Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 21


__ADS_3

Alex mengelus pipinya yang sedikit membiru akibat layangan sepatunya Letta kemarin siang. Dua kali dia dilempari sepatu oleh cewek itu, pertama di depan gerbang saat keduanya telat dan yang kedua adalah saat ia dan Letta berdebat kemarin di kantin.


Kalau pukulan pertama mungkin rasanya masih biasa dan tak sampai membuat pipinya lebam. Berbeda dengan yang kedua, tadi pagi saat ia berkaca di kamar mandi Alex mendapati warna biru di pipinya tepat di tempat yang terkena lemparan sepatu Letta.


Letta yang melihat lebam di pipi Alex ketika keduanya akan berangkat sekolah bahkan tidak merasa bersalah sama sekali dan tidak ada niatan untuk minta maaf. Cewek itu malah secara terang-terangan menertawainya.


Mengingat Letta, Alex jadi melirik ke arah cewek itu yang sedari tadi bergerak gelisah di kursinya.


"Lo kenapa?" bisik Alex lirih.


Kegiatan Letta yang sedang meremas perutnya terhenti karena pertanyaan Alex. Ia lalu menoleh dan melihat Alex memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Perut gue sakit banget, Al." rintih Letta.


"Kenapa bisa?"


"Ini hari pertama gue."


Letta terus meremas perutnya yang terasa dililit dari dalam sana tanpa ampun. Rasanya menyusahkan kalau hari pertama itu waktu sedang sekolah.


"Hari pertama maksudnya lo lagi dapet?" Alex menggaruk tengkuknya bingung.


Ia tidak tahu tentang hari pertama atau apa itu untuk cewek. Dan ia tidak tahu kalau selama ini cewek akan merasakan sakit di hari pertama sang tamu bulanan datang.


Letta hanya menjawabnya dengan anggukan. Terlalu lemas untuk sekedar menjawab. Bahkan sekarang keringat dingin mulai muncul di sekitar dahinya.


"Terus lo mau gimana? Mau ke UKS?" bisik Alex dengan mata yang pura-pura fokus memperhatikan guru di depan.


Guru yang sedang mengajar tadi sempat melirik ke arahnya, maka dari itu ia pura-pura fokus ke depan.


Lagi-lagi jawaban Letta hanya anggukan. Beruntung posisinya tertutup oleh teman di depannya jadi tidak terlihat oleh guru di depan, dan ia bisa merebahkan kepalanya ke atas meja.


"Kalau gitu ayo biar gue anterin lo ke UKS." ajak Alex tiba-tiba semangat.


Letta menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Gue masih bisa sendirian, gak perlu lo anter."


Alex menggeleng dan mendekatkan sedikit wajahnya ke Letta dan berbisik. "Kesempatan gue buat bolos nih pelajaran."


Alex lalu kembali ke posisinya semula bersamaan dengan Letta yang memelototinya.


"Gue bisa bantu lo kasih alasan kalau lo gak bisa hadepin tuh guru buat minta izin."


Letta mencibir walau diam-diam ia juga memikirkan penawaran Alex tadi. Setelah ia pikir lagi sebenarnya hal itu cukup menguntungkan kedua pihak, ia yang bisa istirahat di UKS, sedangkan Alex ughh...membolos.


Lagian kalau Alex membantunya keluar, bukankah itu akan lebih menambah kesan dramatis kalau ia benar-benar sakit.


"Kalau gitu gue setuju sama ide lo. Tapi kalau lo gak diizinin sama tuh guru, jangan salahin gue." putus Letta final.


Alex tersenyum miring, merasa senang karena ia akan bolos pelajaran yang mengantukan ini. Bukan ia saja yang mengantuk, lihat saja wajah anak lain, ada yang sudah menutup matanya dan tersentak lalu membuka lagi, ada yang menopang kepalanya di dagu dan kelakuan aneh lainnya untuk sekedar menghilang rasa kantuk.


Alex lalu menarik tangan Letta yang masih bertengger di perut dan menggenggam telapak tangannya. Letta yang mendapati perlakuan tiba-tiba itu terkejut dan tak bisa ia sangkal kalau ia langsung gugup.


"Kenapa lo pegang tangan gue?" kata Letta kikuk.


"Biar lebih kelihatan asli dan guru di depan semakin percaya. Ayok..."


"Ini kan sakitnya emang asli."

__ADS_1


Alex tiba-tiba berdiri dengan tangan yang masih saling bertautan sehingga Letta ikutan berdiri. Cowok itu lalu menggandeng tangan Letta ke depan dan meminta izin untuk ke UKS mengantar Letta yang sakit.


Beruntung gurunya tidak banyak tanya dan langsung mengiyakan. Bahkan Letta sempat heran melihat guru perempuan yang terbilang masih cukup muda itu malah tersipu ketika Alex meminta izin. Biasanya guru itu akan banyak tanya dan cerewet. Tapi ini malah aneh.


Sekarang Letta dan Alex sudah berjalan di koridor sekolah menuju ke UKS. Tangan mereka berdua yang tadinya saling bertautan sudah terpisah kembali.


Suasana koridor yang sepi membuat langkah sepatu mereka terdengar dengan keras. Letta yang tidak tahan dengan keheningan itu mulai membuka suaranya.


"Niatnya lo mau kemana habis nganterin gue ke UKS?"


Alex dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku menjawab. "Gue mau ikutan di UKS, mungkin mau tidur."


Letta yang mendengar jawaban Alex mengernyit tidak suka. Niatnya untuk istirahat nanti bisa gagal total kalau Alex ada di sana. Sebisa mungkin ia harus punya cara agar Alex tidak berada di UKS.


"Lebih baik lo ke kantin aja atau kalau enggak ke gedung belakang sekolah. Disana hawanya adem kok, biasanya cowok yang bolos pada suka ke tempat itu." saran Letta.


Alex tetap berjalan dengan mata yang tetap fokus ke arah depan. "Itu kan kesukaan mereka, bukan gue."


Letta berdecih. Perutnya yang sakit jadi semakin mulas membayangkan ia nanti tidak akan tenang kalau Alex akan ikut ke UKS. Letta hendak bersuara lagi tapi sudah didahului oleh Alex.


"Mereka berdua anak osis yah?" tanya Alex datar dengan dagunya diarahkan ke depan.


Letta yang melihat Alex berhenti dan matanya masih memandang lurus ke depan pun ikutan. Ia berhenti dan melihat ke arah yang Alex tunjukkan. Tepat tak jauh dari posisi mereka, ada dua anak osis perempuan yang sedang sibuk menempelkan selembaran kertas di papan mading.


Letta bisa melihat setelah dua anak itu selesai, mereka berjalan searah dan semakin menjauh hingga berbelok di ujung koridor.


"Gue jadi penasaran ada apa." Letta berjalan cukup cepat menuju ke mading.


Ia lalu membaca pengumuman yang tercetak di selembaran kertas berwarna putih itu.


"Ada apa?" tanya Alex yang baru sampai di belakang Letta.


Alex berdecak, lalu ia mengedarkan pandangannya ke mading dan melihat pengumuman yang tadi dipasang anak osis. Disitu tertera bahwa untuk kelas sebelas, pada hari jumat tepatnya minggu besok akan diadakan praktek renang. Yang mana semua anak kelas sebelas akan pergi ke kolam renang dan harus membayar sejumlah uang untuk tiket masuk dan biaya transportasi.


"Udah selesai kan bacanya, gue mau cepet-cepet ke UKS nih, perut gue udah sakit banget." kata Letta sembari meremas perutnya yang mulai nyeri kembali.


Alex mengangguk. Keduanya lalu berjalan lagi menuju UKS yang letaknya sudah tidak jauh lagi, yaitu di ujung koridor.


"Sekolah ini emang rutin ngadain praktek renang yah?" tanya Alex yang cukup heran. Pasalnya di sekolahnya dulu tidak ada kegiatan praktek renang seperti di SMA Prisma ini. Hal ini tentunya masih baru baginya.


"Iya begitulah, sebenarnya males sih ada praktek renang begini. Soalnya biasanya pulangnya sore dan sampai rumah bisa udah maghrib."


Setelah itu tidak ada yang membuka percakapan lagi sampai keduanya tiba di UKS. Suasananya hening, hanya terdengar derap kaki. Di UKS juga tidak ada seorangpun.


Letta lalu berjalan menuju ke lemari putih yang ada di sana dan mengambil sebutir pil dari dalam kotak obat.


"Lo minum obat?"


Letta mengangguk. Ia mengambil gelas plastik dan mengisinya dengan air galon yang berada di samping lemari. Kemudian meminum obat yang tadi ia ambil.


"Obat apa?"


"Lo cerewet juga ya, ini obat buat nyeri haid. Lo mau?" kekeh Letta.


Alex menatap Letta seakan-akan cewek di depannya itu adalah makhluk aneh yang pernah ada. Alex lalu lebih memilih untuk ke ranjang UKS dan menidurkan badannya ke atas ranjang berwarna putih itu.


Letta pun mendekat. "Lo ngapain tidur di sini?"

__ADS_1


"Kan udah gue bilang kalau gue mau tiduran di sini." Alex memejamkan matanya.


Letta berdecak. Kalau Alex di sini ia tidak akan tenang istirahatnya. Apalagi ia sedang PMS, bisa dipastikan kalau ia mudah marah dan cowok di depannya ini adalah sumber kekesalannya.


Letta harus memikirkan cara agar Alex bisa keluar dari UKS dan sebuah rencana terlintas di otaknya.


"Aduhh, Alex... Perut gue sakit banget." Letta berseru kesakitan.


Satu tangan Letta memegangi perut dan satunya lagi berpegangan pada pinggiran ranjang yang sedang ditiduri Alex.


Alex yang mendengar nada penuh kesakitan itu segera bangun dari tidurnya dan melihat Letta yang sudah merosot ke lantai. Ia bangun dan segera memegangi bahu Letta.


"Letta, lo kenapa?" tanya Alex khawatir.


Letta semakin berteriak kesakitan. Ia semakin mempererat cengkeraman pada perutnya. Tangan yang satunya lagi yang ia gunakan untuk berpegangan pada pinggiran ranjang sudah ia lepaskan. Sebagai gantinya ia mencengkeram pada bahu Alex.


"Tolongin gue, beneran ini perut gue sakit banget." rintih Letta seakan-akan mau menangis.


Hati Letta bersorak senang ketika mendapati wajah Alex yang jelas memancarkan raut khawatir. Bahkan Alex sekarang sudah mengangkatnya dan menidurkannya ke atas ranjang.


"Apanya yang sakit?" Alex bertanya cemas. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Lagi-lagi hati Letta bersorak. Setan di dalamnya pun ikut tertawa puas melihat Alex yang tampak kacau karena ulahnya.


"Perut gue sakit banget..." kedua tangan Letta mencengkeram erat perutnya. Ia sengaja bergerak gelisah ke kanan ke kiri.


Dari sudut mata Alex ia melihat sebotol minyak kayu putih berada di nakas sebelah ranjang. Tanpa babibu ia mengambilnya dan menuangkan kayu putih itu ke telapak tangannya.


"Mana yang sakit biar gue kasih minyak kayu putih dulu." ujar Alex masih dengan raut wajah khawatir.


Seumur-umur ia tidak pernah melihat orang kesakitan seperti ini bahkan menurutnya Letta lebih mirip orang kesetanan, bukan kesakitan.


Melihat tangan Alex yang sudah bersiap memberi kayu putih, Letta jadi was-was. "Gak! Jangan pake itu..."


Alex mengernyitkan dahinya. "Sebentar aja supaya perut lo bisa lebih enakan."


Letta menggeleng tegas. "Gak mau."


Bisa gila Letta kalau dikasih kayu putih itu. Perutnya jelas sudah tidak sakit karena ia sudah minum obat tadi. Kalau nanti perutnya dikasih minyak kayu putih sebanyak itu yang ada di tangan Alex bisa-bisa ia kepanasan. Dan juga kalau Alex memberi kayu putih itu artinya cowok itu menyentuh perutnya. Ughhh... Sampai kapanpun Letta tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Satu hal juga yang pasti, ia tidak suka bau kayu putih kecuali di saat ia beneran sakit seperti demam atau pilek. Kalau di saat ia sehat seperti sekarang malah bisa membuatnya mual.


Ia lalu memikirkan cara lain agar Alex segera pergi tanpa curiga sedikitpun.


"Sepertinya gue salah minum obat deh. Lebih baik lo cari bantuan ke anak lain, kalau enggak panggil aja Mira atau anak PMR ke sini. Gue udah gak tahan sama sakitnya."


Alex semakin cemas melihat mata Letta yang berkaca-kaca. Tentu saja ia tidak bisa mengatasi ini sendirian. Tapi di tempatnya sekarang juga tidak ada siapapun selain mereka berdua. Jalan satu-satunya adalah ia memanggil anak PMR atau setidaknya orang lain yang bisa membantunya seperti apa yang dikatakan Letta.


"Terus lo gak mau pake kayu putih dulu?" tanya Alex terakhir kalinya.


Gelengan Letta menjawab pertanyaan Alex. Cowok itu lalu dengan cepat mengusapkan kayu putih yang ada ditangannya ke sekitar seragamnya. Hal itu tak luput dari penglihatan Letta yang entah kenapa jadi merasa bersalah.


"Gue pergi dulu cari bantuan. Lo bertahan sebentar ya." Sebelum pergi, Alex memberikan elusan ke atas kepala Letta.


Letta yang melihat Alex sudah tak terlihat lagi memegangi dadanya yang terasa aneh.


Tanpa mau memikirkannya lebih jauh, ia beranjak dari ranjang dan segera menutup pintu UKS lalu menguncinya dari dalam. Tak lupa ditutupnya gorden yang semula dibiarkan terbuka. Alhasil ruang UKS kali ini semakin sepi dan barulah Letta merasa nyaman bisa tidur. Sedetik kemudian Letta mengeluarkan tawa jahatnya.

__ADS_1


"Akhirnya gue bisa tenang..."


Setelahnya Letta membaringkan badannya ke ranjang dan mulai memejamkan matanya. Walau jauh di dalam hatinya ia merasa ada yang salah.


__ADS_2