Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 34


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak pengumuman tentang drama untuk mengisi pentas seni. Seminggu juga sudah terlewati sejak Letta bercerita ke Mira kalau ia mulai suka dengan Alex. Dan diwaktu seminggu itu, bukannya seperti harapan Letta yang bisa meminimalkan perasaannya pada Alex, Letta malah mendapati dirinya semakin suka sama Alex. Perut Letta terasa mulas memikirkan fakta tersebut.


Tidak hanya berakibat pada jantungnya yang menjadi berdetak lebih kencang jika bersama Alex, tetapi juga reaksi tubuhnya ikutan bergetar jikalau ia gugup atau salah tingkah. Terlebih kalau tidak sengaja bersentuhan, Letta akan berjingkat kaget. Padahal Alex diam saja, tapi Letta malah ketar-ketir.


Seperti sekarang ini saja Letta tidak bisa mengalihkan tatapannya ke Alex yang sedang berbaur dengan anak laki-laki lain sekelasnya. Entah apa yang sedang dibicarakan, terkadang wajah Alex terlihat kaget, geli, atau masam. Ngomong-ngomong, Letta ini dan teman sekelasnya yang mengisi drama sedang berlatih di rumahnya Galih. Untuk berlatih mereka hanya diberikan waktu dua minggu saja, jadi saat ini tinggal satu minggu lagi sebelum pentas seni dilaksanakan.


"Ta, udah waktunya buat latihan. Jangan lihatin Alex mulu." bisik Mira di deket telinga Letta.


Letta tersentak lalu dengan cepat menoleh dan berbohong. "Gue gak lihatin dia."


"Gak usah bohong, gue lihat kok. Tuh mata lo hampir gak kedip." Mira menunjuk ke mata Letta.


Kontak pipi Letta memanas. "Resek lo ah, sana pergi aja." kata Letta sembari mendorong Mira agar pergi. Mira pun pergi sambil tertawa menuju ke kumpulan anak lain.


Letta lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alex, lagi. Dan astaga... Kenapa cowok itu sekarang yang menatap ke arahnya. Walau dari jarak yang cukup jauh, kalau tidak salah, ia melihat sudut bibir Alex terangkat. Apakah Alex akan tersenyum ke arahnya?


Letta menunggu...


Tetapi, ia tidak ada waktu untuk memikirkannya karena namanya sudah dipanggil untuk melakukan latihan yang sudah akan dimulai. Mau tak mau, Letta mengalihkan pandangannya ke arah lain.


***


Lima belas menit terlewati sejak Letta dan teman sekelasnya mulai berlatih drama. Dan kali ini, sudah waktunya Letta keluar. Sebelumnya, ia menenangkan dirinya dulu agar nanti tidak gerogi, walaupun cuma latihan, tapi ia harus serius seperti temannya, mengingat waktu latihan yang mepet hanya tinggal satu minggu lagi jadi tidak ada waktu untuk bermain-main.


"Semangat." bisik seseorang di samping telinga Letta


Lehernya dibuat merinding ketika olehnya. Hembusan nafas orang itu mengenai bagian telinganya yang sensitif. Tak perlu menebak siapa orang itu, karena Letta sudah terlalu hafal dengan suara dan aroma badan cowok itu. Bau parfum maskulin khas cowok yang anehnya tidak membuat dia mual seperti parfum-parfum lainnya, malah membuat Letta nyaman dan ingin menghirup sebanyak-banyaknya.


"Letta, ayo cepet." teriak seseorang membuat Letta mengerjap


Hampir saja Letta lupa akan dramanya. Walaupun kini jantungnya sudah menggila, tapi jangan sampai ada yang mendapatinya sedang gugup.


Letta lalu masuk ke area latihan seakan menjadi putri yang baru saja keluar dari kamar karena Galih, yang berperan sebagai pengawal, memintanya untuk keluar, ingin menyampaikan pesan dari sang ibu ratu.


"Mohon maaf, Tuan Putri, kalau saya mengganggu waktu istirahat Anda, tetapi saya diperintahkan oleh baginda Ratu untuk mengajak Anda ke hutan sekarang." kata Galih sambil membungkuk.


Letta menampilkan raut wajah bingung. "Ke hutan? Untuk apa?"


Galih lalu menjelaskan dengan mantap. "Ratu sudah menunggu Anda di sana. Beliau ingin menghibur Anda atas kepergian baginda Raja."


"Kalau begitu tunggu aku sebentar, aku akan mengambil jubahku terlebih dahulu." Letta membuat gerakan berbalik dan mengambil kemeja yang ia jadikan properti menjadi jubah. Karena properti asli yang sesuai dengan drama belum ada, makanya memakai seadanya saja dulu.


Letta menyampirkan jubah itu ke bahunya dan bergegas mengikuti Galih yang membawanya ke seberang ruangan.


"Dimana sang Ratu wahai pengawal." tanya Letta kemudian.


Galih terdiam cukup lama dan wajahnya terlihat ragu. "Maafkan saya, Tuan Putri. Saya berbohong kepada Anda. Ratu memang menyuruh saya untuk membawa Tuan Putri kesini. Tapi tujuannya adalah untuk membunuh Anda."


Lalu Galih mengeluarkan pisau mainan yang terbuat dari plastik dari dalam saku celana. Gelak tawa pun mulai terdengar sesaat di sekitar ruangan sebelum akhirnya hening kembali. Sedangkan Letta tidak berani melihat ke arah lain, takutnya kalau melihat sosok yang tidak ia harapkan malah bisa membuyarkan konsentrasinya.


Diingatnya kembali adegan setelah pengawal mengeluarkan pisau. Mundur perlahan. Itulah yang Letta ingat. Maka dari itu, ia mulai berjalan mundur. Tapi sayang langkahnya terlalu lebar hingga ia akan menabrak guci yang terletak disana. Oh sialan... untung gak pecah.


"Letta maju dikit lagi." kata seseorang disana.


Letta pun maju selangkah. Lalu ia mulai melanjutkan dramanya. Memasang wajah semelas mungkin dan mulai bersuara. "Aku mohon, jangan bunuh aku wahai pengawal. Tidak bisakah engkau meninggalkan aku saja disini?"


Galih menggeleng dan putus asa. "Tapi Ratu akan tahu saya tidak membunuh Tuan Putri."


"Aku mohon..." pinta Letta.


Galih mondar mandir di depan Letta. Lalu langkahnya berhenti. "Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak datang lagi ke istana."


Letta mengangguk dengan mantap. "Baiklah, aku berjanji."


Setelahnya, seorang narator membacakan. "Akhirnya pengawal  tersebut kembali ke kerajaan dengan membawa jubah Snow White yang  berlumuran darah rusa yang sengaja  ia lumuri saat di perjalanan kembali  ke kerajaan tadi. Sementara Snow  White terus berjalanan tanpa arah di hutan. Kemudian ia menemukan sebuah gubuk kecil di tengah hutan."


Sedetik kemudian terdengar tepuk tangan menyambut berhentinya adegan itu dan akan dilanjut dengan adegan lain. Nanti, untuk berganti adegan, propertinya juga harus dirubah lagi jadi ada jeda waktu beberapa detik bagi para pendekor untuk mengganti properti di panggung.


"Istirahat lima menit." kata seseorang lagi.


Letta menarik nafas lega. Akhirnya ia bisa melewatinya. Ia masih ada beberapa adegan lagi yang nantinya.


"Minum?" Alex datang membawa air minum ke depan wajah Letta.


Hampir saja Letta memekik kaget, kalau-kalau ia tidak ingat dimana sekarang ia berada. Lalu Letta mengambil air minum itu, menegaknya beberapa tegukan. "Thanks."


Alex menggangguk dan duduk di samping Letta. Kata-kata Alex selanjutnya membuat Letta menoleh cepat. "Akting lo bagus."

__ADS_1


"Gue cuma ngusahain semampu yang gue bisa." kata Letta tanpa mengalihkan pandangannya ke wajah Alex yang tampak sebagian karena cowok itu menatap lurus ke depan.


"Kalau gue boleh ngasih nilai, lo dapet tujuh dari sepuluh."


"Tujuh jelek tahu nggak." Letta tidak menyadari suaranya seperti sedang merajuk.


"Lo tahu nggak tiganya kenapa hilang?" Alex menoleh ke Letta. Membalas tatapan Letta yang tertuju ke matanya.


"Emangnya tiganya itu kemana?" tanya Letta spontan.


"Satu, karena lo terlalu banyak adegan dengan orang lain. Dua, sedangkan adegan lo sama gue hampir nihil kecuali sewaktu lo berterima kasih karena udah berhasil bangunin lo, tiga karena lo buat gue iri ingin jadi pengawal ataupun kurcaci yang bisa lebih lama beradegan sama lo."


Oh, Shit.


****


Letta patuh menjalani latihan drama kelasnya dengan baik. Ia tidak mengeluh dan bersyukur ia sudah hafal semua dialog yang harus ia katakan. Hal ini sebanding dengan pengorbanannya yang setiap malam sebelum tidur, ia membaca dan menghafalkan naskah drama bagiannya.


Ia lega ketika latihan dihentikan sampai ketika Letta jatuh tertidur sehabis makan apel yang diberikan sang ratu yang berpura-pura menjadi seseorang nenek tua. Kalau tidak berhenti disitu, jelas selanjutnya bagian ia dan Alex akan ada. Bagian dimana Alex akan menemukannya di rumah kurcaci dan memberikan obat manjur atas sihir yang ada di buah apel itu. Obat manjur yang tak lain tertulis dalam teks adalah---


"Hey!" sentak Alex.


Letta mengerjapkan matanya lalu melihat kesekeliling, rupanya ia dan Alex sudah di depan rumah Galih. Lalu ia ingat kalau dirinya dan Alex akan pulang ke rumah. Dan begonya, sempat-sempatnya Letta melamunkan tentang Alex lagi. Geezz...


Lalu tatapan Letta jatuh ke Alex yang berdiri di depannya dengan pandangan menyelidik.  "Akhir-akhir ini gue perhatiin lo sering bengong. Kenapa, ada masalah?"


Letta yang belum sepenuhnya sadar, kemudian bicara dalam hati.


Iya.


Dan masalahnya itu lo.


"Gue?" diam-diam Alex mengernyit. Alex mulai berjalan mendekati Letta seraya menyipitkan matanya. "Kenapa gue bisa jadi masalah buat lo?" tanyanya.


Letta otomatis mengerjap bingung. Sialan, jadi tadi ia tidak bicara dalam hati, melainkan mengatakannya secara langsung lewat mulutnya. Ia mengutuk diri sendiri karena tidak berhati-hati.


"Ka-kapan gue bilang gitu?" ucap Letta sambil tergagap karena Alex semakin mengikis jarak diantara keduanya, membuat Letta harus mundur beberapa langkah.


Melihat Letta yang beringsut mundur, Alex berinisiatif menghentikan langkahnya. Dagunya terangkat dan tangannya ia masukkan ke dalam saku. "Sepuluh detik yang lalu."


Aura Alex terasa mengintimidasi dan Letta tidak dalam mode siap melawan. Dengan sisa-sisa keberaniannya yang sudah menipis, Letta menjawab. "Mungkin lo salah denger."


"Emang begitu kenyatannya, lo gak ada kaitannya sama gue yang kata lo itu suka bengong. Dan asal lo tahu, gue sedang gak ada masalah. Dan soal yang tadi, lo udah pasti salah denger karena gue aja gak pernah mikirin lo. Gak gunanya juga ada masalah sama lo." ujar Letta.


Letta hampir saja merasa dirinya melihat kalau Alex kecewa. Tapi Alex rupanya pintar menyembunyikan sesuatu, cowok itu malah tertawa dan berkata. "Syukur deh kalau gitu."


Perut Letta rasanya melilit mendengar nada bicaranya Alex yang getir. Apa ia sudah kelewat batas ngomongnya dan melukai perasaan Alex, Letta rasanya ingin menarik kata-katanya lagi tapi ia tidak bisa. Ia terlalu gengsi.


Suara bising dari dalam rumah membuat perhatian Letta dan Alex teralihkan. Keduanya menoleh ke rumah dimana teman kelas mereka masih banyak yang berada di dalam, mereka masih berniat bermain. Tapi Letta dan Alex memutuskan untuk lebih cepat pulang daripada yang lain.


"Lebih baik kita pulang sekarang." kata Alex kemudian. Cowok itu lalu mengambil sepedanya yang terparkir tak jauh dari teras. Ia menunggangi sepeda itu dan menyuruh Letta untuk cepat naik.


Lima menit kemudian keduanya sudah berada di tengah jalan. Alex membawa sepedanya dengan santai, tidak terburu-buru ataupun terlalu lambat. Jadi benar-benar santai, apalagi cuacanya sedang cerah dan angin sejuk menerpa keduanya.


Letta mencoba diri untuk melupakan masalah tadi dengan mengamati lingkungan sekitar. Ia yang masih belum terlalu paham dengan lingkungan sekitar tempat tinggal Galih menggedarkan pandangannya ke penjuru rumah-rumah warga. Kebanyakan rumah mereka sudah tua, berdinding, dan berjendela besar. Warnanya dindingnya rata-rata putih pucat dan bagian jendela juga tiang herwarna coklat tua. Seperti rumah peninggalan jaman penjajahan saja, pikir Letta.


Letta terus menjajakan matanya ke arah rumah lainnya dan wajahnya Letta memucat ketika pandangannya terarah ke satu rumah yang baru saja ia lewati. Segera, Letta memukul bahu Alex agar cowok itu berhenti. "Berhenti... berhenti... "


Alex pun menghentikan laju sepedanya. Kedua kakinya menapak ke aspal dan ia menoleh ke belakang. "Ada apa?"


"Berhenti sebentar." jawab Letta lalu turun dari sepedanya.


Alex yang melihat Letta turun segera memarkirkan sepedanya di bahu jalan. Ia mengejar Letta dan menahan lengan cewek itu sebelum Letta semakin berjalan menjauh. "Ta, ada apa?"


Letta berbalik dan pandangannya terarah ke tangan Alex yang menempel dengan lengannya. Alex yang mendapati pandangan Letta segera menarik tangannya.


"Maaf." katanya.


Letta yang gugup lalu membawa kedua tangannya di samping badan, keduanya kompak meremas ujung baju yang ia pakai. Jangan sampai Alex tahu akibat sentuhan Alex tadi pada Letta. Jangan sampai Alex tahu kalau ia bergetar karena sentuhan Alex walau sekecil apapun, jangan sampai Alex tahu kalau jantungnya sudah berdetak keras seakan minta keluar dari tempat aslinya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue. Ada apa, Ta?" ucapan Alex membuat Letta kembali sadar.


Letta lalu teringat akan tujuannya minta Alex berhenti dan ia turun dari sepeda. "Gue ngeliat seseorang."


"Seseorang?" tanya Alex memastikan.


Letta mengangguk. "Seseorang yang deket banget sama gue."

__ADS_1


"Terus kenapa sama seseorang itu?"


"Tapi seseorang itu tadi lagi sama seseorang yang gue benci. Yang mana seseorang yang deket sama gue itu padahal juga benci sama orang yang gue benci. Aneh kan kalau mereka bisa barengan."


Alex meraih bahu Letta dan meletakkan kedua tangannya disana. Ia bisa merasakan badan Letta tegang karena kaget tapi Alex mengabaikannya dan tetap menempatkan tangannya di bahu Letta. Ia tahu pasti Letta butuh teman bicara saat ini untuk tahu apa yang terjadi. Jadi Alex memutuskan untuk melihat ke mata Letta dan bertanya. "Dan orang yang deket sama lo adalah..."


Letta kaku. Sungguh ia tidak menyangka akan tindakan Alex ini. Tapi tatapan Alex yang menghipnotis ini membuatnya tidak berkutik dan tanpa sadar ia membalas tatapan Alex.


"Indra."


Alex meremas bahu Letta dan bertanya lagi. "Dan orang yang lo benci adalah..."


"Ajeng."


"Dimana?" tanya Alex belum mau memutuskan pandangannya dari mata Letta yang juga balas menatapnya.


"Di rumah Ajeng." kata Letta dengan parau. Lalu Letta yang pertama memutuskan pandangan mereka berdua. Letta berjalan mundur hingga tangan Alex lepas dari bahunya.


Letta merapal dalam hati agar tidak jatuh lemas di jalan karena lagi-lagi Alex melakukan hal yang membuatnya ketar-ketir. Kakinya terasa lemah untuk berdiri. Dan ini semua karena efek seorang Alex. Ughh sialan...


Sedangkan Alex, ia tidak tahu harus berkata seperti apa, karena ini bukan masalahnya dan ia tidak berhak ikut campur. Setahunya, Letta dan Indra memang tidak terlalu suka dengan Ajeng. Letta yang karena Ajeng telah merebut calon pacarnya, sedangkan Indra karena Hami lebih memilih Ajeng daripada Letta yang sudah selalu ada dengan Hami. Dan ketika melihat Letta jatuh terpuruk dalam kesedihan sewaktu perasaannya tak terbalas, disitulah Indra mulai tak menyukai keduanya.


"Gue mau lihat mereka sebentar. Gue penasaran apa yang mereka lakuin." kata Letta tiba-tiba.


"Gue ikut." ujar Alex.


Letta lalu mengajak Alex berjalan menuju ke pagar rumah Ajeng. Pagarnya tinggi, lebih tinggi dari badan Letta sampai Letta tidak bisa melihat apa-apa. Ia tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan Indra di rumah Ajeng. Bukan tanpa alasan Letta tahu ini rumahnya Ajeng. Dulu waktu Ajeng perlahan masuk mengusik hidupnya dan Hami, Letta sudah lebih dahulu melakukan riset alias mencari tahu siapa itu Ajeng.


Dan ia ingat kalau Ajeng itu tinggal di komplek yang sama dengan Galih. Jadi tidak salah lagi ia menebak kalau ini rumahnya Ajeng.


"Gue gak bisa lihat apa-apa." aku Letta dengan masam. Ia berusaha berjinjit tapi tetap tak melihat apapun.


"Kenapa?" Alex bertanya sambil terus memndang ke depan, ke rumahnya Ajeng. Tempat Indra dan Ajeng berada.


Letta mendengus. "Efek pendek."


Mendengar itu baru Alex menoleh ke Letta. "Butuh bantuan?"


"Bantuan?"


"Iya, bantuan. Biar gue jelasin apa yang gue liat di depan sana."


"Kalau lo gak keberatan, boleh."


"Mereka lagi bertengkar." aku Alex.


Letta mengernyit tidak paham. "Lo tadi bilang--- bertengkar?"


Alex mengangguk. "Iya, sekali liat aja orang tahu kalau mereka lagi gak baik-baik aja."


"Ada alasan tepat kenapa lo nyimpulin kalau mereka lagi bertengkar?" tanya Letta.


Alex menjawab dengan santai. "Gak perlu alasan, seperti yang gue bilang tadi, orang lihat mereka sedetik aja udah bisa nyimpulin mereka lagi bertengkar, maksud gue mereka sedang terlibat adu mulut. Kalau lo bisa liat, lo bakalan tahu kalau keduanya sama-sama pake ngomong pake otot."


Letta lalu sekarang paham. Dulu, ia juga pernah melihat mereka bertengkar. Sesuatu yang pernah dilihatnya dulu kini jadi terulang kembali.


"Dulu gue juga pernah ngeliat mereka bareng. Mereka juga kayak gini, lagi berantem."


"Kapan?" tanya Alex yang penasaran.


"Enam bulan yang lalu, waktu itu di sekolah. Gue liat mereka lagi berantem atau adu mulut tepatnya, di tempat parkir sekolah tapi gue pikir itu bukan urusan gue, jadi gue ngehindar dan gak pernah bertanya ke Indra tentang kenapa ia pernah berantem sama Ajeng."


"Menurut lo, apa ini ada sangkut pautnya sama kalian?"


"Kalian?"


"Lo dan Hami."


Letta membeo. "Gue gak tahu."


"Kalau waktu lima bulan yang lalu gue mikir kalau Indra mungkin lagi memperingatin Ajeng buat gak dekat sama Hami. Bukan maksud gue sombong, tapi sepertinya Indra mau gue sama Hami tuh bareng dan gak ada orang ketiga. Jujur aja, gue seneng banget sama hal tersebut kalau emang itu kenyataannya. Tapi sepertinya Ajeng ngeyel, dan dia gak mau menjauh. Dan yeah berakhir dengan Hami bersama Ajeng. Tapi kalau sekarang gue lihat mereka bertengkar lagi dan tempatnya bahkan di rumah Ajeng, gue gak ada pemikiran apapun lagi. Gue--- gak bisa nyimpulin sesuatu." Letta berujar dengan putus asa.


Alex mengusap dagunya seraya berpikir."Bagaimana kalau pemikiran pertama lo salah?"


Mata Letta yang bulat mengerjap. "Maksud lo?"


Alex lalu menekankan suaranya ketika berkata. "Bagimana kalau ternyata Indra udah bekerja sama dengan Ajeng buat ngejauhin lo dari Hami."

__ADS_1


Lalu Alex menambahkan. "Bagaimana kalau aslinya Indra itu bukan minta ke Ajeng buat jauhin Hami tapi minta Ajeng buat deketin Hami."


__ADS_2