Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 14


__ADS_3

"Jadi gue kasih nasihat sedikit buat lo, Arletta Zachary. Jangan buat hidup lo jadi beban bagi orang lain. Ngerti?"


Jangan harapkan kalau Letta menampilkan raut wajah terluka atau tersakiti karena selanjutnya ia malah menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga karena ia tahu kalau ia sedang berada di komplek rumah warga jadi tidak baik rasanya kalau ia tertawa keras sekarang apalagi saat langit sudah menggelap.


Sedangkan Alex hanya menatap bingung ke arah Letta. Ia tidak habis pikir dengan bagaimana jalan pikiran cewek ajaib yang satu ini. Ia bahkan merasa kalau kata-katanya tadi sudah cukup kejam tapi kenapa cewek ini malah tidak sedih dan kenapa malah menahan tawa.


"Gini loh Al, gue juga mau ngasih nasehat ke lo. Gue yakin nasehat gue lebih bagus daripada nasehat lo tadi."


Alex menaikkan alisnya ke atas menatap Letta dengan pandangan bertanya.


Letta lalu berdehem sebelum berbicara. "Kalau mau ngasih nasehat ke orang lain itu ngaca dulu. Lo bilang kalau gue cuma jadi beban bagi orang lain, apa lo gak pernah lihat ke dalam diri lo sendiri. Lo yang tiba-tiba datang ke rumah nenek lo aja udah bisa dijadiin beban, belum lagi tadi pagi lo harus ke sekolah bareng gue. Lo pikir lo gak jadi beban bagi gue? Satu lagi, gue gak pernah minta sebelumnya supaya lo nyariin gue."


Alex hanya menatap datar Letta yang sedang mengoceh tidak jelas. "Udah selesai?"


"Belom, gue masih--"


"Jadi cewek gak usah kebanyakan bacot." sembur Alex sebelum Letta menyelesaikan ucapannya.


"Lo ngatain gue?!"


Alex hanya diam. Ia lalu mengambil alih sepeda yang berada di tangan Letta tanpa Letta ketahui dengan sadar karena ia tidak habis pikir dengan mulut Alex yang gamparable, beraninya bicara kasar sama cewek.


"Sekarang mending kita balik ke rumah. Udah malem, gue gak mau pacar gue nunggu kelamaan." ujar Alex dengan posisi siap untuk menjalankan sepedanya.


Kali ini ia tidak akan melawan gengsi untuk sekedar naik sepeda, apalagi suasananya sepi karena akan maghrib. Takutnya seperti yang diceritakan oleh warga setempat kalau ada kalong yang suka menculik orang.


"Lo punya pacar?" tanya Letta dengan wajah penuh tanda tanya.


Tidak habis pikir siapa cewek yang mau berpacaran dengan Alex. Pasti cewek itu sudah kebal dan tahan banting dengan sikap cowok ini yang suka sekali membuat naik darah.


"Iya, gak usah nanya dia siapa karena lo pasti gak kenal."


Jawaban Alex membuat mulut Letta membungkam. Ia tadi memang akan menanyakan siapa cewek itu, tapi sepertinya Alex bisa menebak jalan pikirannya jadi segera memotongnya sebelum mengatakan apapun.


"Kalau lo gak mau naik, gue tinggal disini sekarang biar lo dijadiin tumbal buat genderuwo, mau?" ancam Alex melihat tidak ada tanda-tanda Letta akan segera membonceng di belakang.


"Iya bentar. Sabar bisa kali." gerutu Letta.


Setelah Letta naik, Alex segera menjalankan sepedanya menyusuri jalanan desa. Akibat dari pencahayaan yang minim dan jalanan yang berlubang, beberapa kali Letta memekik kencang karena ia merasa badannya akan jatuh dari sepeda. Belum juga pantatnya yang berdenyut sakit karena menghantam bagian boncengan sepeda yang terbuat dari besi.


"Tambah tepos ini namanya." Letta meringis ketika Alex malah menabrak begitu saja polisi tidur membuat pantatnya terangkat sedikit ke atas dan menghantam lagi ke besi yang ia duduki.


"Lo pasti sengaja lewat jalan yang rusak terus polisi tidurnya ditabrak. Usil banget sih. Kalau gue jatoh terus mati gimana?!" Letta memukul keras punggung Alex membuat Alex sedikit kehilangan keseimbangannya, kalau saja ia tidak segera mengerem dan menurunkan kakinya ke tanah bisa dipastikan kedua anak itu terjerembab ke tanah dengan mulus.


Letta bersyukur karena Alex dengan sigap menghentikan sepedanya karena aksinya tadi yang bisa saja memperpendek umurnya saat itu juga.


"Jangan kamu ulangi hal kayak tadi."


Suara seorang wanita masuk ke telinga Letta. Ia mengerjapkan matanya dan baru paham kalau ia sudah sampai di depan rumah. Dan wanita itu adalah mamanya sendiri.


"Kamu sama Alex bisa celaka tahu." Wulan membantu Letta turun dari sepeda dan membawakan tas Letta.

__ADS_1


"Maaf, Ma."


"Kami semua khawatir sama kamu, Letta. Hanya kamu anak mama yang masih mama miliki disini. Jadi mama mohon jangan ngilang lagi ya, setidaknya kasih kabar biar mama tahu." Wulan memeluk Letta singkat.


"Tadi Letta gak ngilang kok, Ma, Letta cuma mampir ke jembatan dan liat matahari tenggelam di sana. Malah jadinya lupa buat balik. Sekarang lihat kan, Letta udah balik lagi."


Harris yang mendengarkan alasan Letta hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Ia memang sangat cemas menunggui Letta dan ia takut kalau sesuatu yang buruk erjadi pada putrinya itu. Tapi begitu mendengar alasan Letta tak ayal membuatnya tetap khawatir. Ia tahu kalau tempat itu menyimpan banyak sekali kenangan di dalamnya dan ia takut kalau Letta teringat akan masa lalunya lagi.


"Lain kali kalau mau ke situ ajak teman kamu Mira atau Alex. Jangan ke sana sendirian lagi ya." Harris mengusap puncak rambut Letta lalu meninggalkannya ke dalam rumah.


Alex yang merasa namanya disebut-sebut menoleh. Ia sedari tadi diam karena memikirkan bagaimana agar neneknya tidak tahu kalau di saku celananya ini ada sekotak rokok. Bisa-bisa kalau neneknya tahu bakalan di rampas dan parahnya mengadu ke papanya.


"Alex, makasih udah mau cari Letta."


"Iya tante sama-sama. Udah kewajiban saya jadi temen Letta." kresek mana kresek, rasanya Alex mau muntah sekarang juga. Titik.


Tak jauh dari Alex, Letta juga menampilkan raut wajah jijik ke arah Alex.


Sedetik kemudian Wulan menggiring Letta agar masuk ke dalam rumah. Alex melihat kedua ibu dan anak itu perlahan menjauh dan masuk ke dalam rumah.


"Sial, gue lupa beli permen karet buat ngilangin bau rokoknya." Alex mengacak rambutnya frustasi.


***


Alex masuk ke dalam rumahnya dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku agar Sari tidak curiga kotak apa yang berada dalam saku celananya.


"Kamu udah pulang? Kamu tadi ketemu sama Letta enggak? Kalau iya, di mana? Bagaimana keadaannya, dia gak apa-apa kan?"


Alex yang baru menginjakan kakinya di dalam terkaget mendengar pertanyaan beruntun dari Sari. Ia bahkan seperti artis yang ditanyai oleh pada wartawan.


Sari spontan menabok pantat Alex dengan keras membuat Alex terpekik antara kaget dan sakit. Dua kali ia ditabok oleh Sari setelah hari kemarin saat Sari memintanya sekolah bersama Letta. Dua kali dan sama-sama patut diacungi jempol. Alex curiga jangan-jangan tangan neneknya itu terbuat dari besi kawat baja jadi rasa pukulannya amat membuat nyeri.


"Nenek mah seneng banget nabok Alex. Nenek ngefans sama pantat Alex? Kalau iya ngomong aja dong, Nek. Gak usah pake acara TTM alias tabok-tabok manja." goda Alex dengan tangannya yang sudah ia keluarkan dari dalam saku dan digunakan untuk mencolek bahu Sari.


Sari malah tambah menatap Alex garang. "Kamu--"


Sebelum mendapat amukan si kanjeng ratu, Alex buru-buru lari masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


"Nenek gue lama-lama ganas ngalahin cabe-cabean Prisma. Untung gue gercep." Alex menggelengkan kepalanya.


Ia kemudian mengeluarkan sebungkus rokok yang tadi ia beli di warung lalu menaruhnya ke dalam lemari pakaian. Ia masukan ke dalam tumpukan lipatan bajunya yang berada di paling atas berharap kalau Sari tidak tahu.


Alex menghembuskan nafas lelah, ingin mandi karena badannya terasa lengket tapi terlalu malas sekedar untuk menuju kamar mandi. Jadi ia lebih memilih untuk merebahkan badannya ke atas kasur empuk yang sekarang malah menjadi favoritnya mengalahkan kasur mewah miliknya di kota sana.


"Jangan mandi, hemat air." gumam Alex berusaha menyemangati diri sendiri agar tidak mandi dengan alasan hemat air.


"Ya bener, gue gak harus mandi. Gue harus hemat air." sekali lagi ia bergumam lalu menutupkan matanya berusaha untuk membawa dirinya ke alam mimpi.


"Gak apa-apa sehari gak mandi. Badan lo tetep bau wangi kok, Al." Alex berujar pada dirinya sendiri.


Satu detik.

__ADS_1


Dua detik.


Tiga detik.


Empat detik.


Lima detik.


"Sial! Panas banget! Gue harus mandi sekarang juga." Alex bergerak cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.


***


"Lettaku sayang, kemana aja lo hari ini hmm? Emak lo nyariin terus, nanya ke gue sampai puluhan kali dengan pertanyaan yang sama. 'Kamu beneran gak sama Letta?' gitu mulu."


Letta terkekeh mendengar suara Mira di dalam telefon. Letta baru saja membuka handphonenya karena selama pulang sekolah mati kehabisan bensin--ralat, kehabisan baterai. Dan ia mendapati panggilan terbanyak malah dari Mira, bukan dari mama papanya.


"Maafin mama gue yang suka berlebihan." kata Letta sambil membuka jendela kamarnya, melihat langit malam di luar sana yang gelap tanpa ditemani bintang satupun.


"Gue sama sekali gak masalah sama hal itu. Gue cuma khawatir sama lo yang ngilang tanpa jejak."


"Lo sama ortu gue aneh banget tahu nggak, gue gak ngilang juga kali. Gue kan cuma main ke jembatan, itu pun cuma beberapa jam disana bahkan gak sampe tiga jam. Masa iya dikatain ngilang. Lagian yang penting sekarang gue udah di rumah."


"Lo ngapain ke jembatan lagi sih, jangan kesitu lagi dong, Ta. Lo kan udah pernah dikasih tahu jangan ke tempat itu lagi. Lo punya trauma sama air yang banyak. Nanti kalau trauma lo tiba-tiba kambuh gimana? Ini nih, yang gue sama ortu lo cemasin."


Detik itu juga Letta merasa terharu karena sahabatnya itu sangat perhatian padanya. Sungguh, tidak pernah ia menyesal telah mengenal Mira.


"Gue udah sembuh dan gak ada yang namanya trauma lagi. Gue bahkan sampai rumah dengan selamat tanpa luka sedikitpun."


"Syukur kalau begitu. Oh iya, besok lo masih bawa sepeda sendirian ke sekolah? Gimana kalau ikut gue aja, nanti gue mampir ke rumah lo."


Letta tertawa kecil sebelum menjawab. "Jadi lo mau kita cenglu gitu?" [cenglu\=bonceng telu\=naik kendaraan bertiga]


"Kalau lo mau kenapa enggak." jawab Mira mantap dari seberang sana.


"Makasih atas tawaran baik lo, tapi gue gak bisa. Gue sekarang berangkatnya gak bisa sendirian lagi." jawab Letta lesu.


Membayangkan hari pertamanya tadi dengan Alex saja sudah sangat kacau, bagaimana dengan hari-hari seterusnya. Sudah dipastikan, suatu saat nanti akan terjadi perang dunia ketiga.


"Sama siapa? Hami? Mentang-mentang lo dan dia udah baikan jadi dia minta buat berangkat bareng lagi gitu?" suara Mira terdengar sarkas di telinga Letta.


"Bukan, besok-besok lo juga pasti tahu siapa orangnya."


"Gue kirain Hami."


"Ngomong-ngomong soal Hami, kayaknya kali ini gue beneran mau move on dari dia."


"Capek gue denger lo ngomong kayak gitu. Bilangnya mau move on tapi besoknya malah kecantol lagi."


Letta mengerucutkan bibirnya ke depan beberapa senti. "Lo kan sering benget ndukung gue buat move on. Kok sekarang kedengarannya lo gak suka sih."


"Gini, gue selama ini minta lo move on bener-bener, Ta. Move on dari hati lo, jangan hanya dari otak aja. Kalau cuma otak lo yang di move on dari Hami, lalu bagaimana kabarnya hati lo yang masih nyangkut ke Hami."

__ADS_1


"Perintah diterima, Mira Teguh." jawab Letta dengan tawa kecilnya.


"Pokoknya lo dengerin gue. Move on itu harus dimulai dari hati, bukan dari otak."


__ADS_2