling mendiamkan, mereka sudah besar, harus menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik-baik.


Letta membiarkan Hami masuk ke dalam ruangan. Lagi-lagi ia merasa deja vu. Sekarang ia sebenarnya ada di ruangan punya kelas lain yang digunakan kelasnya untuk melakukan persiapan pensi. Tidak banyak anak yang saat ini juga berada di dalam ruangan, karena kebanyakan mereka memilih di luar yang udaranya lebih adem daripada di dalam yang terasa panas.


Letta duduk ke kursi yang ia duduki saat dirinya dirias, dan Hami duduk di sebelahnya. Posisi Hami membelakangi pintu. Setelah nyaman, Hami yang membuka suara duluan.


"Letta, gue mau minta maaf sama lo soal kejadian beberapa hari kemarin. Gue gak ada niat buat bentak lo, gak pernah sekalipun dalam pikiran gue buat kasar sama lo. Gue akui tindakan gue itu salah, dan gue kesini mau minta lo buat maafin sikap gue waktu itu. Asal lo tahu gue selama ini jadi ngerasa bersalah banget."


Jadi Hami ke sini untuk meminta maaf. Lantas Letta menanyakan sesuatu. "Kenapa baru sekarang? Ini sudah satu minggu sejak kejadian itu, kenapa lo baru nemuin gue."


Hami terlihat bimbang sesaat dan ragu. "Sebenernya gue lagi ada banyak masalah, dan karena itu gue belum ada waktu buat nemuin lo. Gue mungkin bisa lewat sms atau telfon lo kalau gue lagi ada waktu senggang buat minta maaf sama lo, tapi gue rasa minta maaf secara langsung seperti ini lebih baik dan lebih pantas."


Letta melihat Hami lebih teliti dan baru menyadari kalau bagian kantung mata cowok itu menghitam dan matanya terlihat sayu. Kentara sekali kalau Hami kurang tidur. Mungkin cowok ini memang benar sedang ada masalah. Ditambah dengan perasaan bersalah Hami padanya, pasti pikiran Hami semakin bertambah kacau.


Letta berdehem, membasahi tenggorokannya. "Sebenernya, Ham. Gue gak terlalu mempermasalahkan soal waktu itu. Lo gak perlu minta maaf sama gue. Suer, lo emang ngebentak gue tapi apa itu salah? Bagi gue itu gak apa-apa. Gue gak ngerasa lo salah, dan kalaupun misalnya lo salah, gue udah maafin lo jauh sebelum lo minta maaf ke gue."


Hami menggelengkan kepalanya. "Lo terlalu baik, Ta. Gue gak ngira kalau gue bakalan dapat maaf dari lo secepat ini."


"Itu artinya lo belum kenal gue sebaik mungkin." canda Letta tapi malah dianggap serius oleh Hami. Hami tampak memucat, dan itu membuat Letta bertanya kenapa sih ini cowok.


Letta mengusap bagian tengkuknya yang tidak gatal. Saat ia menarik tangannya, rupanya anting yang ia pake tersangkut ke bagian lengan gaunnya. Letta berusaha menarik lagi tapi malah telinganya ikut ketarik, Letta jadi meringis.


Tuhkan, gue ragu nih anting model gini punya dendam kesumat sama gue jadi selalu nyangkut kalau gue pake, erang Letta dalam hati.


"Ini kenapa susah banget, sih." gerutu Letta.


Hami yang melihat Letta begitu segera bertanya. "Lo kenapa?" Hami beranjak dari kursinya, mendekat ke Letta bersiap membantu.


Letta menunjuk ke telinganya."Ini gaunnya nyangkut ke anting."


Lalu Letta mencoba melepaskan lagi tapi tetap saja gagal. Apalagi ia tidak bisa melihat posisi bagian benang mana yang kesangkut, jadi akan sulit untuk melepaskannya.


"Biar gue bantu."


"Gak usah gue juga bisa sendiri kok." tolak Letta.


"Sini biar gue aja."


"Beneran gak usah, gue gak mau repot--"

__ADS_1


Ucapannya terhenti ketika Hami melesak maju dan mengambil alih. Hami menunduk mendekat ke telinga Letta melihat bagian mana yang tersangkut. Letta sendiri merasa tidak nyaman, ia ingin mendorong Hami tapi rasanya tak sopan dan buat apa ia melakukan itu lagian Hami sedang menolongnya. Letta memalingkan wajahnya ke samping, ia benar-benar merasa tidak enak, kenapa Hami lama sekali melepaskan tangan gaunnya yang tersangkut.


Letta sudah tidak tahan, ia takut kalau ada yang liat bisa dikira hal yang lain, bisa menimbulkan salah sangka. Letta perlahan mendorong Hami menjauh, bersamaan dengan itu, Hami selesai melepaskan lengan gaunnya Letta yang tadi nyangkut.


"Makasih." ucap Letta. Ia lalu dengan sigap segera melepas antingnya, takut akan nyangkut lagi nanti.


Hami tersenyum. "Sama-sama. Kalau begitu, gue pergi dulu. Mau persiapan buat drama kelas gue." setelah berkata itu, Hami pun undur diri.


Kini Letta sendirian. Ia memandang ke sekeliling ruangan, hanya ada ia dan beberapa anak saja yang tampak asik sendiri. Ia juga tidak melihat Mira. Entah kemana sahabatnya itu. Tapi yang paling menjadi pertanyaan adalah di mana Alex?


***


Alex sedang berjalan dengan kedua tangan sama-sama memegang kaleng minuman dingin. Tadi ia diseret beberapa anak untuk foto bersama, mau tak mau Alex mengiyakan. Suasana hatinya sedang baik jadinya Alex meladeni semua ocehan cewek yang meminta foto dengannya. Ini semua berkat Letta. Cewek yang anehnya bisa menjungkirbalikkan hatinya.


Ahh.. Alex jadi teringat kembali akan peristiwa beberapa menit yang lalu ketika dengan nekatnya ia mencium tangan Letta yang padahal di penampilan seharusnya tidak ada. Seharusnya Alex hanya menggengam tangan Letta, tapi menurut Alex itu terlalu datar. Tidak akan ada sensasi dari penampilan kelasnya kalau seperti itu. Selagi ada kesempatan juga, Alex jadi dengan sengaja menciun tangan Letta.


Padahal mah kalau bisa di pipi sama itu sekalian, batin Alex menimpali dengan masam. Tapi kalau ia nekat mencium ke pipi, bisa-bisa anak satu kelasnya dikeluarkan dari sekolah.


Ia sekarang bertanya-tanya apa yang sedang Letta lakukan. Apakah Letta sadar kalau Alex tidak ada. Apakah cewek itu mencarinya selama Alex pergi, dan apakah... Letta merasakan apa yang ia rasakan juga. Oh, sialan. Kenapa gue jadi bucin.


Alex menggelengkan kepalanya. Ia harus fokus. Ia berjalan lebih cepat ke ruangan untuk persiapan kelasnya, rasanya tidak sabar bertemu dengan Letta. Alex terus melangkahkan kakinya sampai akhirnya ia melihat kelas itu. Dan mulai berjalan pelan ketika sampai di koridor kelas. Lalu Alex membelokkan badannya ke pintu. Tapi seketika langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan yang ada di depannya.


Di depan sana, tak jauh darinya. Ada Letta dan Hami. Mereka berdua bersama. Letta sedang duduk, dan cewek itu terhalangi oleh Hami yang sedang menunduk ke arah Letta. Posisi mereka berdua seperti---- brengsek.


Alex tidak akan pernah sudi membayangkannya.


Ia mengeraskan rahangnya dengan matanya menyipit tajam melihat dua objek itu. Dadanya bergemuruh hebat seakan ada sesuatu yang akan meledak di dalam sana. Tanpa sadar, ia sudah meremas dua kaleng minuman yang ia bawa.


Sedetik kemudian ia berbalik, berjalan keluar dari kelas. Sambil berjalan terus entah kemana tujuannya, Alex melirik sekilas ke samping dan dengan cepat melemparkan kaleng minuman yang ia bawa yang sudah reyot ke dalam tempat sampah. "Kurang ajar!" serunya marah.


***


"Galih, lo liat Alex gak?" tanya Letta ketika ia berpapasan dengan Galih.


Namun jawaban Galih membuat bahu Letta lemas. "Maaf, gue gak tahu, Ta."


Letta terus mencari dan mencari. Ia sudah bertanya hampir ke semua anak yang ia kenal tapi mengaku tidak ada yang lihat Alex. Tapi Letta tidak akan semudah itu untuk menyerah. Selagi ia bisa mencari, kenapa tidak?


"Tadi gue liat Alex, dia beli minuman di stand sana. Tapi itu udah lama sih, mungkin setengah jam yang lalu atau bahkan lebih."


"Oke, terima kasih ya." ucap Letta dengan lesu.


Ia bingung kemana ia akan mencari Alex lagi. Kenapa cowok itu bisa sampai menghilang. Apa jangan-jangan Alex merasa malu karena perannya tadi di panggung makanya Alex bersembunyi. Atau Alex justru menyesal dengan adegan yang cowok itu perankan sehingga memilih untuk menjauh dan menghindari Letta. Letta tidak bisa berpikir mana yang benar atau justru semuanya itu benar, bisa saja bukan?


Letta yang sudah capek, berjalan sambil melihati sepatunya. Melihat ke kakinya yang melangkah entah kemana tanpa tujuan. Lalu ia berbelok--- bughh. Sialnya, Letta menabrak seseorang.


Keduanya sama-sama terjatuh. Letta merasa tangannya nyeri dan perih ketika tak sengaja mengenai kerikil di jalan ia terjatuh. Tapi itu tidak sebanding dengan rasa tidak enaknya dengan--- ya cewek yang ia tabrak. Perlahan, Letta berdiri duluan, tanpa membersihkan roknya yang kotor, ia mengulurkan tangannya ke cewek yang ia tabrak itu.


Ketika cewek itu mendongak, ia bisa melihat kesiapan kaget cewek itu begitu melihatnya. Mata cewek itu seketika membelalak sebelum akhirnya menjadi seperti biasa lagi.


"Biar gue bantu." ujar Letta ketika uluran tangannya tidak segera diambil cewek itu.


Begitu mendengar perkataan Letta, dengan tangan gemetar, cewek yang Letta tabrak meraih tangannya. Letta menarik tangannya ke atas hingga cewek itu berdiri. Pandangannya sesaat tertuju ke bagian perut cewek itu, tapi rupanya cewek itu melihat ke arah pandangan Letta dan segera menarik jaket yang ia pakai agar menutupi seluruh perutnya.


Ooh, Letta jadi merasa bersalah sekaligus tidak tahu malu. Setelah menabrak cewek itu, Letta malah kedapatan sedang melihati cewek itu. Semoga saja cewek ini tidak salah paham.


"Maaf karena gue udah nabrak dan-- buat lo jatuh. Gue beneran gak sengaja." kata Letta akhirnya.

__ADS_1


Cewek itu hanya mengangguk sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Baru setelah ini Letta bisa melihat paras cewek ini dengan jelas. Bukan anak sekolahnya. Bukan juga anak di desanya. Rupanya asing. Belum pernah ia bertemu cewek ini. Mungkin orang luar yang kebetulan nonton pensi, pikirnya.


"Lo gak apa-apa?" tanya Letta ketika cewek itu mengeratkan jaket yang dipakai.


"Gak apa-apa." jawab cewek itu dengan suara gemetar.


Letta jadi bingung, jangan-jangan cewek ini kenapa-napa dan tidak mau bilang. Ketika hendak bertanya lagi, seorang cowok menyela.


"Akhirnya lo ketemu juga."


Sesaat Letta mungkin akan berpikir itu Alex. Gaya bicara mereka berdua sedikit mirip soalnya. Hanya saja suara cowok ini lebih tegas daripada Alex.


"Lain kali kalau mau pergi-pergi itu bilang."


"Gue cuma mau liat-liat." si cewek lagi-lagi bersuara dengan gemetar.


Cowok yang baru datang itu mengernyit mendengar suara si cewek. "Ada apa?" tanyanya dengan khawatir.


Si cewek hanya diam dan tersenyum penuh arti. Lalu cowok itu menengadahkan kepalanya dan menghadap ke depan. Ke Letta. Kali ini tidak salah, Letta juga melihat sedikit keterkejutan cowok itu ketika melihatnya. Sama seperti reaksi cewek tadi. Hanya saja cowok itu mampu menyamarkannya dengan lebih cepat.


Letta berdehem tidak enak dilihat seperti itu. Lalu ia menjelaskan. "Maaf, tadi gue gak sengaja nabrak cewek lo dan buat dia jatuh.


Cowok itu hanya mengangguk. "Okay."


Setelahnya, Letta izin pamit. Ia berjalan menjauh tapi entah kenapa ia merasakan tatapan kedua orang itu masih tertuju kepadanya.


***


"Ada apa?" tanya Fabian tegas ketika Mona sejak tadi hanya diam saja. Sejak mereka berdua bertemu dengan cewek yang mereka tidak tahu namanya. Atau mungkin aslinya Fabian tahu tapi lupa.


Mona tampak diam saja. Tapi wajah cewek itu memerah seakan mau menangis. Mata cewek itu bahkan mulai berkaca-kaca.


"Bilang sama gue. Jangan diam aja, Na." Fabian menggengam kedua tangan Mona dengan erat.


Mona hanya menunduk dan menggelengkan kepala. Tetap tidak mau bicara.


"Na, lo percaya sama gue kan. Sekarang bicara sama gue biar gue gak menebak-nebak apa isi kepala lo itu. Biar gue tahu, biar gue ngerasain apa yang lo rasain saat ini."


Mona mulai terisak. Beruntung tempat mereka berdua sepi jadi tidak akan ada bisa mendengar keduanya.


"Ayo, ceritain ke gue." ucapan tegas Fabian membuat Mona akhirnya angkat bersuara. "Gue ngerasa ini salah. Lo tadi lihat bukan bagaimana Alex di panggung sana. Dan cewek yang tadi nabrak gue itu dia, cewek yang sama dengan cewek di panggung bareng Alex." kata Mona dengan lirih.


"Terus?"


Mona menggelengkan kepalanya. "Ya ini salah, mereka terlihat--- saling suka. Dan gue-- gue bisa jadi penggangu buat mereka. Gue jelas bakalan hancurin hubungan mereka. Gue--"


"Sst..." Fabian menyela. "Kenapa lo mulai ngaco sih. Ingat apa yang gue bilang ke lo beberapa waktu yang lalu. Lo harus ngesampingin rasa bersalah lo karena lo gak salah. Lo benar dan selamanya akan benar. Kalau lo mau mundur, itu sama aja dengan lo bunuh diri hari itu juga. Lo tahu ini sudah jalan yang terbaik buat semuanya---"


"Tapi cewek itu---"


"Mona, jangan pikirin cewek itu. Sekarang lo harus egois, lo harus pikirin diri lo dan dia. Cukup, cuma itu."


***


Sudah ketebak kan semuanya 😅 Aku yakin readernya pinter-pinter bisa nebak kelanjutan ceritanya 😂


Masalahnya nanti gak berat-berat kok, masalahnya ringan dan gak bakalan buat uring-uringan. Cepet selesai pula, hehehe....

__ADS_1


So, buat yang masih membaca sampai sini aku berterima kasih banget buat kalian semua. Sampai bertemu lagi di part selanjutnya ♥️♥️♥️


__ADS_2