Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 43


__ADS_3

Setelah kejadian Letta dan Alex memergoki percakapannya Indra dan Mira, Letta belum melihat Mira lagi. Mira tiba-tiba menghilang dan tidak masuk ke kelas bahkan sampai bel pulang berbunyi setengah jam yang lalu. Hal ini tentu saja membuat Letta cemas dan khawatir akan kemana perginya temannya itu. Letta berdoa semoga tidak ada hal yang buruk terjadi pada temannya.


Letta berdiri dari kursinya dan hendak mengajak Alex untuk pulang ketika ia mendengar suara langkah kaki di koridor mulai mendekat. Suasana sekolah yang sudah sepi membuat langkah orang itu lebih jelas terdengar. Bisa Letta pastikan itu langkah anak cewek, karena dari suaranya tidak terdengar tegas.


"Menurut lo itu Mira atau bukan?" tanya Alex yang juga ikutan berdiri dan Letta menggeleng tidak tahu sebagai jawaban.


Namun, pertanyaan Alex terjawab beberapa detik kemudian karena orang itu masuk kelasnya mereka. Dan itu memang benar Mira. Mira terkesiap begitu mendapati Letta dan Alex masih berada di dalam kelas. Tidak jauh dengan Mira, Letta juga terkejut ketika mendapati mata Mira memerah dan sembab. Itu artinya Mira habis menangis.


"Mira, lo kenapa?" tanya Letta khawatir dan langsung menghampiri Mira yang justru terdiam di depan pintu.


Mira tampak bingung akan menjawab apa. Tapi lalu ia tersenyum ke Letta dan menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa. Emang gue kenapa?"


Kening Letta mengernyit. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan temannya ini. Namun Letta tidak akan memaksa Mira untuk jujur dulu, karena ia tahu ada baiknya ia memberikan Mira privasi sendiri. Mungkin besok-besok ia akan bertanya lagi.


"Tapi mata lo merah, lo habis nangis kan." tebak Letta yang lebih terdengar sebagai pernyataan, bukan pertanyaan.


Wajah Mira memucat tapi sedetik kemudian tiba-tiba tertawa dan Mira menggelengkan kepalanya geli. "Ya ampun, Ta. Mana mungkin gue nangis. Gue tadi cuma ketiduran di belakang sekolah."


"Di belakang sekolah?" Letta jadi semakin curiga dengan apa yang disembunyikan Mira. Karena ia tahu mana mungkin temannya ini bisa sampai tertidur di sekolah. Sejauh ia kenal dengan Mira, Mira tidak pernah sampai begitu.


Mira mengangguk cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Iya, setelah lo dengar percakapan gue sama Indra tadi dan lo pergi, Indra juga pergi. Lo tahu gue marah dan kecewa berat sama dia. Gue takut gak bisa tenang kalau ke kelas. Alhasil gue milih buat duduk di salah satu kursi yang gak kepake lagi di sana."


"Dan lo bisa sampe ketiduran?"


Lagi-lagi Mira mengangguk. "Hhmm... Gue juga gak kepikiran bisa sampe tidur di sana. Gue padahal niatnya cuma duduk-duduk sebentar sampai gue bisa tenang. Tapi lo tahu kan disana anginnya rada kencang, adem juga gitu. Yaudah, gue jatuh tetidur di sana."


Letta sebenarnya masih ragu apakah ceritanya Mira ini benar adanya. Tapi untuk kali ini ia memilih untuk percaya dulu. "Ehh... Tapi kalau gak salah waktu lo sama Indra, lo sempat nangis juga, kan?"


Mira tergagap. "I--- iya gue emang sempat nangis. Tapi seperti yang gue kasih tahu lo tadi, itu karena gue terlalu marah dan kecewa sama dia. Bisa-bisanya dia begitu sama lo dan Hami." ujar Mira, lalu ia menambahkan. "Tapi lo gak apa-apa?"


Letta memberikan pandangan seakan bertanya apa maksudnya. Kemudian Mira menjawab. "Indra kan udah jahat sama lo dengan misahin lo sama Hami." ada jeda sesaat. "Lo pasti sakit hati banget begitu tahu kalau semua ini hasil perbuatannya Indra."


"Gue emang sakit hati dan sama seperti lo, gue kecewa sama Indra. Tapi setelah gue pikir lagi, sekarang udah gak apa." kemudian Letta menoleh ke belakang ke arah Alex yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Mira pun mengikuti arah pandangan Letta. Begitu kembali, Letta berbisik kepadanya. "Lo tahu maksud gue."


Mira bengong sesaat, tapi tak lama kemudian ia tersenyum penuh arti. "Semoga kali ini berhasil." katanya juga sambil berbisik.


"Ngomong-ngomong, lo tidurnya lama juga." suara seseorang dari belakang Letta.


Letta menoleh sekali lagi ke belakang dan mendapati Alex tengah berjalan ke arahnya. Letta was-was, jangan-jangan Alex dengar pembicarannya dan Mira tadi makanya Alex beranjak dan mulai berjalan ke arahnya. Duhh... Letta jadi takut sendiri.


"Lo---" belum sempat Alex selesai, Letta sudah menyela.


"Mau pulang sekarang?" tanya Letta dengan cepat dan berharap Alex menjawab iya. Dan keinginannya pun terkabul. Setelah berpamitan dengan Mira, ia dan Alex mulai berjalan menjauh menuju ke tempat parkir tempat sepeda mereka berada.


Mira masih melihati kedua anak itu sampai mereka hilang dari pandangannya. Ia menarik nafas dalam-dalam menahan rasa sesak di dadanya lalu menunduk ke bawah. Ia kemudian memutuskan untuk mengambil tasnya dan akan pulang. Gerakan tangannya berhenti ketika sedang mengambil tas, pandangannya terarah ke bangku di pojok, tempat Letta dan Alex duduk. Kemudian lagi-lagi Mira menarik nafas dalam-dalam tapi kali ini ia menutup kedua matanya juga.

__ADS_1


Lo beruntung banget karena semua orang menyukai lo, termasuk orang yang gue suka.


***


"Lo laper gak?" tanya Alex dengan keras ke Letta.


Sayangnya Letta tadi sedang tidak fokus dan ia mengerjapkan matanya. Bingung tadi Alex bertanya apa karena ia tidak mendengarkan. "Lo nanya apa?" tanyanya balik tak kalah berteriak.


"Gue nanya lo laper apa enggak?" ulang Alex sekali lagi. Ia sempat menoleh ke belakang saat menanyakannya ke Letta.


"Ooh..." Dan Letta malah hanya ber-oh ria.


"Jadi lo laper apa enggak?" tanya Alex lagi dengan sabar.


Letta merutuki dirinya sendiri karena sampai belum menjawab."Gak terlalu sih, tapi kalau lo mau mampir makan, gue ikut."


Sebenarnya Letta itu masih memikirkan Mira. Ia masih bertanya-tanya apakah yang Mira katakan itu benar adanya karena ia punya firasat kalau Mira itu bohong. Dan kalau bohong, itu kenapa? Kenapa Mira juga menangis. Mungkin di depannya, Letta bisa pura-pura percaya kalau anak itu ketiduran, tapi Letta sudah kenal Mira lama dan tahu mata sembab dan merah itu bukan hasil dari ketiduran, tetapi menangis.


Dua menit kemudian Alex memberhentikan sepedanya di depan warung makan bertuliskan 'Soto Sokaraja'. Alex sering melewati warung ini ketika berangkat dan pulang sekolah, dan ia mendapati tempat ini selalu ramai. Karena itu, ia mengajak Letta untuk mampir beli makan dahulu karena tadi mereka tidak sempat membeli makanan ketika istirahat. Bagaimana bisa makan, orang kedunya berakhir membuntuti Mira sama Indra.


"Lo pernah makan di sini?" tanya Alex begitu ia dan Letta turun dari sepeda dan berjalan mendekati warung tersebut.


Dalam jalannya Letta menggeleng. "Belum. Dulu pernah mau mampir sama Hami tapi ngantrinya panjang banget alhasil gak jadi makan di sini. Gue sama dia akhirnya mutusin buat pergi dan makan di tempat lain."


Alex hampir saja menghentikan langkahnya begitu mendengar nama Hami disebut-sebut lagi. Rasanya tidak senang mendengar Letta selalu menyebut-nyebut nama cowok itu.


Alex berusaha keras untuk tidak terpengaruh dengan Letta yang menyebut-nyebut nama Hami. Lalu dengan sengaja --demi membuang rasa marahnya karena mendengar nama Hami disebut--, Alex meraih tangan Letta dan menautkannya dengan tangannya. Ia mendapati Letta terkesiap terkejut dan menoleh terkejut ke arahnya. Tapi Alex berpura-pura tidak tahu kalau Letta menoleh. Sekarang jantungnya sedang berdebar keras, dan berdoa agar Letta mau berpegangan dengannya. Tidak mau memberi ruang agar Letta menolak dan minta dilepas, Alex menarik Letta masuk ke dalam warung.


Alex membawa Letta mendekat ke ibu penjual soto sokaraja. "Bu, soto sokarajanya dua."


"Mau yang pake daging sapi atau ayam?"


"Ayam semuanya aja, Bu."


"Siap, Mas. Minumnya mau apa?" kata si ibu penjual soto dengan semangat.


"Lo mau apa?" tanya Alex ke Letta dan mendapati Letta sedang melihat ke arahnya dengan pipi memerah. Namun dengan segera, Letta menunduk.


Cantik.


"Apa aja, terserah, gue ikut." jawab Letta hampir seperti berbisik. Ya ampun... Dirinya bahkan tidak yakin bisa bicara dengan baik tanpa suaranya bergetar. Tangannya yang digenggam Alex terasa begitu pas.


Alex menarik sudut bibirnya ke atas melihat tingkah Letta yang tampak malu-malu. Bahkan tangan cewek itu mulai berkeringat di tangannya. Alex berpikir kalau Letta gerogi dan salah tingkah karenanya. Tapi hal itu justru membuat dirinya senang.


"Mas, minumnya mau apa?" tanya ibu penjual sekali lagi membuat Alex kembali ke kenyataan.

__ADS_1


"Teh manis aja, Bu, dua."


Lalu setelahnya, Alex menarik Letta kembali dan keduanya duduk di bangku yang kosong. Di samping mereka ada beberapa orang pekerja yang sedang menikmati makanan mereka.


"Lo bisa lepasin tangan gue." cicit Letta.


Dan Alex terkejut bukan main karena ternyata ia masih memegangi tangan Letta bahkan ketika keduanya sudah duduk bersisian di bangku. Alex pun melepaskan tangan Letta walau rasanya tidak ingin. "Maaf, udah nyaman soalnya."


Sedangkan Letta sendiri sudah tidak kuat menahan rasa senangnya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Untuk pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Biasanya ia hanya merasakan deg-degan kalau berdekatan dengan Alex ataupun dengan Hami ketika ia masih suka sama Hami, dan serangan ribuan kupu-kupu ini terasa sebagai sensasi yang baru.


Kalau saja Letta sedang di rumah, ia jelas akan menjerit-jerit kesenangan. Tapi ini tempat umum dan ia harus menahannya untuk tidak terlalu menunjukan kegilaannya itu.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan aroma soto sokaraja yang menggugah selera langsung menyeruak ke hidung. Soto itu masih panas, terbukti dengan kepulan asap yang masih muncul dari permukaan kuah sotonya. Ibu penjual itu meletakkan dua mangkuk di depan Letta, lalu dilanjut dengan teh manisnya.


"Ambilin sambalnya dong." pinta Alex ke Letta yang jaraknya dengan sambal kacangnya lebih dekat.


Letta mengambil wadah berisi sambal kacang itu dan menyodorkannya ke Alex. Saat itu juga tangannya bersinggungan dengan tangan Alex dan membuatnya langsung menarik tangannya lebih cepat. Rasanya ia akan bergetar kalau terus-terusan bersentuhan dengan tangan Alex lagi.


Kemudian kedua anak itu sibuk menghabiskan makanan mereka masing-masing. Di tengah makan, ibu penjual soto di warung itu tiba-tiba duduk di depan Letta. Wajah ibu itu tampak lelah tapi tetap memancarkan aura senangnya.


"Capek yah, Bu?" tanya Letta. Lalu ia menghentikan acara makannya sesaat.


Ibu penjual soto mengangguk dan akan menjawab tapi begitu melihat ke Letta, ibu itu malah tertawa sendiri.


Hal itu tentunya membuat Letta mengernyit heran. "Ada apa yah?" tanyanya kebingungan.


Ibu penjual soto itu lantas menunjuk ke mukanya Letta sambil terus tertawa. "Itu, kecambahnya masa sampe ada yang nempel di deket bibir."


Mata Letta kontan melotot mendegarnya. Astaga... Rasanya memalukan sekali. Letta tersenyum malu dan akan mengusap kecambah itu ketika Alex ternyata sudah mendahuluinya. Jemari cowok itu mengusap bagian sudut bibirnya menghilangkan kecambah yang menempel. Letta dengan cepat menoleh ke Alex dengan raut wajah terkejutnya.


"Maklumin dia, Bu. Makannya masih kayak anak kecil." canda Alex setelah menarik tangannya kembali.


Letta menelan ludahya dengan susah payah. Kenapa Alex terus-terusan membuat kontak fisik dengannya, atau mungkin hanya Letta saja yang bereaksi berlebihan. Letta kembali fokus ke ibu penjual ketika ibu penjual itu mengatakan sesuatu yang membuat perutnya mencelos.


"Aduhh... Romantis banget sih kalian berdua." seru ibu penjual dengan muka berbinar. "Ibu jadi keinget waktu masih muda dulu."


"Memangnya ibu waktu masih muda gimana?" tanya Alex dengan ramah.


"Dulu ibu juga seusia kalian dan ibu pacaran sama suami ibu. Kami berdua menghabiskan waktu lama buat pacaran, ada lima tahunan lebih. Di waktu itu kami sempat putus nyambung, apalagi kami sempat hubungan jarak jauh. Belum lagi keluarga ibu kurang menyetujui hubungan ibu sama suami dulu karena mereka selalu berpikir buat nyari pasangan yang satu desa. Padahal mah, kalau cinta gak bakalan mandang tempat. Ibu ini aslinya bukan orang sini, yang orang sini itu suami ibu. Ibu ini aslinya orang Sokaraja. Makanya pas disini, ibu jadi jualan soto sokaraja. Dan ibu seneng banget karena respon masyarakat ini luar biasa bagus." papar ibu penjual.


"Ehh... Aduh maaf. Ibu malah jadi cerita begini. Padahal biasanya ibu gak suka ngumbar cerita gini ke orang lain."


Letta tersenyum begitu mendengar cerita singkat ibu penjual ini dan ia tidak merasa ibu ini salah karena sudah cerita kepadanya. "Iya gak apa-apa. Semoga selalu laris manis ya warung sotonya, Bu."


Ibu penjual itu tersenyum cerah. "Aamiin. Semoga kalian juga langgeng hubungannya sampai tua nanti."

__ADS_1


Letta dan Alex hanya bisa tersenyum kikuk. Namun keduanya tidak ada yang berusaha untuk mengoreksi.


__ADS_2