Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 59


__ADS_3

Graha Adi Utama.


Tenggorokkan Alex tercekat tatkala ia menatap bangunan yang berdiri menjulang di depannya. Di tempat itulah nanti Letta akan menikah dengan Hami. Alex mendesah, jika saja dulu ia memanfaatkan waktu tujuh tahun ini dengan sebaik mungkin, mungkin dirinyalah yang akan bersanding dengan Letta di pelaminan dan bukannya orang lain. Sekarang, kuat ataupun tidak, Alex harus kuat.


Jadi Alex memutuskan untuk merapihkan kemejanya lalu masuk lewat pintu yang ada di samping gedung, dan bukannya lewat pintu utama. Kata Dinda ia harus masuk ke pintu itu dahulu begitu sampai. Pintu yang di samping itu khusus digunakan untuk keluarga dan kerabat atau teman dekat, yang nantinya akan menuju ke tempat-tempat persiapan pernikahan seperti tempat untuk rias, busana dan segala hal yang diperlukan sehubungan dengan persiapan pernikahan.


Alex berjalan masuk, dan harus melewati lorong terlebih dahulu, sepanjang lorong kedua sisinya terdapat ruangan. Alex bisa melihat bagaimana ramainya orang di dalam ruangan yang sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena tidak memperhatikan jalan di depannya, tanpa sengaja Alex menabrak orang lain yang berjalam berlawanan arah dengannya. Hampir saja orang yang ditabrak jatuh kalau ia tidak segera menahan kedua lengan orang itu. Untung cewek, bukan cowok, batin Alex.


Cewek ini segera melepaskan diri dari Alex. Alex akan meminta maaf karena kecerobohannya tetapi ketika ia dan cewek itu saling mengangkat kepala dan pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama terdiam seakan berpikir.


"Alex!" pekik cewek itu dengan kaget namun dengan segera menutup mulutnya. Matanya membelalak tidak percaya.


Alex tersenyum canggung, karena sebenarnya ia dan cewek ini bisa dikatakan bukan teman ataupun saling kenal, hanya sebatas tahu orangnya saja. Mereka juga rasanya tidak pernah terlibat pembicaraan sebelumnya "Gue pikir lo gak kenal sama gue." ucap Alex.


Cewek itu menggelengkan kepala lalu berkata. "Mana mungkin gue gak kenal lo, lo kan anak pindahan dan setiap harinya lo bareng sama Letta. Dan mungkin seharusnya yang benar itu lo yang gak kenal gue."


Kali ini Alex yang tertawa. "Kita berdua memang bukan teman waktu SMA, tapi bukan berarti gue gak tahu orang-orang di sekitar gue atau teman gue dulu. Lo... Ajeng, kan."


Cewek yang bernama Ajeng itu mengangguk sambil tersenyum. "Lo ngapain berkeliaran sini?" tanyanya ingin tahu.


"Gue disuruh masuk lewat pintu di belakang sana." Alex menunjuk pintu yang berada tidak jauh di belakang, pintu samping gedung yang ia lewati tadi. "Katanya gue disuruh masuk lewat situ. Kalau lo?"


"Kalau gue? Maksudnya?"


"Lo ngapain di sini?" jelas Alex.


Ajeng menatap Alex heran seakan pertanyaan Alex ini aneh. "Ini kan pernikahan aa---anu mantan gue, iya benar, ini pernikahan mantan gue." Ajeng tiba-tiba tersenyum lebar begitu mengatakan itu.


Mantan yang tidak disebutkan namanya itu sudah jelas Hami. Ya Alex ingat kalau dulu mereka berdua itu pacaran, lalu mungkin keduanya putus dan Hami berpaling ke Letta. Alex tahu kalau Letta menyukainya, tapi dirinya yang tidak pernah mengabari Letta selama tujuh tahun terakhir pasti membuat cewek itu jadi memilih untuk berpaling ke lain hati yaitu Hami. Yahh... Mungkin seperti itu.


Lamunan Alex terhenti ketika seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh mendatanginya atau lebih tepatnya mendatangi Ajeng.


"Aduh, Mba Ajeng, ayo buruan itu kebayanya dipakai." kata wanita yang Alex tebak seumuran dengan mamanya.


Dari sudut pandang Alex, Ajeng tampak ingin menghentikan omongan wanita itu. "Maksudnya kebaya biar kembaran sama teman-teman. Udah seragaman." kata Ajeng tergagap ke Alex.


Wanita paruh baya itu akan memprotes. Namun tanpa pikir panjang, Ajeng sudah menarik si wanita itu untuk menjauhi Alex. Sebelumnya Ajeng memberi Alex tatapan minta maaf. Dan Alex yang masih bingung tidak tahu apa yang terjadi hanya mengiyakan.


Sekarang Alex sendirian di tempatnya, dan sialannya tidak orang yang ia kenal di sini. Mata Alex melirik ke sana kemari berusaha mencari siapa tahu ada yang ia kenal. Tanpa sengaja matanya jatuh kepada sosok perempuan berada cukup jauh dengannya. Walau hanya dari belakang, namun ia tidak akan pernah salah mengenali orang itu, dan hal tersebut membuat jantungnya terus berdetak kencang.


Alex baru saja berjalan selangkah untuk menghampiri perempuan yang ia tebak Letta itu, tetapi tiba-tiba saja ponsel di dalam saku celananya bergetar dua kali, membuat Alex geram dan terpaksa berhenti untuk mengecek ponselnya. Ada dua pesan yang masuk ternyata.


Pertama.


081674403***


BEEBEE GRANDPRIZE!


Selamat, Anda adalah Pemenang JUTAWAN BEEBEE 200'jt dengan NO.ID: AQYU2018 segera Konfirmasi klik di www.beebeerich.blogspot.com


Kedua.


085885482***


Dear you, no kamu meraih BONUS PULSA Rp 5.000.000. Cek kode di *757*5# dan update terus voice statusmu. Hub. *757*5#


Alex *** ponselnya dengan geram karena ternyata pesan yang masuk sangatlah tidak penting. Dan ia lebih kesal lagi karena saat Alex mendongak untuk mencari sosok Letta tadi, sosok itu sudah pergi dan menghilang dari pandangannya.


Semua ini gara-gara... Penipu kampret !!!


***


Singkatnya Alex sudah berdiri jauh paling belakang dari semua orang saat acara ijab qobul sedang dilaksanakan. Hatinya berdenyut sakit ketika melihat dua mempelai pengantin itu bersanding bersama di depan penghulu. Alex berdiri jauh di belakang jadi ia hanya bisa melihat punggung dua orang yang duduk bersebelahan itu saja, walaupun begitu Alex tahu kalau Letta yang sekarang ada di depan sana pasti sangatlah cantik dengan balutan kebaya putih yang dipakai.


Tadi sekilas Alex sempat melihat wajah Hami saat cowok itu memalingkan muka ke samping. Dengan kenarsisan tingkat tinggi, menurut Alex wajah cowok itu tidak berubah banyak, masih ganteng tapi masih di bawah kadar kegantengannya. Wajah cowok itu berseri-seri dengan mata terus memancarkan binar kebahagiaan. Sedangkan untuk Letta, Alex sama sekali belum melihat wajahnya karena cewek itu terus menatap ke bawah alias menundukkan kepala.


Entah Alex ini harus merasa senang atau sedih. Ia senang belum melihat wajah cewek itu karena kalau sampai ia melihatnya, bisa saja Alex akan berlari ke depan sana dan membawa pergi si pengantin wanita lari kemanapun asal tidak ada yang tahu. Dan ia sedih juga karena rasa ingin bertemu Letta yang selama tujuh tahun ini tidak berjumpa rasanya sudah tidak tertahankan, tetapi kalaupun nanti ia bisa bertemu, Letta sudah menjadi milik orang lain. Alex jadi merasa mengasihani dirinya sendiri.


Dirinya terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak tahu dengan persis apa yang sedang terjadi di depan. Ia bahkan tidak mau melihat ke orang di sekitarnya karena Alex jelas tidak akan bisa menyembunyikan raut wajah terlukanya saat ini. Ia sebelumnya sempat diminta oleh Aji, Dinda, maupun Sari untuk melihat lebih dekat, tapi Alex selalu menolak. Ketika Alex meminta Milo untuk dengannyapun tidak dibolehkan oleh Dinda. Milo juga rupanya lebih memilih untuk bersama Dinda daripada dengannya.


Tiba-tiba telinga Alex berdengung ketika semua undangan yang hadir melafalkan satu kalimat sakral. "Saaaahhhh..."


Detik itu juga Alex tidak akan kuat lagi berada di dalam gedung. Yang ada malah membuat dadanya kian sesak. Ia butuh bernafas. Ia butuh udara segar. Jadilah Alex memilih untuk keluar dari gedung ini. Ia berjalan secepat mungkin agar tidak ada orang yang melihat ataupun menginterupsinya.


Alex berjalan jauh hingga akhirnya ia tiba di bagian paling belakang gedung yang berupa taman. Taman ini mungkin sering digunakan untuk pesta pernikahan juga mengingat dekorasi tamannya dibuat sangat apik dan bagus. Alex memutuskan untuk duduk ke kursi besi yang ada di bawah pohon. Di depannya ada kolam berisi ikan warna-warni yang Alex tidak tahu apa nama dan jenisnya. Yang penting namanya ikan sudah cukup.


Di sana Alex memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam berharap rasa sesak yang menghimpit dadanya segera lepas pergi. Namun bukannya menjadi lega, Alex malah mendapati dirinya membayangkan bagaimana hari-harinya ke depan nanti pasti akan memburuk.


Alex masih dalam dunianya sendiri sampai tidak mendengar ketika ada suara langkah kaki mendekat. Orang itu berjalan makin dekat hingga akhirnya duduk di samping Alex. Namun sayangnya Alex masih belum tahu juga.


"Hai." kata orang itu tapi Alex masih menulikan telinganya.


"Alex," kata orang itu sekali lagi. Kali ini Alex rupanya sudah mendengar karena kelopak matanya bergetar terbuka sedikit demi sedikit.


Alex sendiri sedang merasa ngeri dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia yang sedang membayangkan Letta rasanya bisa mendengar sura cewek itu. Bahkan rasanya benar-benar seperti nyata. Alex bergidik karenanya.


"Bego banget sih gue." Alex berkata sambil tertawa hambar. Bukankah Letta jelas-jelas sedang berada di dalam gedung sedang melangsungkan pernikahannya dengan Hami, jadi mana mungkin Letta ada di sini. Semua ini benar hanya halusinasinya semata. Halusinasi yang sialannya terasa begitu nyata.


"Iya, lo emang bego."


Lagi, Alex merasa mendengar suara Letta. Sekarang dirinya yakin harus cek kesehatan telinga, hati, dan juga kejiwaannya. Tap suara itu seakan berasal dari sisi sampingnya...


Seakan slow motion, Alex memutar kepalanya ke samping, melihat dari bahunya kalau cewek bernama Arletta Zachary yang ia sukai sedang duduk tepat di sebelahnya. Alex terlalu kaget untuk mempercayai ini semua jadilah ia sampai tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Matanya menilai sosok yang ia lihat ini dari atas sampai bawah, takutnya semua ini palsu dan hanya halusinasinya saja yang terlalu tinggi.


Tapi, tapi ini semua asli terjadi, Letta benar-benar di sini dan bukannya berada di dalam gedung yang menyesakkan itu. Mata Alex memindai ke baju yang dipakai Letta. Bukan kebaya! Itu bukan kebaya yang dipakai oleh si mempelai wanita yang ada di depan penghulu tadi. Kalau begitu itu berarti satu-satunya jawabannya adalah...

__ADS_1


"Bukan gue yang menikah sama Hami." ucap Letta seakan tahu apa isi pikiran Alex. "Cewek itu Ajeng." lanjutnya. Letta menatap Alex tepat ke matanya, begitupun dengan Alex yang menatap Letta balik. Dan dari situ Alex tahu kalau Letta mengucapkan itu dengan jujur.


Alex ingin sekali mengeluarkan suara, tetapi hanya mulutnya yang terbuka dan tidak ada kata-kata apapun yang keluar.


Letta sendiri **** senyum melihat Alex yang membeku terdiam di tempatnya. Atas inisiatifnya sendiri, Letta membawa tangannya ke tangan Alex lalu memberi remasan di sana seakan memberi tahu Alex kalau ia ini nyata.


"Ini bukan mimpi lagi, kita benar-benar bertemu lagi sekarang setelah sekian tahun lamanya."


"..."


"Ngomong sesuatu, dong. Jangan diam aja."


"..."


"Emang lo gak suka apa kalau bukan gue yang nikah sama Hami?


"..."


"Lo gak mau ngomong sesuatu sama gue?" kata Letta pura-pura cemberut lalu segera menarik tangannya kembali.


"Kalau begitu gue pergi aja." Letta bangkit berdiri hendak berjalan pergi sebelum kemudian tangannya dicekal oleh Alex. Semua ini terjadi begitu cepat hingga Letta tidak tahu detik berapa tepatnya Alex ikut berdiri, detik berapa Alex menariknya dan detik berapa pula ia berakhir dalam pelukan Alex.


"Jangan... jangan pergi. Tetap di sini sama gue." gumam Alex pada akhirnya seraya menggeleng pelan. Wajah cowok itu terbenam dalam rambut Letta yang ia buat kepang menyamping ke satu sisi. Kedua tangannya melingkari bahu Letta dengan erat seakan tidak membiarkan Letta menghilang dan meninggalkannya.


"Oke, gue akan tetap di sini sama lo." jawab Letta yang bisa merasakan detak jantung Alex yang berdegup kencang seperti miliknya.


Lama mereka berpelukan hingga Alex melepaskan diri dan membawa Letta untuk kembali duduk ke bangku besi yang tadi mereka duduki. Letta duduk persis di samping Alex hingga bahu keduanya saling bersentuhan. Sedangkan satu tangan mereka bertautan di tengah-tengah. Letta tidak pernah melupakan bagaimana rasanya hangat tangan Alex ketika melingkupi tangannya seperti ini seperti bertahun-tahun yang lalu ketika mereka masih memakai seragam SMA.


Hening di antara keduanya tidak cukup lama, tapi cukup untuk menyadari kalau semua ini memang bukan mimpi semata bahwa mereka bertemu kembali dan duduk di tempat yang sama detik itu juga. Alex yang juga sepertinya masih terkejut merasa bingung akan mulai dari mana. Ia menoleh ke arah Letta yang menurutnya lebih cantik daripada dulu. Seakan tahu sedang diamati, Letta menoleh juga. Sesaat keduanya sempat beradu pandang sebelum akhirnya sama-sama tertawa.


Alex yang berhasil menghentikan tawanya lebih dahulu berdehem sebelum kemudian bersuara. "Ngomong-ngomong itu yang di dalam beneran Hami sama Ajeng, kan? Bukan Hami sama lo terus lo ganti baju terus nyamperin gue ke sini?"


Letta yang mendapat pertanyan seperti itu tergelak dan menonjok bahu Alex. "Iya itu memang bukan gie, itu di dalam beneran Ajeng sama Hami. Memangnya lo mau apa kalau gue yang nikah sama Hami?"


Alex menggeleng cepat. "Gak, gue gak mau lo sama dia." namun selanjutnya ia mengangkat bahunya acuh. "Tapi kalau lo sukanya sama dia, gue bisa apa."


Letta tersenyum lebar. "Lo tahu, gue hari ini senang banget lihat mereka berdua bisa menikah. Gue rasa bahagia buat mereka. Gue bahagia karena akhirnya cinta monyet gue bisa menemukan cinta sejatinya.."


"Lalu gimana sama lo?"


"Gue juga bahagia karena gue cinta sama cowok yang udah ada dari masa kecil gue." aku Letta sambil tersenyum penuh arti.


"Lo tahu?" tanya Alex terkejut.


Letta mengangguk malu. "Gue udah tahu semua ceritanya dari orang tua gue. Gue tahu bagian lo adalah teman gue, gue yang sama lo main di sungai dan berakhir gue yang tenggelam, gue yang hilang ingatan sampai gak bisa ingat lo, dan terakhir yang buat gue sedih adalah fakta bahwa lo nyalahin diri lo sendiri sampai lo nekat malakukan... percobaan bunuh diri." Letta menarik nafasnya sebelum melanjutkan kembali. "Sayangnya gue gak bisa ingat apapun dari semua kejadian itu, gue cuma tahu ceritanya." ujar Letta sedih lalu menundukkan pandangannya ke bawah.


Alex mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Letta, dan meminta cewek itu mengangkat dagunya kembali. "Gue sebenarnya udah tahu sebagian ceritanya dari nenek gue dulu sewaktu gue masih di desa. Dulu gue suka mimpi buruk di sana, dan gue bermimpi bertemu sama anak kecil dan itu adalah lo. Tapi gue terlalu takut buat ngasih tahu lo soal itu semua. Gue takut dengan lo tahu kalau gue adalah penyebab semua ini, lo bakalan berakhir dengan benci sama gue."


Letta mengerutkan dahinya tanda tidak setuju dengan penuturan Alex. "Alex, pertama, lo bukan penyebab gue tenggelam. Kita semua memang gak tahu gimana pastinya gue tenggelam, tapi gue yakin banget kalau itu bukan karena lo. Percaya sama gue. Gue malah selalu merasa kalau itu kemungkinan salah gue. Mama gue sempat ngasih tahu gue kalau gue itu anaknya terlalu aktif. Gak menutup kemungkinan kalau gue ceroboh sama diri gue sendiri. Dan kedua, gue gak sepicik itu buat benci sama lo semisal dulu lo cerita ke gue."


"Dimaafkan."


Sedetik kemudian setelah mengatakannya Letta menyandarkan kepalanya ke bahu Alex. Hal ini tentunya mengingatkan mereka ketika hari dimana mereka berdua menghabiskan waktu bersama di pantai. Hanya saja bedanya dulu Letta lebih memilih untuk menundukkan kepalanya karena ia tahu kalau dirinya tidak bisa berbuat banyak, sedangkan sekarang ia mendongakkan kepalanya menatap ke depan seakan ia bisa melihat masa depannya bersama Alex.


"Ceritain tentang diri lo selama tujuh tahun ini." pinta Alex yang dengan senang hati akan Letta turuti.


"Lo bakalan kaget kalau dengar cerita gue." balas Letta sambil mendongakan pandangannya ke Alex.


Dan dibalas dengan Alex yang menundukkan pandangannya menatap ke mata Letta Letta. "Gue belum dengar jadi belum ada jaminan gue bakalan kaget."


"Oke kita lihat aja." Letta tertawa kecil. Ia mengalihkan pandangannya ke depan lagi lalu mulai bercerita. "Tiga bulan setelah lo pulang ke kota, Hami nembak gue---"


"Si brengsek itu nembak lo?" Alex bertanya dengan kening mengernyit dalam. Ia cukup terkejut karena tahu kalau setelah ia pergi, Hami bergerak cepat dengan meminta Letta menjadi pacar. Rasa tidak suka dan tidak terima memenuhi diri Alex.


"Lo dengarin gue dulu." Letta berujar kesal karena Alex memotong ucapannya. "Dia memang waktu itu nembak gue tapi asal lo tahu dia waktu itu udah putus sama Ajeng. Dan asal lo tahu juga kalau mereka berdua bahkan putus di malam sebelum kita berdua ke pantai."


Alex mendengus sebal. "Oh astaga, dia bahkan lebih licik dari yang gue kira."


Kali ini tidak tahan dengan perkataan Alex, Letta mencubit perut Alex hingga si empunya meringis. "Gue kan bilang dengerin dulu biar gak salah paham."


Lalu Letta memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan tidak lagi bersandar ke bahu Alex. "Dia putus juga karena Ajeng yang mutusin. Ajeng waktu itu juga sama kayak lo, dia pindah ke kota sama orang tuanya---"


"Sekarang lewati bagian itu karena itu gak penting buat gue, yang jelas sekarang kasih tahu gue apa jawaban lo waktu itu."


Letta menghela nafas lelah. Susah sekali meminta Alex untuk tidak memotong ucapannya. "Tentu aja gue mau."


Badan Alex menegang selepas Letta mengatakan hal itu. "Kenapa? Kenapa lo nerima dia, katanya lo kan suka sama gue."


Letta mengingat-ingat kembali alasannya dahulu ia menerima Hami. "Lo tahu waktu itu gue benar-benar patah hati sewaktu lo ninggalin gue. Jadi ketika Hami nembak gue, gue mau. Gue pikir dengan adanya dia gue bakalan bisa lupain lo alias move on gitu. Tapi harapan memang terkadang gak sesuai kenyataan karena ternyata gue tetap aja selalu mikirin lo. Semakin gue berusaha untuk nyingkirin lo dari otak gue, semakin sering juga gue mikirin lo."


Alex menyeringai mendengar jawaban Letta. "Jadi intinya lo cuma jadiin dia pelarian?"


Letta menggeleng pelan. "Gak juga, gue juga mencoba buat suka lagi sama Hami. Gue berusaha buat ingat saat-saat dimana gue masih suka dia dan hal itu berhasil buat gue bisa nyaman punya hubungan sama dia. Gue sama Hami juga layaknya orang pacaran normal lainnya, berangkat dan pulang sekolah bareng, suka jalan-jalan juga."


Tidak ingin mendengar lebih jauh lagi kedekaran Letta sama Hami, Alex segera mengalihkan topik. "Terus gimana lo berdua bisa putus?"


Senyuman penuh arti tersungging di bibir Letta. "Hami minta putus sewaktu sehari setelah hari kelulusan. Sama seperti gue yang pada akhirnya belum bisa move on dari lo, Hami juga sadar kalau dirinya udah terlanjur suka sama Ajeng dan kita berdua sama-sama belum bisa move on. Gue dan dia mengakui kalau kami berdua sama-sama pernah ada rasa yang sama, tapi kami juga tahu kalau rasa itu terkadang ada untuk datang sementara dan bisa digantikan oleh orang lain. Dan pada akhirnya gue sama dia putus secara baik-baik."


"Gue bersyukur sepenuhnya karena lo putus sama dia." kekeh Alex. "Sekarang ceritain hal lain tentang diri lo."


Letta **** senyum malu karena ia tahu kalau ia mulai bercerita lagi ia akan membongkar semuanya ke Alex. Tapi kalau dipikir lagi buat apa terus menyimpannya selama bertahun-tahun ini. Tahu apa yang akan ia pilih, Letta mulai bercerita kembali.


"Setelah gue lulus, gue kuliah dan ambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Empat tahun gue sekolah dan akhirnya lulus, satu tahun gue ngajar di daerah sini, dan setahun lagi sampai sekarang gue ngajar--- di daerah lo." Letta sempat ragu ketika mengatakan. "Gue ngajar di sekolah TKnya Milo, anak lo."


Letta bisa melihat kilat terkejut di mata Alex.

__ADS_1


"Lo jadi guru di sekolah Milo?" Alex merasa suaranya tercekat begitu tahu fakta ini. Apa mungkin Dinda tahu soal ini? Ahh... Jelas mamanya tahu, mana mungkin tidak. Secara Dindalah yang bolak-balik ke TK. Jadi jelas Dinda tahu kalau Letta yang mengajar di sekolah anaknya. Mungkinkah ini alasan yang tepat kenapa Dinda tidak membolehkannya untuk menjemput Milo sepulang sekolah dan menghadiri acara orang tua di TKnya Milo? Alex ingin tahu jawabannya.


"Iya, gue guru di sana. Dan gue mau jujur sama lo kalau selama ini gue dan mama lo itu saling berhubungan, maksud gue adalah mama lo selalu ngasih kabar Milo ke gue dan juga kabar lo. Dia selalu kasih info apapun ke gue. Bahkan mama lo juga yang ngasih tahu gue dimana Milo mau masuk ke TK nantinya, makanya gue segera pindah dari TK yang awalnya gue tempati biar bisa ngajar di TKnya Milo."


"Sejak kapan? Sejak kapan mama gue ngasih tahu lo semua itu?"


"Itu setahun sejak lo pergi." Letta menjawab pelan-pelan.


"Apa mama gue juga ngasih tahu lo soal Mona?"


Letta mengangguk. "Gue ikut sedih soal Mona. Menurut gue dia ibu yang hebat untuk Milo. Dia rela bahahayain nyawanya sendiri demi anaknya bisa lahir."


"Gue juga mengakui itu." Alex menghela nafas. "Kita bahas yang lain aja, gue merasa topik Mona ini belum pas buat dibicarakan sekarang." dan dijawab dengan Letta mengatakan setuju.


"Milo kemarin-kemarin cerita sama gue kalau di sekolahnya ada guru yang suka bawain jajanan tradisional ke sekolah dan dibagi ke anak-anak, jangan-jangan itu lo."


"Iya itu gue. Tapi sebenarnya itu juga bukan gue semuanya yang buat tiap hari, aslinya itu ada jadwal bergilir siapa yang buat makanannya."


"Kenapa sampai ada acara begitu?"


"Jadi di sekolah TKnya itu ada program jajanan sehat, yang mana kami para guru disana setuju untuk memberikan jajanan ke anak-anak daripada mereka semua beli jajanan di luar sekolah yang belum tentu baik dan bisa aja berbahaya buat kesehatan mereka. Dan jajanan tradisionalnya itu harus dibuat sendiri oleh guru secara bergantian. Gak boleh pesan ke orang lain karena takutnya ada orang nakal yang masukin bahan yang enggak-enggak, kita kan gak tahu. Intinya sih begitu."


"Kalau dipikir lagi gue masih belum bisa percaya kalau lo jadi guru dan ngajar di sekolah Milo."


Tawa Letta lepas mendengar pernyataan Alex. "Ketahuilah gue juga masih sulit percaya sama semua ini. Gue padahal awalnya gak ada niatan sedikitpun mau jadi guru." jeda sebentar sebelum Letta bersuara lagi. "Lo ada pertanyaan lain lagi buat gue?"


Alex berpikir sesaat. "Sekarang lo kasih tahu gue untuk tujuan apa dulu lo ngirim undangan pertunangan dan pernikahan lo sama Hami ke gue. Lo gak tahu aja itu berhasil buat gue hampir jantungan." tanya Alex yang entah kenapa membuat pipi Letta memerah.


Kemudian mengalirlah cerita Letta mulai dari ia dan Dinda yang sengaja membuat undangan pertunangan palsunya dengan Hami dengan tujuan agar Alex mau menginjakan kaki ke desa dan melihat kalau Letta masih mengharapakannya. Yang kemudian rencana itu berakhir miris karena nyatanya Alex memilih untuk tidak datang. Letta mengatakan kepada Alex kalau ia sempat mulai berpikir kalau Alex sudah tidak peduli lagi padanya dan langsung ditepis Alex kalau itu tidak benar.


Tidak sampai dua bulan setelah rencana itu gagal, Letta diberitahu kalau Hami sudah melamar Ajeng dan sudah menentukan tanggal pernikahan yang mana masih satu tahun lagi. Sejak itu Letta mulai menyusun rencana B dengan membuat dirinya seakan-akan yang menikah dengan Hami. Dinda juga ia beritahu rencananya ini dan mendukung pelaksanaannya. Jadi sewaktu Milo masuk sekolah lima bulan yang lalu Dinda tidak memperbolehkan Alex untuk ke TK karena takutnya rencana mereka gagal. Padahal jika tidak ada rencana B ini, Dinda akan meminta Letta melakukan hal lain seperti membuat Alex tahu kalau Letta mengajar di sekolah TKnya Milo dan membuat keduanya bertemu sesering mungkin. Tetapi karena rencana B dijalankan, jadi rencana itu otomatis gagal.


Lagipula kalau dipikirkan lagi, rencana itu juga tidak adil kalau dibandingkan dengan rencana B. Kalau rencana itu jadi, enak sekali Alex hanya diam saja selama tujuh tahun dan tiba-tiba bertemu Letta. Lebih adil rencana B, membuat Alex kebingungan, frustasi, sakit hati jadi satu agar setimpal dengan Alex yang selama ini tidak membuat pergerakan apapun untuk kembali dengan Letta. Bahkan menolak semua hal tentang Letta. Malah bisa dikatakan di sini Letta yang terus berjuang. Dan sekarang sudah waktunya untuk Alex ikutan berjuang dengannya.


"Lo tahu, setelah gue nerima dua undangan sialan itu gue sering kali menyesali keputusan gue karena udah gak memanfatkan waktu bertahun-tahun buat bikin lo kembali ke gue. Gue menyalahkan diri gue karena sudah berlaku terlalu pengecut." aku Alex yang kemudian menarik Letta untuk mendekat, melingkarkan satu tangannya ke bahu Letta.


Letta mencari tempar yang nyaman dengan bergeser-geser lebih dekat sedikit lagi. "Lo pengecut banget. Lo buat gue keduluan nikah sama dua teman gue."


"Dua?"


Dalam pelukan Alex ini Letta mengangguk. "Hami sama Ajeng udah menikah. Terus tadi sewaktu di dalam, Mira bilang ke gue kalau dia mau segera nyusul sama Indra, tinggal nunggu tanggal yang cocok buat mereka nikah."


Indra. Alex tidak akan lupa siapa cowok itu, karena Indra jugalah yang membuatnya dulu bersama Letta di pantai. Dan soal Mira, Alex masih ingat kalau dia memang temannya sewaktu di Prisma. Baginya tidak mengejutkan kalau mereka berdua terlibat saling suka sampai mau menikah, secara keduanya juga sudah berteman sejak lama dan tidak mengherankan kalau sampai tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.


"Gue senang dengarnya." balas Alex. Jeda cukup lama diantara mereka. Sebelum akhirnya Alex bertanya.


"Lo mau nikah sama gue?" walau suaranya terdengar datar dan ragu, tetapi percayalah di dalam sana jantung Alex sudah menggila tidak karuan. Bahkan rasanya semua inderanya sensitif menanti jawaban Letta.


Kemudian yang yerdengar adalah Letta tertawa sebelum menggoda Alex. "Lo lagi melamar gue?"


"Menurut lo gimana?" ucap Alex yang mulai gerogi. Matanya mulai mengarah ke sana ke mari. Kenapa juga Letta tidak langsung menjawabnya saja jadi ia tidak perlu segugup ini.


Melihat Alex yang seperti itu membuat Letta mau tak mau tertawa. "Sumpah, ini lamaran paling gak romantis sedunia. Gak ada cincin?" Letta menahan tawa ketika Alex bergerak gelisah.


"Gue gak tahu kalau akhirnya bakal seperti ini. Tapi gue janji gue bakalan ngasih lo cincin nanti bahkan yang paling mahal pun akan gue kasih. Sekarang lo jawab dulu pertanyaan gue, lo mau menikah sama gue?"


Letta membuat gerakan berpikir. "Hhmm..."


"Letta." desak Alex yang mulai tidak sabar.


Lalu Letta melontarkan satu pertanyaan yang selama ini menjadi hal paling penting dalam pikirannnya. "Gimana soal Milo? Gue takut dia gak suka ibu gurunya menikah sama ayahnya. Gue takut dia gak mau peran ibu kandungnya digantikan sama gue."


"Gue akan bicara sama dia dan gue jamin Milo pasti mau, karena dia juga butuh seorang ibu." ucap Alex menenangkan walaupun dirinya sendiri juga ragu apa Milo mau menerima Letta. Tapi bukankah Milo suka ibu gurunya di TK, yahh semoga saja itu bisa menjadi point plus agar Milo mau menerima Letta. "Jadi?"


Letta mendongak untuk melihat kalau Alex sudah menurunkan pandangannya kepada dirinya. Kedua tangan Letta ia tangkupkan ke pipi Alex lalu ia mulai tersenyum jahil. "Gue pikir sekali lagi deh."


"Letta..." erang Alex memanggil namanya meminta jawaban yang benar. Kedua mata mereka sekarang saling mentatap intens.


"Oke, oke."


"Oke untuk yang apa?" bisik Alex serak karena bahagia.


"Oke gue mau menikah sama lo, dan oke untuk jadi ibu buat Milo."


"Terima kasih karena masih mau menerima gue setelah apa yang udah gue lakuin sama di masa lalu dan sekarang."


"Sudah dimaafkan."


Letta masih belum menurunkan tangannya dari pipi Alex. Dan dari mata Alex ia tahu kalau masa depannya yang cerah sudah terbentang lebar di depannya. Letta merasakan tatapan Alex mulai menggelap ketika dengan sengaja Letta mengeluskan tangannya ke pipi Alex sampai mencapai dagu.


Alex sempat memejamkan matanya, dan terbuka sambil mengucapkan kalimat yang telah sekian lama Letta tunggu.


"Gue cinta sama lo, Arletta Zachary."


"Gue juga cinta sama lo, Alexis Ajibrata."


Senyuman bahagia terukir di wajah keduanya. Dari posisinya, Letta tahu mata Alex sudah kehilangan fokus. Ia menangkap mata Alex yang mulai turun mengamati bibirnya. Alex sempat menaikkan pandangannya ke mata Letta seakan meminta persetujuan. Letta diam tidak menolak. Dengan backsound suara detak jantung keduanya, Alex mulai menurunkan kepalanya sedikit demi sedikit hingga Letta memilih memejamkan mata. Hidung mereka sudah bersentuhan. Deru nafas Alex yang hangat menerpa wajah Letta. Sudah sangat dekat dan hanya tinggal satu gerakan lagi sebelum semuanya terjadi, tetapi---


"Papa!"


***


TAMAT


***

__ADS_1


__ADS_2