Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 31


__ADS_3

Alex kecil tidak tahu dimana tepatnya dia berdiri sekarang. Semuanya gelap, tidak ada setitik cahaya sedikitpun. Hanya warna hitam pekat yang bisa ia lihat. Alex kecil berlari ke sembarang arah, nafasnya tersendat, takut karena tidak tahu arah jalannya sendiri.


Ia berbalik, berlari, kemudian berbalik lagi. Sampai akhirnya ia melihat setitik cahaya dari seberang. Alex kecil berlari ke arah cahaya itu tetapi lagi-lagi mungkin itu hanya ilusinya semata. Karena yang ia dapati tetap kegelapan yang mencekam. Alex mendekap badannya sendiri semakin ketakutan. Ingin berteriak tapi tenggorokannya seperti tersumbat hingga ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Alex lalu merosot ke bawah. Memeluk lulutnya sendiri dan membenamkan kepalanya disana. Samar-samar ia merasakan cahaya datang lagi dari arah depan. Kali ini Alex yakin ini bukan permainan ilusinya semata, karena cahaya itu lama-lama semakin melebar dan menyebar ke sekitarnya.


Diangkat satu tangannya menghalau cahaya yang menyilaukan matanya itu. Lalu ia melihat seseorang keluar dari cahaya itu, lebih tepatnya seorang anak perempuan kecil yang Alex kira seumuran dengannya. Anak kecil itu berjalan mendekat ke arahnya. Lalu ketika anak perempuan itu tepat sampai di depannya, Alex bisa melihat wajah anak perempuan itu dengan jelas.


Itu temannya !!


Demi Tuhan, anak perempuan di depannya ini temannya. Alex mengenalinya.


Alex terlalu gembira karena ada seseorang yang bersamanya disini, ia segera berdiri dan hendak meraih anak perempuan itu tapi anak itu menghindar dan menatap Alex takut.


"Kamu siapa?" tanya anak perempuan itu dengan polos.


"Aku gak kenal sama kamu." tambah anak itu membuat Alex didera rasa kaget.


Alex terdiam.


Aku Alex, temanmu..!!


Alex akan bersuara tapi suaranya tidak kunjung keluar. Ia melihat anak kecil itu mulai mundur perlahan dan pergi darinya. Alex berusaha keras mengeluarkan suaranya tapi tetap tidak ada yang keluar. Dan Alex hanya mengerang dalam hati.


Tidak, ia tidak boleh membiarkan temannya pergi begitu saja. Tidak ketika Alex sendirian di tempat ini. Alex berusaha mengejar anak itu tapi apalah daya sekarang kakinya terasa berat dan tidak bisa ia gerakan. Anak kecil itu perlahan menghilang dari hadapan Alex.


Tidak..! Kumohon jangan pergi..!


Biarkan aku ikut denganmu...!


Ia berusaha lebih keras lagi untuk mengejar temannya itu yang perlahan mulai mengecil bayangannya. Tinggal menunggu beberapa detik saja sampai anak itu benar-benar menghilang dari hadapannya.


Tidaaak !!!


***


Alex terlonjak kaget, ia terbangun dari mimpi buruknya yang aneh. Sebelumnya ia tidak pernah bermimpi seperti itu. Nafasnya memburu, ia mengusap dahinya yang ternyata sudah basah karena keringat. Alex tidak tahu kalau efek dari mimpinya sampai seperti ini.


Suara langkah seseorang di tangga membuyarkan pikiran Alex. Lalu dilihatnya Sari masuk langsung ke dalam kamar Alex sambil membawa segelas air putih. Bisa dilihat dengan wajah Sari putih pucat. Neneknya itu berjalan cepat ke arahnya.


"Kamu minum dulu." kata Sari begitu sampai di samping Alex dan duduk disebelahnya, menyerahkan air minum untuk Alex.


Ketika Alex minum, Sari memandang Alex sendu dan ia bisa bernafas lega karena cucunya ini tidak kenapa-napa. Ia tadi takut sekali begitu mendengar teriakan Alex yang menggema di penjuru rumah. Ia takut terjadi apa-apa.


Alex sudah selesai dan menyerahkan gelasnya ke Sari. Sari menerimanya dan meletakkannya di nakas.


"Sudah baikan?"


Alex mengangguk mengiyakan. Dengan kedatangan Sari cukup membuatnya merasa tenang, walaupun bayangan tentang mimpinya masih ada, tetapi tidak sebesar tadi sebelum Sari datang.


"Sekarang kamu lebih baik tidur lagi. Nanti kalau ada apa-apa tinggal teriak panggil nenek aja ya."


Alex mengiyakan. Ia bersyukur karena Sari tidak bertanya lebih lanjut tentang apa yang ia alami, karena ia lebih senang kalau mimpi buruknya ini disimpan olehnya seorang.


Begitu Sari keluar, Alex merebahkan dirinya lagi ke kasur. Matanya memandang ke langit-langit kamar sambil mengingat-ingat wajah anak perempuan yang ada di mimpinya itu. Wajahnya cukup familier, tapi tidak cukup untuk membuatnya tahu siapa anak itu. Entah itu temannya waktu kecil seperti yang ia rasakan di mimpi, atau hanya wajah anak perempuan yang mungkin pernah ia lihat sekilas di jalan. Alex tidak tahu.


Cowok itu memejamkan matanya kembali berusaha agar bisa tidur lagi dan menghilangkan bayangan anak perempuan itu. Tapi seberapa keras usahanya, nyatanya matanya masih terbuka walau sampai fajar sudah menyingsing di bagian timur sana.


***


Sesuai janjinya tadi pagi saat sarapan, Alex sepenuhnya berusaha melupakan mimpinya tadi malam, menganggapnya sebagai bunga tidur semata dan ia cukup berhasil. Lihatlah akibat mimpi buruknya sekarang, ia tidak bisa tidur dan akhirnya bangun kesiangan hingga ia dan Letta telat sampai ke sekolah.


"Lo itu semalem tidur atau ngapain sih?" Letta bertanya sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


Ia kesal karena Alex membuatnya telat dan berakhir dengan harus menyapu halaman sekolah. Dihitung sudah dua kali ia terjebak hukuman bersama Alex sejak cowok itu datang.


"Tidur lah, lo kira gue ngapain sampe gak tidur? Jaga lilin?" sahut Alex sinis.


Letta menghentakan sapu lidi yang ia pegang dengan kesal. "Kalau lo tidur, lo gak bakal bangun kesiangan. Kalau lo tidur, lo gak bakal punya warna hitam di kantung mata lo itu, dan kalau lo tidur, kita gak bakalan berada disini sekarang."


"Dasar cewek, berisik. Tinggal terima apa adanya kenapa." cibir Alex.

__ADS_1


Letta menggerutu. "Lo tahu nggak sih pagi ini tuh penting banget buat gue."


Alex menaikkan bahynya tak acuh. "Mana gue tahu. Apa peduli gue."


Letta yang semakin dibuat kesal segera membalas. "Lo gak denger apa pas kemaren guru bilang bakalan ada pentas seni dan setiap kelas harus nampilin bakatnya, kelas sebelas kebagian drama, yang mana dramanya tuh udah diatur sama guru seni budaya. Dan pagi ini tuh waktu pembagian drama buat kelas kita sekaligus pemilihan pemainnya. Kalau kita gak di kelas kan kita gak tahu nanti bakalan jadi ap-- Alex..!"


Ucapan Letta terhenti karena Alex malah berbalik dan mulai berjalan meninggalkannya. Ia meneriakkan nama Alex dan cowok itu menoleh seraya berkata. "Apa? Kalau lo mau cepet ke kelas. Yaudah ayo sekarang."


"Terus ini hukumannya gimana?"


"Biarin aja."


"Nanti dimarahin sama guru piket."


"Bisa gue atasin." Alex berkata dengan santai dan berbalik untuk berjalan kembali.


Sedangkan Letta memberenggut kesal. Ia membuang sapu lidi yang ia pegang dengan asal. Masa bodo kalau ada guru yang lihat, toh ia bisa menggunakan Alex sebagai tameng. Letta lalu mengejar Alex yang sudah mulai masuk ke koridor kelasnya.


Di depan kelas, Letta bisa melihat anak-anak kelasnya terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius. Huhhh sudah bisa ditebak mereka mendiskusikan apa. Alex mengetuk dan membuka pintu tanpa menunggu dipersilahkan masuk. Alex sempat meminta maaf kepada guru karena telat dan gurunya juga tidak marah, malah tersenyum cerah.


Ketika ia dan Alex berdiri di depan kelas, suasana tiba-tiba hening. Anak sekelas melihat ke arahnya dan Alex.


Letta melirik ke Alex dan berbisik. "Jangan bilang ada sesuatu di wajah gue hingga mereka semua natep gue aneh."


"Gue rasa bukan karena sesuatu di wajah lo. Tapi karena ada hal lain lagi." bisik Alex balik.


Lalu suara guru seni budaya terdengar memecah ke udara. "Sepertinya kita semua sudah punya penyelesaian dari masalah ini, mereka berdua akan menjadi pemain yang cocok, bagaimana menurut kalian semua. Apakah setuju?"


Serentak tanpa aba-aba, anak saru kelas mengatakan satu kaya bersama. "Setuju..!!"


Hah? Setuju? Setuju untuk apa? Pikir Letta bingung.


Dengan kikuk dan masih berada di depan kelas bertanya. "Maksudnya apa yah, Bu?"


Berbanding dengan letta, Alex tampak santai saja menangggapi apa yang terjadi. Ia membiarkan Letta untuk bertanya.


Guru seni hudaya itu tersenyum penuh arti. "Begini, jadi untuk dramanya kelas kalian kebagian drama luar negeri, yaitu Snow White. Untuk pemain dan bagian semua sudah terpenuhi kecuali untuk Snow White dan Pangeran. Ada beberapa anak disini yang belum kebagian peran, nantinya yang tidak kebagian peran akan bertugas mengurus di belakang panggung.


Sayangnya di kelas ini tidak ada yang mau mengisi bagian menjadi Snow White dan Pangeran. Dan karena kalian berdua datang telat, maka dengan ini ibu putuskan--- kamu Letta yang jadi Snow White, dan Alex yang jadi Pangerannya."


Dan Alex jadi Pangeran?


Oh noo.... No!no!no!


Tidak boleh, yang Letta inginkan bukan seperti itu. Letta tidak pernah ingin menjadi pemain utama. Ia ingin jadi pemain belakangan seperti hanya sebagai orang lewat atau apa. Ia tidak suka tampil di depan umum dan menjadi pemain utama bukanlah pilihan yang bijak. Apalagi lawan mainnya adalah--- Alex.


"Saya gak bisa, Bu. Lebih baik pilih anak yang lain selain saya." kata Letta memelas. Ia meletakkan tangannya ke depan dengan gerakan meminta.


Namun rupanya guru seni budaya ini keras kepala juga. "Ini sudah jadi keputusan ibu, lagian kamu dan Alex datangnya telat. Coba kamu datang lebih awal, pasti kamu bisa memilih jadi pemain apa yang sesuai sama keinginan kamu. Tapi menurut ibu, jadi seorang putri bukankah pilihan bagus. Kamu bisa jadi pemain utama dan dilihat semua anak sekolah bahkan orang luar."


Letta merasa terdesak dan ia berbicara dengan gelisah. "Nah itu masalahnya, saya gak ada niatan buat tampil jadi pemain utama. Saya gak bisa akting, saya beneran gak bisa. Lebih baik anak lain saja, masih ada anak lain yang kayaknya lebih pantes jadi putrinya. Mungkin bisa Tania--"


"Tania sudah jadi kurcaci."


"---atau Bella."


"Bella sudah ambil bagian untuk rias wajah. Secara dia itu pintar dandan."


Letta mulai mencak-mencak. Ia berpikir lagi siapa kandidat yang menurutnya cocok untuk dijadikan putri Snow White, menggantikannya.


"Mira cocok, Bu."


Guru seni budaya menggeleng. "Mira akan jadi kurcaci juga. Tinggi badannya itu dibawah kamu. Masa seorang putri sama kurcaci lebih pendekan putrinya. Jangan mencoba mengubah sejarah, Arletta Zachary."


Astaga, nih guru lama-lama bikin gue naik darah...


Letta mengerang kesal. Ia melihat ke penjuru kelas, mengedarkan pandangannya ke sekelompok anak perempuan. Letta malah mendapati tatapan anak sekelasnya yang puas melihatnya tak berdaya kesusahan melawan guru seni budaya ini.


"Bagaimana dengan Aini bu, dia lebih tinggi dari saya. Aini cantik, putih, langsing, rambutnya hitam panjang, cocok banget jadi putri."


Di seberang sana yang bernama Aini mengangkat tangan sambil tertawa geli. "Sorry Ta, sayangnya gue lebih tertarik jadi pemain antagonis daripada protagonis."

__ADS_1


"Maksdunya?" tanya Letta tidak mengerti.


Jawaban Aini selanjutnya membuat Letta tak bisa berkutik. "Gue yang jadi tukang sihirnya."


Buntu sudah jalan letta. Kalau sudah begini mau gimana coba. Membayangkannya saja Letta bergidik ngeri, astaga ia akan jadi tuan putri di panggung nanti. Dan Alex menjadi pangerannya? Bencana ini bencana...


Hal ini gak boleh terjadi..


Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benaknya. Dan ia pikir karena anak ini pendiam mungkin saja belum dapat peran. Sepertinya anak ini cocok juga untuk dapat peran seorang putri.


"Apa ada yang mau kamu sarankan buat ganti posis kamu jadi putri, Letta?" tanya guru seni budaya.


"Ada satu lagi bu, yang mungkin bisa jadi putrinya."


"Siapa?"


"Gina."


"Gina? Oh iyaa Gina juga belum dapat peran."


Mata Letta berbinar. "Nah pas banget kan. Gina kayaknya lebih cocok deh. Apalagi gina itu halus pembawaannya, Bu, lebih pantas jadi putri daripada saya yang suka asal-asalan. Jadi bisa kan, Bu, diganti Gina?"


Guru seni budaya itu tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi Ginanya mau tidak?"


Yang berama Gina bersuara dengan pasrah. "Terserah saja, Bu. Saya mah jadi apa aja mau."


Hati Letta membumbung tinggi. Akhirnya ia lepas dari perannya sebagai putri dan bisa ganti jadi pemeran abal-abal yang cuma numpang lewat atau berperan di belakang panggung.


Tapi sedetik kemudian hatinya seakan meluncur dari ketinggian dan langsung menghantam ke dasar ketika mendengar perkataan Alex. "Maaf, Bu, menyela, saya bersedia jadi pangerannya. Tapi kalau putrinya bukan Letta, saya tidak mau."


Oh shit!


****


Letta membenturkan dahinya ke meja berkali-kali dan mengerang kesal. "Mimpi apa gue semalem jadi ketiban sial begini."


Alex yang suduk di sampingya nenyeringai. "Terima nasib aja."


Letta menatap Alex sengit. "Coba kalau tadi kita gak telat, gue bakalan bisa milih jadi peran apa dan bukannya malah kebagian peran utama. Semua ini gara-gara lo. Demi apa, lo gak tahu apa gue itu gak mau jadi putri. Itu gak cocok buat gue. Gue lebih baik jadi pohon-pohonan di panggung daripada jadi seorang putri."


"Kenapa lo gak mau? Bukannya ini malah bagus lo jadi pemain utama."


"Gue gak suka tampil di depan umum." jawab Letta ketus.


"Gak suka atau gak percaya diri?" Alex menaikkan alisnya ke afas.


Letta melemaskan bahunya. Kepalanya ia tidurkan menyamping ke meja sehingga sebelah pipinya menempel ke permukaan meja. "Harus gue akui mungkin dua-duanya."


"Ada alasan lain kenapa lo gak mau?"


"Banyak." gumam Letta. "Salah satunya adalah fakta gue yang gak jago akting, malu di depan umum, gerogian, dan tentunya gue gak mau lo jadi pasangan gue."


Letta tidak bisa menampik kalau ia melihat Alex sempat terkejut sebelum kemudian merubah raut wajahnya normal kembali.


"Kenapa lo gak mau sama gue?" tanya Alex dengan datar.


Ada jeda sebelum Letta menjawab. "Habis lo nyebelin."


"Bukannya malah bener kata guru bahwa kita tuh cocok, lo sama gue udah saling kenal. Gue rasa gampang nanti kalau main bareng."


"Itu kan menurut lo, bukan menurut gue."


"Terus lo maunya gue sama siapa? Sama orang yang gak gue kenal gitu?"


Letta mengangguk. "Iya, sama Gina. Tadi aja Gina udah setuju jadi putrinya. Gue udah bayangin gue bisa terbebas dari beban seorang putri, dan lo malah ngomong gak mau kalau sama gue. Hancur sudah harapan gue buat bebas." Letta ngedumel kesal dan ingatannya terlempar ke tadi pagi mengingat usahanya dalam melepaskan peran seorang putri.


Alex menyeringai. "Tapi sayangnya, Letta, lo udah kejebak sama gue."


Alex tertawa ketika wajah Letta memerah marah dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Alex memikirkan ini sebagai hiburan tersendiri baginya. Berkat Letta, Alex jadi lupa akan mimpi buruknya semalam bahkan Alex tidak teringat sedikitpun pada mimpi itu lagi sejak ia dan Letta masuk ke kelas tadi pagi.


Suara pintu menjeblak terbuka dan menghantam tembok dengan keras membuat Alex seketika mengalihkan pandangannya. Begitu juga Letta. Disana ada ketua kelas yang membawa setumpuk fotocopyan yang diduga sebagai naskah drama kelasnya.

__ADS_1


Cepet amat udah ada naskahnya... Batin Letta.


Si ketua kelas itu meletakkan tumpukan kertas yang ia bawa ke meja guru. Lalu berseru. "Naskahnya belum sempet diedit endingnya, jadi ending disini masih ada adegan ciumannya, buat yang jadi putri sama pangeran jangan tepaku sama naskahnya ya, hahaha."


__ADS_2