Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 4


__ADS_3

Entah akan ada acara apa di rumah Sari sehingga beliau meminta Letta untuk membantu memasak di rumahnya. Subuh tadi Sari datang ke rumahnya dan mengatakan keinginannya pada Wulan --mama Letta-- agar Letta mau membantunya memasak. Letta yang punya jadwal untuk bangun siang di akhir pekan akhirnya terpaksa bangun dan mandi pagi. Sungguh bukan kebiasannya sama sekali.



Letta juga sempat bingung karena Sari malah meminta dirinya bukannya memilih Wulan yang jelas jago masak. Kalau Letta tentu tidak bisa memasak walaupun ia senang memasak. Selama ini Letta memasak hanya karena ia ingin mencoba-coba tanpa pernah mau berlatih secara benar. Beberapa kali disuruh masak yang benar malah hasilnya kacau. Rugi, kalau sampai urusan dapur diurus Letta.



Pernah ia memasak nasi malah jadi bubur karena airnya terlalu banyak, dan untungnya Dinda mengakali nasi alias bubur itu jadi lumayan enak dan layak makan daripada sebelumnya. Sejak itu ia dilarang untuk memasak nasi karena takut malah mubazir berasnya.



Begitu ia ke rumah Sari, dilihatnya potongan daging ayam dan sayuran yang masih segar sudah di siapkan di dapur bahkan waktu masih menunjukan pukul enam pagi tapi semuanya sudah siap diolah. Letta merasa kalau tamu yang akan datang ini sepertinya penting.



Sari sendiri adalah seorang nenek sekaligus tetangga Letta, rumahnya tak jauh dari rumah Letta hanya terpisah oleh satu rumah di tengahnya. Sejak Letta kecil ia selalu menganggap Sari sebagai neneknya sendiri karena nenek kandungnya sudah meninggal semua, baik yang dari pihak ayah maupun ibu. Sari inilah yang telah benar-benar menggantikan posisi neneknya sendiri jadi Letta masih beruntung bisa merasakan perhatian dari seorang nenek.



Ia masih ingat dulu waktu kecil ia sering bermain ke rumah Sari. Tapi ia tak terlalu ingat apa saja yang ia lakukan atau kenangan apa di dalamnya. Semuanya terasa buram ketika dirinya mencoba mengingat kenangan masa kecilnya itu. Yang jelas ia akan merasa nyaman ketika berada di rumah Sari dan hal itu membuatnya semakin yakin kalau ia memang sering berada di rumah itu sejak kecil.



"Ta, kamu cuci kangkungnya belum bersih nih." kata Sari.



Letta yang tadinya sedang mengiris bawang segera mengalihkan pandangannya ke arah Sari yang sudah berdiri di dekat wastafel beserta baskom berisi potongan kangkung.



"Masa sih, perasaan tadi udah bersih deh, Nek." jawab Letta. Ia lalu meletakan pisaunya dan berjalan mendekat berdiri di samping Sari.



"Lihat nih, masih banyak yang kotor. Bagian batangnya masih ada tanah yang ketinggalan." jelasnya pada Letta sembari mengusap kasar tanah yang menempel agar hilang terbawa air.



Letta lalu meminta maaf karena kurang bersih dalam mencucinya. Ia pun kembali ke posisinya semula, meneruskan acara memotong bawangnya yang tadi sempat tertunda. Sedangkan Sari mencuci kembali potongan sayur kangkung itu sampai benar-benar bersih.



Tak terasa sudah tiga jam lamanya mereka berdua berkutat di dalam dapur dan makanannya sudah siap semua. Ada berbagai masakan yang telah mereka masak seperti ayam goreng, tempe orek, sayur kangkung, sayur terong, dan juga sambal cabai. Semuanya serba sederhana. Tapi asal kalian tahu masakan buatan nenek Sari ini patut diacungi jempol, walau sederhana tapi rasanya luar biasa enak, kalau kata Letta sih pasti tak kalah dengan rasa makanan chef-chef yang sering muncul di tv.



"Nek, emangnya siapa sih yang bakalan dateng ke sini sampe dibuatin makanan segini banyak. Udah gitu ini masaknya pagi-pagi banget." tanya Letta karena rasa penasarannya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi sejak ia memasuki rumah nenek Sari.



Jujur, semenjak masuk memang Letta sudah sangat penasaran siapa yang akan datang dan ia menahan diri untuk tidak berbicara dulu mengenai hal itu apalagi melihat Sari yang sangat antusias ketika masak tadi, ia jadi tidak ingin mengganggu dengan menanyai ini itu yang belum tentu penting untuknya.



"Nenek kira kamu gak bakalan nanya hal itu." tawa Sari sambil mengelap tangannya yang basah dengan lap kering.



"Lah nenek ternyata nunggu aku nanya toh." Letta terkekeh kecil karena ternyata mereka sama-sama saling tunggu.



"Biasanya kamu tuh cerewet, apa aja kamu tanyain. Kan nenek jadi bingung kenapa kamu hari ini malah diam aja. Nenek sempat berpikir apa jangan-jangan kamu tidak ikhlas bantu nenek yang sudah tua ini." ujar Sari sambil meletakkan serbetnya tadi ke tempat semula.



Letta tergelak. "Gak gitu, aku ikhlas banget kok bantu nenek. Terus nenek juga gak tua seperti yang nenek bilang tadi. Nenek itu masih kelihatan muda loh."



Sari tertawa mendengarnya. Ia memang belum tua layaknya nenek yang sudah menggantungkan hidupnya ke orang lain, Sari tidak seperti itu. Ia masih terlihat muda, rambutnya bahkan terlihat ada banyak bagian yang masih hitam. Kulitnya juga tidak terlalu keriput. Intinya dia itu awet muda. Letta bisa membayangkan kalau waktu nenek Sari ini masih muda pasti cantik sekali.



"Emangnya siapa yang bakalan kesini, Nek?"



"Cucu nenek." jawab Sari singkat sambil mengelap gelas yang baru saja ia ambil dari rak.



"Ooh si cucu dur-- ehh maksudnya cucu yang gak pernah ngunjungin neneknya bahkan di waktu lebaran sekalipun." cibir Letta.



Ia tentu saja paham akan cucu Sari yang menurutnya sangat keterlaluan. Bagaimana bisa seorang cucu tidak pernah mengunjungi neneknya sendiri.



Walaupun Letta belum pernah melihatnya secara langsung tapi ia bisa menarik kesimpulan kalau cucunya itu sudah pasti anak yang kurang ajar. Kalau dia cowok pasti seperti anak yang suka mangkal di warung-warung sambil merokok dan minum miras, kalau cewek pasti tak jauh dari jenis cabe-cabean. Tapi kalau ia mengingat bagaimana seorang Sari, rasanya tidak mungkin sifat cucunya akan seperti itu. Tapi di dunia ini tentu tidak ada yang tidak mungkin bukan.



"Jangan begitu, dia juga teman kamu loh. Ehh sini sambil bantuin bawa makanannya ke tempat makan."



Letta menurut. Ia kebagian membawa ayam goreng di tangan kanan dan sayur kangkungnya di tangan kiri. Kemudian ia dan Sari balik lagi untuk mengambil yang tersisa sampai akhirnya sudah dipindah semuanya.



"Teman dari mana coba, Nek. Liat mukanya aja gak pernah apalagi temenan. Nenek ada-ada aja." ucap Letta begitu mereka seleasai.



Sari hanya memberinya senyuman penuh arti sebelum kemudian meninggalkan Letta di ruang makan sendirian. Sedangkan Letta ia menata lauk dan sayur di meja makan agar tampilannya terlihat menarik dan tidak berantakan. Ia juga sengaja menambahkan vas bunga uang ia temukan di gudang rumah. Tadinya bunga-bungaan dari plastik itu banyak debunya, tapi karena sempat dicuci dulu oleh Letta, akhirnya bunganya bersih kembali dan ketika digabungkan ke meja makan, tampilannya jadi semakin menarik.



"Ta, nenek mau ke kamar kecil dulu. Nanti kalau mereka udah sampe kamu ajak masuk aja ya."l



Letta berpikir sejenak. "Mereka?" tanyanya bingung.



"Iya mereka, cucu nenek dan juga anak nenek si Aji yang bakalan da...." suara nenek Sari lama-kelamaan mengecil dan menghilang ketika sudah masuk wc.

__ADS_1



Letta di tempatnya hanya ber-oh ria. Ia duduk di salah satu kursi di ruang makan itu dan menghela nafas panjang karena merasa lelah. Tapi rasa lelahnya dirasa tidak sebanding dengan rasa penasarannya dengan bagaimana sosok cucu nenek Sari yang akan ia temui.



***



"Alex?! Cepat turun waktunya berangkat...!!!" teriak Dinda dengan keras dari lantai bawah.



Alex yang masih di kamarnya di lantai atas mendengus kesal, ia sudah mencoba berbagai cara agar ayahnya tidak mengirimnya ke desa tapi tetap saja ia yang selalu kalah. Dirinya sudah menawarkan untuk masuk ke sekolah lain di Jakarta yang jaraknya dekat dengan rumahnya, sampai meminta untuk menyusul Alan di New York tapi tetap saja ditolak mentah-mentah oleh Aji. Katanya sih nama Alex sudah tercatat di sekolah barunya di desa jadi Alex sulit untuk pindah lagi, tapi bukankah semua itu bisa dilakukan dengan mudah oleh seorang Aji. Tapi ya memang Aji saja yang pintar sekali beralasan.



"Alex! Kamu dengerin mama gak sih?!" lagi-lagi Dinda berteriak karena Alex tak kunjung menjawabnya.



"Iya, Ma...! Sebentar lagi." sahut Alex lumayan keras.



Sebelum keluar ia memandangi setiap sudut kamarnya yang sekarang sudah kosong karena sebagian barangnya dibawa ke desa dan sebagiannya lagi di simpan agar tidak kotor. Seperti yang pernah Aji ucapkan sebelumnya, Alex hanya membawa barang-barang terpenting dari yang paling penting dan untuk keperluan sekolah saja.



Seraya menghela nafas panjang, Alex dengan lesu menarik koper miliknya keluar kamar meninggalkan semua memorinya di dalam kamar ini.



Kedua orang tuanya yang tadinya sedang berbincang serius seketika mengalihkan pandangan mereka ke Alex. Pembicaraan mereka pun seketika selesai begitu ia datang. Aji mengambil alih koper di tangan Alex untuk dimasukannya ke dalam bagasi mobil.



Dinda mendekati Alex. Wajahnya terlihat ragu ketika akan bertanya. Alex menunggu. Dinda pun akhirnya menanyakan apa yang ada di benaknya. "Kamu sudah bawa antimo?"



Alex menggeleng malas.



"Kenapa gak bawa?"



"Ma, aku tuh udah gede, bukan anak kecil lagi yang tiap pergi bakalan mabok."



"Tapi kan harus selalu dibawa, Alex. Kan mama dari kemaren udah bilang supaya dibawa."



Alex mengeleng sekali lagi. Kali ini ia menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan sifat mamanya yang satu ini. Alex kan tidak mabok perjalanan tapi kenapa ia harus minum antimo dulu, lagian bukannya antimo itu identik dengan anak kecil, sedangkan Alex? Badan sudah gede gini masa masih minum antimo. Gak banget.



"Ya udah kamu di sini aja. Biar mama ambilin dulu buat kamu." Dinda kemudian pergi mencari letak kotak obat-obatan yang di dalamnya terdapat antimo.




"Biar Alex bantu, Pa." tawar Alex.



"Gak usah, lagian ini udah selesai." kata Aji.



"Kenapa juga papa bawain nenek oleh-oleh sebanyak itu apalagi nenek kan tinggal sendiri, mana mungkin ia bisa menghabiskan semua ini seorang diri."



Setelah kemarin malam Aji memintanya untuk tinggal dengan neneknya, Aji menceritakan tentang keadaan neneknya di desa yang hanya hidup seorang diri. Suaminya yang juga ayah Aji sudah meninggal. Alex malah lupa akan hal itu.



"Kata siapa nenek kamu sendirian lagi. Kan kamu yang mau nemenin. Terus ini juga beberapa dibagiin ke tetangga, masa kita datang ke sana gak bawa apa-apa, kan malu. Terus yang ada nenek kamu yang kena. Orang-orang pada gosip dikiranya kita pelit."



Alex memutar bola matanya malas. Ia lebih memilih untuk masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan handphonenya yang sudah ia sambung dengan earphone. Alex menyetel beberapa lagu Avenged Sevenfold yang enak untuk di dengar. Salah satunya adalah Seize The Day. Mendengar lagu itu membuat Alex seketika ingat bagaimana music video dari lagu Seize The Day tersebut.



"Pa," panggil Alex pada Aji yang masih di luar. Sebelumnya ia sudah mempause musik dan mencabut earphone yang terpasang du telinganya.



Aji yang mendengar Alex memanggilnya masuk ke dalam mobil lalu duduk di bagian depan tepatnya di bagian kemudi mobil. "Ada apa?" tanyanya.



"Papa tahu masalahku yang terkahir kali di sekolah bukan?"



"Iya, kenapa?" jawab Aji cuek.



"Gimana hasilnya sama dia." tanpa Alex beritahu Aji pasti sudah paham maksudnya.



Aji menegakkan tubuhnya. Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Aji menjawab pertanyaan Alex. "Dia tidak ada kaitannya dengan kamu. Sudah ada orang lain yang bertanggung jawab."



Helaan nafas lega meluncur langsung dari mulut Alex. Benar dugaannya kalau cewek itu bukan hamil anaknya. Hal itu sebenarnya bukan yang pertama kali bagi Alex tapi yang terakhir kali inilah yang malah menimbukan masalah karena namanya terseret walau bukan itu yang sebenarnya.



"Papa gak marah sama aku?"

__ADS_1



"Tidak. Atau mungkin iya, tapi sedikit."



"Kenapa?"



"Banyak orang bilang kalau anak itu cerminan orang tua. Sayangnya papa benar-benar sudah merasakan hal itu. Dulu waktu papa masih SMA juga seperti kamu, suka bermain sama cewek dan selalu berbuat nakal di sekolah. Tapi syukurlah almarhum kakek kamu itu menghukum papa dengan memasung papa selama satu minggu lalu setelahnya papa dimasukan ke pondok pesantren selama dua bulan."



Alex cukup terkejut mendengar fakta yang baru ia ketahui. Selama ini ayahnya terlihat tidak seperti seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk, ia tampak seperti seseorang yang kelakuannya baik-baik.. Tapi ternyata...



Dan juga, mengenai dipasung..



"Papa gak bohong? Yakali ada acara dipasung segala."



"Ehh jangan salah, sayangnya papa gak bohong. Dan sekarang papa berterima kasih karena almarhum mendidik papa seperti itu sehingga papa bisa menjadi sekarang ini. Bayangkan saja kalau dulu papa masih terbawa pergaulan yang tidak jelas, kamu pasti tidak akan pernah ada di dunia ini."



Aji berhenti sesaat seraya membayangkan dirinya di bali.



"Mama kamu juga dulu sama seperti papa dan kamu. Dia itu perempuan paling nakal di sekolahnya. Suka memakai rok pendek di atas lutut dan seragam ketat, jangan lupa kalau ia juga anak balap padahal mama kamu cewek. Kami berdua sama-sama bertemu di pondok dengan tujuan yang sama yaitu merubah diri agar lebih baik. Dan akhirnya kami berdua menikah dan lahirlah kamu."



Alex meringis dalam hati. Tapi kalau ia pikir lagi pantas saja kelakuannya sepeti ini, toh gen mama dan papanya juga seperti ini. Pantas saja anaknya juga nakal mirip masa muda orang tuanya. Kalau Alex kelakuannya baik justru malah akan menjadi tanda tanya besar, bukan.



"Oleh karena itu kami berdua tidak marah ketika kamu berkelakuan nakal di sekolah. Mungkin itu cambuk bagi kami karena dulu seperti itu dan kamu benar-benar jadi cermin bagi kelakuan papa dan mama yang dulu. Tapi seperti yang sudah papa alami, papa yakin kamu juga bakalan bisa berubah."



Benar juga, selama Alex berbuat masalah di sekolah Aji tidak pernah memarahinya padanya, paling-paling hanya memberi nasehat sedikit yang pastinya tidak pernah Alex dengarkan apa isinya.



"Sekarang giliran tugas kamu yang harus merubah sikap dan perilakuku. Siapa tahu juga nanti kamu malah langsung ketiban jodoh kayak papa."



Jodoh dari Hongkong? Batin Alex menanggapi. Mana mau ia menikah sama gadis desa.



Tiba-tiba saja Dinda sudah kembali dengan tangan yang memegangi bungkusan antimo dan beberapa kantong plastik hitam.



"Mama lupa naro plastiknya di mana jadi lama banget. Papa sama Alex udah lama nunggunya yah?" tanya Dinda sambil masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi di samping Aji.



"Enggak. Papa sama anakmu itu juga baru masuk ke mobil.?" jawab Aji.



"Anakmu juga kali, Pa. Ya udah ayo, berangkat . Mama udah gak sabar ketemu sama ibu mertua." ujar Dinda dengan semangat.



Alex yang sedari tadi hanya diam lantas memasukkan earphone ke dalam telinganya lagi begitu Aji mulai menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumahnya. Selama mereka pergi rumah ini dipercayakan pada asisten rumah tangga dan satpam yang bekerja di sini.



Perjalanan dari kota ke desa nenek Alex tidak lama. Hanya menempuh waktu beberapa jam karena lalu lintas yang jarang jadi tidak ada kendala macet dan sebagainya.



Selama di perjalanan, Alex mulai membayangkan apa jadinya kalau ia tinggal di desa. Apa ia akan betah, apakah ia tidak akan kabur kalau tidak senang hidup di sana. Bagaimana kalau sekolah barunya ternyata hanya berdinding kayu reot? Astaga, Alex tidak bisa membayangkan nanti ke depannya.



Begitu mobil memasuki area desa Alex dapat melihat dengan matanya hamparan sawah yang luas membentang di samping kiri dan kanannya. Tak luput dari pandangannya ia bisa melihat banyak anak yang sedang bermain air di sungai yang padahal airnya tidak terlalu jernih. Alex bergidik ngeri membayangkan banyaknya kuman dan sampah yang berada di air sana tapi mereka tetap saja bermain di situ. Tapi kalau di bandingkan dengan sungai di kota, sungai di sini jelas jauh lebih baik, hanya kotor saja. Namun kalau kotorannya dibuang, pasti airnya bisa jernih semua, pikirnya.



Mobil semakin lama memasuki area perkampungan warga setelah memasuki sebuah tugu yang menandakan nama desa tersebut. Tak lama kemudian Alex dapat merasakan mobil yang ditumpanginya perlahan mulai bergerak pelan seakan mau berhenti.



Benar saja mobil ayahnya ini sudah berhenti di depan sebuah rumah besar berwarna putih gading yang beberapa cat bagian depan sudah mengelupas termakan usia.



"Yeayyu sudah sampai!!!" pekik Dinda terlalu senang karena ia sebentar lagi akan bertemu dengan ibu mertuanya. Sungguh ia sudah sangat rindu. Terakhir kali mereka bertemu bahkan ia lupa itu kapan. Tanpa menunggu yang lain, ia keluar dari mobil dahulu. Baru kemudian disusul oleh Aji.



Sedangkan Alex rasa bokongnya tidak mau beranjak dari jok mobil. Ia tidak mau tinggal disini. Titik. Apalagi begitu ia melihat layar ponselnya ia mendapati kalau sinyalnya 'hanya panggilan darurat'.



Alex tentu sudah bisa menebak kalau rumah neneknya ini tidak ada sinyal yang kuat. Jangankan 4G, dapat H+ saja rasanya sudah senang bukan main.



"Alex?! Keluar atau mau mobilnya dikunci biar kamu kehabisan nafas didalam?!" teriakan Dinda membuyarkan Alex.



Dengan muram, Alex keluar dan membanting pintu mobilnya keras-keras. Ia mengabaikan pelototan Aji padanya. Ditatapnya rumah yang sebentar lagi akan menjasi tempat tinggalnya beberapa bulan ke depan.



Welcome to the hell, Alex.


__ADS_1



__ADS_2