Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 10


__ADS_3

Dimana-mana yang namanya titah dari Nyonya Besar Nan Agung memang tidak bisa ditolak. Semua keinginannya harus selalu dituruti tanpa terkecuali. Seperti sekarang, Alex yang sudah siap untuk bersekolah di sekolah barunya, SMA Prisma.


Tadi pagi-pagi sekali ia dibangunkan oleh Sari. Alex yang nyatanya susah bangun pagi, harus Sari tarik dulu bantalnya dari kepala Alex. Masa bodoh kalau Alex akan merasakan pusing karena kaget dan terlonjak, yang penting Alex bangun. Kalau dengan cara yang halus tidak mempan, kenapa gak pake cara kasar saja.


Alex saat itu sudah akan marah ke orang yang dengan sengaja mengganggu acara tidurnya, tapi begitu melihat bahwa orang itu adalah neneknya sendiri jadi ia mengurungkan niatnya itu. Bisa-bisa ia dijebloskan ke neraka detik itu juga.


Selanjutnya bisa ditebak sendiri, dan di sinilah ia berakhir sekarang. Berada di halaman samping rumah dengan Letta tentunya. Tak jauh dari yang Alex rasakan sekarang, Letta juga sebenarnya merasa sangat dongkol karena mulai hari ini ia akan lebih sering bersama Alex.


Bertemu beberapa kali saja selalu berujung pada pertengkaran apalagi harus berangkat dan pulang sekolah bersama setiap hari. Ditambah dengan Alex yang bakalan satu sekolah dengannya, benar-benar membuat Letta ingin memuntahkan sarapannya saat itu juga.


"Nah ini dia!" seru Sari sangat senang seakan baru saja mendapatkan hadiah lotre satu miliyar.


Alex dan Letta mau tak mau melihat ada apa.


"Alex, sini, bantu nenek pegang sepedanya." perintah Sari pada Alex.


Alex pun menurut, ia mendekat lalu mengambil alih sepeda yang baru saja Sari keluarkan dari gudang di belakang rumah.


"Beres, sekarang kalian berdua sudah bisa berangkat. Pasti bakalan enak banget dilihatnya nanti." kata Sari dengan matanya berbinar menatap ke Alex dan Letta bergantian.


Alex menelan ludahnya kasar. "Maksudnya?"


"Kamu masih aja pura-pura gak paham. Kamu sekarang pergi sekolahnya sama Letta naik sepeda, boncengan, berdua." papar Sari.


Seketika itu Alex langsung mengernyit jijik. Hey, tidak mungkin bukan kalau Alex yang biasa naik motor atau mobil dengan harganya selangit tiba-tiba naik sepeda ke sekolah? Bisa jatuh harga dirinya. Dulu ia yang biasa mengatai anak cupu yang naik sepeda ke sekolah, sekarang malah berbalik ke dirinya.


What the f---


Melihat raut wajah Alex, Sari langsung berkecak pinggang. "Kenapa? Gak suka? Gak selevel sama yang biasanya kamu pake?" tanyanya galak.


Ia bisa tahu kalau Alex memang kurang suka dengan idenya, tapi tak ia pikirkan. Yang penting tujuannya ia bisa merubah Alex, ia hanya ingin cucunya itu tidak terikat dengan barang mewah saja, ia ingin Alex yang sederhana.


Rupanya Alex masih punya hati nurani karena ia langsung merasa tidak enak.


"Bukan begitu, tapi kan Alex gak biasa naik sepeda ke sekolah. Apalagi ini hari pertama, harusnya tuh memberi kesan baik ke sekolah. Tapi kalau naik sepeda--"


"Langsung ke intinya. Bilang aja kamu malu ke sekolah pakai sepeda nenek, begitu kan?"


Iya! Iya! Iya!!!!


Namun Alex jelas tidak mungkin berteriak di depan Sari kalau perkataannya itu benar, bukan. Dan melihat tatapan Sari yang galan tapi tersirat kecewa tadi membuat Alex tak tega. Mau bagaimana tidak sukanya dengan perlakuan neneknya ini tapi ia tetaplah searang cucu yang akan menuruti semua ucapan neneknya. Ia masih menjunjung tinggi rasa hormat pada orang tua.


"Enggak kok. Yaudah, Alex berangkat dulu, Nek." Alex lalu mulai menuntun sepedanya keluar dari halaman diikuti oleh Letta dibelakangnya.


Sari? Ia menahan tawanya melihay Alex yang tidak bisa berkutik di depannya. Sangat mirip dengan Aji waktu seumuran Alex. Aji yang dulu tidak pernah bisa membantah ucapan ayahnya padahal Aji itu anaknya sangat bandel di sekolah. Sungguh, anak dan ayah mirip tanpa cela.


***


"Ini, lo yang bawa." Alex mengarahkan sepedanya ke Letta yang sejak keluar rumah diam seribu bahasa. Bahkan untuk menatap Alex saja Letta tidak mau.


Letta memang dalam mood yang benar-benar kesal. Ia memang menyayangi Sari layaknya neneknya sendiri tapi ia juga tidak mau diperintah seperti ini. Apalagi mama papanya tadi pagi juga mendukung ide Sari agar ia berangkat dengan Alex menggunakan sepeda.


Kalau ia berangkat sendirian sih tidak masalah, tapi dengan Alex? Letta tidak yakin keduanya akan sampai sekolah dengan baik-baik. Terbukti sekarang Alex saja sudah mulai mengibarkan bendera perang.


"Kenapa harus gue? Lo kan cowok, harusnya lo yang bawa." Akhirnya Letta mengeluarkan suaranya yang terdengar ketus.


"Gue gak mau. Jadi lo aja yang bawa." perintah Alex sekali lagi agar Letta mau membawa sepeda itu.


"Udah gue bilang gue gak mau!" pekik Letta.


Masa iya Letta harus yang bawa sepeda dan Alex yang membonceng di belakang. Mana kuat!

__ADS_1


Anak kecil aja tahu kalau badan Alex sebesar apa, bahkan tinggi Letta hanya mencapai bahu Alex. Dan sekarang Alex meminta dirinya yang bawa sepeda, emang dia mau kalau nanti di jalan tiba-tiba sepedanya berat di belakang dan terjungkal, begitukah maunya?


Dan mendapati tatapan Alex yang datar, membuat Letta semakin kesal. Lihat kan, baru hari pertama saja keduanya sudah berdebat apalagi kalau setiap hari.


"Ini udah siang, gue gak mau telat. Jadi mending lo gak usah kebanyakan acara. Sekarang lo yang bawa sepedanya dan gue yang naik di belakang." kata Letta berusaha setenang mungkin meyakinkan Alex kalau idenya itu lebih baik.


"Gue gak minat sama sekali buat boncengin lo."


"Iya lo gak minat karena lo maunya gue yang boncengin lo!" pekik Letta sekali lagi dengan nafas sudah tak teratur.


Astaga, baru beberapa menit bersama Alex saja sudah membuat amarahnya meledak-ledak. Ia mengibaskan tangannya di depan muka berusaha membuang panas di wajahnya karena marah walalupun itu sia-sia.


"Emang gue bilang kalau gue maunya diboncengin lo?"


Eh?


Letta menghentikan gerakan tangannya dan menoleh. Ia mengernyitkan keningnya. Bukannya sudah jelas kalau tadi Alex meminta ia yang bawa sepeda, masih juga mengelak.


"Tadi kan lo maunya gue yang bawa." sungut Letta kesal. Amarahnya sudah hampir mencapai ubun-ubun, berbeda dengan Alex yang terlihat sangat santai.


"Gue tadi emang mau lo yang bawa tapi bukan berarti gue mau naik di belakang dan lo yang bawa sepedanya. Gue itu maunya lo-bawa-sepeda-dan-gue-jalan-kaki."


Deg


Jadi Letta yang salah? Astaga, memikirkannya saja membuat pipinya memerah menahan malu. Tapi ia tidak akan membiarkan sedetik saja Alex tahu kalau ia malu setengah matk.


"Tapi buat apa jalan kaki, kan nenek lo udah nyuruh lo buat bawa sepeda." ujar Letta dengan mengedarkan pandangannya ke arah lain.


Ia sedang mengutuk dirinya sendiri karena tadi terlalu percaya diri mengungkapkan spekulasinya kalau Alex meminta ia yang bawa sepeda dan Alex membonceng di belakang. Bersyukurlah karena Alex tidak mengolok dirinya tadi.


"Bisa turun derajat gue kalau naik sepeda. Gue gak pernah naik sepeda ke sekolah sebelumnya, gak level rasanya kalau setiap hari gue naik motor atau mobil ke sekolah tiba-tiba naik sepeda." kekeh Alex dengan gaya soknya.


Letta melongo mendegarnya. Baginya Alex patut diacungi penghargaan dengan cowok tak berperasaan nomor satu. Bahkan ia masih ingat tadi bagaimana Alex yang menurut kepada Sari. Tapi sekarang di depannya Alex sudah menunjukan sifat aslinya, iblis.


"Heh?! Jadi cowok tuh gak usah kebanyakan gaya bisa gak sih?!" seru Letta. Tangannya sudah gatal sekali ingin mencakar wajah Alex. "Ini tuh udah siang, kita bisa telat nanti kalau gak pergi sekarang juga."


"Yaudah nih lo yang bawa." lagi-lagi Alex mengarahkan sepeda itu ke Letta.


Bedanya kalau tadi Letta tidak mau, sekarang dengan senang hati ia mengambil alih sepeda itu dari tangan Alex. Masa bodoh kalau Alex telat yang penting jangan sampai Letta terlambat.


"Silahkan lo jalan kaki sampai sekolah, sekalian aja sampe kaki lo patah." ujar Letta sinis. Sedetik kemudian ia mengayuhkan sepedanya menjauh dari cowok gila bernama Alex.


Alex sendiri membuka ponselnya dan memang waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Yang artinya lima belas menit lagi bel masuk. Berbeda sekali dengan sekolahnya di kota yang jam setengah delapan baru masuk.


Dengan kaki yang terus berjalan, ia mengambil earphone dari dalam saku celananya kemudian memasangnya di telinga. Mengalunlah lagu-lagu Avenged Sevenfold kesukannya.


"... I'll never feel alone again with you by my side.


You're the one, and in you I confide.


...And we have gone through good and bad times.


But your unconditional love was always on my mind...


...I give my heart to you, I give my heart.


Cause nothing can compare in this world to you..."


Begitulah sekiranya potongan-potongan lirikĀ  lagu Warmness On The Soul milik band dengan sebutan A7X mengalun dengan indah di telinga Alex. Ia bahkan ikut bernyanyi dalam hati.


Selama di jalan, ia bisa melihat tatapan kagum dari beberapa anak perempuan yang kebetulan berpapasan dengannya atau yang sekedar melihat dari depan rumah. Wajah Alex yang jauh dari kata anak desa tentu mengundang banyak perhatian orang sekitar. Tak jarang yang berbisik-bisik siapa dirinya sebenarnya.

__ADS_1


Dan Alex hampir saja tertawa keras ketika ia mendapati banyak tebakan lucu mengenai dirinya, mulai dari artis, anak artis, anak pejabat sampai anak presiden disebutkan. Bahkan ada yang mengatakan kalau ia aslinya orang luar negeri yang sedang berkunjung ke desa mereka. Hei, Alex 100% Indonesia asli.


Tapi tak sedikit juga yang tahu dirinya, putranya Aji, cucunya Sari.


***


Letta mengayuh sepedanya dengan cepat, perasaan kesal yang melingkupi hatinya membuat tenaganya jadi bertambah dua kali lipat. Terbukti tak sampai lima belas menit ia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Beruntung ia sampai sekolah tepat ketika guru piket akan datang ke gerbang .


"Akhirnya gue gak telat. Coba aja tadi gue bareng Alex gue yakin bakalan telat sampe sekolah." ujar Letta dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


Tiba-tiba tubuhnya menegang mengingat kalau ia sudah melupakan satu fakta besar. Matanya melotot dan tanpa babibu ia segera membalikkan sepedanya, sedetik kemudian Letta sudah mengayuh sepedanya lagi menjauhi sekolah. Guru piket yang melihat Letta dari jauh pun hanya mengernyitkan dahi melihat Letta yang mengayuh sepeda seperti orang kesetanan.


Dengan peluh yang menetes banyak dan kaki yang sudah sangat pegal, Letta tetap memaksakan kakinya terus mengayuh sepeda itu hingga tujuannya tercapai.


"Hoshh hoshh... Akhirnya ketemu juga." ujar Letta dengan nafas tak beraturan. Ia sudah turun dari sepedanya.


Di depannya kini sudah berdiri seorang cowok yang tadi pagi ia tinggal sendirian di tengah jalan. Dia Alexis Ajibrata. Letta tahu namanya karena ia sempat melirik ke arah name tag Alex pagi tadi. Dan sekarang Alex sedang melepas earphonenya.


"Kenapa lo? Habis dikejar setan?" Alex menaikkan sebelah alisnya ke atas melihat Letta yang penampilannya sudah acak-acakan, berbeda dengan Letta yang tadi pagi dengannya.


Letta tidak menjawab karena ia masih berusaha menetralkan nafasnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi ucapan Alex.


Tak berapa lama, Letta menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Gue lupa kalau lo anak baru dan kemarin nenek Sari bilang kalau lo belum tahu sekolahnya. Tugas gue kan buat berangkat bareng biar lo tahu sekolahnya dimana. Tapi tadi gue malah berangkat duluan tanpa berpikir apa lo tahu sekolahnya atau enggak. Dan begitu gue sampiai di sekolah, gue baru sadar kalau lo belum tahu sekolahnya jadi gue memilih balik lagi kesini." ujar Letta panjang lebar masih dengan nafas ngos-ngosan.


Pemirsa, rasanya Alex benar-benar ingin tertawa sekarang juga melihat bagaimana kacaunya Letta sekarang. Apalagi alasannya karena ia kira Alex belum tahu sekolahnya dimana.


Apa Letta tidak ingat kalau jaman sudah modern dan tentu aja Alex bisa tahu dimana letak sekolahnya hanya dari ponsel. Bahkan Alex saja sudah tahu letak-letak ruangannya. Semuanya dapat terjawab hanya dari satu sumber, Google. Alex jadi berpikir bagaimana reaksi Letta jika Alex bilang kalau ia sudah tahu dimana sekolahnya.


"Kalau gue bilang gue udah tahu sekolahnya apa lo bakalan tetap balik nyusul gue lagi?" seringai Alex.


"Jadi lo udah tahu sekolahnya dimana?!" pekik Letta tak percaya. Jadi usahanya buat balik menemui Alex ini berakhir sia-sia karena ternyata Alex sudah tahu di mana sekolahnya.


"Kan gue bilangnya kalau."


"Tapi pasti lo udah tahu kan?!" bentak Letta.


Sepertinya Letta ini terbiasa sekali berbicara dengan keras membuat telinga Alex berdengung.


"Belum."


"Jujur aja, lo pasti udah tahu tahu kan?"


"Belum."


"Gue mau lo ngomong jujur. Lo udah tahu sekolah dimana kan?! Jawab! Iya kan!"


"Iya iya gue udah tahu." Alex balas berteriak.


Berdekatan dengan Letta benar-benar membuat Alex terpengaruh untuk berbicara dengan nada membentak.


"Tuh kan lo udah tahu, nyebelin baget sih." Letta menyandarkan sepedanya lalu mendekati Alex. Sedetik kemudian ia memukuli lengan Alex dengan brutal.


"Kenapa lo gak bilang!? Kalau begini kan gak harusnya gue balik lagi cuma buat nyusul lo. Nyesel tahu nggak, nyesel setengah mati!? Resek lo resek?!" bentak Letta tetap terus memukuli lengan Alex.


Alex merasa lengannya nyeri karena pukulan Letta yang tidak berhenti-henti. Ingin marah tapi rasanya terlalu lucu untuk marah. Ia lebih senang melihat wajah memerah Letta menahan kesal sekarang.


"Berhenti mukul gue sebelum nih bahu lepas dari asalnya."


Ucapan Alex membuat gerakan Letta terhenti.

__ADS_1


"Gue mau kita ke sekolah sekarang. Dan lo harus bawa sepeda itu sedangkan gue naik di belakang. Gak ada tapi-tapian, sekarang naik." ujar Letta galak.


Dan untuk pertama kalinya Alex menurut pada seorang cewek dan itu adalah karena Letta.


__ADS_2