
"Hoek... Hoek..."
Seorang cewek sedang memuntahkan isi perutnya ke dalam kantung kresek hitam. Yang ia rasakan adalah perutnya bergejolak dan di remas-remas di dalam sana. Bahkan ia tidak bisa berhenti untuk terus memuntahkan isi perutnya yang walau sudah tinggal keluar cairan pekat.
Rasa mual itu terus saja menyerangnya. Matanya pun secara otomatis ikutan mengeluarkan carian bening.
"Hoekk... Hoekk..."
Cewek itu terlihat sangat lemas dan wajahnya sudah pucat pasi. Setelah dirasa itu yang terakhir, ia mengangkat kepalanya sedikit lalu menempelkan ke bagian belakang sandaran bangku di depannya.
"Lo ada kayu putih?" Alex yang sedari tadi memijiti tengkuk cewek itu ketika mabok angkat bicara begitu dirasa cewek itu sudah cukup mampu untuk menjawab pertanyaannya.
Gelengan dari cewek itu membuat Alex mendesah.
"Harusnya kalau lo ada kemungkinan buat mabok, lo bawa obat sendiri." omel Alex.
"Gue kan gak tahu bakalan kayak gini." bela cewek itu lirih.
"Tetap aja harusnya lo tuh ada persiapan, Letta."
Cewek itu yang lain tidak lain adalah Letta menunduk ke bawah, melihat ke arah kresek hitam yang ia pegang. Ia terlalu lemas untuk sekedar bicara. Mulutnya terasa pahit. Tapi bersyukur, setelah mengeluarkan semuanya, perutnya sudah cukup lega walau di dalam sana masih ada rasa mual, tapi sudah tidak semual sebelumnya.
"Sini biar gue buang tuh kresek." Alex merebut kresek yang dipegang Letta membuat cewek itu terkaget.
Belum sempat Letta berkata apa-apa, Alex sudah membuka jendela bis dan membuangnya ke luar. Beruntung di luar sana itu pas sedang melewati lahan kosong.
"Kenapa lo buang?" tanya Letta dengan nada tertahan.
Alex menoleh dan mendapati wajah Letta memerah seperti menahan sesuatu.
Jangan bilang kalau Letta belum selesai.
Jangan bilang kalau tindakannya salah.
Jangan bilang kalau Letta mau....
"Hoekk..."
***
Dengan malas, Alex memberikan pijatan kecil di sekitaran leher belakang Letta berharap kegiatannya ini memberikan efek, setidaknya agar Letta merasa mendingan.
Letta sendiri duduk lemas dengan kepala yang ia sandarkan ke kursi di depannya. Sudah lama sekali ia tidak mabok kendaraan bahkan ia tidak ingat kapan terakhir ia mabok. Jadi sekalinya mabok kembali, rasanya sangat tidak enak.
Dirinya jadi ingin menangis saja dan pulang ke rumah. Apalagi setelah kejadian tadi saat dimana ia tidak sengaja muntah ke seragam yang sedang dipakai Alex. Walau hanya keluar cairan, tetaplah itu sangat menjijikkan hingga Alex memilih menanggalkan seragamnya. Beruntung Alex memakai kaos di balik seragamnya itu, jadi Alex tidak harus bingung akan pakai baju apa.
Dan juga, Letta bahkan belum meminta maaf pada Alex karena kejadian itu. Mungkin nanti saja, setelah ia merasa cukup enak untuk bicara ia akan minta maaf.
"Ini kayu putihnya." Mira datang dengan sebotol kayu putih dan menyodorkannya ke Alex. Setelahnya ia kembali ke tempat duduknya di depan bersama Galih.
Mira hanya bisa mempercayakan Letta pada Alex kali ini. Ya, semoga saja Alex bisa merawat Letta sebentar, setidaknya sampai ke tempat renang.
Alex yang menerima botol kayu putih dari Mira segera membuka botolnya. Dituangkannya beberapa tetes kayu putih ke telapak tangannya lalu diarahkannya ke bagian belakang leher Letta.
"Mau ngapain lo?" Letta tiba-tiba duduk tegap.
Alex mengernyit dan mengangkat bahunya tidak tahu juga mengenai apa yang sebenarnya akan ia lakukan. Hanya mengikuti insting saja.
__ADS_1
"Gue cuma mau olesin kayu putih ke tengkuk lo. Biar enakan dan lo gak mabok lagi." ujar Alex datar.
Letta menelan ludahnya kasar. Sekarang ia sudah merasa baikan makanya bersentuhan dengan Alex akan terasa aneh dan entah kenapa ia merasa was-was. Padahal tadi ketika ia sedang mabok, Alex dengan telaten memijati leher belakangnya dan sialnya pijatan Alex itu terasa enak. Sial.
"Gak ada hubungannya mabok sama bagian tengkuk gue. Jadi gak usah pakai acara kek gitu. Lagian gue udah enakan kok." ucap Letta sambil mangalihkan pandangannya ke depan.
Alex yang mendengarnya menaikkan satu alisnya lalu menyandarkan badannya ke sandaran bangku. "Oh yaudah, kebetulan deh, gue jadi gak perlu repot-repot bantu lo lagi."
Kalau boleh jujur, Letta malah merasa kurang senang mendengar perkataan itu keluar dari bibir Alex. Tapi, setelah dipikir lagi, kenapa juga dirinya tidak senang. Letta menggelengkan kepalanya dan malah berujar yang isinya kebalikan dari hatinya.
"Siapa juga yang minta dibantuin, gue juga gak pernah minta."
Hening beberapa saat. Letta tidak mendengar Alex membalas perkataannya tadi. Apakah ucapan Letta tadi terlalu kasar?
Iya, tentu saja bego. Lo tuh harusnya berterima kasih karena Alex udah bantuin lo, bukannya malah mengatainya kayak tadi.
Letta meringis mendengar otaknya serasa bicara sendiri dan harus ia akui itu benar adanya. Perlahan ia melirik ke arah Alex dan mendapati cowok itu sedang mengusapkan telapak tangannya yang tadi dituangkan kayu putih ke kaos yang ia pakai.
Lagi-lagi Letta mengutuk dirinya. Lihat kan, ia malah merasa bersalah pada Alex.
Letta berdehem pelan, lalu bertanya. "Sampai ke kolam renangnya masih lama gak sih?"
Setidaknya ia masih bisa untuk mengatasi situasi yang tidak mengenakan ini, dengan basa-basi seperti ini misalnya. Namun nyatanya Alex tidak menggubris perkataannya.
"Gue nanya jawab dong." kata Letta sedikit keras. Berpura-pura kalau ia kesal karena Alex yang tidak mau menjawab.
Kali ini ia bisa lihat Alex menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab dengan sarkas. "Mana gue tahu, Ta. Ini juga kali pertama gue ke kolam renang di sekolah lo. Harusnya tuh gue yang nanya ke lo, bukan lo yang nanya ke gue karena jelas lo lebih tahu daripada gue."
Pertanyaan bodoh. Kalau bisa, Letta mau menghilang saat itu juga.
Letta yang mendengarnya menelan ludah kasar. Rupanya Alex marah karena hal tadi. Letta memilih untuk diam saja, tidak tahu akan berkata apa, takut salah bicara lagi.
Sedangkan Alex, ia membuka tasnya dan hendak mengambil HP beserta earphone yang ia simpan tadi ketika Letta datang. Saat tangannya meraba-raba mencari earphonenya, tidak sengaja ia menyentuh benda bulat dan kecil yang terletak di pojok bagian tasnya. Begitu ia tarik, ternyata itu adalah dua tablet antimo.
Bingung? Tentu saja. Sejak kapan ada antimo di dalam tasnya. Setahunya ia tidak pernah membeli ataupun membawa benda seperti itu, menyentuhnya saja Alex tidak tahu kapan terakhir kalinya.
Lalu ia teringat akan kepindahannya dulu ke desa, waktu itu mamanya membawa antimo saat akan pergi. Tidak mustahil bukan kalau mamanya yang menaruh antimo itu ke dalam tasnya, pikir Alex sih begitu.
"Nih buat lo." Alex melemparkan antimo tadi ke Letta dan jatuh di pangkuan cewek itu.
Letta mengambil bungkusan kecil itu dan membolak-balik bungkusan itu.
"Ini apa? Kenapa buat gue?"
"Obat biar lo gak mabok lagi. Jadi lo gak perlu minta bantuan ke gue kalau lo mabok lagi, dan gue juga gak bakal bantu lo lagi." jawab Alex datar.
Dirinya lalu memasang earphone ke sambungan HPnya dan mengalunlah lagu masuk ke dalam telinganya.
Letta yang hendak bertanya lagi terdiam. Matanya memandang lagi ke arah bungkusan antimo yang dikasih Alex. Hatinya merasa tidak senang dengan sikap Alex yang seperti ini. Ia juga kan tidak bermaksud mengatakan hal itu.
Letta membalik bungkusnya berulang-ulang sambil dilihatinya lekat-lekat.
"Perasaan pembungkusnya dulu bukan begini deh." gumam Letta lirih.
"Ahh, masa bodo, mungkin bungkus di pabriknya udah ganti. Mending gue minum aja, daripada nanti pusing dan mabok lagi." lanjutnya.
Letta menelan satu tablet antimo itu dan mengernyit aneh.
__ADS_1
Rasanya kok pahit banget...
Meskipun dirasa ini terlalu pahit untuk sekedar obat mabok perjalanan, Letta tetap saja menelannya sampai masuk. Satu tablet lagi yang lain ia masukkan ke dalam tas.
***
Baru juga lima menit berselang sejak Letta minum antimo itu, ia merasa sangat mengantuk. Bahkan rasanya badannya ikutan letih dan lemas. Matanya terasa berat seakan memaksanya untuk menutup saat itu juga.
Berkali-kali ia terantuk ke depan dan segera menegapkan badan lagi. Tapi lagi-lagi rasa kantuk itu menguasainya. Letta pikir ini adalah efek obat tadi. Tapi ia juga tidak habis pikir kalau rasa kantuknya akan sebesar ini.
Alex bukannya tidak menyadari perubahan yang terjadi pada tubuh Letta. Tapi ia akan bersikap masa bodoh, toh Letta bukannya tadi mengatakan tidak butuh bantuannya. Jadi dirinya tidak ada kewajiban untuk membantu si cewek sombong itu.
Berusaha untuk tidak terpengaruh, Alex memejamkan matanya. Pikirannya berusaha fokus pada lagu yang ia sedang terputar lewat earphone yang terpasang di telinganya.
Dugg
Alex mendengarnya. Suara itu, suara kepala Letta yang terbentur ke kursi di depannya. Tapi Alex berusaha untuk tetap diam dan tidak menanggapi.
Dugg.
Sayangnya, Alex tidak bisa berpura-pura untuk menahannya lebih lama lagi.
"Lo gak apa-apa?" tanya Alex yang melihat kepala Letta yang baru saja terantuk lagi ke depan hingga menabrak kursi di depan cewek itu.
Alex melepaskan earphonenya setelah sebelumnya menghentikan lagu yang ia putar. Ia berusaha memfokuskan perhatiannya pada Letta yang dalam kondisi cukup memprihatinkan. Mata cewek itu terlihat tidak fokus dan badannya juga terlihat lemas.
Walaupun jujur saja Alex tadi marah pada Letta karena dengan sengaja cewek itu mengatakan tidak butuh bantuannya padahal ia sudah mau berbaik hati membantu Letta bahkan ia rela seragamnya terkena mabokannya Letta, Alex tetap merasa simpati.
"Gue gak apa-apa." gumam Letta.
"Tapi lo kelihatan...hmm aneh." Alex mengernyit.
"Entahlah, gue ngerasa ngantuk banget. Lo tadi bukan ngasih obat tidur kan? Kok gue jadi ngantuk banget sih."
Suara Letta sudah tidak jelas. Dirinya bahkan sudah tidak bisa membedakan apakah ia sadar atau tidak.
"Gue ngasih lo antimo, bukan obat tidur." ketus Alex.
Letta bergumam kembali sambil memejamkan matanya. "Kalau begitu kenapa gue jadi ngantuk banget?"
"Makanya kalau tidur jangan kemaleman." kata Alex melihat Letta yang semakin aneh, pa mungkin efek obatnya sampai sebegitu parah.
Alex yang sedang sibuk dengan pikirannya terkaget ketika Letta tiba-tiba menjatuhkan badan ke arahnya. Cewek itu rupanya sudah tidak sadarkan diri.
"Lo tidur?!" Alex melongo tidak percaya.
Ia dibuat susah ketika mencoba menahan badan Letta dan membuat cewek itu kembali ke posisinya semula. Letta pun akhirnya tidur sambil bersandar ke sandaran kursi bus yang ia duduki.
Setelahnya yang Alex dengar adalah dengkuran halus dari Letta. Segitu mengantuknya kah sampai Letta tertidur nyenyak.
Diam-diam Alex melihat wajah Letta yang terlihat damai sekali dalam tidurnya seakan akan tidak punya beban apapun. Dilihatnya setiap inch dari wajah Letta. Kulitnya putih bersih tidak seperti anak desa lainnya, bulu matanya lentik, hidungnya juga tidak pesek-pesek amat tapi juga tidak mancung, masih dalam standar, lalu turun ke bawah dan...
Alex menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas kasar, kenapa jadi ia berpikir tentang Letta. Ia lalu kembali ke posisinya yang semula dan akan memasang earphonenya lagi. Bersamaan itu, bus yang ia tumpangi melewati jalan yang berlubang, sehingga earphone yang ia pegang terlepas dari tangannya.
Tapi, bukan itu yang membuatnya dirinya kaget hingga jantungnya melompat kecil, melainkan karena kepala Letta yang terjatuh bebas ke bahunya. Belum cukup sampai disitu, Letta malah mencoba mencari posisi yang nyaman dengan semakin menyerukkan kepalanya ke bahu Alex.
Sialan... Kenapa akhirnya malah jadi seperti ini.
__ADS_1