Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 18


__ADS_3

Letta mengikat tali sepatunya kuat-kuat agar nanti tidak lepas ketika pelajaran olahraga. Setelah memberi salam pada Wulan dan Haris, ia berjalan cepat ke arah dua orang yang sudah berdiri menungguinya sejak beberapa menit yg lalu di pinggir jalan.


Letta melihat Alex memberikan tatapan bertanya sembari melirik ke satu orang laki-laki yang berada di sana juga. Tadi saat Alex ke rumah Letta, ia dikasih tahu oleh Wulan supaya duluan ke jalan dan menghampiri seorang lelaki disana. Ia kira nanti Letta yang akan membawa sepedanya keluar, tapi ternyata sekarang Letta sudah keluar dengan tangan kosong.


"Ayo, Nak Letta." ujar lelaki itu yang sudah siap di sepeda motor miliknya.


Alex memicingkan matanya ke arah Letta meminta jawaban. Alex sudah mulai berpikir yang aneh tentang hal ini dan jangan sampai apa yang ia duga itu menjadi kenyataan.


Letta menggigit bibirknya sedikit gugup ditatap seperti itu oleh Alex.


"Kita... bertiga... naik motor, Alex." ucap Letta pelan disertai dua jari naik ke atas dan memberikan senyum ala iklan pasta gigi ke Alex.


Alex menatap Letta horor seakan akan hal tadi adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ia dengar.


"Bertiga? Maksudnya gue, lo, sama dia?" Alex menunjuk ke arah lelaki yang berada di motor.


Letta meringis, untung saja posisi mereka membelakangi Kang Asep, lelaki yang berada di motor itu, dan juga beruntung Alex mengatakannya dengan suara lirih, kalau tidak bisa saja menyinggung Kang Asep.


"Iya." Letta mengangguk.


"Kenapa harus bertiga?"


"Karena motornya cuma satu, Alex. Motor papa gue mau dipake buat kerja dan dia berangkatnya pagi jadi gak bisa nganterin."


"Dan lelaki itu tukang ojek?"


Letta menggumam mengiyakan. Mengetahui hal itu, Alex menghembuskan nafasnya kasar lalu mencekal pergelangan tangan Letta dan menarik tubuh cewek itu mendekat.


Letta kaget sekaligus merinding ketika Alex berbisik dekat telinganya. "Jangan bercanda, Ta. Maksud lo apa, kenapa gak pake sepeda aja."


Letta kemudian menjawab. "Kalau naik sepeda nanti keburu capek, apalagi nanti katanya olahraganya itu praktek lari. Kaki lo bisa pegel kalau buat ngayuh sepeda, dan gue gak mau lo nyalahin gue kalau misal nanti lo dapat nilai jelek. Lagian kalau naik motor juga lebih cepet sampe ke sekolahnya."


Melihat Alex yang mengernyit tidak suka membuat Letta berkesimpulan kalau Alex pasti tidak setuju dengan idenya ini.


"Gak, gak, gue gak mau. Mending gue jalan kaki." Alex berbalik dan sebelum ia berjalan jauh gilliran Letta memberanikan diri untuk menahan lengannya. Kasihan, bisa lebih capek kalau Alex jalan kaki.


"Lo gak boleh jalan kaki, ikutin ide gue aja, please." pinta Letta dengan tatapan memohon.


"Gila lo." dengusnya. Alex berbalik lagi.


Dasar kepala batu. Dikasih yang mudah malah maunya yang susah, gerutu Letta dalam hati.


"Kalau lo gak mau bareng, gue bakalan ngasih tahu ke nenek lo kalau lo suka ngerokok bahkan merokok di sekolah." ancam Letta cukup keras membuat tubuh Alex menegang seketika.


Sebenarnya Letta tidak ada niatan mengadu sama sekali, bahkan itu hanya spontan terucap tiba-tiba dari mulutnya, tapi ternyata ucapan spontannya tadi memberikan pengaruh besar pada Alex karena setelahnya cowok itu membalikkan badannya.


"Lo pikir siapa bisa ngancem gue kayak gitu." Alex memicingkan matanya.


"Gue, Arletta Zachary." ucap Letta dengan cengiran lebarnya.


***


Akhirnya, sekarang Letta dan Alex sudah berada sekolah. Hanya tinggal beberapa menit lagi mereka berdua telat. Dasar Alex, karena dia tadi yang ngeyel tidak mau naik motor bertiga akhirnya Letta dan Alex berdebat dulu yang menghabiskan waktu cukup lama.


Bahkan ancamannya yang akan mengadu pada Sari tentang Alex yang akan merokok saja gagal, dan berlanjut ke perdebatan selanjutnya.


Akhirnya setelah lama berdebat, Alex mengaku kalah. Apalagi lawannya ini calon emak-emak yang cerewetnya minta ampun. Ia memilih untuk mengikuti ide Letta dan naik motor bertiga. Tentunya dengan Kang Asep, ojek langganan Letta sebelum Alex datang ke desa.


Naik motor cenglu alias bonceng telu alias bertiga tidak membuat Letta merasa malu sedikitpun. Menurut kalian memalukan? Bagi Letta tidak karena toh tidak ada alasan buat malu. Orang yang kebetulan melihat mereka bertiga juga cuek-cuek saja. Alex yang sejak naik sudah merasa kesal hanya diam sepanjang jalan, cowok itu juga minta diturunkan di tengah jalan, tak jauh dari gerbang karena takut dilihat anak lain.


"Jadi nanti kalian semua akan melewati jalam yang biasa untuk penilaian lari. Saya rasa kalian masih ingat. Saya tidak mau mendikte jalur mana saja yang harus dilewati karena saya pikir otak kalian masih bisa digunakan untuk mengingatnya lagi." ada jeda sebentar.


"Kalaupun kebangetan banget ada yang lupa, bisa liat temen kalian larinya ke arah mana."


Bu Goning selaku guru olahraga memberikan penjelasan akan olahraga sekarang yaitu praktek lari. Jalurnya juga seperti biasa, yang sudah biasa anak satu sekolah lewati untuk praktek berlari.


Setelah pemanasan selesai semua anak berbaris di garis start yang aslinya adalah gerbang sekolah. Semua anak diberi waktu untuk mempersiapkan diri, Letta menggunakan waktunya unyuk membenarkan ikatan rambutnya agar lebih kuat sehingga tidak lepas ketika lari nanti.


Dari sudut matanya ia bisa melihat Alex yang mendengarkan setiap instruksi yang juga sedang dijelaskan Bu Goning diantaranya jangan melawan arah, dilarang jajan di jalan, dilarang untuk menerobos lewat jalur alternatif, dilarang bermain handphone dan segala bentuk kecurangan lainnya.


"Nanti lo liat ke arah gue." ucap Galih, salah satu siswa cowok yang sekarang cukup dekat dengan Alex di kelas.


"Thanks." Alex menepuk bahu Galih.

__ADS_1


Setelah peluit dinyalakan, semua anak berlarian keluar gerbang dan berbelok ke arah kiri menuju jalur lari. Jalannya bukan jalan raya, tapi jalan desa biasa. Sengaja sekolah memilih jalur yang ini, karena takutnya dengan mengambil jalur jalan raya akan ada hal bahaya yang terjadi.


Ya, SMA Prisma terletak di pinggir jalan raya. Dan untuk rumahnya Letta sendiri harus jauh masuk ke dalam gang dan sudah termasuk ke jalan desa.


"Oyy tungguin gue. Gue udah gak kuat..."


"Arghhh. Tali sepatu gue lepas..."


"Gue butuh minum. Haus banget gila."


"Gue takut jantung gue copot, perut gue nyeri banget."


"Perut gue juga, keknya tadi kebanyakan minum sebelum berangkat deh.. Hoshh.."


Baru lima manit berlari tapi anak cewek sudah banyak sekali yang mengeluh. Begitupun Letta juga sebenarnya sudah merasa capek.


Nafasnya sudah ngos-ngosan, keringat sudah mengucur di dahi. Perutnya juga sudah terasa nyeri karena berlari terus. Tapi kan ia ingin mendapat nilai yang bagus makanya ia memaksakan kakinya untuk terus berlari tanpa mau berhenti dulu. Justru menurutnya kalau berhenti malah akan menjadi tidak kuat lagi larinya.


"Gila, Letta nyalip woyy." teriak Galih, begitu ia sudah disalip Letta.


Galih sendiri berada di barisan paling belakang di antara cowok sekelas yang sudah lari jauh di depan sana. Bahkan banyak yang sudah tidak terlihat karena sudah berbelok jalannya. Dan di sebelah Galih ada Alex.


"Gue duluan ya." Letta tetap berlari sambil mengangkat tangannya ke atas.


"Gila lo, Ta. Lo cewek tapi tenaganya udah kek cowok aja." Galih menggelengkan kepalanya.


Alex sendiri sedang bermain dengan hpnya karena tadi hpnya menunjukan puluhan pesan masuk makanya ia meminta Galih untuk berjalan sebentar. Tidak peduli dengan larangan gurunya yang mengatakan dilarang bermain hp, toh Bu Goning juga tidak liat.


Alex juga tahu kalau letta sudah mendahuluinya. Tapi isi dari pesan-pesan yang masuk ke hpnya itu lebih menarik daripada menanggapi Letta.


"Kenapa lo?" tanya Galih melihat Alex menggeram kesal.


Alex hanya menggeleng, tidak mau Galih tahu masalahnya.


"Lo duluan aja. Nanti gue nyusul." kata Alex.


Tidak enak juga kalau Galih ikutan jalan sepertinya. Lagian di belakang sana masih ada gerombolan anak cewek, jadi nanti ia bisa mengikuti mereka.


"Udah sana tinggal aja."


"Gue duluan." Galih menepuk bahu Alex lalu melanjutkan larinya lagi.


Alex mulai membuka satu persatu pesan yang datang ke hpnya.


"Beneran lo yang hamilin Mona?"


"Alex, Mona lo buat hamil dan lo tinggalin begitu aja. Brengsek lo yaa!!!"


"Gimana rasanya?"


"Selamat Al, lo jadi papa muda."


"Dasar cowok kelakuannya gak ada yang bener. Sekarang, masa depan Mona lo hancurin begitu aja."


"Enak banget yah, Mona dikeluarin dari sekolah dan lo malah sekolah lagi. Haha... "


"Dasar cowok yang bermoral. Orang tua lo emang gak becus, gak pernah ngajarin tanggung jawab?"


Pesan terakhir yang masuk membuat amarahnya naik sampai ubun-ubun. Kalau dirinya yang dikatain, Alex akan sabar tapi kalau orang tuanya, ia bisa menghajar orang itu sekarang juga. Apalagi setelah ia melihat nama orang yang mengirimya itu.


Riki, cowok yang sudah lama menyimpan dendam kepadanya. Dan Alex berasumsi kalau pesan-pesan yang masuk itu hasil hasutan Riki agar anak-anak lain menyerangnya lewat pesan karena sebelumnya tidak ada yang berani menyerangnya secara terang-terangan seperti sekarang. Apalagi ini kroyokan.


Alex membuka group chatnya dengan Fabian dan Dani dan mulai mengetikkan sesuatu.


Alex : Bgsd. Kenapa semua anak tahu masalah gue sama Mona.


Fabian : Gue juga gak tahu masalah itu siapa yang nyebarin.


Dani : Dan gue berani sumpah bukan kita berdua yang buat gosip itu menyebar ke sekolah.


Alex menggeram menahan amarahnya. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi yang sudah siap meledak-ledak.


Alex : Terus siapa njing. Demi apapun itu bukan anak gue.

__ADS_1


Fabian : Iya gue tahu dia bukan anak lo. Bokap lo udah bilang ke kita berdua.


Alex sedikit bingung kenapa Aji mau mengatakan hal itu pada dua temannya itu.


Alex : Bokap gue?


Dani : Iya, kemarin gue sama Fabian ketemu beliau di kafe.


Alex : Terus kenapa sekarang kesebarnya kalau Mona hamil anak gue.


Fabian : Kalau soal itu gue sama Dani lagi cari tahu siapa dalangnya.


Dani : Lo di sana tenang aja. Kita berdua bakalan cari Mona dan minta dia buat klarifikasi kalau itu bukan anak lo.


Fabian : Dengan bukti yang kuat anjing2 itu bakalan diem.


Alex : mksh.


Dani : Gak ikhlas amat ngetiknya.


Fabian : (2)


Alex : Gue lagi pelajaran bego.


Dani : Pelajaran kok main hp.


Fabian : (2)


Dani : Kampret, lo gikutin gue mulu.


Fabian : pis


Alex : Hm


Fabian : Walau lo sama kita udah gak satu sekolah lagi gue ttp mau jaga nama baik lo.


Dani :  Ululuu.. Ibu peri ceramah.


Alex : Thx


Fabian : Thx doang?


Alex : Emang lo minta apalagi?


Fabian : Gue mau lo cepet balik dan kumpul bareng kita lagi, bisa?


Dani : (2)


Fabian : Shit. Tinggal lo yang ngikutin gue taik.


Dani : Pikiran gue kan sama.


Alex : Soon. Tunggu aja.


Dani : Mapel apa Al?


Alex : OR.


Gerakan Alex terhenti begitu ia ingat kalau ia sedang praktek lari. Dan Alex bahkan lupa kalau ia sudah lama sekali bermain chat dengan kedua temannya itu.


Alex menatap sekelilingnya dan ia merasa asing. Tidak ada siapapun di sini. Ia melihat ke belakang pun begitu, tidak ada tanda-tanda siswa perempuan akan mendekat. Atau yang terjadi sebenarnya adalah meraka semua sudah mendahuli Alex.


Alex mengacak rambutnya frustasi tidak tahu jalan pulang ke sekolah. Ia memutuskan untuk berjalan terus ke depan mungkin ia akan menemukan titik terangnya nanti.


Alex lalu mendapati ada perempatan dan sialnya tidak ada tanda-tanda kemana jalan yang harus ia pilih. Ingin bertanya ke warga setempat tapi sialnya lagi tidak ada orang di sana. Keadaan benar-benar sepi. Alex semakin frustasi, ia menjambak rambutnya ke atas.


"Sialan..." desis Alex.


Ia memilih untuk menuju ke poskamling yang ada di perempatan itu. Ia duduk di bangku di dalam poskamling dan membuka hpnya lagi.


Untung saja ia pernah meminta nomor Letta pada Sari jadi sekarang ia mengirimkan pesan pada Letta mengatakan kalau ia tidak tahu jalan. Mau pakai GPS tapi sinyalnya taik sekali, "tidak ada layanan."


Gezzz... Bahkan smsnya pending, tidak terkirim.

__ADS_1


__ADS_2