Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 29


__ADS_3

Bagus. Sekarang Letta dilanda penasaran akut mengenai kenapa Alex terasa beda hari ini. Penampilan cowok itu sebenarnya sama seperti hari-hari biasanya, kalau orang lain yang melihat mungkin tidak akan merasa ada perbedaan, tapi bagi Letta yang sudah setiap hari melihat Alex, ia merasakan ada sebagian dari cowok itu yang berubah. Dan masalahnya adalah ia belum tahu sesuatu itu seperti apa.


Letta yang sedang berjalan di koridor menghentikan langkahnya tiba-tiba. Alex yang berjalan disebelahnya pun ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Alex yang bingung kenapa Letta berhenti tiba-tiba padahal keduanya sedang berjalan koridor sekolah. Beruntung suasana koridor masih sepi jadi Letta yang berjalan di tengah jalan tidak membuat kesal orang yang mungkin berjalan di belakangnya.


"Bentar, kasih gue waktu." Letta membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya ia hadapkan ke depan seakan meminta Alex untuk menunggu dan memberinya waktu.


"Lo hadap ke gue sekarang." sambung Letta penuh nada perintah.


"Buat apa?" kening Alex mengernyit dalam dan Letta melihat itu.


Letta tahu kalau permintaannya ini bisa dibilang sangat aneh. Tapi ia hanya ingin memastikan sesuatu sebelum rasa penasaran menggerogoti dirinya sampai habis.


"Udah tinggal hadap ke gue aja." perintah Letta kali ini dengan tegas.


Dengan malas Alex berbalik dan menghadap ke Letta. Ia memandang Letta dengan bosan ketika cewek itu mulai menilainya dari atas sampai bawah.


Apa-apaan coba.


Mata Letta menyipit memperhatikan Alex dari kepala hingga kaki, dan ia belum menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Letta meletakkan jarinya di dagu berpikir apa yang membuat Alex kelihatan berbeda.


"Gak jelas lo." sembur Alex akan membalikkan badannya. Letta bergerak cepat, berdiri dengan merentangkan tangannya di depan Alex. Menghalanginya agar tidak kemana-mana dulu.


"Kasih gue waktu tiga puluh detik. Setelah itu lo boleh pergi." ucap Letta meyakinkan. Astaga Letta bahkan tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.


"Oke." Alex menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memberi tatapan membosankan ke Letta dan ia tidak menutupinya sama sekali.


Detik-detik berlalu tapi Letta hanya diam saja. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang dan buat apa tadi dirinya meminta tiga puluh detik pada Alex. Tapi karena sudah terlanjur, lebih baik diteruskan saja. Ia akan menunggu tiga puluh detik itu habis dan keduanya bisa berjalan lagi menuju ke kelas. Setelahnya Letta akan melupakan kelakuan absurdnya ini seakan-akan tidak pernah terjadi. Rencana yang...memalukan.


"Lima belas detik tersisa." ucap Alex mengingatkan Letta.


"Sepuluh detik tersisa." lanjutnya setelah lima detik berlanjut.


Letta menggaruk tengkuknya bingung. Ia jadi malu sendiri. Pasti setelah ini Alex akan dengan senang hati mengolok-oloknya. Yeah, Letta harus siap menerimanya nanti. Letta menaikkan pandangannya dan sorot mata Alex menyiratkan kebosanan dan Letta tahu itu.


Letta mengalihkan pandangannya yang penting jangan ke mata Alex. Ia merasa aneh karena sekarang tidak bisa menatap Alex lama-lama, tidak seperti dulu waktu awal kedatangan Alex.


Letta akhirnya mengalihkan pandangannya lebih ke atas. Saat itu juga dirinya menemukan apa yang ia cari, rasa penasaran itu sudah hilang dan terganti dengan perasaan takjub. Entahlah, tapi ia sekarang tahu apa yang membuat Alex tampak berbeda. Bodoh, pikirnya karena sejak dari rumah ia bahkan tidak melihat perbedaan itu.


"Tiga detik tersisa." pernyataan Alex membuyarkan lamunan Letta.


Cewek itu mengerjap sebelum akhirnya memekik keras. "Gilaaa...! Lo potong rambut..!"


Sekali lagi Alex beryukur karena sekolah masih sepi sehingga Letta tidak membuat mereka menjadi pusat perhatian, ya walaupun harus ia akui ada beberapa anak di koridor depan sana yang melihat ke arah mereka dengan aneh.


Alex memutar bola matanya sebelum menjawab. "Emang, terus kenapa?"


Lo tambah ganteng, juga kelihatan lebih dewasa dari kemarin, batin Letta menanggapi dengan seenaknya. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu, bisa besar kepala si Alex.


Letta tersenyum cerah. "Gak apa-apa, cuma jadi kelihatan rapih aja diliat. Gak seperti kemarin rada urakan, sebelas dua belas sama preman."


"Tadi pagi waktu gue nanya pendapat lo, lo malah gak jawab." Alex mulai berjalan dan melewati Letta.


Letta berbalik dan mulai berjalan di sebelah Alex. Ia menatap Alex sambil mengernyitkan dahi karena seingatnya Alex tidak bertanya apa-apa. "Kapan lo nanya? Kok gue gak tahu?"


Alex melirik Letta sesaat. "Waktu di rumah lo. Waktu lo lagi pake sepatu di teras. Gue tanya apa pendapat lo soal rambut gue tapi lo malah diam aja."


Bohong kalau Letta tidak merasa senang mendengar fakta kalau Alex sempat meminta pendapatnya. Dan bodohnya ia tidak mendengar itu. Tadi pagi ia memang tidak terlalu fokus, karena ia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang dilatarbelakangi oleh kehendak mamanya.


"Kenapa lo minta pendapat gue?" tanya Letta ingin tahu.


Ada jeda sebelum Alex menjawab. "Gak tahu."


Letta harus menelan kekecewaannya kali ini. Lagipula bukannya wajar kalau seorang teman meminta pendapat temannya. Seperti Alex yang meminta pendapat mengenai rambutnya yang dipotong lebih pendek. Mungkin Alex hanya ingin tahu pendapat Letta apakah itu cocok, jelek atau tidak, karena kalau sampai jelek menurut orang lain, Alex pasti harus menahan malu. Iya kiranya seperti itu.

__ADS_1


"Kemarin kan lo sakit, kok bisa potong rambut?"


"Rambut gue dipotong waktu udah sore, lagian gue juga pas sore udah sembuh. Ngomong-ngomong ini bokap lo yang motong rambut gue."


"Yang bener papa gue?!" tanya Letta kaget.


"Beneran. Tanya aja sama bokap lo nanti."


Letta melihat ke mata Alex sesaat dan tidak mendapati kebohongan disana.


"Gue baru tahu kalau papa gue punya bakat buat jadi tukang salon." ujar Letta sambil tertawa. Ia membayangkan Haris, papanya, yang biasanya memegang gunting kebun harus memegang gunting potong rambut. Pasti kelihatan lucu, coba aja mama gue lihat, batin Letta.


Di tengah pikirannya Letta, ia bisa mendengar seseorang di belakang menyerukkan namanya.


Letta dan Alex yang sudah berada dekat dengan kelas kontan berhenti dan menoleh ke belakang ke seseorang yang memanggil nama Letta.


"Hai," sapa orang itu begitu sampai di samping Letta.


Letta tersenyum canggung. "Hai juga, Ham."


Hami mengatur nafasnya yang tidak teratur karena tadi ia berlari mengejar Letta. "Gue kira lo bakalan gak berangkat."


"Gak ada alasan gue gak berangkat." Letta lagi-lagi tersenyum menanggapi. Tapi kali ini sudah tidak sekaku tadi.


"Kenapa lo mikir gue gak sekolah?" sambung Letta.


"Gue denger lo ada kecelakaan." kata Hami lirih dan cowok itu maju satu langkah mendekat.


Letta mendongak dan bisa melihat raut khawatir terpampang jelas di wajah Hami. Entah ia salah menangkap atau hanya imajinasi saja, tapi Hami kelihatan benar-benar khawatir. Persis seperti dulu-dulu ketika mereka dekat.


"Kecelakaan apa?" tanya Letta.


"Di kolam renang." jawab Hami sambil menatap ke Letta lama.


"Ooh itu."


Walau Letta merasa tidak nyaman, ia berusaha menutupinya sebaik mungkin.


"Soal itu, gue gak apa-apa kok, buktinya sekarang gue masih bisa sekolah. Dan gue juga baik-baik aja. Gak perlu cemas soal itu." ujar Letta berusaha terlihat santai sambil memukul pelan bahu Hami sekali.


Hami sebenarnya belum puas dengan jawaban Letta, ia masih ingin memastikan apakah benar kalau sahabatnya ini benar baik-baik saja. Karena seingatnya kejadian yang dulu waktu Letta kelas 10 itu berdampak besar bagi Letta, Letta ketakutan dan tidak sekolah beberapa hari sampai sepenuhnya sembuh dari traumanya.


"Lo yakin?" tanya Hami memastikan.


"Yakin banget." ucap Letta mantap.


Hami hanya bisa menghela nafas lega. Walau sebagian kecil dari dirinya masih belum percaya sepenuhnya.


Letta menunggu ketika Hami akan bicara lagi.


Hami kemudian bersuara. "Keberatan kalau lo pulang sama gue?"


Kalau saja itu ajakan Hami sebulan yang lalu mungkin akan ia sambar tanpa babibu dan dengan senang hati ia menerimanya. Kapan lagi ia bisa pulang bersama Hami setelah hubungan keduanya yang merenggang. Tapi itu dulu, karena sekarang Letta malah ingin menolaknya. Ia merasa tidak punya hak untuk pulang bersama Hami. Lagipula ia masih punya Alex yang bisa pulang bersamanya.


Mengingat Alex, membuat Letta sadar kalau tadi Alex bersamanya dan ia melupakan keberadaan cowok itu. Letta hendak menjawab ajakan Hami tapi sebuah suara yang terdengar ketus masuk ke telinganya.


"Keberatan."


Itu suara Alex. Letta melihat Alex maju selangkah sambil memandang Hami meremehkan.


"Lo gak pernah belajar dari pengalaman? Dulu udah gue bilang kalau Letta pulangnya sama gue. Dan sekarang lo ngajak Letta lagi buat pulang sama lo. Apa lo belum paham juga sama omongan gue?"


***


Penjelasan guru di depan sana rasanya tidak ada yang masuk ke otak Letta. Rasanya seperti masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, begitulah kata yang tepat menjelaskan situasinya saat ini.

__ADS_1


Jadi Letta memilih untuk membuka lembar terakhir buku pelajarannya dan mencorat-coret bukunya sebagai pelampiasan dari rasa bosan. Letta lalu menggambar anak laki-laki, setelah itu ia membiarkan tintanya mencorat-coret muka anak laki-laki itu. Ia membayangkan kalau itu wajah anak laki-laki itu adalah Alex.


Letta terkikik sendiri. Tanpa bisa ia cegah lama-lama suara tawanya lebih keras daripada sebelumnya setelah berhasil membuat muka anak laki-laki yang ia buat menjadi hitam sempurna penuh dengan tinta.


"Itu yang di belakang jangan asik sendiri, sebelum saya nyuruh kamu ke depan dan ulangi apa yang saya katakan."


Letta pun menegang.


Mati gue...


***


"Alex, hari ini jangan ke kantin ya." ujar Letta sambil menghadap ke Alex.


Bel istirahat sudah berbunyi, guru yang mengajar juga sudah keluar kelas. Anak-anak pun berbondong-bondong keluar menuju ke kantin mengisi perut mereka. Tapi khusus hari ini Letta menahan Alex agar tetap di kelas.


Sedangkan Mira sudah Letta kasih tahu untuk ke kantin duluan. Beruntung Mira tidak banyak tanya kenapa Letta tidak ikut, jadi Letta tidak harus menjelaskan alasannya yang menurutnya cukup memalukan untuk dikatakan.


"Kenapa? Tumben." tanya Alex singkat.


Letta sedikit ragu ketika akan berbicara. Tapi demi semua yang sudah susah payah dikerjakan, dan demi mamanya, akhirnya Letta memberanikan diri. Letta membuka resleting tasnya dan mengambil dua kotak makan dari dalam tas.


"Ini mama gue maksa gue buat bawa ini. Katanya ucapan terima kasih buat lo karena udah nyelamatin gue waktu di kolam." aku Letta.


Letta menyodorkan satu kotak makannya ke depan Alex. Kalau tidak salah, ia bisa melihat sudut bibir Alex sedikit terangkat tadi, sebelum akhirnya wajahnya berubah menjadi datar lagi.


"Bilangin makasih dari gue." Alex membuka kotak makan itu yang isinya nasi goreng. Spesial. Karena ada telor, daging, sayuran, ada beberapa irisan timun juga.


"Iya nanti gue kasih tahu. Emang lo gak malu gitu makan bekal dari rumah di kelas?" tanya Letta lirih.


Alex mengambil sendok yang sudah tersedia di dalam kotak makannya. "Malu kenapa?"


Letta mencibir. "Soalnya biasanya anak cowok paling anti makan nasi bekal atau bawa minum dari rumah. Gengsi katanya, atau lebih tepatnya menurut mereka kayak anak cupu."


"Itu kan mereka, bukan gue." Alex mulai menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya, mengunyahnya perlahan.


Letta yang melihat Alex tidak sungkan untuk makan nasi goreng buatan mamanya merasa senang. Dan melihat Alex yang lahap makannya, tak ayal membuat Letta ingin makan juga. Dibukanya kotak nasi miliknya dan mulai makan.


"Enak." ucap Alex begitu menyelesaikan acara makannya. Nasi goreng buatan mamanya Letta sudah ia habiskan tak tersisa. Alex lalu menutup kotak makan itu.


"Syukur deh kalau enak."


"Ini beneran kan mama lo yang buat?" Alex menyipitkan matanya ke Letta.


Letta yang juga sudah selesai makan langsung menutup kotak makannya. Ia melirik Alex aneh. "Ye bener lah, emangnya kenapa sih?"


"Aneh aja, mama lo baik banget tapi kok anaknya enggak."


"Sialan lo. Gini-gini gue juga bantu buat nasi gorengnya." kata Letta tak sepenuhnya bohong. Bantuannya memang kecil tapi itu jelas tetap masih dianggap membantu olehnya.


"Bantu ngapain?" Alex bertanya sambil menyandarkan punggungnya ke tembok. Ia menyilangkan kedua tangannya ke depan.


"Motong timun." jawab Letta santai.


Alex menggelengkan kepalanya. "Motong timun doang? Gak bantu yang lain?"


Letta menggeleng. "Gak, gue gak bisa masak."


Alex maju dan menarik hidung Letta. "Lo nanti kalau udah jadi istri orang, harusnya bisa masak. Mau dikasih makan apa suami sama anak lo kalau lo aja gak bisa masak, heh?"


Letta memberenggut kesal karena untuk kedua kalinya hidungnya ditarik Alex. Kalau sampai tiga kali, ia berjanji akan menghadiahi Alex piring cantik ke kepala cowok itu.


"Itu urusan rumah tangga gue nanti, lo gak perlu ikut campur." sembur Letta kesal.


Alex terkekeh. "Gak usah manyun gitu. Udah jelek jangan ditambah jelek."

__ADS_1


"Jelek-jelek gini, gue masih teman lo."


__ADS_2