
"Terima kasih, Pak." kata Letta yang baru saja memberikan lembar jawaban dari soal yang ia kerjakan karena tidak ikutan berenang kepada guru pembimbing.
Tadinya ia akan menitipkan jawabannya ke anak lain yang memang kebetulan juga tidak berenang karena sedang berhalangan, tapi ternyata anaknya belum selesai mengerjakan. Jadi dengan modal nekat, Letta memberanikan diri mendekat ke arah kolam, ke tempat guru pembimbing itu berada dan akan memberikannya langsung.
Fakta bahwa ia pernah punya trauma pada air jelas masih Letta ingat. Bahkan masih jelas diingatannya waktu pertama kali berenang ia sampai pingsan. Menurutnya itu salah satu pengalamannya yang sangat sangat memalukan sekaligus menyedihkan. Memalukan karena hanya dirinya yang tidak bisa berenang, bahkan baru masuk air saja ia sampai tidak sadarkan diri. Menyedihkan karena trauma yang ia kira sudah sembuh dan tidak akan datang lagi nyatanya masih ada.
Dan kali ini, entah kenapa dirinya merasa lebih percaya diri daripada sebelum-sebelumnya. Atau jangan-jangan ia sekarang sudah sembuh total, buktinya setelah mendekat ke kolam ia masih merasa biasa saja. Yaa, sekiranya menurut Letta sih begitu.
"Letta, lo ngapain ke sini. Buruan balik lagi ke bangku lo." teriakan Mira dari arah seberang membuyarkan lamunan Letta mengenai traumanya.
Cewek itu mengerjap beberapa kali sebelum kemudian sadar kalau ia masih berada di pinggir kolam. Beruntung tadi Mira meneriakinya, coba saja kalau tidak, Letta tidak bisa membayangkan kalau misal ia melamun dan tiba-tiba jatuh ke kolam. Ughh jangan sampai terulang lagi...
Letta hanya menjawab Mira dengan senyuman pertanda ia baik-baik saja. Ia bisa melihat kalau Mira khawatir padanya, tatapan mata temannya itu sudah menyiratkan semuanya.
Letta membalikan badan hendak berjalan kembali ke bangkunya lagi, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba. Alasannya karena jalan untuk kembali sekarang sudah ramai oleh anak sekolah. Sepertinya anak-anak yang ada disana itu dari sekolah lain, buktinya ia tidak familiar dengan wajah-wajah mereka semua.
Bohong kalau Letta menjadi tidak takut, bohong juga kalau nyalinya tidak menciut. Harusnya tidak seperti ini, kalau Letta sudah sembuh harusnya ia tidak perlu takut lagi, bukan? Jadi dengan terpaksa sekali, ia mulai melangkahkan kakinya melewati kerumunan anak-anak tadi.
Gue bisa, gue udah sembuh, rapal Letta dalam hati.
Dengan kaki yang mulai bergetar, Letta tetap melangkahkan kakinya melewati kerumunan anak itu. Satu anak, dua anak sampai tiga anak terlewati begitu seterusnya, hingga akhirnya ia akan melewati semuanya.
Tetapi, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak padanya karena tiba-tiba saja ada anak yang menabraknya dari samping. Letta yang tidak siap, kehilangan keseimbangannya dan...
Byurr...
Ia pun terjatuh ke kolam renang. Letta ketakutan. Sungguh, ia ketakutan. Tangannya berusaha meraih ke atas tapi tidak bisa. Ia tidak bisa bernafas hingga dadanya terasa sesak. Belum sampai disitu, bayangan akan dirinya yang pernah tenggelam dan terseret arus sungai mulai bermunculan. Dirinya yang masih kecil meminta tolong sambil terus berusaha meraih permukaan tapi nyatanya tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Tolong..."
Hening. Tidak ada suara apapun kecuali derasnya air yang terus menyeretnya.
"Tolong aku !!!"
"Siapa pun tolong aku...!"
Letta sendirian, tidak ada yang menolongnya. Tidak ada yang peduli padanya. Tidak dulu dan tidak sekarang.
Di sisa-sisa kesadarannya yang mulai menghilang, Letta mendengar suara ceburan ke kolam. Letta sudah tidak tahu apa yang terjadi karena hal terakhir bisa ia ingat adalah seseorang telah merengkuhnya, erat.
***
"Gu- gue.. Gue takut." ucap Letta dengan suara yang bergetar. Mata cewek itu memerah karena perih dan berusaha menahan agar gumpalan bening yang sudah berada di ujung matanya itu tidak terjatuh.
"Gak ada yang perlu lo takutin lagi, oke." kata Alex menangkup pipi Letta. Matanya menyorot tegas, memberikan sinyal tak kasat mata pada Letta bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu Letta takutkan.
Ia tahu Letta sedang sangat ketakutan. Bahkan tubuh cewek di depannya ini bergetar kecil sejak sadarkan diri.
"Tapi gue takut..." kata Letta parau.
"Ada gue, dan lo gak perlu takut lagi."
"Bisa gue percaya sama lo?" Letta menatap tepat ke mata Alex. Sungguh Letta merasa dirinya sedang berada di titik yang paling lemah dan ia butuh seseorang yang bisa menguatkannya, menjadi tumpuannya.
Alex mengusapkan jarinya ke pipi Letta. "Lo bisa percaya sama gue."
Letta memejamkan matanya, tak bisa ia sangkal kalau perkataan Alex tadi sukses membuat hatinya menghangat. Hal ini juga berefek pada tubuhnya yang tadinya bergetar mulai berhenti bergetar dan berangsur normal kembali.
"Kita pergi dari sini ya?" bujuk Alex.
Tanpa membuka matanya, Letta mengangguk mengiyakan, apalagi ia juga tiba-tiba merasa sudah enakan jadi tidak ada alasan lagi kenapa ia masih harus duduk di lantai kolam yang dingin.
__ADS_1
Melihat anggukan Letta, Alex menyelipkan tangannya ke leher dan lutut cewek itu lalu mengangkatnya, membawanya keluar dari wilayah kolam.
Anak-anak yang tadinya mengerumuni keduanya segera berpencar dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Ya, kejadian tadi memang cukup menyita banyak perhatian apalagi tadi disajikan penampilan Alex yang dengan sigap menyusul Letta ke dalam kolam dan segera membawa Letta keluar dari kolam. Belum cukup sampai disitu, Alex bahkan juga yang memberikan pertolongan pertama pada Letta.
Tak butuh waktu lama untuk Letta sadar. Bagi Alex, tidak ada yang lebih melegakan lagi selain sadarnya Letta. Bahkan tanpa ia sadari tadi mulutnya mengucapkan kata syukur.
"Gue pikir gak ada yang mau nolongin gue, terus gue mati." gumam Letta dalam gendongan Alex.
Alex yang mendengarnya mengernyit tidak suka. Dia semakin mengeratkan gendongannya.
"Lo gak boleh mati dulu, kalau lo mati nanti siapa yang bakalan gue buli." ujar Alex santai.
"Masih banyak kok anak yang bisa lo jadiin mangsa. Tinggal pilih aja, maunya lo yang polos atau yang liar, yang cantik atau yang biasa aja."
"Tapi gue gak minat. Gue maunya sama lo aja." kata Alex dengan wajah datarnya, tidak menampilkan ekspresi apapun.
Coba saja tadi Alex mengatakannya dengan raut wajah serius atau sekiranya jangan datar, mungkin bisa membuat Letta tersipu. Tidak datar yang malah membuat Letta terdiam bingung akan membalas perkataan Alex bagaimana.
Hening menyelimuti keduanya beberapa saat, kemudian Letta berdehem, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Lalu ia putuskan untuk mengangkat topik pembicaraan yang lain.
"Gue tebak lo udah tahu masalah gue dari Mira atau Indra."
Alex melirik Letta sesaat sebelum kemudian berdehem mengiyakan. Kakinya terus melangkah menjauh dari kolam.
Setelahnya tidak ada yang membuka suara lagi. Letta yang bingung akan mengangkat topik apa, sedangkan Alex tampak diam saja seakan sudah tidak mood untuk berbicara. Sepi melanda sampai Alex menurunkan Letta ke bangku. Bangku yang sama seperti saat Letta belum ke kolam. Ia mendudukan Letta disana.
"Lo berat juga asli. Ingatin gue buat minta pijat ke nenek gue sehabis pulang dari sini." kata Alex setelah berhasil mendudukkan Letta dilanjut dengan meregangkan tangan.
Letta menggerutu pelan sambil mencari posisi duduk yang nyaman. "Dasar cemen."
"Lo lagi sakit tapi tetep aja bisa ngatain orang. Bukannya harusnya lo berterima kasih ke gue karena udah nyelamatin nyawa lo tadi." Alex lalu menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Letta.
Letta melirik Alex malas. "Terima kasih, puas lo?"
Sedetik kemudian Mira memeluk Letta membuat Letta yang diserang tiba-tiba hendak terjungkal ke belakang. Beruntung Alex memeganginya jadi adegan 'seorang cewek terjungkal ke belakang saat dipeluk temannya' tidak benar terlaksana.
"Lo itu kenapa sih selalu buat orang lain khawatir. Lo kenapa ngeyel, lo kenapa malah deket ke kolam. Kenapa lo ngasih jawabannya sendiri, gak nitip aja ke anak lain. Lo tahu kalau lo ada trauma dan please jangan diulangi lagi yang kayak tadi, ini juga demi kebaikan lo. Lo gak tahu gimana khawatirnya gue tadi waktu lihat lo jatuh." cerca Mira panjang lebar.
Letta saja yang mendapat pidato panjang ala Mira itu melongo. Sahabatnya ini seperti biasa, terlalu berlebihan. Lagian sekarang dirinya sudah baik-baik saja, bukan. Bahkan ketakutan yang ia rasakan kali ini tidak sebesar dulu, rasa takutnya seakan-akan menghilang dengan cepat karena Alex. Iya, Alex yang memberinya kepercayaan kalau semuanya baik-baik saja. Kata-kata yang keluar dari mulut cowok itu membuat Letta tersihir dan rasa takut pada trauma pun menghilang sudah.
"Baju lo basah." cicit Letta pelan.
Mira melepaskan pelukannya. Ia menatap Letta tidak percaya. Dari semua perkataannya, Letta malah memikirkan bajunya yang basah. Astaga anak ini...
"Gue harap itu perkataan terakhir yang gue dengar. Demi apa, kalau anak lain dengar omongan gue tadi mungkin mereka bakalan terharu dan nangis-nangis berterima kasih karena udah khawatirin sahabatnya. Tapi dalam kasus lo, lo malah mikirin baju gue yang basah." Mira berkata panjang lebar sambil menggelengkan kepalanya.
Letta meringis menanggapi. "Ya gue juga bingung lo tadi ngomong apa. Lagian lo ngomong udah kayak kereta lewat, gak ada remnya."
"Percuma dong gue tadi bicara panjang lebar tapi lo gak paham." Mira mengerucutkan bibirnya ke depan.
Letta tergelak. "Jangan ngambek dong. Lagian gue udah sembuh nih, lihat kan. Gue baik-baik aja sekarang."
Mira melihati Letta dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas. Letta memang terlihat sudah normal kembali.
"Syukurlah gue jadi ikut seneng kalau lo sembuh." Mira tersenyim cerah.
Lalu pandangannya jatuh pada seseorang yang duduk di sebelah Letta, siapa lagi kalau bukan Alex.
"Ciee Alex, tadi ceritanya jadi pahlawan kesiangan." goda Mira.
Alex yang dikatai seperti itu memutar bola matanya malas. Sedangkan Mira rupanya semakin bersemangat menggoda Alex.
__ADS_1
"Gimana tadi waktu lihat Letta jatuh ke kolam. Ada sesuatu yang menghantam jantung lo gak?"
Dahi Alex mengernyit dalam. Ia memandang Mira seakan akan pertanyaan tadi sangatlah aneh.
"Lebay lo, gue ngelakuin itu cuma atas dasar rasa kemanusiaan semata. Gak lebih."
"Yang bilang lebih juga siapa, kan gue nanya apa waktu lo lihat Letta jatuh, jantung lo kayak dihantam sesuatu atau enggak gitu." Mira terkikik.
Letta yang sedari tadi melihat interaksi keduanya pun menyela sebelum Mira menambah aksinya.
"Ra, mending lo beliin gue pakaian deh di toko. Baju gue basah semua. Kalau gue jalan kayaknya nih kaki masih lemes."
"Kenapa gak suruh Alex yang beliin." jawab Mira cepat.
"Ngaco, masa iya gue minta cowok buat beliin baju cewek." Letta memukul kepala Mira.
Mira yang mendapat pukulan itu memekik sakit. "Lo kayaknya udah beneran sembuh deh, ganasnya udah kelihatan."
"Udah sana mending lo beliin gue baju. Pake duit lo dulu, nanti gue ganti."
"Iya nih gue pergi. Gue tahu kok lo pengennya mau berduaan lagi. Makanya lo ngusir gue, halus banget caranya, Bu." Mira tertawa kecil.
Sebelum Letta mengamuk, Mira sudah lebih dulu berlari dari tempatnya.
Tepat setelah Mira pergi, datanglah Indra yang membawa segelas teh panas di tangannya.
"Itu buat gue?" tanya Letta dengan mata berbinar senang.
Disaat tubuhnya terasa dingin pastinya teh panas menjadi solusi terbaik, bukan? Dan tanpa perlu Letta meminta, Indra sudah membawakan untuknya. Pengertian benar sahabatnya ini.
"Iya ini buat lo. Nih minum, selagi masih hangat." Indra menyerahkan gelas berisi teh panas itu ke Letta.
Letta menerimanya dan menghirup aroma tehnya, uap panas teh yang mengepul masuk ke hidungnya. Terasa menenangkan dan enak.
"Gue gak dibawain nih, masa Letta doang." Alex menimpali.
"Lain kali kalau lo sakit, baru gue buatin." jawab Indra.
"Makasih ya, Ndra. Ehh sini, duduk di pinggir Alex tuh masih muat kok." Letta menunjuk samping bangku Alex yang kosong.
"Gue lagi buru-buru, gue pergi dulu ya." kata Indra cepat.
Tanpa menunggu jawaban Letta, Indra berlalu begitu saja. Letta mengedikkan bahunya ke atas, berpikir mungkin Indra memang sedang ada keperluan yang mendesak sehingga harus buru-buru.
***
"Udah selesai?" tanya Alex yang bersandar di dinding kamar ganti cewek dengan kedua tangan dimasukkan ke saku.
Letta yang baru saja keluar dari kamar ganti mengangguk. Ia baru saja ganti bajunya yang basah dengan baju yang dibeli Mira untuknya. Jelas harus beli, karena Letta kan tidak bawa baju ganti dari rumah. Secara kan dia tidak ikutan renang, jadi buat apa bawa.
"Ini tinggal kita berdua doang?" tanya Letta begitu ia mengalihkan pandangaannya ke sekitar yang ternyata sudah sepi.
"Iya, makanya ayo cepet. Keburu ditinggal sama yang lain." bisik Alex ke telinga Letta.
Letta bergidik ngeri ketika Alex berbisik terlalu dekat dengan telinganya. Bahkan hembusan nafas cowok itu terasa di lehernya sampai ia merasa geli.
Dan tanpa Letta sadari, Alex sudah menautkan jari mereka berdua. Alex menggenggam tangannya dan mulai menariknya untuk segera berjalan keluar.
"Ehh." Letta yang baru sadar akan melepaskan genggaman Alex tapi cowok itu malah semakin mempereratnya.
Alex menoleh ke Letta. "Diam deh, biar cepet jalannya. Kalau lo jalan sendiri lama."
__ADS_1
Letta pun bungkam. Ia membiarkan tangan Alex yang bertautan dengan tangannya. Ia menarik sudut bibirnya ke atas. Kemudian ia dan Alex berjalan bersisian menuju ke pintu keluar. Tentunya dengan tangan yang masih saling bertautan.
Rasanya ini lebih hangat daripada teh yang tadi.