
[ Mohon maaf untuk part 30 kemarin terdapat kesalahan. Berikut adalah part 30 yang benar. Dan part 30 kemarin yang saya update seharusnya menjadi part 31 ]
Biasanya jam segini Letta sudah sampai di rumah, tiduran sambil bermalas-malasan. Tapi hari ini, ia mendapati dirinya tengah membawa Alex ke tengah jambatan, jembatan yang sering ia kunjungi di masa kecilnya sekaligus jembatan tempat dimana ia bisa mengalami trauma. Setahunya, disinilah dulu ia terjatuh dan tenggelam ke sungai yang mengalir di bawah jembatan itu sebelum akhirnya berhasil diselamatkan. Selain fakta tersebut, ia tidak tahu menahu lagi karena kedua orang tuanya menutup rapat fakta lainnya dengan dalih agar Letta tidak sedih ketika mengingatnya.
Padahal Letta saja tidak merasakan apa-apa. Sedih pun tidak. Tapi kalau orang tua sudah berkata begitu, ya sudahlah, Letta cuma bisa nurut dan tidak bertanya lagi. Mungkin ini memang yang terbaik baginya.
Tadi ketika di jalan, Alex berhenti dan bertanya pada Letta apa jembatan yang ada di seberang itu tempatnya terjatuh. Letta awalnya kaget karena Alex berpikiran seperti itu walaupun memang itu kenyataannya. Ia berspekulasi kalau Indra atau Mira pasti sudah menceritakan tentangnya lebih banyak daripada yang ia kira. Setelah mengiyakan, Alex meminta Letta untuk membawanya kesana. Mau tak mau Letta menurut sampai akhirnya di sinilah mereka sekarang berada, berdua di atas jembatan.
"Lo gak takut kalau berada di atas sini?" tanya Alex seraya. melihati struktur jembatan yang sudah tua.
Letta menggeleng. "Gue kan traumanya bukan di jembatannya, tapi sama airnya, jadi gak ada alasan buat gue takut."
"Dibawah kan ada air sungai, gak takut liatnya?" tanya Alex sekali lagi.
"Kalau dibuat lebih spesifik lagi, gue sebenernya trauma kalau udah di dalam air aja, kalau ngeliat air yang banyak kayak gini gue sih, gue biasa aja. Malah menurut gue, ini pemandangan yang bagus, terlalu sayang untuk dilewatkan." jawab Letta santai.
Alex bergumam setuju. Walaupun airnya tidak jernih dan cenderung keruh, tetapi pemandangan dari atas jembatan kecil ini memang bagus. Sebagai nilai plusnya, sungai di bawah ini bersih dan tidak ada sampah rumah tangga yang mengapung di permukaan sungai.
Alex menggeser posisinya mengikuti Letta, berdiri di samping cewek yang sedang menumpukan sikunya ke pembatas jembatan."Lo jatuhnya dari sini?"
"Kata orang tua gue iya, tapi gue gak ngerasa gitu. Gue ngerasa kayak bukan disini gue jatuhnya, kalau gue jatuh disini ada kemungkinan gue bakalan inget sedikit atau gak gue mungkin bakalan takut berada disini. Tapi semua itu gak gue rasain. Gue malah nyaman disini. Dan seperti yang udah gue bilang sebelumnya, gue gak takut sama jembatannya, tetapi gue takut sama airnya." aku Letta.
"Dengan kata lain..." sambung Alex ketika Letta berhenti.
"Kemungkinan gue gak jatuh dari jembatan. Tapi dari tempat lain." bahu Letta menegang ketika mengatakannya. Cewek itu menarik nafas dalam berusaha menjernihkan pikirannya lagi dan perlahan bahunya mulai melunak kembali.
"Gue mikir kalau orang tua gue berusaha nutupin sesuatu. Kalau gue bertanya lebih tentang kronologinya, mereka kompak diam dan malah mengalihkan pembiacaraan, seakan-akan gak mau gue tahu semuanya." jelas Letta sudah kembali tenang. Ia menunduk, memperhatikan tangannya yang sedang saling memilin jari-jemarinya.
Entah apa yang membuat Letta bisa lancar menceritakan semuanya ke Alex, dan ia juga merasa sedikit senang karena ada yang mau mendengarkannya, membuat beban di pundaknya seakan terangkat. Sebelumnya ia tidak pernah membicarakan tentang keraguan tentang tepatnya dimana ia jatuh kepada siapapun, baru kali ini ia mengatakannya pada orang lain dan orang lain itu adalah Alex. Dan anehnya ia merasa lega.
"Mungkin mereka ngelakuin itu demi kebaikan lo." kata Alex berusaha menenangkan.
Letta tertawa miris. "Tapi seharusnya mereka bicarain yang sejujurnya ke gue biar gue gak bertanya-tanya terus. Gue sampe capek membuat spekulasi sendiri seperti apa kebenarannya. Gue selalu mikir apa yang sebenarnya waktu itu sedang gue lakuin, apakah gue sendirian ataukah ada orang lain, apa cuma gue yang yang jatuh, gue mikir seperti itu bertahun-tahun lamanya." desah Letta kecewa.
Alex mendengar nada putus asa dalam setiap perkataan Letta. Kalau ia jadi Letta mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama, bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya ia tidak akan kuat menahan semua rasa penasaran itu selama seperti Letta, Alex mungkin akan mencerca orang tuanya sampai mendapatkan jawaban yang ingin ia dapatkan. Kalau perlu, ia akan memberontak.
Alex memandang ke arah bawah, ke derasnya air yang mengalir di sungai. Ia membayangkan dengan ngeri seorang Letta kecil jatuh kesana dan pasti berusaha keras mencapai ke permukaan. Alex menjadi mual memikirkannya dan kepalanya tiba-tiba berdengung sakit.
Alex mendesis dan mundur selangkah. Matanya memperhatikan ke arah air sungai lagi, ia mengerjap, merasa mual lagi. Bayangan bagaimana Letta jatuh membuat tubuhnya tegang.
"Alex, lo baik-baik aja?" Letta berbalik menghadap Alex. Tangannya berusaha meraih Alex tapi cowok itu menghindar.
"Gue baik-baik aja. Lebih baik kita pulang sekarang." jawabnya kaku.
Tanpa menunggu respon Letta, Alex berbalik dan berjalan cepat keluar dari area jembatan. Setelah sampai di luar jembatan, ia bisa melihat punggung Alex yang berdiri memunggunginya tampak naik turun seakan cowok itu sedang mengambil nafas sebanyak mungkin.
Mungkin dia bosen sama cerita gue, batin Letta.
***
Letta heran kenapa Alex diam saja sejak keluar dari jembatan itu. Ia juga tidak akan banyak bertanya dulu, takut mendengar jawaban yang nantinya diberikan Alex akan membuatnya sakit hati.
Keduanya sampai di depan rumah Letta. Letta turun, ia akan masuk ke rumah sebelum Alex memanggil namanya dan membuat langkahnya terhenti. Ia menghadap Alex lagi dan bibir Alex terbuka seperti akan mengucapkan sesuatu.
"Sorry kalau udah buat lo gak nyaman dengan kelakuan gue barusan. Gue gak bermaksud, tapi percaya sama gue, tiba-tiba aja ngerasa kepala gue sakit. Mungkin karena efek kemarin gue sakit makanya kepala gue bisa pusing lagi." ujar Alex akhirnya membuat Letta tanpa sadar mendesah lega.
Akhirnya Letta dapat jawabannya tanpa harus bertanya dulu. Lalu ia mengibaskan tangannya ke depan, menjawab setenang mungkin supaya Alex tidak akan merasa tidak enakan.
"Kalem aja, Alex. Gue juga tadi udah ngerasa bosen disana, mau ngajak lo pulang tapi udah keduluan sama lo."
Tanpa bisa dicegah, Alex ikutan tersenyum. Hari ini, untuk pertama kalinya ia bisa berbicara dengan Letta dengan tenang seakan mereka sudah sangat dekat sampai Letta mau membiarakan masalahnya ke Alex.
"Kalau lo mau masuk sekarang, masuk aja." Alex mengarahkan dagunya ke arah pintu Letta.
"Kalau gitu gue duluan ya." ucap Letta.
Cewek itu membalikkan badannya. Saat mencapai pintu ia menoleh dan berkata. "Ngomong-ngomong, makasih buat hari ini karena lo udah mau dengerin gue."
Melihat Alex yang mengangguk, Letta membuka pintu rumahnya dan betapa kagetnya ia mendapati Sari berdiri di depannya. Tatapan Sari tampak tidak bersahabat.
Letta akan bertanya tapi Sari sudah melenggang pergi sambil berseru keras meneriakkan nama Alex. Si empu nama alias Alex menoleh dan matanya melebar ketika Sari sudah ada di depannya kemudian menjewer telinganya.
Ia meneriakkan telinganya yang sakit dan meminta Sari melepaskannya. Tapi Sari nampaknya tidak terpengaruh dengan permintaan memelas cucunya itu.
"Kamu tahu dimana letak kesalahan kamu, hah?" bentak Sari.
Alex meringis. Tangannya berusaha melepaskan tangan Sari yang menjewer telinganya.
"Nek, lepasin dulu.. Ini sakit banget." Alex berkata dengan memelas.
"Nenek nanya harusnya kamu jawab, kamu tahu gak kesalahan kamu dimana?" geram Sari.
Alex menggeleng sambil meringis lagi. "Suer gak tahu."
Hiburan yang menyenangkan, batin Letta yang sedang melihat.
Letta masih berdiri di depan pintu. Ia sudah menutup pintu rumahnya kembali dan berencana untuk tidak melewatkan acara yang berlangsung tak jauh di depan rumahnya ini. Ia akan melihat sejauh mana Sari akan menjewer Alex dan ia juga penasaran apa alasan nenek itu menjewer cucunya sendiri.
"Masih gak ngaku juga kamu ya!"
__ADS_1
"Aku beneran gak tahu maksud nenek ap-- aduhhh.. aduhh..!" Alex memekik kencang karena Sari melintir telinganya.
Letta yang melihat Alex meringis kesakitan merasa ngeri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Perih kah?
"Nek, lepasin.. Tolong banget..." pinta Alex.
"Nenek bakalan lepasin ini kalau kamu ngaku sama kesalahan kamu." kata Sari kasar.
Alex mengangguk kecil. "Iya, suer. Aku janji kok bakalan ngaku kalau aku salah, asal ini tangannya di telinga Alex lepasin dulu."
Letta bisa melihat setelahnya Sari melonggarkan jeweranya sebelum kemudian mendorong Alex menjauh.
"Sekarang ngaku kamu." bentak Sari.
Alex mengusap telinganya yang sakit. "Iya, Alex ngaku salah."
"Jangan cuma ngaku salah aja, emang kamu tahu kesalahan kamu dimana?" Sari berkecak pinggang.
Jawaban berupa gelengan dari Alex membuat Sari geram kembali. Tapi kali ini, Sari memilih berbalik membelakangi Alex dan berusaha meredam emosinya. Setelah beberapa saat, ia berhasil. Sari berbalik lagi dan matanya menatap sendu cucu keduanya itu.
"Kamu ngerokok, Alex." kata Sari akhirnya dengan lirih.
"Kamu tahu kan kalau kamu dilarang merokok sama orang tua kamu, kamu dipindah ke sini juga biar kelakuan kamu berubah. Nenek waktu lihat ada puntung rokok di kamar kamu rasanya sedih, nenek jadi berasa gagal, gak bisa jaga amanah papa kamu biar buat kamu berubah."
Hati Alex mencelos, jadi karena ini neneknya begitu marah padanya. Kalau Alex tahu Sari akan semarah ini, ia tidak merokok kemarin dan memilih membuang semua rokoknya saja. Apalagi melihat neneknya yang tampak putus asa membuatnya berasa jadi cucu paling durhaka saja.
Alex mengusap tengkuknya bingung. "Maaf, Nek."
"Jangan cuma minta maaf, pokoknya kamu harus janji, jangan sampai kamu pake benda beracun itu lagi."
"Iya, janji." jawab Alex mantap.
"Jangan diulangin ya."
"Iya."
Sari mendekati Alex lalu menepuk bahu cucunya itu. "Kamu harus rubah kebiasaan kamu ini. Kamu harus bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi, ini bukan hanya demi kamu tapi juga demi semua orang di sekitar kamu."
Alex mengangguk mengiyakan. Sari menepuk bahu Alex sekali lagi sebelum akhirnya ia berjalan pergi menuju rumahnya sendiri.
Letta yang masih berada di tempat melihat semua itu. Bagaimana ia melihat Sari marah, cemas, putus asa, dan perasaan sayang dalam satu waktu. Letta menaikkan pandangannya dan bersibobok dengan Alex yang juga mendapati dirinya masih di depan pintu.
Lalu tanpa aba-apa seakan keduanya satu pemikiran, keduanya tertawa bersama.
Alex menyisir rambutnya ke belakang. "Cukup memalukan setelah tahu ada yang nonton."
Lalu kedunya tertawa berbarengan kembali. Letta menunggu Alex akan berkata sesautu karena ia bisa melihat mulut cowok membuka.
"Selamat malam." kata Alex sebelum akhirnya pergi dari hadapan Letta sebelum Letta bisa menjawab.
Selamat malam juga. balas Letta dalam hati.
***
Setelah dua jam lamanya membuat neneknya luluh, akhirnya usaha Alex untuk berbaikan dengan neneknya berhasil. Pada awalnya Sari menolak membicarakan masalah ini dengannya tapi karena kegigihan Alex, Sari jadi mau.
Alex mengucapkan segala permintaan maafnya dan berjanji lagi untuk kedua kalinya kalau ia tidak akan menggunakan rokok kembali. Selain karena tidak mau neneknya kecewa padanya, Alex juga tidak mau kalau kabar ini sampai ke telinga papanya. Ia tahu kalau Sari pasti selalu memberikan info terkini mengenai dirinya ke papanya itu. Bisa tamat riwayat Alex kalau ketahuan ia merokok di rumah Sari. Bisa-bisa, Aji malah akan memperpanjang waktu Alex tinggal di desa, alih-alih berusaha mempercepatnya. Semua ini jelas berdampak buruk baginya.
Dan dari semua percakapan yang berlangsung tadi, ada satu perkataan Sari yang masih terngiang di pikiran Alex. Entah itu ada maksudnya atau tidak tapi Alex mendapati dirinya mencoba memikirkan kalau itu ada maksudnya, atau jangan-jangan Alex saja yang terlalu sensitif.
"Kamu beruntung banget selama ini gak ada orang yang diperbolehin buat marahin kamu, bahkan nenek sekalipun."
Hanya ucapan biasa sebenarnya. Tapi kalau Alex terapkan, ucapan Sari ini memang benar adanya. Sari pernah marah padanya, tapi tidak lama dan Sari akan segera memaafkannya. Lalu kedua orang tua Alex juga begitu. Baik Aji maupun Dinda hanya menasehatinya kalau ia berbuat salah. Kalaupun Aji marah, itupun hanya beberapa menit saja. Apalagi Dinda, hampir tidak pernah membentaknya. Palingan kalau Dinda kesal padanya, Dinda akan mendiamkannya. Itupun tak sampai sehari.
Seperti ketika masalah terakhir kemarin, Aji tidak menghukumnya dengan otot alias tonjokan, pukulan, ataupun tamparan. Aji menghukumnya dengan mengirim Alex ke desa. Padahal biasanya orang tua lain akan murka dan bisa saja melakukan sedikit kekerasan.
Alex terkesiap begitu menyadari kesamaan antara ucapan Sari dengan semua kenyataannya. Apa ini cuma kebetulan? Batin Alex.
Alex mengalihkan pikirannya ketika ponsel yang ia pegang berbunyi. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau perkataan Sari itu tidak mengandung apa-apa, menenangkan dirinya dengan berpikir : Hanya terlalu sensitif, persis seperti cewek.
Kemudian ia membuka pesan yang masuk.
Fabian : Hey brayy.
Alex : Whats up.
Fabian : Dih gaya lo pake bhs inggris.
Alex : Yodah. Ada apa?
Fabian : Lo lagi deket gak sama someone?
Alex : Gunakanlah bahasa indoensia yang tepat dan benar.
Fabian : Najis lu.
Alex : Gak ada kenapa?
Fabian : Beneran gak ada cewek yang deket sama lo?
__ADS_1
Alex lalu berpikir kembali. Hal pertama yang muncul di otaknya adalah... Letta. Pertanyaannya apakah ia dan Letta sudah bisa dikatakan dekat?
Alex : Mungkin ada.
Fabian : Nah.
Fabian : Siapa?
Alex : Seseorang.
Fabian : Namanya.
Alex : Kepo.
Fabian : Otw santet onlen.
Alex : Buat apa sih?
Fabian : Pengin tahu aja. Siapa cewek yg deket sama lo.
Alex : Namanya Letta
Fabian : Lengkap?
Alex : Lengkap kok. Gak ada cacat.
Fabian : Bgst. Nama lengkap.
Alex : Ooh.
Alex : Arletta Zachary.
Fabian : Cantik gak?
Alex : Gak. Jelek.
Alex : Lo gak bakalan suka.
Alex : Bukan tipe lo.
Alex : Cari aja yang lain.
Fabian : /Usap dada.
Fabian : Gobs.
Fabian : Gue nanya doang, bukan mau nikung.
Alex : Ngapain nanya2.
Fabian : Mau mastiin aja.
Alex : Mastiin apa?
Fabian : Ada deh.
Alex : Njs. Sok misterius lo skrng.
Fabian : Bhaks.
Fabian : Jadi lo suka sama si Eta itu.
Alex : Namanya Letta bukan Eta.
Fabian : Iya boss maapkeun.. Jadi lo suka sama tuh cewek?
Alex terdiam ketika membawa chat terakhir dari Fabian. Ia bertanya dalam hati apakah diirnya suka pada Letta? Dan jawabannya adalah tidak.
Atau belum.
Oh sialan, batinnya menimpali.
Alex : Enggak.
Fabian : Yg bener?
Alex : Iye.
Fabian : Syukurlah
Alex : Knpa?
Fabian : Kasihan kalau dia sampe disukai cowok kek lo.
Fabian : Yang lebih baik kan banyak.
Alex : Najis. Sok tahu lo.
Fabian : Gue emang tahu.
__ADS_1