
Flashback.
"Woi Rik! Gue ada kabar bagus buat lo!" seru seorang cowok ke telinga temannya yang bernama Riki.
Suasana klub yang ramai dan musik yang menghentak-hentakkan telinga tampaknya tidak cukup membuat Riki mendengar seruan temannya. Badannya masih bergerak bebas mengikuti alunan musik yang sedang DJ mainkan, bersamaan dengan seorang cewek seksi yang juga meliuk-liukkan badannya di depan Riki.
Riki terus menari sampai akhirnya ia merasakan tarikan kasar dari seseorang, membuatnya terpaksa meninggalkan lantai dansa. Ia tahu itu Aldo, temannya. Kalau Aldo sampai berani merusak acaranya, pasti itu merupakan hal yang benar penting. Jadilah Riki menurut saja ketika Aldo membawanya keluar dari lantai dansa. Ia sempat melirik cewek yang bersamanya tadi, entah siapa namanya ia tidak tahu, tampak cemberut. Cewek itu lalu dengan manyun berbalik dan mulai menari lagi sambil mencari-cari pasangan sebagai penggantinya. Riki menyayangkan karena Aldo datang di saat yang tidak tepat seperti ini. Padahal dirinya sudah mengincar cewek itu sejak dua hari yang lalu.
Aldo terus menyeretnya sampai mereka berdua hampir saja berada di pojok dengan pencahayaan yang remang-remang.
"Gue ada kabar bagus buat lo." aku Aldo sambil matanya melirik ke sekeliling takut ada yang mendengar.
"Lo udah bilang itu tadi." balas Riki malas. "Langsung aja ke intinya."
"Oke." Aldo mengangguk lalu ia menyeringai. Ia memutar badan Riki menghadap ke arah bar. "Lihat cewek yang di sana itu." bisiknya lirih sambil menunjuk ke cewek yang sedang duduk di bar.
Di sana ada tiga orang cewek, dan Riki tidak tahu mana yang dimaksud oleh Aldo. "Cewek yang mana? Kalau yang pake baju merah, sama yang pake warna hitam, gue udah pernah sama mereka. Kalau yang satunya lagi gue baru lihat."
"Itu yang pake baju biru." jawab Aldo.
Ternyata cewek yang satunya lagi.
"Kenapa emangnya? Lo mau gue jadiin dia mangsa selanjutnya? Sorry gue gak tertarik, gue lebih suka sama cewek yang tadi sama gue dan lo malah nyodorin cewek ini. Gak sebanding sama yang tadi, jauh banget, goblok." sembur Riki marah. Ia baru saja akan pergi meninggalkan Aldo tetapi temannya itu menarik belakang kaosnya sehingga ia tidak bisa pergi kecuali ia mau kaosnya robek.
"Ehh bukan gitu." ucap Aldo buru-buru.
"Terus apa? Lo mau gaet dia? Silahkan aja."
Aldo berkata dengan sabar dan pelan. "Dengerin gue dulu."
Riki berbalik dan menatap Aldo kesal. Ia sudah melewatkan kesempatan terbaiknya dengan cewek yang sudah ia incar sejak dua hari yang lalu demi menemani Aldo di sini tanpa adanya kejelasan. Riki menatap Aldo datar sambil menunggu temannya itu bicara.
Aldo pun bicara sambil sesekali menyeringai. "Gue tadi gak sengaja dengar percakapan cewek itu sama bokapnya atau siapa gue gak tahu, katanya cewek itu harus nyari cowok yang bisa buat dia hamil. Katanya sih si cewek pengen punya anak."
Riki tidak paham dengan pernyataan Aldo. Dahinya mengernyit dalam. "Mau punya anak kok nyari ke sini. Mana ada cowok yang mau. Cowok itu sukanya main aman." balasnya. "Terus maksud lo ngasih tahu gue buat apa? Gak guna banget."
Bukannya tersindir, seringaian Aldo malah semakin lebar. "Justru karena ini berita bagus makanya gue kasih tahu ke lo." kemudian Aldo menarik Riki mendekat lalu ia berbisik. "Lo lihat ke arah jam sembilan."
Riki pun mengikutinya. Seketika kernyitan di dahinya berubah menjadi raut wajah penuh kemenangan begitu ia sekarang tahu maksud tersembunyi temannya.
"Alex." ucap Riki ikut menyeringai.
***
"Hai, gue boleh duduk di sini gak?"
Mona yang sedang duduk dengan tangan gemetaran menoleh ke seorang cowok yang berdiri menjulang di sebelahnya sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di sebelah kanannya Mona. Kalau saja Mona bisa mengatakan tidak, tapi ia tidak punya hak untuk mengatakan tidak karena jelas tempat ini bukan miliknya jadi siapapun bisa menempati kursi itu. Mona pun akhirnya mengangguk.
Cowok yang tadi itu tersenyum ramah lalu duduk di sebelahnya. Mona sedikit terkejut ketika melihat senyuman ramah cowok itu karena setahunya kebanyakan cowok di dalam ruangan ini lebih senang memandang orang lain dengan pandangan tercela dan tidak senonoh, tetapi cowok ini malah ramah. Mata cowok itu bahkan juga tidak melihat ke bagian dadanya seperti mata kebanyakan cowok yang berpapasan dengannya ketika akhirnya ia sampai ke bar. Mona merasakan sedikit kelegaan dalam dirinya setelah merasakan penyesalan luar biasa karena masuk ke tempat seperti ini.
"Boleh gue tahu nama lo?" tanya cowok itu yang sudah duduk di kursi sebelah Mona. Mona yang tadi sedang melamun jadi tidak tahu kalau cowok itu sudah duduk di sana.
__ADS_1
"Mona." katanya.
"Kenalin, gue Riki." cowok yang bernama Riki itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mona.
Tangan mereka pun terlepas langsung begitu Mona membalas. Tidak ada remasan atau tangannya ditahan cukup lama. Hal ini semakin membuat Mona merasakan kalau Riki ini memang cowok baik-baik dan tidak ada niat buruk terhadapnya. Walaupun padahal niat Mona datang ke tempat ini juga pada dasarnya tidak dapat dikatakan baik.
"Lo sendirian?" tanya Riki dengan santai. Yang entah kenapa membuat Mona juga merasa sedikit santai daripada sebelumnya.
"Iya, kalau lo?" tanya Mona balik.
"Sama. Tadinya sih gue sama teman ke sini."
"Ooh lo sama teman. Sekarang temannya mana?"
Riki tertawa kecil mendengar pertanyaannya. "Lagi ngurus sesuatu." jawabnya pelan-pelan. "Padahal tadi teman gue yang maksa gue buat ke sini nemenin dia, tapi begitu sampai, malah dia yang ninggalin gue sendirian."
Mona yang tidak tahu apa-apa hanya percaya dengan apa yang dikatakan Riki. Ia melirik ke arah tangannya yang saling bertautan dan kemudian seketika ia bertekad bulat untuk tidak melanjutkan tujuannya datang ke mari. Ia akan melupakan tujuannya. Diputuskannya ia akan segera pulang begitu pembicaraan dengan Riki ini selesai.
Tiba-tiba Riki berdiri. "Gue haus dan mau ambil minuman. Lo mau gue ambilin?"
Mona sempat berpikir dahulu. Karena setahunya banyak orang bilang jangan menerima minuman dari orang yang tidak dikenal, tapi ini Riki dan Mona mengenalnya, bukan? Maka dari itu ia mengangguk mengiyakan. "Tapi yang gak pake alkohol ada gak?"
Riki terdiaam sesaat, yang Mona tebak mungkin karena permintaannya yang aneh. Mana mungkin ada minuman tanpa alkohol di tempat seperti ini. Namun pemikirannya patah ketika Riki menjawab dengan tersenyum penuh arti. "Ada. Mungkin air putih kalau lo mau."
"Oke, gue mau itu aja." Mona bersyukur karena masih ada air putih di klub malam. Ia sampai tidak percaya pada awalnya.
"Tunggu ya."
Tidak lama kemudian ia melihat Riki berjalan ke arahnya. Cowok itu tersenyum lebar, seakan sangat senang sewaktu menyerahkan segelas air putih padanya.
"Terima kasih." ucap Mona begitu menerimanya, lalu tanpa berpikir sedetikpun ia langsung meminum air yang diberikan oleh Riki.
Riki menyeringai ke arah Mona begitu cewek itu menegak sampai habis air yang ia bawa yang sudah ia kasih obat terlebih dahulu.
Cewek bodoh, batinnya.
"Lo mau pulang?" tanya Riki dengan pandangan terarah ke tas tangan yang sudah dipegang oleh Mona di depan tubuh cewek itu.
Mona mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, ayo, gue antarin."
"Oke."
Misi berhasil.
***
Kalau bukan karena undangan langsung dari Bima, salah satu temannya untuk datang ke acara ulang tahun cowok itu yang dirayakan di klub ini, Alex menjamin seratus persen dirinya tidak akan ke tempat ini. Sebenarnya ia sudah terbiasa keluar masuk klub malam. Hanya saja untuk hari ini pengecualian. Ia sedang tidak dalam mood yang cukup bagus.
Fabian juga Dani paham dan mengerti dirinya. Mereka berdua tidak terlalu mengompori Alex untuk ini itu begitu menginjakkan kaki di klub. Mereka berdua malah membiarkan Alex sendirian karena mereka tahu kalau mood-nya sedeng jelek, ia hanya ingin sendiri dan tidak diganggu.
__ADS_1
Alex sendiri sudah menenggak beberapa botol minuman beralkohol, mungkin tiga untuk mengusir rasa bosan dan kantuk yang mulai menyerang, tetapi lihat saja dirinya sekarang, ia masih bisa berpikir jernih dan sepenuhnya sadar. Atau lebih tepatnya setengah sadar dan setengahnya lagi mabuk.
Namun sepertinya Alex memang tidak sedang ditakdirkan untuk lepas dari gangguan. Karena saat ini ada saja cewek yang secara terang-terangan menggodanya. Tanpa bertanya dahulu, cewek ini duduk di samping Alex. Gaun berwarna merah menyala yang dikenakan cewek ini terlihat sangat kekecilan dan terlihat tidak bisa menampung semua bagian tubuh cewek itu dengan baik. Alex heran dengan cewek ini, apa tidak punya baju yang lebih pantas dipakai daripada baju kekecilan itu yang menurutnya akan membuatnya kesulitan bernafas. Bahkan Alex curiga kalau gaun merahnya akan sobek saat cewek itu bergerak.
"Pergi dari sisi gue." suruh Alex seraya menampik tangan cewek yang tidak ia ketahui namanya ini yang sedang mulai menggerayangi lengannya. Bukannya keenakan, yang Alex rasakan justru jijik setengah mati. Ingin rasanya ia melempar cewek ini jauh-jauh.
"Galak banget sih." balas cewek itu yang tidak terpengaruh dengan perintah Alex yang menuntutnya untuk pergi. "Tapi gue suka sama cowok yang galak begini. Lebih menarik." lanjutnya tanpa menyadari kalau raut wajah Alex sudah memerah karena marah.
Alex mencengkeram tangan cewek itu ketika tangannya mulai meraba-raba dada Alex. Sungguh ia merasa jijik. "Pergi sekarang juga." desis Alex dengan tajam dan rahang yang mengeras. Kemudian disentakannya tangan cewek itu, namun tidak cukup kasar karena tenaganya mulai berkurang. Mungkin efek dari minumannya membuat tubuhnya lebih lemas dari biasanya.
Cewek itu kelihatan sedikit sebal dengan sikap kasar Alex. Tetapi ternyata belum menyerah, karena nyatanya cewek ini masih melancarkan serangan-serangan lain.
"Tapi gue belum mau, gimana dong?" rengek cewek itu dengan manja yang membuat Alex ingin muntah.
"Gue gak doyan sama cewek kayak lo. Sekarang lebih baik lo cari cowok lain karena gue gak mau sama lo."
Cewek gila ini bukannya kecewa, malah terkekeh. Aneh, pikir Alex. Biasanya saja kaum cewek akan cepat menyingkir kalau tahu sang incaran tidak mau dengannya.
"Kenalin, nama gue Selena. Siapa nama lo?" kata cewek yang mengaku bernama Selena. Dari raut wajah cewek itu, rasanya mustahil kalau si Selena-Selena ini belum tahu namanya. Terlihat jelas kebohongan di wajah cewek itu.
Dan Alex juga tidak ingin mengenal lebih lanjut dengan si Selena ini. Alex akan beranjak, ia sudah berdiri tapi sedetik kemudian ia menyadari tubuhnya terhempas ke kursi lagi karena Selena sudah menariknya untuk duduk kembali.
"Mau kemana? Kok cepat-cepat." tangan lembut Selena mencekal lengan Alex.
Alex dengan kasar menarik tangannya. "Gue mau pergi. Dan jangan ganggu gue lagi." kata Alex dingin.
Ia sudah berdiri kembali, tetapi Selena rupanya belum mengerti bahasa manusia karena cewek ini kembali menarik Alex. Badan Alex yang sudah lemas tentunya memudahkan Selena ketika cewek itu menariknya membuatnya jatuh kembali ke kursi.
Alex menggeram marah. "Lo---" seruan Alex terhenti ketika dengan cepat Selena memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya yang sialannya langsung bisa ia telan.
Tiba-tiba saja Selena yang menatapnya memuja dan penuh godaan berubah menjadi tenang dan datar, atau lebih tepatnya terkesan angkuh.
"Apa yang---"
Lagi-lagi ucapan Alex terhenti. Bedanya sekarang itu karena Selena sudah menarik kerah baju Alex dan membisikkan sesuatu ke telinganya dengan nada dibuat mendayu-dayu.
"Selamat malam. Semoga malam lo menyenangkan." kata cewek itu sambil mengusap pelan baju Alex seakan sedang menghilangkan debu yang menempel, sebelum akhirnya meninggalkan Alex terdiam terpaku di tempatnya.
Tak lama setelah Selena menghilang dari pandangannya, Alex baru menyadari obat apa yang Selena masukkan ke dalam mulutnya. Alex dengan sengaja membatuk berharap obatnya akan keluar. Namun ternyata nihil. Yang keluar hanya angin.
Tidak sampai dua menit badannya mulai terasa panas. Keparat!!!
Alex melihat ke sekelilingnya mencari Dani dan Fabian tapi tidak ketemu. Yang ada malah bayangan di depannya tampak mengabur. Alex akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet. Yahh benar toilet saja dahulu.
Ketika Alex ke toilet, rupanya ada papan di depannya yang mengatakan kalau toilet itu rusak dan digantikan ke ruangan atas. Di kamar klub nomor 6.
Tanpa berpikir lagi Alex pergi menuju ke kamar nomor 6. Hanya saja Alex tidak tahu kalau hidupnya akan berubah saat itu juga.
***
Nah kan...
__ADS_1
Btw masih adakah yang teringat sama si Riki? Dia pernah muncul di part 16 🙆