
Gue juga udah gak sudi punya rasa lagi ke lo.
Wajah Alex berubah pias mendengar itu. Ia tidak pernah mengharapkan jawaban ini langsung dari Letta.
Puas lo, Lex. Bukannya ini yang lo mau. Batin Alex dengan sialan menanggapi.
Alex tertawa hambar sampai Letta melihatinya bingung. Ketika Alex akan bicara, dari arah berlawanan ada seorang guru yang sedang berjalan ke arah mereka.
Shit. Guru BK.
"Hey kalian disana! Siapa suruh pacaran di sekolah! Bukannya ikut pelajaran!" teriak guru itu dari seberang.
Letta menoleh ke belakang dan ia terburu-buru akan pergi ketika si guru BK itu berjalan cepat menuju arah mereka berdua. Sebelum Letta berjalan jauh, Alex sudah mencekal lengan Letta. Ia merasakan kesiapan terkejut dari cewek ini.
"Ikut gue." kata Alex lalu menarik Letta untuk berlari menjauh.
Baru lari beberapa meter, Letta sudah berhenti. "Bentar, sepatu gue." ucapnya ketika teringat sepatunya yang sebelah tertinggal di lantai koridor.
"Sialan!" umpat Alex. "Tunggu di sini." Alex melepaskan pegangannya.
Ia lalu berlari ke tempat semula dan mengambil sebelah sepatu Letta yang tadinya dilempar ke dadanya tergeletak di lantai. Dilihatnya si guru BK sudah tinggal sepuluh meter lagi dari tempatnya sekarang.
"Si abak bandel ke sini kamu!!"
Namun bukan Alex namanya kalau tidak bergerak cepat dan segera menyusul ke Letta dengan membawa sebelah sepatu Letta di tangannya.
"Ayo." ajak Alex lalu secara otomatis ia meraih tangan Letta dan menariknya untuk berlari menjauh kembali.
"Malah kabur! Awas kalian kalau ketemu, saya cabik-cabik kalian, huuh!" teriak si guru BK dengan lantang ketika tidak bisa berlari mengejar Letta dan Alex.
Letta terus berlari dengan mengikuti jejak Alex yang berlari di sampingnya. Rasanya menyenangkan tetapi juga menyakitkan secara bersamaan. Menyenangkan karena Alex menggenggam tangannya membuat debaran di jantungnya menjadi tidak karuan, tetapi menyakitkan sekaligus karena Alex baru saja menginjak-nginjak perasaannya beberapa menit yang lalu.
"Masuk ke sini." kata Alex sambil berbelok ke ruangan. Letta pun mengikutinya. Setelah masuk, Alex pun menutup pintu rapat-rapat.
Letta melihat ke sekeliling dan mendapati kalau mereka berdua berada di UKS. Lagi-lagi di UKS. Letta jadi berpikir kalau tempat ini memiliki banyak kenangan antara ia dan Alex. Dan anehnya tiap kali mereka datang masuk ke UKS tidak ada orang. Entah kemana para petugas PMR yang seharusnya berjaga.
Letta merasakan jempol Alex yang mengelus tangannya sesaat. Tetapi sedetik kemudian jantungnya mencelos ketika Alex menyentakan tangannya dengan kasar.
"Nih sepatu lo." Alex mengarahkan sepatunya ke Letta dan ketika Letta akan menerimanya, sepatu itu meluncur jatuh ke lantai.
Sepatu itu persis seperti hati lo, Ta. Batin Alex.
Dengan setengah hati, Letta berjongkok mengambil sepatunya, menahan rasa sakit karena penghinaan terang-terangan ini, ia memasukan sebelah kakinya ke dalam sepatunya.
"Gue---"
Sebelum Alex sempat mengeluarkan suara, Letta berdiri dengan cepat dan segera menyela dengan marah. "Gue gak tahu apa salah gue sampai lo sejahat ini sama gue." Letta menghentikan ucapannya lalu mengerjapkan matanya dahulu.
"Selama ini lo manis-manisin gue, lo buat gue jatuh suka sama lo. Lo--- lo bahkan sempat nyium tangan gue sewaktu di pensi padahal kita berdua tahu bagian itu gak pernah ada di naskah. Lo buat gue berkhayal dan berpikir kalau lo ada rasa ke gue. Tapi sekarang lo hina gue habis-habisan seakan gue gak punya hati!"
Alex tampak terkejut dengan serangannya yang tiba-tiba. Namun Letta tidak akan memberi ruang untuk Alex membela diri karena ia sudah mendahuluinya lagi. "Lo manusia, gue juga manusia. Lo punya hati dan gue punya hati. Tapi bedanya gue pake hati gue dan lo enggak!"
"Tadi gue gak sengaja." kata Alex.
"Gak usah bela diri. Lo hina gue ini itu, lo pikir lo siapa!" sekarang giliran Letta yang membalikkan perkataan Alex sebelumnya.
__ADS_1
"Tadi beneran emang gak sengaja." tegas Alex.
"Gue gak percaya sama lo!"
"Gue ngomong jujur dan lo gak percaya."
"Iya, kenapa? Lo pikir gue bisa percaya lagi sama perkataan lo hah?"
"Ooh oke, dan apa lo pikir gue percaya juga sama lo? Lo pikir gue sepercaya itu sama pernyataan suka lo ke gue?" desis Alex.
Letta mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Lo gak percaya?"
"Apa gue harus percaya ketika gue tahu apa yang lo perbuat sama Hami?" setelah mengucapkan itu Letta bisa melihat sorot mata kesakitan dalam mata Alex.
"Maksud lo apaan sih? Kenapa jadi bawa-bawa Hami? Dan maksud lo perbuatan itu apa?" tanya Letta bingung.
Kali ini Alex mengeraskan rahangnya ketika mengatakan. "Lo pikir gue gak tahu kalau lo sama dia sudah berciuman bahkan gak sampai sejam setelah gue nyium tangan lo di pensi."
Mendengar pengakuan Alex yang seratus persen salah membuat mulut Letta membuka karena saking kagetnya. "Berciuman? Lo pikir gue bakal lakuin hal itu sama cowok yang bahkan udah punya pacar?"
"Kenapa enggak? Lo kan suka sama dia." sinis Alex dengan senyum mengejeknya.
"Kalau lo berpikir gue ngelakuin itu sama Hami, lo salah besar karena gue gak pernah melakukan apapun yang ada di pikiran lo sekarang. Dan soal rasa suka gue, gue emang suka sama dia. Tapi itu dulu dan dia udah jadi masa lalu gue. Gue udah ikhlasin dia buat orang lain."
"Gue tetap gak percaya karena gue lihat dengan mata kepala gue sendiri waktu dia---sialan--- dia nyium lo!"
"Kalau lo lihat dengan mata kepala lo sendiri harusnya lo tahu kalau itu gak benar. Sekarang gue nanya, apa lo liat waktu bibir dia nempel ke gue?"
"Sialan Letta!"
"Gue nanya jawab!" desak Letta.
"Gue gak minta lo buat bayangin, gue minta lo buat jawab pertanyaan gue!"
"Oke, gue gak liat tapi gue tahu apa yang lo berdua lakuin."
"See? Lo cuma berkesimpulan sendiri. Lo gak tahu apa-apa tapi lo ngambil kesimpulan kalau gue sama Hami lagi ciuman. Padahal aslinya gak begitu."
"Gak begitu gimana? Udah jelas dia di depan lo lagi nunduk ke muka lo. Sialan!"
"Dia cuma benerin anting yang kesangkut ke baju gue, salah? Lagian kalau lo lebih jeli lagi, di sana gue gak berdua doang, ada anak lain di ruangan itu. Dan harusnya lo lebih tahu kalau gue gak bakalan seperti itu."
Hening.
Penjelasan Letta membuat beban yang ada di punggung Alex terangkat lepas. Sekarang ia tahu kalau Hami tidak berciuman dengan Letta. Dan fakta itu membuatnya senang bukan main. Namun, hampir saja Alex lupa akan peran yang harus ia jalankan hari ini. Alex tau dirinya akan semakin kejam kalau meneruskan peran antagonisnya sekarang, tapi kalau tidak ia lanjutkan, takutnya nanti Alex akan luluh ke Letta.
"Baguslah kalau gitu. Jadi lo gak terlihat terlalu murahan."
Entah ini telinganya yang bermasalah atau memang ia tidak salah dengar. "Maaf, apa lo bilang?"
"Murahan."
"Lo ngatain gue murahan? Setelah apa yang gue kasih tahu ke lo, lo--- lo anggap gue murahan?" Letta hampir saja menjatuhkan rahangnya ke bawah begitu mendengar penuturan Alex.
"Iya. Lo deket sama gue dan ngaku suka sama gue tapi lo masih aja ganjen sama Hami. Padahal lo tahu dia pacar orang lain." Dan Alex, lo tahu kalau semua ini bohong dan cuma akal-akalan lo aja biar Letta semakin benci lo. Batin Alex melanjutkan.
__ADS_1
Letta tertawa sumbang. Matanya mengerjap melihat ke arah lain. "Lo itu sedang dalam misi apa sih? Seharian ini lo hobi banget hina gue."
Alex mengepalkan tangannya ketika mengatakan. "Gue gak dalam misi apa-apa. Gue cuma sekarang sadar kalau gue udah melewatkan banyak hal-hal menarik buat sesuatu yang tidak menarik bagi gue."
Letta menoleh dan ia jadi yakin kalau bagian sesuatu yang tidak menarik adalah dirinya. "Maksud lo itu gue?"
Alex mengangkat bahunya. "Salah satunya."
Walau sudah mengantisipasi, tetap saja Letta merasakan serbuan rasa sakit ketika mendengar jawaban Alex. "Sekarang gue mau nanya, dan lo harus jawab jujur. Apa pernah terlintas nama gue di hati lo?"
Ada jeda beberapa detik sebelum Alex menjawab. "Gak."
"Jadi di sini cuma gue yang ngerasa berbeda." bisik Letta.
"Lo aja yang gampang baper." kata Alex lalu menyilangkan kedua tangannya di depan. "Mungkin selama ini lo salah tangkap semua sikap baik gue ke lo. Kalau lo belum tahu, sekarang gue bakalan ngasih tahu lo sesuatu. Bokap gue janjiin ke gue, kalau gue mau cepat-cepat balik ke tempat asal gue, gue harus jaga sikap selama di desa. Dan gue berhasil ngelakuin apa yang bokap gue perintahin. Sekarang karena itu, gue bakalan balik lagi ke kota. Seperti yang selama ini gue inginkan."
Letta menahan diri untuk tidak menangis di depan Alex. Ia menguatkan dirinya sendiri lalu bertanya lagi. "Jadi selama ini sikap baik lo ke gue cuma pura-pura biar lo cepat balik ke kota gitu? Dengan kata lain lo jadiin gue--- alat."
Alex mengendikkan bahunya. "Mungkin."
Perasaan sedih Letta terganti dengan amarah yang tinggi begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Alex.
"Gue gak pernah nyangka pernah suka sama cowok yang gak punya hati kayak lo." kata Letta tajam.
Alex berdecak. "Itu salah lo sendiri."
Letta semakin marah karena bisa-bisanya Alex menyalahkannya. Dada Letta naik turun menahan diri untuk meledak. "Tapi coba aja kalau lo gak baik ke gue, kalau aja lo gak masuk ke kehidupan gue, gue mungkin gak bakalan jatuh suka sama lo. Jadi semua ini salah lo juga!"
"Sekali lagi gue bilang, itu cuma sikap baik gue biar gue cepat balik ke kota. Dan lo yang gampang baper sama sikap gue."
"Gue nyesal pernah suka sama lo." Letta menabrak Alex. Ia berniat akan pergi keluar tapi Alex menahan tangannya.
"Lepasin gue!" Letta mencoba menarik tangannya tapi cekalan Alex malah semakin erat. Letta tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Alex karena wajah cowok itu datar-datar saja.
"Lepasin gue! Gue mau keluar." bentak Letta.
"Gue nyesal pernah suka sama lo! Gue benci sama lo!" Letta menarik tangannya kembali. Hampir terlepas tapi ternyata Alex malah mengambil kedua tangannya dan cowok itu menariknya mendekat sehingga badannya menabrak dada Alex.
"Kita lihat apa setelah ini lo tetap benci sama gue."
Letta tidak sempat berpikir apa maksud perkataan Alex karena cowok itu sudah menunduk dan bibir Alex mengecup singkat bibirnya. Detik itu juga butiran air mata mulai turun dari matanya mengalir melewati pipinya. Selama Alex mengatai dan menghinanya, Letta berhasil tidak menangis. Tapi ini sudah kelewat batas.
Letta juga tidak bisa berpikir ketika tangannya tiba-tiba melayang dan sedetik kemudian telapaknya berdenyut panas. Ia menampar Alex.
"Brengsek!" pekik Letta. Nafasnya tersengal-sengal dengan pipinya yang sudah basah karena air matanya yang terus berlinganan turun. Ia mendorong Alex menjauh.
"Gue benci sama lo! Mulai sekarang gue bakalan lupain lo dan anggap kita gak pernah kenal!" ucap Letta lalu keluar dadi ruang UKS dengan membanting pintunya keras-keras.
Sepeninggalan Letta, Alex baru sadar akan apa yang sudah ia lakukan. Rasa perih di pipinya sudah menjelaskan semuanya kalau ini bukan mimpi.
Astaga Alex, apa yang sudah lo lakukan.
Alex *** rambutnya frustasi. Sungguh tadi ia tidak terpikirkan sama sekali untuk melakukan itu. Itu hanya reflek dan tidak pernah masuk dalam rencananya. Karena sudah kejadian, ia yakin Letta sudah benar-benar membencinya atau mungkin sangat sangat membencinya. Letta bahkan akan melupakannya.
Tapi bukankah itu yang lo mau, Lex? Buat Letta sebenci mungkkin biar lo gampang ninggalin dia. Jadi kenapa ketika dia sudah benci sama lo, lo malah gila sendiri?
__ADS_1
Sialan! Rasanya Alex ingin menghajar seseorang. Mungkin mencari orang lain untuk dijadikan pelampiasan tidak masalah, bukan?
***