
Suara kayuhan sepeda mengiringi kepulangan Alex dan Letta di sepanjang perjalanan pulang. Hari yang sudah mulai gelap membuat Alex harus mengayuh sepedanya lebih cepat dari biasanya. Letta yang duduk di belakang juga sedikit membantu dengan tidak banyak bicara dan tidak membuat gerakan yang bisa membuat laju sepedanya oleng. Cewek itu duduk diam saja seperti patung, bahkan tidak mengatakan sepatah katapun.
Alex sih tidak peduli, tapi ia juga merasa aneh saja. Kesambet apa cewek itu hingga bisa diam saja. Biasanya senang mengajaknya ribut.
Karena Alex yang membawa sepedanya cepat, akhirnya mereka sampai di rumah juga. Alex menghentikan laju sepedanya. Ia menunggu Letta turun, tapi ternyata cewek itu masih setia duduk di boncengan sepeda. Kemudian akhirnya Alex yang turun sehingga badannya tidak bersinggungan dengan sepeda lagi tetapi satu tangannya masih memegangi kemudi sepeda agar Letta tidak jatuh.
"Udah sampai, lo gak mau turun." tanya Alex malas. Ia berbalik menghadap Letta dan anak itu masih diam saja. Melamun mungkin.
"Ditanya malah diam aja." Alex menjentikkan jarinya ke dahi Letta.
Letta tersentak kaget. Lalu memegangi dahinya, ia memberenggut kesal. "Kenapa sih?"
"Kita udah sampe, lo mau turun atau ikut ke rumah gue?" ujar Alex dengan datar. Ia memasukan satu tangannya yang tidak memegang kemudi sepeda ke dalam saku.
Letta melotot, matanya melihat ke sekitar. Diam-diam ia meringis malu, ternyata mereka sudah sampai bahkan ini di depan rumahnya. Dan dirinya masih diam duduk di atas sepeda. Segera, ia turun dari sepeda, berdiri di depan Alex.
Setelah Letta turun, Alex menyandarkan sepedanya. "Lain kali jangan kebanyakan melamun, udah mau maghrib, mulai banyak setan jalan-jalan takutnya nanti lo kesambet." katanya.
"Siapa juga yang melamun. Gue tadi cuma masih lemas makanya belum bisa turun. Harus ngumpulin tenaga dulu." elak Letta sepenuhnya bohong.
Jujur saja tadi ia memang melamun dan itu di luar kehendaknya. Ngenesnya, ia memikirkan cowok di depannya ini, siapa lagi kalau bukan Alex. Iya, tadi Letta melamunkan Alex.
Sejak Alex yang tadi dengan seenak udelnya menggandeng Letta waktu keluar dari kolam renang, Letta tidak bisa menghentikan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Bahkan belum sampai disitu saja, Alex membelikannya pop mie. Hanya karena sebuah pop mie, tapi Letta sudah ketar ketir karena ia gugup sampai-sampai ia beberapa kali tersedak saat makan minya.
Beruntung Alex cuek saja dan tidak ngeh dengan perubahan sikap Letta. Waktu sampai di sekolah, Letta hanya diam, takut suaranya akan berbeda dan Alex bisa tahu kalau ia sedang gugup. Acara diamnya ini berlanjut sampai Alex membawa sepeda dan dirinya pulang ke rumah. Selama perjalanan, Letta memilih diam.
"Tuh kan, lo melamun lagi." Alex menarik pipi Letta gemas.
Si empunya memekik sakit lalu mengusap bekas tarikan Alex dengan kasar. "Apaan sih lo, gue gak melamun."
Letta merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya melamunkan Alex lagi, untuk keduanya kalinya. Ini juga kebohongan keduanya setelah yang pertama saat bilang ia tidak melamun.
"Ngelamunin apa hhmm?" Alex memajukan tubuhnya lalu menyipitkan matanya ke arah Letta.
Spontan Letta mundur selangkah. Ia menatap Alex berpura-pura menampilkan raut wajah garang.
"Dibilangin gue gak melamun, sok tahu lo. Udah sana lo pulang aja, pasti udah ditungguin nenek lo di rumah." Letta mengibaskan tangannya ke udara seakan mengusir Alex.
"Ngeles aja terus." cibir Alex.
Letta berusaha tidak menanggapi cibiran Alex. "Gue mau masuk rumah aja, bye."
Letta membalikkan badannya hendak masuk ke rumah tapi baru dua langkah ia terhenti karena seseorang mencekal lengannya.
Letta berbalik dan disajikan Alex yang sudah berdiri menjulang di depannya. Tolong siapa saja bantu Letta mengatur jantungnya yang mulai berdegup kencang lagi agar kembali normal.
"A-aapa?" tanya Letta terbata. Matanya menatap Ales was-was karena cowok itu sudah membungkukkan badan agar wajahya sejajar dengan Letta.
Lalu Letta bisa merasakan hembusan nafas Alex di sekitar telinganya. Astaga, nih anak mau ngapain, batin Letta. Letta tidak tahu kalau ia sampai menahan nafas menunggu apa yang akan Alex lakukan selanjutnya.
"Gue tahu lo tadi mikirin gue." bisik Alex kemudian tepat samping telinga Letta. Alex menyeringai ketika tahu badan Letta menegang seketika.
Alex lalu melepaskan pegangan tangannya dari lengan Letta. Setelahnya, ia berbalik meninggalkan Letta yang berdiri kaku di depan pintu. Alex mengambil sepedanya dan sebelum ia benar-benar pergi dari halaman rumah Letta, ia sempat mengedipkan satu matanya ke Letta.
Saat itu juga Letta tersadar.
"Alex reseek..!!!" pekik Letta keras.
***
Alex berjalan keluar kamar mandi bersamaan ponselnya yang terus bergetar. Ia lupa mengubah ponselnya menjadi mode diam jadi terus bergetar kalau ada notifikasi masuk.
Alex mengacak rambutnya yang basah, mengakibatkan airnya memercik ke sembarang arah. Lalu diambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas. Tanpa memakai baju dulu dan hanya memakai handuk sebatas pinggang, Alex merebahkan badannya ke kasur, membuka pesan yang masuk.
Fabian : Test
Dani : Pack
Dani : Positive
Dani : Selamat anda hamil
Fabian : Gubluk.
__ADS_1
Alex : Gubluk (2)
Dani : Yes si abang keluar juga dari sarangnya
Alex : Mksd
Dani : Gapapa #ala ala cewek
Dani : Mentang mentang udah di desa, chat kita ditinggalin.
Alex : Baru buka dimarahin. Ngajak berantem?
Fabian : Ngukuk gue.
Alex tertawa kecil, rasanya sudah lama sekali tidak bertukar pesan dengan dua teman dekatnya ini. Terakhir kali itu sudah lama, saat ia kehilangan arah waktu praktek lari. Alex lalu mulai mengetik kembali menjawab chat dari temannya.
Dani : Al, pa kabar!
Alex : Baik, tumben nanya.
Dani : Maksud gue kabar nenek lo
Alex : Nc
Dani : Bhaks. Ngambek nih bocah.
Fabian : Al, ada kabar nih buat lo.
Alex : Apa?
Fabian : Mau yang buruk atau baik dulu?
Alex : Terserah.
Fabian : Baiknya, kabar soal Mona yang hamil anak lo udah gak ada yg gosipin lagi. Anak-anak juga udah pada lupa.
Alex : Trs buruknya?
Alex : Mksd.
Dani : Jadi gue sama Fafab kemaren niatnya mau nemuin Mona ke kostannya. Tapi kata ibu pemilik kost yang cantik aduhay ngalahin mimi peri itu, Mona katanya dah pindah.
Alex : Syukur deh.
Fabian : Tapi...
Fabian : Kita jadi gak tahu pergerakan Mona.
Alex : Biarin aja tuh cewek mau apa. Gue ga peduli.
Fabian : Serius?
Dani : Serius?(3)
Fabian : Dua dulu ogeb.
Dani : Oiya lupa. Auto correct.
Dani : Serius?(2)
Alex : Y
Fabian : Kalau misal nanti tuh cewek dateng trs ngaku itu anak lo gmna?
Alex : Ga bakal. Karena itu emang bukan anak gue.
***
Letta sedang tiduran di kamarnya ketika Wulan tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Mamanya itu memang suka sekali sembarangan masuk kamar Letta, ingatkan Letta lain kali agar mengunci kamarnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Letta. Ia yang tadinya sedang tidur terlentang segera mengubah posisinya menjadi duduk.
Letta menyilangkan kakinya lalu meletakkan bantal diatasnya. Setelahnya ia menyelipkan rambutnya yang jatuh berantakan lewat atas telinga.
__ADS_1
"Mama mau nanya sesuatu sama kamu. Tapi kamu jawab jujur ya." Wulan sudah duduk di pinggir kasur. Tangannya meraih tangan anaknya dan menggenggamnya erat.
Letta jadi merasa deg-degan. Anak mana sih yang tidak takut ketika orang tuanya tiba-tiba ingin berbicara seakan ada hal serius seperti ini. Dan sebagai jawaban, Letta pun akhirnya mengangguk pelan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Wulan singkat.
Letta mengerutkan keningnya tidak paham dengan pertanyaan mamanya. "Maksud mama?"
Wulan meremas tangan Letta sebelum berkata dengan suara bergetar. "Tadi mama dapat kabar kalau kamu katanya jatuh ke kolam."
Wulan memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan. "Mama kaget, mama tadi sampai mau nyusul kamu ke kolam renang. Tapi papa kamu ngehentiin mama. Mama tadi khawatir banget, takut sesuatu terjadi sama kamu. Mama gak bisa bayangin hal buruk terjadi sama kamu, mama--"
"Ma, aku gak apa-apa." ujar Letta memotong perkataan Wulan.
Wulan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Matanya memerah hendak menangis lalu ia membelai rambut Letta.
"Mama gak mau sampai kehilangan kamu. Kamu anak mama satu-satunya. Udah cukup dulu kamu mau ninggalin mama, mama gak mau kamu ninggalin mama lagi."
Letta yang diperlakukan seperti sungguh merasa trenyuh, perutnya terasa mulas karena rasa harunya teramat sangat. Matanya jadi berkaca-kaca tidak kuat melihat mamanya seperti ini. Tapi sekuat tenaga ia harus menahannya, jangan sampai ia membiarkan mamanya melihatnya menangis. Bisa-bisa mamanya jadi tambah sedih.
"Aku gak bakalan ninggalin mama, aku bakalan disini dan terus disini. Aku gak bakalan pergi. Jadi mama gak perlu khawatir lagi ya." ucap Letta menenangkan mamanya. Ia lalu meraih Wulan dan memeluknya. Memberikan tepukan kecil di punggung Wulan.
Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata Wulan. Demi apapun, ketika ia mendengar kabar anaknya yang jatuh ke kolam, rasanya sakit sekali, seakan separuh nyawanya melayang begitu saja. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya itu, lebih baik bunuh saja dirinya.
Sudah cukup dulu ia hampir gila ketika Letta mengalami kejadian itu. Ia sangat menderita karena Letta berhari-hari tidak bangun dan dinyatakan koma. Wulan bahkan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu karena merasa lalai memperhatikan anaknya.
"Letta jangan tinggalin mama ya." kata Wulan dalam pelukan Letta.
"Iya Letta janji gak bakal ninggalin mama. Jadi sekarang mama jangan sedih lagi ya. Letta juga udah baik-baik aja, mama jangan khawatir lagi."
Wulan lalu melepaskan pelukan Letta. Ia mengusap pipinya yang basah karena tadi sempat menangis. Ia jadi merasa lemah, menangis di depan putrinya sendiri. Harusnya ia kuat, bukannya lemah seperti ini.
"Mama cengeng banget ya." kata Wulan tertawa kecil sambil mengelap pipinya yang masih basah.
Letta mencium pipi Wulan. "Enggak kok. Mama ini mama yang terbaik di dunia ini."
Wulan mencubit hidung Letta gemas. "Bosen mama denger kata itu mulu. Setiap lebaran aja kamu ngomong gitu."
Letta menyengir lebar. "Ya mau gimana lagi ma, aku kan bukan seorang puitis yang bisa berkata-kata. Lagian bener kok, mama ini mama terbaik di dunia."
Wulan mengusap puncak kepala Letta lembut. Ia tersenyum lalu bertanya. "Tadi siapa yang nolong kamu?"
"Alex." jawab Letta cepat.
"Alex yang cucunya nenek Sari itu, bukan?" tanya Wulan, kemudian menarik tangannya dari kepala Letta.
Letta mengangguk mengiyakan.
"Mama seneng kamu deket banget sama dia." ucap Wulan.
Letta mencibir. "Asal mama tahu anaknya itu nyebelin banget. Kalau mama tahu gimana kelakuannya, aku jamin mama jadi gak suka lagi sama dia. Dia itu suka ngatain aku cebol, suka ngusilin aku juga. Pokoknya nyebelin banget anaknya."
Wulan tertawa mendengar penuturan Letta. "Tapi dia kan yang udah nolong kamu."
Letta mengerucutkan bibirnya ke depan. "Kata dia, dia itu nolong cuma demi rasa kemanusiaan aja, Ma. Udahlah, kenapa jadi bahas dia sih, Ma."
Wulan lagi-lagi tertawa. "Kamu ini marah karena mama suka sama Alex atau karena dia ngomong nolongin kamu karena rasa kemanusiaan?"
Anjir...
"Udah malem, mama mau kembali ke kamar. Kamu juga tidur ya." Wulan beranjak sebelum Letta sempat membalas pertanyaannya tadi.
Wulan keluar dan menutup kembali pintu kamar Letta. Letta yang ditinggal mamanya menghela nafas sebelum kemudian menjatuhkan badannya ke kasur dan tidur terlentang kembali.
Sial, gara-gara mamanya tadi membahas Alex ia jadi teringat akan cowok itu lagi. Dimulai dari dekapan yang samar-samar ia rasakan di dalam air ketika Alex menolongnya, lalu saat Alex menggendongnya keluar wilayah kolam. Dilanjut ketika tangan hangat cowok itu yang menggenggam tangannya saat keluar dari kolam renang.
Sepertinya belum selesai karena saat--STOPPP
Jangan mikirin cowok itu lagi !!!
"Arghh... Kenapa jadi kepikiran dia mulu sih." kata Letta kesal.
Ia kemudian membalik badannya hingga telungkup. Membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal berharap bayangan Alex sirna.
__ADS_1