
Terhitung sudah tiga hari Alex tidak berangkat sekolah. Dan selama tiga hari itu pula sudah diputuskan kalau ia akan pindah sekolah ke kota kembali. Dua hari yang lalu ia sudah membicarakan masalah perpindahannya dengan sang ayah, dan kemarin orang suruhan ayahnya sudah mengurusi segala keperluan perpindahannya. Menurut rencana, nanti Alex akan home schooling sampai Mona melahirkan atau mungkin sampai ia tamat SMA mengingat dirinya harus mulai memperhatikan anaknya. Alex juga akan menikah dengan Mona yang sah secara agama dahulu sehingga ketika bayinya lahir, tidak akan kebingungan ketika mengurus surat-surat untuk akta kelahiran dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan Letta? Letta sebenarnya setiap hari selama tiga hari ini datang ke rumah Sari dan mencarinya. Senang? Tentu saja Alex luar bias senang karena Letta tidak secuek itu padanya dan masih peduli dengannya. Tetapi, Alex selalu bersembunyi dan meminta neneknya untuk berbohong kepada Letta kalau ia sedang pergi bersama temannya yang datang dari kota.
Soal perasaannya ke Letta, yahh... Bagian itu sudah Alex pikirkan juga. Ia sudah memutuskan untuk mengubur rasanya dalam-dalam. Ia tidak boleh egois dengan menginginkan Letta terus bersamanya di saat ada orang lain yang lebih membutuhkannya.
Dan menjadi jahat adalah pilihan terakhir Alex. Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menyakiti Letta dengan tujuan agar cewek itu membencinya. Alex pikir kalau Letta membencinya, ia jadi akan lebih mudah meninggalkan Letta dan membuang perasaannya. Yahh... Setidaknya itulah yang Alex putuskan, membuat Letta sebenci mungkin padanya. Tekadnya sekarang hanya satu : lakukan dan katakan sesuatu yang membuat Letta membencinya. Sebenci mungkin kalau bisa.
Tepat saat itu juga, Alex mendapati sebuah sepatu menghantam dadanya dengan keras lalu jatuh menghantam lantai, dan Alex tahu kalau perannya sebagai tokoh antagonis akan segera dimulai. Ia menaikkan pandangannya dan mendapati Letta berdiri sekitar empat meter di depannya dengan nafas terengah dan wajahnya memerah --yang besar kemungkinan karena marah-- jangan lupakan Letta yang hanya mengenakan satu sepatu, karena yang satunya lagi sudah dilemparkan ke Alex tadi.
Dalam hati, sempat-sempatnya Alex merasa senang. Untuk yang ketiga kalinya.
"Kasih tahu gue kalau gosip itu gak benar?" kata Letta dengan serak. Dari jarak yang tidak jauh ini Alex bisa melihat mata Letta yang berkaca-kaca ketika mengatakan itu.
Alex mulai mencoba mengeraskan hatinya. Ia mengangkat dagu, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sehingga akan menimbulkan kesan angkuh. "Bisa lo perjelas?" tanya Alex dengan datar berpura-pura tidak tahu maksud dari perkataan Letta.
"Kasih tahu gue kalau lo gak beneran mau pindah sekolah." balas Letta dengan suara bergetar.
"Sorry kalau lo gak suka, tapi gue emang mau pindah."
"Lo bohong!" pekik Letta.
"Buat apa gue bohong. Gak ada untungnya." ucap Alex acuh tak acuh.
"Sial, lo pasti cuma bohongin gue!" umpat Lettta.
Dengan wajah memerah menahan marah, Letta berjalan cepat mendekati Alex mengikis jarak di antara mereka berdua. Setibanya di depan Alex, ia mengarahkan telunjuknya untuk menekan dada Alex kuat-kuat. "Lo gak perlu bohong di depan gue. Tolong-- tolong bilang ke gue kalau lo tadi cuma bohong, bilang ke gue kalau lo gak bakalan pindah sekolah, bilang kalau lo tadi cuma bercanda."
Alex mencoba menjawab sedatar dan setenang mungkin berusaha untuk tidak tersentuh. "Gosip itu emang benar. Gue bakalan pindah." lalu ia menjeda sedetik. "Ada masalah sama lo?" tanya Alex sambil menaikkan salah satu alisnya.
Letta menatap Alex tidak percaya. "Lo bohong, gue tahu." kemudian ia tertawa sumbang sambil menggelengkan kepalanya. "Bercanda lo gak lucu, tahu nggak?"
"Siapa juga yang lagi bercanda, gue serius mau pindah." balas Alex dengan malas sambil memutar bola matanya.
Letta sekuat mungkin menahan rasa nyeri di dadanya setiap mendengar setiap jawaban Alex. Dan sekali lagi Letta menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan semua ini. Ia tidak percaya kalau Alex akan pindah sekolah ke kota lagi. Walaupun Alex sudah mengatakan kalau semua itu bukanlah kebohongan, tetapi entah kenapa Letta belum bisa mempercayai Alex. Alex yang ia kenal tidak mungkin akan seperti ini dan kalaupun Alex benar, pasti ada sesuatu yang salah.
"Gak mungkin." bisiknya. "Lo gak mungkin pergi ninggalin gue, kan?" tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Gue pergi atau enggak itu gak ada urusannya sama lo, Letta, kenapa lo yang ribut?" desah Alex.
__ADS_1
"Apa?" Letta membelalakkan matanya. "Lo-- lo kenapa sih ngomongnya begitu?" ia mengerjapkan matanya mencegah air matanya yang sudah menggenang agar tidak keluar. "Gue ada salah sama lo? Kalau ada, tolong kasih tahu gue." pintanya melas. "Kasih tahu gue dimana letak kesalahan gue."
"Lo gak salah apa-apa."
"Terus kenapa lo berubah? Kenapa lo juga sampai harus pindah sekolah?"
"Gue gak berubah."
"Lo berubah, sikap lo berbeda sama empat hari yang lalu. Apa ada masalah selama tiga hari ini? Kasih tahu, Alex." desak Letta yang malah membuat Alex semakin frustasi.
Alex berbalik lalu menyisir rambutnya. Sialan, kalau begini caranya bisa rusak pertahanan Alex. Bisa-bisa ia menceritakan semua masalahnya ke Letta. Namun jangan sampai itu terjadi.
Alex tidak boleh mundur karena tujuannya memang menyakiti Letta. Dan ini belum seberapa.
Ia pun berbalik sambil menyipitkan matanya melihat ke Letta dengan tajam. "Dengar, yah." desis Alex. "Lo gak salah apapun ke gue. Perkara gue mau pindah sekolah itu urusan gue, bukan urusan lo."
"Tapi ini pasti ada kaitannya dengan tiga hari ini kan?" tebak Letta tepat sasaran namun Alex berusaha untuk tetap menatap Letta tajam seakan akan jawaban Letta salah besar.
Lalu Alex mengatakan sesuatu yang pastinya akan menyayat hati cewek yang ia suka ini. "Lo pikir lo siapa beraninya ikut campur. Lo bukan mantan gue, lo bukan pacar gue, dan lo bukan siapa-siapa. Lo itu cuma teman yang kebetulan gue kenal, jadi gak usah sok ngatur apa yang gue mau. Dan dari mana pikiran gue ninggalin lo. Lo pikir lo siapa?"
Selama hidup Letta ia belum pernah mendapatkan perkataan sekasar dan semenyakitkan untuk didengar seperti ini. Dengan mata nanar, ia melihat Alex yang menatapnya tajam seakan menegaskan kalau Letta memang bukan siapa-siapa. Alex tidak tahu saja seberapa sakitnya Letta di dalam sana. Rasanya seolah-olah hatinya diambil secara paksa. Sakit, seperti ada ribuan jarum yang menusuknya secara bersamaan.
Setelah kiranya satu menit dalam keheningan yang mengerikan, akhirnya Letta menemukan suaranya kembali. Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah terlebih dahulu sebelum bersuara. "Gue tahu gue bukan siapa-siapa." katanya lirih.
Dengan mata yang semakin berkaca-kaca dan wajah yang memerah, Letta menatap Alex tepat ke matanya. "Ta-- tapi-- gue-- gue pikir ada sesuatu di antara kita."
Letta menunggu reaksi Alex. Awalnya wajah Alex tampak pucat.
Namun kemudian reaksi Alex sungguh tidak terduga. Cowok itu malah menertawainya secara terang-terangan. "Sesuatu?"
Kemudian setelah berhenti tertawa, Alex terkekeh mengejek sembari kepalanya melirik ke Letta. "Maksud lo suka saling suka, gitu?"
Letta tidak menjawab karena perkataan Alex telak mengenainya. Melihat Letta yang diam saja sudah menjawab pertanyaan Alex. Astaga... Jangan bilang kalau Letta juga menyukainya. Jangan bilang kalau perasaannya ini terbalas. Jangan bilang kalau--- STOP SEKARANG JUGA!. Alex harus berhenti. Sekarang semuanya sudah tidak penting lagi. Tugas Alex adalah membuat Letta membencinya. Jangan sampai Letta membuatnya luluh.
Yang penting sekarang Alex tahu kalau rasanya ini terbalas dan tidak bertepuk sebelah tangan. Persoalan rasanya ke Letta, cewek itu gak perlu tahu. Cukup Alex saja yang tahu.
Dengan mengeraskan hatinya, Alex mengatakan sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan dan ia tahu kalau perkataannya nanti akan membuat Letta semakin jatuh. "Mimpi." kata Alex dingin.
***
__ADS_1
Letta diam mematung mendengar satu kata menyakitkan itu keluar dari mulut Alex, orang yang ia sukai. Ia tidak tahu kalau Alex akan dan bisa sejahat itu. Rasanya ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit hatinya, seperti seolah-oleh Alex menarik hatinya keluar lalu menginjak-menginjaknya di depan matanya. Seperti itu rasanya.
Hancur sudah hatinya berkeping-keping. Bahkan kalau boleh membandingkan, Hami tidak pernah menyakitinya sebagaimana Alex saat ini. Dan Letta tidak pernah merasa sesakit ini dalam hal menyukai orang lain.
Seakan belum cukup membuat hatinya hancur berkeping-keping, ternyata Alex masih melancarkan kalimat-kalimat tajamnya.
"Kenapa lo? Kaget? Gue pikir harusnya dari awal lo sadar kalau gue gak bakalan suka sama cewek kayak lo---
"Cukup."
"--- ck ck ck. Apalagi lo bukan tipe gue. Lo terlalu datar dan kaku. Gak cocok---"
"Gue bilang cukup!!!" bentak Letta yang entah dari mana menemukan kekuatannya kembali. Sekilas di mata Alex, Letta melihat penyesalan. Tetapi itu semua pasti hanya halusinasinya karena sesaat kemudian mata Alex menatapnya tajam dengan rahang cowok itu mengeras.
Sebelum Alex sempat bicara, Letta sudah menyela. "Gue tahu. Tapi lo--- lo gak perlu sampai ngomong begitu ke gue."
Letta mengerjapkan matanya sambil menarik tangannya memegangi kedua bahunya. "Terima kasih, karena sekarang gue tahu dimana posisi gue."
Alex berusaha keras untuk tidak meninju rahangnya sendiri. Ia sudah membuat Letta terluka dan pasti cewek itu akan membencinya. Tujuannya membuat Letta benci padanya mungkin sudah tercapai, tapi entah kenapa tidak membuat Alex senang. Alih-alih Alex merasa cowok paling tidak berperasaan.
Rasanya setengah mati Alex ingin sekali memeluk Letta dan mengatakan kalau ia juga menyukai Letta, juga meminta maaf atas perkataannya. Namun bukan seperti bayangannya, Alex malah berkata. "Kalau lo tahu posisi lo, lo tahu kan apa yang harus lo lakuin sekarang?"
"Apa?" Letta mengalihkan pandangannya dan menatap Alex tepat ke matanya lagi. Namun--- kali ini ia tersenyum ke Alex. Ia sengaja memberikan Alex senyumannya untuk menutupi betapa rapuhnya ia sekarang. Letta tidak mau Alex melihat betapa Alex berhasil mencabik-cabik hatinya. Ia tidak mau Alex bersenang-senang di atas kesakitannya
"Kasih tahu gue apa yang harus gue lakuin." desak Letta. Dan ia tertawa puas dalam hati ketika melihat Alex kewalahan mencari-cari jawaban.
"Buang perasaan konyol lo itu."
Selama beberapa detik Letta merasa pasokan udara di sekitarnya menghilang hingga rasanya sulit untuk bernafas. Walau Letta sudah menebak kalau Alex akan mengirimkan serangan lagi, tapi tetap saja ia merasa hatinya terus sakit mendengarnya.
Konyol? Astaga... Perasaannya dianggap konyol oleh orang yang ia sukai. Betapa menyedihkannya Letta saat ini.
"Gimana kalau gue gak bisa?" tantang Letta.
"Lo bisa. Karena gue gak sudi dan gak akan pernah bales perasaan lo. Jadi lebih baik daripada lo ngehayal sendiri, mending lo buang jauh-jauh mimpi lo itu."
Letta mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulitnya sakit karena tekanan dari kukunya.
"Lo tenang aja karena gue juga berpikir buat buang jauh-jauh perasaan gue. Gue juga udah gak sudi punya rasa lagi ke lo." balas Letta telak.
__ADS_1
***
Sampai berjumpa di part selanjutnya ❤❤