Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 37


__ADS_3

Hari pensi tiba hari ini. Terhitung sudah tiga jam sejak pensi ini dibuka. Acara ini dihadiri oleh banyak orang, bukan hanya dari SMA Prisma saja, ada banyak anak sekolah lain yang juga turut hadir ikut mengisi acara memberikan pertunjukan bakat yang mereka miliki, banyak juga warga sekitar atau orang luar yang datang masuk ke sekolah. Dengan pemasaran dan iklan yang bagus dan terencana, maka tak ayal acara pensi ini sukses besar. Beberapa stand makanan dan produk lokal milik sponsor ataupun milik siswa didirikan di bagian pinggir lapangan.


Acara yang besar seperti ini membuat para pengisi acara lantas menjadi gugup, takut melakukan kesalahan. Begitupun yang dirasakan oleh Letta. Cewek itu sudah dirias oleh Bella. Bella, seseorang yang pernah ia sarankan ke guru seni budaya sebagai putri tapi ternyata perannya menjadi juru rias. Tidak salah pilih sih, hasil riasan Bella pas khas anak muda. Tidak berlebihan ataupun menor. Semua dilakukan secara apik dan rapih.


"Sentuhan terakhir, tinggal anting-antingnya." Bella mengambil anting berwarna putih di dalam kotak.


Letta diam saja ketika satu persatu anting itu dipasangkan ke telinganya.


"Coba deh dilihat." Bella menyodorkan kaca ke depan muka Letta. Letta mengambil alih kaca itu, ia menggerakkan kepalanya ke samping agar anting itu lebih terlihat dari kaca.


"Bagus, gue suka sih. Tapi, modelnya ada yang lain gak?" tanya Letta setelah meneliti model anting yang ia pakai ternyata itu model yang tak ia sukai, yang paling ia hindari.


Bella tampak mencari anting model lainnya tapi gak dapat. "Gak ada, emangnya kenapa sama yang itu? Menurut gue itu udah cocok ditambah lagi gaun yang lo pakai warnanya putih juga, dan percaya deh lo tambah kelihatan cantik."


Letta mendesah pelan. "Begini, gue takut anting ini bakalan nyangkut ke gaunnya. Gue pernah pake anting model gini beberapa kali tapi akhirnya selalu aja nyangkut ke baju gue."


Bella tertawa lalu menepuk pundak Letta. "Itu mah namanya lo yang ceroboh, gue pernah pake yang kayak gitu tapi baik-baik aja."


Letta tidak menjawab. Ia memilih melihat wajahnya yang sudah dirias di cermin. Tampak sangat berbeda dan terasa bukan dirinya. Matanya terlihat lebih tajam dengan bulu mata palsu yang membuat bulu matanya lebih lentik dari sebelumnya. Bibirnya juga warna pink cerah, tidak pucat seperti biasanya. Apakah ini memang cocok dengan dirinya? Ia takut penampilannya akan memalukan nanti.


Letta melirik ke samping ketika Bella berdiri. Lalu Bella mengatakan sesuatu sambil tersenyum. "Gue mau ngerias yang lain dulu ya. Lo gak boleh garuk muka kalau gatal, cukup ditahan, oke. Gue gak mau hasil karya gue hancur karena tangan usil lo."


Letta balas tersenyum. "Akan gue usahain, tapi gak janji."


Satu jam kemudian semua anak kelasnya Letta disuruh berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Letta berdiri di antara Alex dan Mira. Alex berada di kanannya dan Mira di sisi kirinya. Mereka semua nantinya akan berdoa bersama terlebih dahulu demi kelancaran dan kesuksesan acara serta penampilan mereka.


Setelah diberi interupsi, anak-anak mulai saling berpegangan tangan. Dan Letta sempat menegang ketika tangan Alex yang hangat menyelimuti tangannya yang mungil. Alex dengan sengaja memberikan usapan dengan jempol cowok itu di sekitaran jemari Letta. Letta menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.


Beruntung ketua kelas segera menengahi dan mengajak untuk mulai berdoa bersama. Ketika berdoa, suasana hening tanpa ada yang bersuara. Lalu selesai dan semua anak mulai berpencar. Letta sudah melepaskan tangannya dengan Mira, tetapi tangan Alex masih terus menggenggam tangannya. Bukannya dilepaskan, Alex malah menggenggamnya semakin erat ketika Letta berusaha melepaskannya.


"Alex, lepasin." bisik Letta sambil meronta, takut ada yang melihat mereka berdua.


Tanpa butuh usaha lebih keras, nyatanya Alex segera melepaskan tangannya Letta. "Tangan lo beruntung."


"Hah?" Letta mengernyit mendengar pernyataan Alex yang tak masuk akal. "Maksudnya apa?"


Tangannya beruntung? Beruntung karena apa coba. Aneh.


Alex tersenyum penuh arti ketika menjawab. "Nanti lo juga tahu."


***


Seorang cowok menuntun si cewek untuk masuk ke gerbang. Tangan cewek itu dingin dan berkeringat. Mungkin masih terlalu takut apalagi mereka melakukan ini tanpa ada orang lain yang tahu, kecuali satu teman si cowok.


"Kita beneran mau masuk ke sini?"  cewek itu bertanya dengan tidak percaya. Tidak percaya akan apa yang ada di hadapannya sekarang ini.


Ia tidak bisa membayangkan hidupnya yang pasti akan segera berubah. Akan banyak masalah yang menanti ke depannya. Dan ia masih belum siap menghadapi semuanya. Walaupun sebelumnya ia sudah mantap dengan semua rencana cowok yang sedang bersamanya ini, tapi sekarang ketika rencana ini dijalani, ia merasa salah. Ia merasa ini bukan tempat seharusnya berada. Ini terasa asing dan menyesakkan.


"Tentu aja, lo udah gak bisa mundur lagi. Mulai sekarang, ayo hadapi kenyataan." si cowok itu menarik tangan si cewek untuk masuk tapi cewek itu menahan kakinya di tempat.


"Gak, gue gak mau. Gue mau pulang aja." Si cewek menggeleng tidak mau.


"Kita udah jauh-jauh datang ke sini dan gue gak bakalan dengerin permintaan lo itu."


"Tapi gue belum siap."


"Siap gak siap lo harus siap. Sekarang yang perlu lo lakulan adalah hadapi semuanya, sekarang. Lagian di dalam sana kita tuh gak ngapa-ngapain." cowok itu mengatakannya dengan tegas dan sorot matanya memancarkan sesuatu yang membuat cewek itu sepenuhnya percaya.


Lalu pelan-pelan, cewek itu mengangguk mengiyakan. Melihat itu, si cowok melepaskan pegangan tangannya. Sebagai gantinya, ia meraih bahu cewek itu dan melingkarkan tangannya disana.


"Sekarang ayo kita hadapi semuanya, bersama-sama."


Yang terjadi kemudian si cowok membawa cewek itu masuk ke gerbang. Sampai di gerbang, dan mereka mendatangi dua anak yang mencatat tamu dan memberikan izin masuk.


"Namanya?" tanya salah satu anak yang bertugas. Ia bertugas mencatat nama-nama orang yang masuk demi kepentingan dokumentasi bagian administrasi pengunjung.


Lalu cowok itu tersenyum ramah. "Gue Fabian."


"Dan cewek yang bersama gue ini." Cowok bernama Fabian itu menunjuk si cewek dengan dagunya. "Namanya Mona."


***


"Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan hiduplah seorang putri yang cantik jelita bernama Snow White. Dia hidup bersama raja dan ratu yang merupakan ibu tirinya. Karena ibu kandungnya telah meninggal saat melahirkannya, maka ratulah yang merawatnya dari kecil. Ratu tersebut sangatlah cantik. Ia memiliki cermin ajaib yang selalu ditanyainya setiap hari." kalimat itu dibacakan dengan lantang menandakan drama Snow White yang diperankan kelasnya Letta sudah dimulai.


Aini yang berperan sebagai Ratu keluar dari sisi panggung dengan membawa kaca besar di tangannya. Dagunya terangkat memberikan kesan angkuh sesuai degan peran sang ratu.


"Wahai cermin! Siapakah yang paling cantik di kerajaan ini?" kata Aini dengan nada penuh kesombongan.


Lalu sebuah suara menyahut. "Tentu saja engkau. Wahai Ratuku.”


Kemudian seorang narator kembali bersuara. "Ratu selalu mengulang pertanyaan tersebut setiap harinya dan jawaban cermin tersebut tidak berganti hingga saat Snow White berumur tujuh belas tahun."


Aini mengulangi lagi kalimatnya. "Wahai cermin! Siapakah yang paling cantik di kerajaan ini?"


Tapi kali ini jawaban yang terdengar berbeda dengan sebelumnya. "Tentu engkaulah yang tercantik ratuku. Tapi Snow White beribu kali lebih cantik di banding engkau."


Aini tampak marah. "Apa?! Wahai cermin, akan aku ulangi pertanyaanku. Siapakah yang paling cantik di kerajaan ini?!"


"Dan jawabanku tetaplah Snow White."

__ADS_1


Aini lalu menggeram marah sambil mencekik gagang cermin yang ia pegang. "Beraninya kau Snow White!" suara Aini menggelegar. Suasana mulai menegang.


Adegan diganti dengan Aini yang sebagai Ratu memerintahkan Galih, yang sebagai pengawal untuk membunuh Snow White.


"Bawalah Snow White ke hutan lalu bunuh dia. Sebagai bukti kau telah membunuhnya, bawa jubahnya yang  telah berumuran darahnya kepadaku!"


Galih membungkuk. "Baik, Ratu. Akan segera saya laksanakan."


Kemudian Aini dan Galih keluar dari wilayah panggung. Letta yang sejak tadi sudah di sisi panggung segera melangkahkan kakinya masuk ke panggung. Ia sedikit mengangkat gaunnya agar tidak tersandung ketika berjalan. Saat masuk panggung, beberapa anak laki-laki memberikan siulan yang membuatnya begitu risih hingga Letta rasanya ingin melepaskan sandal yang ia pakai dan menjejalkan sandalnya ke mulut anak laki-laki itu.


Fokus, Ta. Fokus... Jangan biarin orang lain jadi perhatian lo. Cukup perhatiin dramanya, jangan mikirin orang lain. Paparnya dalam hati.


Galih menyusul di belakangnya. Selanjutnya mereka berdua melanjutkan dramanya.


"Mohon maaf, tuan putri, kalau saya mengganggu waktu istirahat Anda, tetapi saya diperintahkan oleh baginda ratu untuk mengajak Anda ke hutan sekarang." kata Galih sambil membungkuk.


Letta menampilkan raut wajah bingung. "Ke hutan? Untuk apa?"


Galih lalu menjelaskan dengan mantap. "Ratu sudah menunggu Anda di sana. Beliau ingin menghibur Anda atas kepergian baginda Raja."


"Kalau begitu tunggu aku sebentar, aku akan mengambil jubahku terlebih dahulu." Letta berbalik dan mengambil jubah merah pucat miliknya yang disiapkan, sudah terlipat di kursi.


Letta menyampirkan jubah itu ke bahunya dan bergegas mengikuti Galih yang membawanya ke sisi panggung lainnya yang sudah diatur menggunakan properti pepohonan hingga menimbulkan kesan sedang di hutan.


"Dimana sang ratu wahai pengawal." tanya Letta kemudian. Matanya bergerak ke kanan kiri mencari sosok ratu.


Galih terdiam cukup lama dan wajahnya terlihat ragu. "Maafkan saya, tuan putri. Saya berbohong kepada Anda. Ratu memang menyuruh saya untuk membawa tuan putri kesini. Tapi tujuannya adalah untuk membunuh Anda."


Lalu Galih mengeluarkan pisau asli dari sisi tubuhnya. Letta bisa mendengar suara terkesiap penonton. Suasana gaduh sesaat sebelum akhirnya hening kembali.


Letta berjalan mundur seakan ketakutan. "Aku mohon, jangan bunuh aku wahai pengawal. Tidak bisakah engkau meninggalkan aku saja disini?"


Galih menggeleng dan wajahnya putus asa. "Tapi Ratu akan tahu saya tidak membunuh Tuan Putri."


"Aku mohon..." pinta Letta dengan wajah memelas.


Galih mondar mandir di depan Letta. Lalu langkahnya berhenti. "Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak datang lagi ke istana."


Letta mengangguk dengan mantap. "Baiklah, aku berjanji."


Setelahnya, seorang narator membacakan. "Akhirnya pengawal tersebut kembali ke kerajaan dengan membawa jubah Snow White yang  berlumuran darah rusa yang sengaja  ia lumuri saat di perjalanan kembali  ke kerajaan tadi. Sementara Snow White terus berjalan tanpa arah di hutan. Kemudian ia menemukan sebuah gubuk kecil di tengah hutan."


Beberapa anak yang bertugas mengganti dan memasukan properti dalam beberapa detik mengganti properti yang ada di panggung untuk adegan selanjutnya.


Letta berjalan pelan-pelan kebingungan. "Ohh... Siapakah gerangan yang tinggal di tengah hutan seperti ini." Kemudian Letta menemukan sebuah gubug yang terbuat dari sekat-sekat. Letta tidak sempat mengetuk pintu karena ia langsung masuk ke dalam. "Apakah ada orang disini?"


Letta melihat-lihat gubug itu dan mendapati banyak makanan di meja. "Wahh, banyak sekali makanan di gubuk ini. Aku lapar dan lelah,  semoga saja pemilik gubuk ini tidak marah jika aku memakan sedikit  makanannya dan meminjam kasurnya untuk tidur sejenak."


Selang beberapa saat, dari balik sekat muncul tujuh anak yang berperan sebagai kurcaci. Mereka memakai baju dan celana berwana gelap dan kebesaran, dengan topi segitiga menutupi atas kepala mereka.


Mira yang juga berperan sebagai kurcaci bersuara yang pertama kali. "Siapa kau?" katanya lantang.


Oooh... Kalau bisa, Letta mau tidur saja dan tidak mau meneruskan semua kegilaan ini.


***


Drama terus berlanjut mulai dari Snow White berkenalan dengan para kurcaci penghuni gubuk, ketika Ratu mengetahui Snow White masih hidup hingga Ratu berpura-pura menjadi nenek tua yang menjual kalungnya kepada Snow White. Letta yang menjadi Snow White berakting kalau kalung itu mencekiknya namun segera ditolong oleh para kurcaci sehingga Snow Wnite bisa diselamatkan.


Ratu mengetahui bahwa Snow White  tidak jadi mati karena jebakannya  melalui cermin ajaibnya. Dalam cerita, keesokan harinya, ratu  kembali menyamar lagi menjadi tua  renta kembali mendatangi Snow White untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini bukan kalung ia bawa melainkan buah apel. Ratu mengatakan kalau apelnya itu adalah apel termanis yang pernah ada dan bersedia memberikan apel itu untuk dimakan Snow White.


"Terima kasih, Nek. Aku akan mencoba apel ini." katanya Letta.


Aini sebagai Ratu tersenyum jahat ketika perlahan Letta menggigit buah apel itu. Letta terbatuk-batuk sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Aini yang tadinya duduk segera berdiri. Tangannya berkecak pinggang. "Hahaha akhirnya akulah yang tercantik di kerajaan ini. Snow White tidak akan bisa hidup kembali."


Sedetik kemudian para kurcaci masuk ke dalam.


"Siapa kau?"


"Apa yang telah kau lakukan kepada Snow White."


"Dasar nenek sihir, kenapa kau berlaku keji seperti ini."


Sang Ratu tersenyum angkuh dan pergi dari gubuk itu tanpa mau membalas perkataan kurcaci. Tapi tanpa ia ketahui, cermin ajaib yang ia bawa terjatuh.


"Snow White yang malang."


"Kita semua harus bersama-sama menyembuhkan dia."


"Tapi bagaimana cara kita bisa menyembuhkan Snow White?"


Tiba-tiba sebuah suara muncul. "Hanya ada satu cara menyembuhkan Snow White."


"Apa itu?"


"Saat cinta sejati datang kepadanya. Saat itulah Snow White akan sembuh."


Semua kurcaci pun terdiam.

__ADS_1


"Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sang cinta sejati  Snow White tak kunjung datang. Semua pangeran sampai rakyat jelata  yang mendengar berita tentang Snow  White datang melihatnya. Namun  tidak ada satu pun dari mereka yang  berhasil menyembuhkan Snow  White." kata si narator.


Letta yang dalam posisi tertidur merasa jantungnya semakin berdegup kencang tatkala ia mendengar derap langkah seseorang memasuki panggung. Itu dia, pikir Letta.


Letta hampir saja terperanjat ketika mendengar pekikan heboh yang berasal dari bagian penonton cewek. Astaga, sampai segitunya...


***


Alex berjalan gagah memasuki area panggung. Sesaat, penonton jadi heboh. Ketika suasana sudah hening kembali, Alex berjalan mendekat masuk ke gubuk. Dan ia akan memulai aksinya.


"Ooh... cantik benar gadis ini." kata Alex lambat-lambat.


Seseorang yang berperan sebagai kurcaci mendekati Alex dengan tatapan menantang. "Mau apa kau?"


Tanpa merasa terganggu, Alex tersenyum simpul lalu menjawab. "Aku mendengar berita tentang dia, Snow White. Aku hanya ingin melihat apakah berita mengenai kecantikannya itu benar."


"Itu benar, seperti yang kau lihat sendiri." kata sang kurcaci.


"Dan aku ingin tau siapa dirimu dan dari mana asalmu." kurcaci yang lain pun bertanya.


Alex dengan mantap menjawab. "Aku Pangeran Adityo dari Kerajaan Timur." Kemudian Alex berjalan mendekati Letta yang berpura-pura tidur. "Aku rasa mendatangi Snow White adalah keputusan paling membahagiakan seumur hidupku."


"Maafkan aku, tapi aku yakin bahwa dia adalah cinta sejatiku." lanjut Alex sambil menunduk memandang wajah Letta lekat-lekat.  Ia harus memberikan Letta pujian nanti karena Letta bisa berakting setenang ini walau Alex sudah berada di dekat cewek itu.


Tiba-tiba saja Alex mengulurkan tangannya membelai pipi Letta. Tindakan yang bahkan tidak ada di naskah dramanya. Alex bisa melihat kening Letta berkerut selama beberapa detik. Pasti cewek ini juga bingung sengan tindakannya. Tapi masa bodoh, hal ini cuma terjadi satu kali dan Alex tidak akan menyia-nyikannya.


Selain Letta yang kaget, teman sekelasnya juga sepertinya begitu. Bahkan telinganya mendengar bisikan kata 'Anjir' dari seseorang yang berperan sebagai kurcaci. Beruntung itu dikatakan dengan lirih sehingga tidak sampai terdengar ke penonton.


Mira yang bertugas mengatakan kalimat selanjutnya merasa bersemangat melihat itu. Lalu ia pun berkata. "Bagaimana kau bisa seyakin itu jika Snow Shite adalah cinta sejatimu?"


"Aku-- bisa merasakannya." kata Alex dalam.


Suasana hening, menunggu kelanjutan dramanya.


Mira berdehem. "Jika kau benar seorang pangeran dan yakin kalau Sow White adalah cinta sejatimu, sekarang buktikanlah bagaimana kau bisa membangunkan Snow White dan menyembuhkannya dari perbuatan jahat sang Ratu."


"Baiklah." tanpa melepaskan tangannya dari pipi Letta, Alex menarik tangannya turun terus ke bawah, hingga mencapai tangan Letta yang terasa dingin sekaligus berkeringat.


Sama seperti sebelumnya, adegan selanjutnya sebenarnya tidak ada di naskah, Alex memasukan dan melakukannya sendiri.


Alex meraih tangan Letta dan mengangkatnya ke atas. Kemudian perlahan Alex menempelkan bibirnya di punggung tangan Letta. "Bangunlah, aku disini, sayang."


Seketika penonton memekik seru melihat bagaimana Alex mencium tangannya Letta dan kata yang cowok itu ucapkan. Beberapa di antara mereka mengabadikan momen ini dengan memotret ataupun merekam. Anak cewek tak kalah dengan memekik histeris dan menyerukan kalimat iri ingin diposisi Letta.


Letta. Sebelumnya Letta belum pernah meraskan pasokan udara benar-benar menghilang. Tapi kali ini untuk pertama kalinya ia merasakan itu, ketika benda lembut nan kenyal itu menempel di tangannya yang dingin. Letta menahan nafas dan merasa dunia berhenti saat itu juga.


Ia tidak bisa menghentikan jantungnya yang melompat menggila mendobrak ingin keluar dari tempatnya.


"Aku mohon, bangunlah." Sebuah suara detik selanjutnya membuat Letta teringat kalau ia sedang berakting dan berkewajiban untuk menuntaskannya sampai selesai. Walaupun dengan keadaan lemas karena gugup.


Perlahan namun pasti, Letta membuka matanya dan yang pertama ia lihat adalah langit-langit panggung yang tampak seperti bintang di atasnya. Kemudian Letta memposisikan badannya untuk duduk. Baru saat itu ia bisa melihat Alex dengan jelas. Dengan setelan baju kerajaan membuat Alex tampak semakin keren. Baju pangeran itu mencetak cukup jelas dada bidang Alex. Ditambah lagi cowok itu tampak selalu tersenyum. Menambah nilai plus bagi cowok itu.


Pipi Letta merona ketika membayangkan adegan beberapa deitk yang lalu. Ketika bibir Alex--- Tidak tidak tidak. Sebisa mungkin Letta harus menghapus pikiran itu. Demi apapun, ia ini sedang dalam pensi. Letta lau berusaha mengingat kembali kelanjutan naskahnya.


"Si---siapa kau?" ucap Letta pertama kali. Oh sial, suaranya bahkan sampai bergetar.


Lagi-lagi Alex tersenyum sebelum menjawab. "Kau terbangun. Perkenalkan, aku pangeran yang telah menyelamatkanmu."


"Benarkah kau yang telah menyelamatkanku?" tanya Letta sekali lagi dengan menahan suaranya agar biasa saja.


"Iya benar."


Letta lalu mengarahkan pandangannya ke teman-temannya yang berperan sebagai kurcaci. "Benarkah itu kurcaci?"


Kurcaci menjawab "Walaupun sulit untuk diakui, tapi dia memang satu-satunya orang yang berhasil menyembuhkan Anda, tuan putri."


Setelah mendapat jawaban, Letta menghadap Alex kembali. Ia tidak bisa menatap matanya Alex langsung, jadi Letta memfokuskan matanya sedikit ke bawah, ke baju yang Alex pakai. "Terima kasih banyak karena telah menolongku, Pangeran. Sebagai ucapan terima kasihku, aku bersedia mengabulkan apapun satu permintaanmu."


Ada jeda sebelum jawaban Alex terdengar. "Kalau begitu menikahlah denganku." 


Letta menahan diri untuk tidak bersikap bodoh seperti berteriak. Dengan ragu, ia mencoba menyeruakan suaranya. "Ba--baiklah. Tapi aku punya satu syarat untukmu."


"Apakah itu?"


"Kau harus senantiasa berjanji untuk melindungiku dari ratu yang berniat membunuhku dulu." papar Letta.


Alex tersenyum penuh arti. "Itu merupakan hal yang mudah untukku. Aku akan terus melindungimu. Selalu. Sekarang dan untuk selamanya."


Terahir, narator membacakan epilog dramanya. "Akhirnya, Pangeran  Adityo dan Snow White pun  menikah. Semua rakyat kerajaan, termasuk ibu tiri Snow White pindah ke kerajaan Pangeran Adityo dan hidup makmur disana. Dan berakhirlah Ratu tinggal seorang diri tanpa rakyat dan cermin ajaibnya. Sedangkan Snow White hidup bahagia dengan Pangeran Adityo dan kurcaci. Sebagai rasa  terima kasih kepada cermin ajaib, Pangeran dan Snow White menjadikannya penasehat kerajaan. Sedangkan pengawal ratu yang baik hati dijadikan orang kepercayaan mereka. Semua orang yang baik mendapatkan hal yang terbaik. Dan yang jahat mendapatkan yang terburuk. Kecantikan di luar akan hilang seiring berjalannya waktu. Namun kecantikan yang tertanam dalam hati, tidak akan luntur di telan masa."


Drama berakhir sudah. Penonton yang merasa senang dan terhibur memberikan tepuk tangan semeriah mungkin.


Semua anak kelasnya Letta berjalan menuju ke panggung dan memberikan sepatah kata terima kasih dan permintaan maaf jika ada kesalahan. Kemudian semuanya pamit undur diri.


***


Naskah dramanya aku kutip dari


http://idamuslimah.blogspot.com/2014/05/naskah\-drama\-snow\-white.html?m\=1

__ADS_1


(Disertai beberapa perubahan)


Terima kasih dan sampai bertemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2