
Saat itu Alex sedang menuruni tangga untuk ke dapur karena ia haus ketika mendengar pintu rumahnya diketuk. Tapi bukan Alex namanya kalau langsung membukanya, ia lebih memilih untuk mengambil minum dahulu ke dapur. Saat ia minum, ia bisa mendengar ketukan itu semakin keras, beruntung tidak terdengar tergesa-gesa, artinya tamunya masih mau sabar menunggu. Setelah menuntaskan rasa hausnya, Alex berjalan malas ke depan dan membukakan pintu untuk si tamu.
Kening Alex mengernyit dalam dan perasaan bingung melingkupi begitu melihat siapa yang datang. "Lo ngapain di sini?" tanyanya masih dengan bingung. Pasalnya sekarang Fabian tiba-tiba sudah berada di depannya. Anak yang satu ini bahkan tidak repot-repot memberitahunya dahulu kalau mau datang ke rumahnya.
"Sekedar informasi kalau lo lupa, gue pernah nanyain alamat rumah nenek lo, terus lo kasih." jawab Fabian sambil tertawa melihat ekspresi Alex yang masih bertanya-tanya.
Alex berusaha mengingatnya dan dia seketika dapat mengingatnya dengan cepat. Waktu itu memang Fabian meminta alamat dan lokasi rumah neneknya, katanya sih mau liburan bareng Dani ke sini.
"Ahh iya gue inget. Gue kira lo cuma bercanda buat datang ke sini." Alex mengulurkan tangannya dan disambut oleh Fabian. "Selamat datang di desa nenek gue." katanya lalu ia dan Fabian saling menubrukan bahunya masing-masing.
"Yoi, udaranya disini masih enak, gak kayak di kota."
Alex mengangguk setuju karena ia juga selama merasakan perbedaannya. "Ngomong-ngomong gimana kabar lo?"
"Selalu baik. Kan gak ada virus yang mau datang ke gue." canda Fabian membuat keduanya tertawa.
Alex berhenti tertawa lalu ia bertanya. "Lo datang sendiri ke sini?" kemudian Alex membuka pintu lebar-lebar agar Fabian masuk.
Fabian menengadahkan kedua tangannya ke samping. "Beginilah, gue datang sama orang lain dan bukan Dani." ujarnya sambil masuk ke rumah mengikuti Alex.
"Mana anaknya?"
"Ada di belakang. Nanti nyusul."
Keduanya lanjut duduk berhadapan dengan Fabian yang duduk bersandar ke sofa, tangannya ia kibaskan ke kepala. "Butuh perjuangan untuk bisa sampai ke sini. Gue berkali-kali salah rumah."
Alex menyeringai. "Rasain lo."
"Sialan lu." umpat Fabian. "Tahu nggak, tadi di salah satu rumah yang keluar emak-emak dan dia ngira gue pacar anaknya yang mau ngapelin. Waktu gue mau kabur, dia malah ngejar gue sampe ke mobil." papar Fabian sambil menggelengkan kepalanya teringat kejadian tadi. "Mungkin anaknya itu udah lama menjomblo, makanya emaknya excited banget begitu ada cowok datang ke rumahnya."
Lalu Alex teringat kalau Fabian datang dengan temannya yang lain, dan bukannya Dani. Tapi Alex belum melihat tanda-tanda ada temannya itu. "Mana anak yang satu? Kok belom dateng."
Fabian menaikkan alisnya tidak paham tapi sedetik kemudian ia baru mengerti. "Ooh itu." katanya. Tiba-tiba Fabian meluruskan punggungnya dan tidak bersandar ke sofa lagi.
Kini kalau dilihat dari sudut pandang Alex, Fabian tampak sedikit ketakutan. Walaupun Fabian tidak menunjukannya, namun Alex sudah berteman dengan anak itu lama sekali jadi Alex bakalan tahu apa yang Fabian rasakan. Bahkan saat ini ia bisa melihat tangan Fabian yang saling berkaitan itu sekarang gemetar kecil. Seberapa besar Fabian menyembunyikannya, tetap saja Alex akan tahu. Sebenarnya apa yang ditakutkan temannya itu.
Rasa penasaran Alex terjawab tidak lama kemudian karena ia mendengar langkah kaki yang perlahan mendekat dan Alex begitu terkejut ketika mendapati orang yang datang bersama Fabian itu berdiri di depan pintu. Orang itu berjalan ragu-ragu ke dalam sampai akhirnya berdiri tidak jauh dari mereka. Selama orang itu berjalan mendekat, Alex menatapnya dengan tajam dan tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari orang itu. Astaga.. Sebenarnya apa yang dilakukan Mona di rumahnya!
Alex kemudian teringat dengan Fabian, temannya ini membawa Mona ke sini. Alex membawa pandangannya beralih ke Fabian dan menatap Fabian tajam meminta penjelasan. Rahangnya mengeras karena bisa-bisanya Fabian membawa cewek itu.
Sekarang Alex paham, pasti Fabian membawa Mona datang ke rumah neneknya dengan maksud tertentu dan Alex tahu apa itu. Fabian juga pasti ingin menipunya. Karena Fabian tidak kunjung mengeluarkan suaranya dan hanya menunduk ke bawah, Alex lah yang bergerak maju dan meraih kerah baju Fabian. Menarik cowok itu agar berdiri dan menghadap ke arahnya. Pandangan Alex berapi-api. "Jelasin maksud lo, breng--sek!" desisnya tajam.
Fabian sendiri tahu ia jahat karena tidak memberitahu ke Alex dahulu, tetapi semua ini juga demi kebaikan temannya itu. Ia tidak ingin Alex nantinya menyesal ke depannya. Maksud Fabian itu baik.
"Ngomong goblok!"
Alex yang menarik kerahnya semakin ke atas membuatnya kesulitan bernafas. "A--Alex, gue bawa Mona buat lo--- biar lo tahu ka---kalau dia sedang mengandung anak lo." katanya tersendat-sendat.
"Brengsek lo!" umpat Alex, seketika, ia meninju rahang temannya itu. Fabian terhuyung ke belakang dengan cepat dan jatuh ke sofa. Belum cukup sampai di situ, Alex langsung menyeberangi meja lalu meraih Fabian lagi.
Alex membawa Fabian agar berdiri lagi lalu memberi hantaman keras lagi ke wajah Fabian. Kali ini Fabian tersungkur ke lantai. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Saat Alex berjalan mendekat ingin memukul lagi, temannya berdiri dan mulai melawan. Ia menghindar dari kepalan tangan Alex dan itu membuat Alex semakin murka. Bisa-bisanya Fabian mempermainkannya dengan membawa Mona ke hadapannya. Sudah jelas kalau anak yang sedang dikandung Mona itu bukan anaknya.
"Gue ada masalah apa sama lo, hah? Lo mau balas dendam sama gue? Gak begini caranya, gak dengan lo bawa cewek sialan itu ke sini." bentak Alex sambil menyerang Fabian hingga keduanya terguling dan Alex menduduki perut Fabian.
Mendengar kata cewek sialan tentunya menyulut emosinya Fabian. Demi apapun Mona ada di sini dan Alex mengatainya cewek sialan. Mona itu bukan seperti yang dipikirkan Alex, dan Fabian harus menyadarkan temannya ini agar mengerti. Ketika Alex menarik kaosnya dan akan memberinya pukulan lagi, Fabian sudah lebih dulu mendorong Alex dengan keras hingga keduanya berguling kembali dan kali ini Fabian lah yang berada di atas.
__ADS_1
"Berhenti ngomong kalau Mona itu cewek sialan. Dan lo harus mengakui kalau anak yang dikandungnya itu darah daging lo sendiri." seru Fabian lalu ia menghajar Alex sebagaimana Alex melakukan padanya. Keras, sampai membuat sudut bibir Alex juga mengeluarkan darah.
Alex yang tidak terima berusaha bangkit namun Fabian menahannya. "Gue sama sekali gak percaya sama dia. Harusnya lo sadar kalau dia itu cewek tukang manipulasi. Dan dengan begonya lo percaya." cela Alex membuatnya dihantam bogeman mentah lagi dari Fabian. Alex merasakan asin di mulutnya. "Arghh..."
"Pengecut." desis Fabian.
Alex memberi tatapan setajam mungkin ke Fabian setelah temannya itu mengatainya pengecut, dadanya bergemuruh hebat. Ia ingin melepaskan diri tetapi Fabian ternyata lebih kuat menahannya. "Lepasin gue, sialan!" seru Alex.
Fabian menggeleng. "Gue gak pernah berpikir kalau gue punya teman sepengecut ini. Sadar! Sadar! Lo harus sadar kalau Mona di sini buat lo dan anak lo. Lo harus bertangung jawab atas apa yang pernah lo lakuin."
"Udah gue bilang kalau itu bukan anak gue!" kali ini Alex berhasil mendorong Fabian dan terlepas dari cowok itu.
"Kenyataannya itu anak lo dan lo harus mengakui itu!"
Keduanya akan saling menyerang lagi tetapi kemudian dikejutkan oleh suara Sari. "Berhenti!! Apa yang kalian lakukan!" bentak Sari.
Untuk pertama kalinya Alex melihat Sari semarah ini. Dengan kasar ia melepaskan tangannya yang kerah kaos Fabian. Begitupun Fabian juga melakukan hal yang sama.
Neneknya itu berjalan ke arahnya. Oh tidak, lebih tepatnya ke arah belakangnya. Kemudian ia dan Fabian menoleh ke belakang ke tempat yang Sari tuju, seketika jantung Alex mencelos. Di sana, Mona sudah terjatuh pingsan.
Fabian menatap Alex dingin. "Puas lo?! Lo bahkan bahayain anak lo sendiri." lalu ia mendorong dada Alex menjauh sebelum bergabung ke Sari.
Alex yang melihat itu merasakan jantungnya seakan meluncur jatuh dari ketinggian dan hancur.
***
Sari mendekatkan jarinya yang sudah ia olesi dengan minyak kayu putih ke bawah hidungnya Mona. Tak lama kemudian, Mona akhirnya terbangun. Cewek itu bangun dan menatap Sari dengan bingung. Pandangannya jatuh ke kamar yang asing. "Aku dimana?" tanyanya.
Sari menghela nafas lega. Ia sudah sangat takut ketika melihat ada cewek pingsan di rumahnya dan marah karena Alex dan temannya itu bukannya menolong malah asik berkelahi. Dan ia lebih cemas lagi ketika mendapati cewek yang sedang bersamanya ini tengah berbadan dua. "Kamu ada di kamar tamu rumah nenek. Nenek ini neneknya Alex." aku Sari kemudian.
Sari mencoba membuang itu dari pikirannya dulu dan yang terpenting sekarang adalah keselematan cewek ini dan bayi yang sedang dikandungnya. Untuk penjelasan dan lain sebagainya bisa ia tanyakan nanti.
Diambilnya air minum yang sudah ia siapkan di meja dan menyodorkannya ke Mona. "Diminum dulu."
Mona mengangguk lalu meminum air yang dikasih Sari. Mata Mona berkaca-kaca karena mendapatkan perhatian seperti ini. Mungkin efek hormon makanya ia jadi mudah terbawa suasana. "Terima kasih."
Sari bertanya ketika melihat Mona seakan mau menangis. "Kamu gak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir sambil memerika badan Mona.
Mona menggeleng sebagai jawaban. Sungguh, ia terharu. Kapan terakhir kalinya ada orang tua yang perhatian seperti ini padanya. Mona jadi teringat kedua orang tuanya yang sudah tiada sejak ia berumur sepuluh tahun. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kemudian ia tinggal dan diasuh oleh pamannya karena memang hanya pamannya satu-satunya kerabat yang tersisa. Pamannya ini belum menikah jadi ketika dititipi Mona, pamannya kerap kali mengatainya karena merasa waktunya terkekang karena adanya Mona. Menurut pamannya, Mona ini pembawa sial. Setiap perempuan yang dibawa pamannya ke rumah selalu menghindar setiap melihat Mona. Mereka selalu berpikir kalau Mona itu anak pamannya. Para perempuan itu tentunya tidak mau menikah dengan laki-laki yang sudah punya anak besar sepertinya. Apalagi tanggungannya besar.
Ketika menginjak umur tiga belas tahun, Mona mulai bekerja sendiri dan menghasilkan uang demi menyambung sekolahnya yang terancam putus. Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak berumur tiga belas tahun. Palingan hanya menjadi tukang cuci di rumah orang atau menjadi pesuruh kecil-kecilan di pasar. Beruntung Mona itu pintar dan ia mengandalkan kepintarannya ini untuk mendapatkan beasiswa masuk SMA. Keinginannya adalah merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sebelum akhirnya berita mengerikan itu datang suatu hari membuatnya bertanya-tanya apa yang akan ia lanjutkan dengan hidupnya ke depan nanti.
Tepat saat itu juga sikap pamannya perlahan berubah. Pamannya yang biasa kasar dan masa bodoh terhadapnya bertransformasi menjadi paman paling penyanyang di dunia. Pamannya berusaha melakukan segala sesuatu untuk membuatnya bahagia dan demi menebus dosanya di masa lalu karena menelantarkan Mona padahal hanya Mona keluarga satu-satunya. Kemudian saat Mona hamil, pamannya menyambut kabar itu dengan gembira. Bahkan pamannya sudah memilih nama untuk calon bayinya.
Namun sayangnya Tuhan berkata lain dan lebih menyayangi pamannya. Waktu itu Mona sedang masak di kostnya ketika seorang polisi bertamu ke rumahnya dan mengatakan kalau pamannya meninggal dunia ketika sedang bekerja. Pamannya bekerja sebagai tukang bangunan, ia meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan yang pondasinya kurang kuat. Mona hancur waktu itu. Ia menangis selama berhari-hari lamanya. Setelah ditinggal kedua orangtuanya, sekarang tinggal ditinggal pergi oleh satu-satunya keluarga yang ia punya.
Sampai-sampai saat itu ia hampir saja lupa akan keberadaan janin yang tengah kandung. Mona ingin sekali merawat bayinya kelak ketika lahir. Melihat pertumbuhan anaknya suatu hari nanti tentu menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua calon ibu. Tapi ia tahu kalau ia tidak akan pernah bisa merasakannya.
"Kamu menangis." ucapan Sari membuyarkan lamunan Mona tentang hidupnya. Ia mengerjap ketika Sari mengusap pipinya. Menghilangkan bekas air mata yang jatuh berlinangan melewati pipi.
Mona tersenyum dan hatinya perlahan menghangat. "Maaf." katanya dengan tertunduk malu. Malu karena ia merasa telah bersikap terlalu cengeng.
"Sudah berapa bulan?" Sari bertanya ketika tangannya berpindah mengelus perut Mona yang sudah membuncit.
"Menginjak lima bulan." suara Mona serak karena habis menangis.
__ADS_1
Sari tersenyum dan mengelus perut Mona sekali lagi. Kemudian ia dikejutkan dengan perkataan Sari selanjutnya. "Nenek jadi udah gak sabar mau liat cicit nenek ini lahir."
Jantung Mona berdetak dengan kencang mendengarnya. Ia lalu balas tersenyum dan lagi-lagi air matanya mengalir deras tak terbendung. Awalnya ia sangat takut kalau-kalau neneknya Alex ini akan marah dan tidak mau menerimanya. Ia takut kalau definisi nenek Alex itu seperti yang ada di televisi, seorang nenek yang menentang kehadirannya lalu mengusirnya jauh-jauh. Kemudian dilanjut dengan adegan melemparkan uang ke mukanya disertai caci maki serta umpatan tentang perempuan kotor.
Sari menggeleng pelan dan membawa tangannya ke pundak Mona lalu merengkuh Mona ke dalam pelukannya. Bukannya tenang, Mona malah menangis lebih keras. "Ssst... Jangan nangis. Nenek gak mau loh cicit nenek jadi ikutan sedih kalau liat ibunya menangis." katanya sambil mengusap punggung Mona dengan lembut. "Kamu tenang, jangan terlalu banyak pikiran. Jangan stres. Gak baik buat kesehatan anak kamu."
"Tapi Alex gak mau nerima aku." bisik Mona pelan.
Sari melepaskan pelukannya lalu sambil memegangi bahu Mona, ia berkata. "Kata siapa? Alex sudah mau kok."
***
Di lain tempat, Alex sedang bersama Fabian. Walaupun beberapa menit yang lalu mereka berdua sempat berkelahi, tetapi sekarang keduanya sudah bersikap biasa-biasa saja seakan tidak ada hal yang terjadi. Alex mengajak Fabian ke kamarnya untuk membicarakan masalah mereka. Bagaimanapun mereka harus membicarakannya dengan kepala dingin dan bukan dengan otot lagi seperti sebelumnya.
"Jadi lo sama Dani udah tahu sejak lama soal kehamilan Mona?" tanya Alex.
Fabian mengangguk. "Iya, waktu itu gue sama Dani lagi main keluar. Terus kita berdua liat cewek pingsan di tengah jalan. Gue sama Dani akhirnya liat ceweknya dan ternyata itu Mona. Begitu gue sama Dani bawa ke puskesmas ternyata itu cewek memang lagi hamil."
Alex masih kurang jelas dan ia akan terus bertanya. "Lo tahu dia hamil anak gue dari mana?"
"Untuk itu awalnya dia juga gak mau ngaku. Dia bersikeras bilang kalau itu anak orang lain. Tapi waktu gue nanya siapa cowoknya, Mona kebingungan. Terus dia bilang namanya Marsel, satu jam kemudian bilangnya Marsal. Habis itu jadi Marko. Bohongnya ketahuan." papar Fabian.
"Tapi kata bokap gue katanya itu bukan anak gue." kata Alex sambil mengernyit bingung.
Fabian mendesah. "Dia juga bohongin bokap lo. Sama lo yang bapak anaknya aja gak ngomong apalagi sama orang lain."
"Ada alasan kenapa dia begitu?"
Fabian menoleh sesaat ke Alex sebelum memusatkan pandangannya ke depan lagi. "Maksud lo alasan kenapa dia gak ngumbar kehamilannya ke orang lain dan memilih buat merahasiakannya?"
Alex pun mengangguk sebagai jawaban.
"Oke, dengerin, gue mau cerita singkat soal Mona." jelas Fabian dan mulai memasang wajah seriusnya. Alex pun mulai mendengarkan.
"Jadi awalnya Mona itu tinggal sama pamannya. Namanya kalau gak salah itu Jamal dan dia belum menikah. Karena suatu hal --yang ini gue gak berhak ngasih tahu lo, soalnya gue udah janji sama Mona buat merahasiakannya-- Mona berniat untuk punya bayi. Kata dia kalau bayinya lahir bakalan dia kasih ke Jamal biar Jamal gak kesepian. Makanya Mona gak mau ngasih tahu semua orang kalau itu anak lo, soalnya kalau lo tahu, ada kemungkinan begitu si bayinya itu lahir nanti bakalan lo ambil. Karena itu Mona terus merahasiakan siapa ayah dari bayinya. Tapi gak lama setelahnya, Jamal meninggal dunia sewaktu dia lagi kerja. Mona jadi sendirian dan dia otomatis kebingungan. Dia sedih, kecapean dan akhirnya pingsan. Gue sama Dani nolong dia. Dengan desakan gue sama Dani, gak butuh waktu lama buat Mona ngaku kalau itu memang anak lo."
"Terus orang tuanya Mona di mana emangnya?"
"Mereka udah lama meninggal. Katanya sih waktu Mona masih kecil. Makanya Mona sama pamannya. Cuma Jamal orang yang Mona punya." ujar Fabian dengan sedih. Yahh ia sudah mendengar cerita hidupnya Mona yang pilu itu dan dia tidak menampik kalau dirinya turut sedih dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau misalnya ia yang jadi Mona. Mungkin Fabian memilih untuk bunuh diri menyusul semua anggota keluarganya.
"Gue mohon kali ini lo harus bertanggung jawab, Alex." kata Fabian tanpa melihat Alex.
Alex sedang menutup matanya memahami semua yang terjadi ini. Jadi Mona itu hamil anaknya. Membayangkan dirinya menjadi ayah untuk sekarang ini belum pernah ia pikirkan. Apalagi dengan cewek yang bahkan tidak ia kenal dengan baik. Tapi cewek itu sudah mengandung anaknya astagaa.... Kalau begitu ia harus tanggungjawab. Apalagi dengan cerita tentang Mona tadi membuatnya merasa kasihan dengan cewek itu.
Lalu kalau misalnya ia bertanggung jawab, apa itu artinya Alex harus menikahi Moba? Dan menghabiskan masa tuanya bersama Mona, cewek yang tidak ia sukai? Lalu bagaimana dengan hatinya yang sekarang dimiliki oleh Letta. Apakah Alex harus mengorbankan perasaannya ke Letta demi Mona? Demi anaknya?
Anaknya... Sialan-- Alex belum mau punya anak...
Alex berdiri gelisah. Ia berjalan ke dekat jendela sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. Alex bingung. Haruskah ia bertanggung jawab?
Fabian yang menyadari kegelisahan dan kebingungan Alex segera menyela sebelum temannya ini membuat keputusan yang fatal. Fabian pun berdiri, berjalan dan berhenti tepat di belakang Alex.
"Lo harus bertanggungjawab bagaimanapun caranya. Dia itu anak lo. Demi apaun itu anak lo, apa lo mau liat anak lo terlantar di jalanan? Lo mau liat anak lo sendiri menderita? Lo mau suatu hari nanti anak lo itu bertanya siapa bapaknya. Mau lo suka sama Mona atau enggak, lo harus tetap tanggungjawab. Jangan bersikap layaknya pengecut. Lo turut andil dalam ini semua. Ini demi kebaikan semua orang. Jangan buat diri lo menyesal di kemudian hari."
Alex memejamkan matanya ketika mendengar penuturan Fabian yang sangat telak mengenainya.
__ADS_1
Fabian menepuk pundak Alex. "Gue yakin lo cowok baik dan lo bakal ambil keputusan yang tepat." kemudian Fabian pergi meninggalkan Alex sendirian merenung.