Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 25


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk perjalanan dari sekolah sampai ke tempat renang, akhirnya rombongan SMA Prisma sampai ke tempat tujuan. Satu persatu anak-anak turun dari dalam bus termasuk Letta dan Alex.


"Letta, maafin gue tadi gak bisa bantu pas lo sakit." kata Mira begitu bertemu Letta setelah turun dari bus.


Mira memeluk Letta mengucapkan ucapan maafnya. Sungguh kalau ia bisa, ia akan membantu tapi ia tidak bisa. Apalagi dengan adanya Galih yang terus menerus mengomporinya untuk tidak mengganggu Alex dan Letta yang duduk bersama. Setiap kali Mira akan beranjak dan mau membantu Letta, Galih selalu menahannya dan mengatakan kalau Alex bisa melalukannya sendiri, dan juga dengan alasan lainnya yang membuat Mira kali itu setuju dengan omongan Galih.


"Iya gak apa-apa, gue juga udah sehat sekarang." ucap Letta melepaskan pelukannya dengan Mira.


"Tadi waktu gue ngasih kayu putih, muka lo kelihatan pucat banget tahu nggak. Gue jadi merasa bersalah gak bisa apa-apa."


Letta tertawa kecil, temannya yang satu ini memang kerap bersikap berlebihan. Padahal saat ini dirinya sudah sehat kembali. Ia jadi bersyukur punya teman seperti Mira.


"Gue kan udah bilang gak apa-apa. Lagian tadi gue malah ketiduran, jadinya gak ngerasa pusing ataupun mual lagi waktu di jalan." jelas Letta santai.


"Tumben lo bisa tidur, biasanya lo kalau naik bus susah tidurnya." Mira mengerutkan dahinya bingung.


Letta juga bingung mau jawab apa karena memang benar apa yang dikatakan Mira, ia termasuk susah tidur kalau sedang dalam perjalanan. Biasanya kalau ke kolam renang juga ia belum pernah tidur selama perjalanan. Tapi sekarang beda, dan yang membuatnya berbeda adalah obat dari Alex. Ahh iya, Letta jadi tahu akan menjawab apa.


"Tadi Alex ngasih gue antimo terus gue minum. Mungkin efek obatnya makanya gue ngantuk terus tidur deh." jawab Letta enteng.


Mira hanya mengangguk tanda mengerti. "Tapi selama lo sakit, dia gak nakal kan sama lo?"


Mira mengacungkan tangannya ke orang yang ia sebut dia, dia itu Alex. Alex berdiri cukup jauh dari mereka. Cowok itu sedang sibuk berkutat dengan hpnya. Entah apa yang sedang cowok itu lakukan, tadi begitu Alex turun ia langsung menjauh dan mulai sibuk sendiri dengan hpnya.


Letta yang melihat Alex menjauh hanya bersikap tak acuh, toh urusan Alex tidak ada sangkut pautnya sama dia.


"Enggak kok, dia malah banyak bantuin gue." Letta mengibaskan tangannya ke depan.


Kemudian Letta mendekat dan berbisik. "Lo tahu nggak kenapa dia gak pake seragamnya?"


Mira menggeleng. "Enggak, emangnya kenapa?"


"Karena gue muntah ke seragamnya." Letta terkikik geli mengingatnya.


"Apa?! Jadi dia gak pake seragam karena lo muntah ke seragamnya?!" Mira terpekik cukup keras membuat Letta berkeinginan membenturkan kepala temannya itu ke tiang.


"Iiishh jangan teriak juga kali." Letta memukul bahu Mira ringan.


"Sorry, reflek aja tadi." Mira mengacungkan dua jarinya ke atas.


Letta tidak menjawab, matanya melirik ke arah Alex berada. Rupanya cowok itu sudah selesai dengan kegiatannya dan sekarang sedang berjalan ke arahnya. Harusnya ia meminta maaf karena sudah muntah ke seragam cowok itu, harusnya ia berterima kasih pada Alex sudah mau membantunya dan seharusnya Letta berterima kasih karena selama ia tidur, Alex meminjamkan bahunya untuk Letta gunakan sebagai bantal.


Yang terakhir ini ini memang di luar kehendaknya dan ia bahkan tidak sadar sebelum akhirnya ia bangun dengan kepala yang terbaring ke bahunya Alex. Spontan saat bangun ia kaget sekali lalu segera menegakkan badannya dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.


Dan sekarang terkutuklah mata Letta karena tidak berhenti melihati Alex sampai tidak terasa cowok itu sudah berdiri menjulang di depannya.


Alex yang mendapati Letta bengong menyeringai, ia menunduk dan berbisik ke telinga Letta. "Gue tahu gue cakep, tapi gak perlu ngiler liatin guenya."


Letta tersentak sadar dan


segera mengelap pinggiran bibirnya yang ternyata tidak ada apa-apa. Tidak ada liur di sekitarannya seperti yang Alex katakan. Merasa dikerjai, Letta membalas Alex sengit.


"Jadi cowok tuh jangan kepedean. Siapa juga yang lihatin lo, gue lagi lihatin orang di belakang lo tahu nggak." Letta mengerucutkan bibirnya ke depan.


Alex menaikkan satu alisnya. Ia lalu bergeser sedikit ke samping dan memutar badannya ke belakang. Kali ini ia terkekeh.


"See? Gak ada siapa-siapa di belakang gue."


Letta meringis dalam hati, harusnya ia berpikir dahulu sebelum membalas Alex tadi dan bisa mendapatkan alasan yang masuk akal. Bukannya malah mengatakan hal yang bisa membuat Alex semakin mengoloknya.


"Tadi ada, tapi orangnya udah pergi." balas Letta yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Alex berbalik cepat, kembali menghadap Letta. "Siapa?"


Letta belum siap ketika Alex bertanya siapa orang yang ia lihati, jadi ia malah mengatakan hal yang lebih bodoh lagi.


"Ya-ya oranglah masa iya setan, mau gue kasih tahu namanya juga lo gak bakalan kenal, lo kan anak baru." jawab Letta sedikit tersendat.


Alex memutar bola matanya menanggapi Letta yang tidak mau mengalah dan jujur saja. Cewek emang ribet dan banyak alasan.


"Iya nih Ndra, gue disini dari tadi cuma jadi obat nyamuk."


Celetukan Mira yang cukup keras membuat kedua anak yang sedang sibuk sendiri itu menoleh. Lagi-lagi Letta meringis, karena Alex ia jadi lupa kalau tadi sedang bersama Mira. Dan sekarang di samping Mira sudah ada Indra yang Letta saja tidak tahu sejak kapan cowok itu datang.


"Kasihan bener lo, Ra. Kalau gue jadi lo gue tinggal pergi aja mereka berdua." Indra tertawa menimpali.


"Tapi mereka berdua kalau dilihat begini cocok." kata Mira disertai senyuman jahilnya.

__ADS_1


Mendengarnya, Letta ingin sekali melepas sepatunya dan membungkam mulut Mira saat itu juga. Cocok dari mana pikirnya. Kalau bertemu saja lebih sering berujung ribut.


Indra tidak menanggapi perkataan Mira karena dirinya sudah berjalan ke sisi sebelahnya Alex.


"Lo kenapa sekarang pake kaos? Bukannya tadi pas berangkat lo pake seragam?"


"Tanyain tuh sama temen lama lo." Alex mengarahkan dagunya ke Letta.


Indra memberikan pandangan bertanya pada Letta "Kenapa, Ta?"


Letta menggertakan giginya. Alex pasti sengaja seperti ini untuk membuat dirinya malu.


Dengan pelan Letta berkata, "Gue tadi mabok dan malah muntah ke seragamnya Alex. Makanya dia--"


"Jadi lo tadi sakit?!"


Ucapan Letta terhenti karena ia kaget Indra yang tiba-tiba saja sudah mendekat dan memegangi kedua bahunya. Sungguh, reaksi Indra ini tidak terduga. Mata Letta melebar kaget.


"Bu-bukan sakit. Tadi gue mabok aja kok." Letta mengerjapkan matanya.


"Lo udah minum obat?" tanya Indra khawatir.


"Udah, tadi Alex yang ngasih ke gue. Lagian sekarang gue udah baikan kok." Letta berucap canggung.


Ia mencoba melepaskan tangan Indra yang masih memegangi bahunya. Indra yang seakan baru sadar segera melepaskan tangannya.


"Maaf gue terlalu kaget tadi." Indra melepaskan tangannya dan mengangkatnya ke atas.


"Iya gak apa-apa."


"Alex, lo jangan cemburu ya." goda Mira, lalu ia menambahkan. "Lo tahu kan kalau Indra sama Letta udah sahabatan dari lama. Indra jadi udah mirip kayak abangnya Letta. Apalagi Letta itu hampir gak pernah mabok perjalanan lagi, jadi begitu ia mabok wajar aja kan seorang abang khawatir sama adeknya."


Alex mendengus. "Siapa juga yang cemburu, Ra, lagian tujuan lo jelasin itu semua ke gue juga buat apa, unfaedah banget sama gue. Gak penting tahu nggak."


Mira menggelengkan kepalanya kecil. "Iya deh, terserah lo aja."


***


Letta mengalihkan pandangannya dari kolam renang yang berada tidak jauh di depannya. Ia berusaha memfokuskan pandangannya ke lain tempat asal jangan ke kolam renang itu. Kemudian tatapannya tertuju pada beberapa cewek yang berada di luar kamar mandi sedang mengantri untuk berganti baju. Ada juga beberapa anak yang sedang merapihkan baju sebelum akhirnya berjalan menuju ke kolam renang. Semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Letta menghela nafas lelah. Disaat anak lain bisa senang-senang, ia malah hanya duduk-duduk santai dibangku dengan payung besar yang terbentang di atasnya.


"Lo gak ganti?"


Letta terperanjat ketika Alex tiba-tiba datang dan duduk tepat di sebelahnya. Dan demi apapun cowok itu sekarang tidak memakai atasan alias shirtless, Alex juga hanya memakai celana sampai lutut. Bukan pemandangan yang baru bagi Letta karena jelas semua anak cowok juga seperti itu, tapi entah kenapa melihat Alex seperti ada yang beda.


"Enggak." jawab Letta cuek.


"Kenapa?"


"Gak kenapa. Gak mau aja."


Ada jeda beberapa detik sebelum Alex bertanya lagi. "Mira dimana, tumben gak bareng."


Letta sebenarnya malas sekali menanggapi, lagian buat apa sih Alex tanya-tanya.


"Lagi ganti baju."


"Kok lo gak ikut?"


Letta menghela nafas kasar. "Urusan gue ikut atau enggak, gak ada sangkut pautnya sama lo."


"Lagi PMS?"


Letta menggeram kesal dengan Alex yang mendadak cerewet mirip cewek aja.


"Jawab dong, Ta."


"Kalau iya kenapa, cerewet banget sih." Letta mendumel kesal.


Kali ini Letta tidak akan salah dengar kalau Alex sedang tertawa. Iya tentunya menertawainya.


"Kenapa ketawa?" ketus Letta.


"Urusan gue ketawa atau enggak, bukan urusan lo." kata Alex seperti mengikuti ucapan Letta sebelumnya.


Letta menggeram kesal. "Lo tuh ya-"

__ADS_1


"Gue pergi dulu."


Sebelum Letta selesai berbicara, Alex sudah berdiri dan pergi meninggalkan Letta yang masih kesal. Letta semakin kesal ketika Alex malah berbalik dan mengedipkan satu matanya ke Letta. Ughh... Mau muntah lagi rasanya.


***


"Jadi bukan karena PMS?" Alex bertanya santai.


Ia dan Indra sudah berada di dalam air, sambil menunggu giliran mereka dipanggil untuk melakukan praktek.


"Terus kalau bukan karena PMS, kenapa? Pasti tuh cewek gak bisa berenang kan?" Alex terkekeh.


Indra mengangguk. "Setengahnya bener."


"Kalau setengahnya lagi kenapa?"


Indra menepuk bahu Alex. "Gue gak tahu info ini berarti buat lo atau enggak, tapi gue mau ngasih lo tahu sesuatu, sebagai temannya gue pengen lo tahu."


"Sesuatu apa?" tanya Alex tidak benar-benar ingin tahu. Matanya bahkan sedang fokus melihat ke arah cewek-cewek yang sedang melakukan praktek renang. Badan mereka terlihat meliuk liuk dan boleh dikatakan terlihat seksi.


"Lo dengerinnya yang bener dong." Indra menonjok lengan Alex.


Alex yang tidak siap pun terhuyung. "Kampret lo, emang info apa sih yang mau lo sampein ke gue."


"Ini tentang Letta. Gue rasa lo perlu tahu sesuatu tentang dia." kata Indra berubah serius.


"Sok misterius lo, udah cepet ngomong aja." jawab Alex malas.


Indra berdehem sebelum bersuara, mengatakan hal yang tidak orang lain tahu.


"Letta itu punya trauma."


Kalau tadi Alex malas, sekarang ia menjadi cukup tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Ia diam, memberikan waktu untuk Indra menyelesaikan apa yang akan diucapkan. Ia juga sudah tidak lagi memofokuskan pandangannya ke anak-anak cewek tadi, sekarang ia sudah fokus pada Indra.


"Dia punya trauma tapi gak banyak orang yang tahu, cuma orang terdekatnya aja yang tahu."


Ada jeda sebentar sebelum Indra melanjutkan.


"Dulu saat dia kecil, dia pernah kebawa arus sungai waktu dia main sama seorang temannya. Tapi beruntung, Letta cepat ditemukan dan bisa selamat padahal keadaannya dulu cukup memprihatinkan. Setelah bangun, Letta jadi trauma. Pernah waktu itu dia kelas sepuluh saat pertama kali praktek renang, Letta masuk nyelam ke air. Ia pikir kalau traumanya udah hilang, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Letta ketakutan dan berakhir pingsan. Sejak saat itu dia gak pernah diperbolehin renang lagi."


Alex tertegun akan penuturan Indra. Ia tidak menyangka seorang Letta punya kejadian di masa kecil yang cukup mengerikan. Bahkan sampai mengakibatkan anak itu trauma. Dan apa tadi, terseret arus sungai. Astaga, sebenarnya apa yang sedang Letta kecil lakukan saat itu. Alex jadi tidak habis pikir.


"Terus temannya Letta waktu main bareng di sungai gimana?"


"Dia baik-baik aja sampai sekarang."


"Kenapa lo tahu kalau temennya Letta sekarang baik-baik aja?"


Indra tersenyum penuh arti. "Karena gue kenal sama dia." ada jeda sesaat. "Ngomong-ngomong tangan lo itu kenapa?" tanya Indra yang melihat kalau di tangan Alex ada bekas lukanya.


"Ini? Kata nyokap gue dulu waktu kecil gue jatoh pas naik motor." Alex menunjuk bekas luka di tangannya. Bekas luka yang hampir tidak terlihat lagi, harus dilihat dari dekat agar kelihatan.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Gak apa-apa, cuma pengen tahu aja."


***


Alex tidak akan bohong kalau dirinya memang mengkhawatirkan Letta. Sejak Indra mengatakan mengenai trauma yang dimiliki Letta, Alex jadi tidak bisa mengalihkan pikirannya kepada hal lain.


Dan kemudian ketika namanya dipanggil untuk melakukan praktek renang, Alex mendekat ke bagian yang sudah ditentukan untuk memulai start.


"Arletta Zachary kosong, digantikan Binar Gunawan."


Sang guru pembimbing memang sudah tahu masalah Letta makanya ia bisa maklum kalau Letta tidak ikutan praktek, sebagai gantinya ia memberikan Letta soal-soal mengenai renang untuk dikerjakan.


Begitu peluit ditiup, empat anak yang namanya sudah disebutkan mulai berenang. Dari ujung kolam hingga ke ujung kolam lagi di depan sana.


Alex yang memang sudah mahir sampai duluan. Ia mengatur nafasnya begitu kepalanya keluar ke permukaan air dan mengedarkan pandangannya.


Matanya tiba-tiba melebar tatkala melihat Letta yang berdiri di samping guru pembimbing sedang memberikan selembar kertas yang Alex yakini itu soal yang dikasih untuk Letta.


Itu cewek mau cari mati apa?


Alex menggeram kesal. Harusnya Letta itu sadar kalau ia punya trauma dan tidak mendekat ke kolam. Alex pun berniat menghampiri Letta.


Ia naik ke atas, keluar dari air. Di saat yang bersamaan juga ia melihat Letta yang ragu-ragu berjalan karena di tempatnya berdiri sedang ramai oleh anak-anak yang lewat. Ia bisa melihat kecemasan yang kentara di wajah Letta. Cewek itu terlihat takut untuk melanngkahkan kakinya.

__ADS_1


Please, tetap diam disana, jangan bergerak, Ta.


Tapi harapan memang selalu berbanding dengan kenyataan.


__ADS_2