Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 39


__ADS_3

Sampai sore, sampai acara pensi ini selesai, Alex baru keluar dari tempatnya. Ia tiduran di bangku pojok lab IPA sehingga tidak ada yang melihatnya, dan ia tidak keluar sama sekali sejak menginjakkan kakinya masuk lab IPA. Beruntung tidak ada yang melihatnya dan beruntung lagi ketika ia memutuskan untuk keluar, pintu lab belum dikunci oleh penjaga sekolah.


Alex melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkir. Ia awalnya ragu kalau Letta masih berada di sekolah mengingat waktunya sekarang sudah sore dan sekolah mulai sepi. Tapi begitu ia melihat tempat parkir dari kejauhan, ia melihatnya. Letta. Cewek itu berjongkok di samping sepeda dengan kepala menunduk ke bawah.


Di saat seperti ini sebenarnya Alex ingin menjauh. Menjauh sejauh mungkin dari Letta. Sama seperti tadi, ia belum siap bertemu Letta. Mana mungkin Alex bisa melihat Letta tanpa berpikir macam-macam setelah kejadian tadi siang yang ia lihat. Alex tidak bisa, ia takut amarahnya keluar dan mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti cewek itu.


Tapi... Kalau ia tidak menemui cewek itu, Alex juga tidak bisa. Ia tidak bisa sengaja lama-lama mengabaikan keberadaan cewek itu seperti sepanjang hari tadi ketika ia dengan sengaja pergi dan tidak kembali. Jujur saja saat Alex di lab, ia sempat mendengar suara Letta yang bertanya ke anak lain mengenai keberadaannya. Walau Alex mendengar dan tahu Letta mencarinya, ia belum siap keluar menemui cewek itu. Lagian, bukankah Letta sudah ada cowok lain, kenapa juga harus mencarinya juga.


Oh, sialan, berhentilah berpikir.


Alex menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikirannya yang sesat ketika ia tidak sadar sudah mendekat ke arah Letta dan berdiri di depan cewek itu. Ia bisa melihat bahu Letta menegang selama beberapa detik.


"Alex." kata Letta sambil melihat ke sepatunya. Lalu cewek itu mendongak dan matanya bertemu dengan mata Letta. Alex bisa melihat mata Letta seketika berbinar.


Kemudian cewek itu berdiri. "Lo dari mana aja?" tanya Letta tak menghilangkan nada terkejutnya.


Walau sudah tahu jawabannya, Alex tetap berkata, "Lo nyariin gue?"


Letta mengangguk cepat. "Iya, gue nyariin lo sepanjang acara tadi. Tapi lo gak ketemu-temu. Gue hampir nanyain lo ke seluruh anak sekolah."


Alex jadi merasa bersalah dan marah sekaligus. Bersalah karena membiarkan Letta seharian mencari keberadaannya dan marah pada dirinya sendiri karena berlaku sebagai pengecut dengan tidak mau menampakkan diri apalagi mengingat apa yang sudah ia lalukan saat di panggung. Iya, pengecut. Karena hanya seorang pengecutlah yang terus berlari menghindar karena menganggap dirinya sendiri tidak bisa menghadapi kenyataan, sama seperti dirinya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue." perkataan Letta membuat Alex berkedip dan kembali tersadar.


"Pertanyaan yang mana?"


"Yang lo darimana aja seharian ini."


"Ooh itu, gue ketiduran di kelas." Pembohong. Sebuah suara kecil di benaknya menimpali.


Kening Letta mengernyit mendengar jawaban Alex. "Di kelas? Gue sempet ke sana tapi lo gak ada." Letta memang mencari kesana dan hasilnya nihil, jadi ia pergi melanjutkannya ke tempat lain.


"Mungkin pas lo dateng, gue lagi di toilet." jawaban Alex terdengar santai, jadi Letta tidak menaruh kecurigaan apapaun.


Tapi, walau begitu raut wajah Letta tak bisa berbohong, cewek itu tampak kecewa dan itu membuat Alex semakin menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang sejujurnya. Ia ingin jujur dan tidak berbohong ke Letta. Tapi kalau nanti Letta tanya alasannya, mana mungkin Alex bisa mengatakan hal yang jujur lagi.


Letta tidak boleh tahu kalau selama ini cewek itu berhasil merebut semua perhatian Alex. Jangan sampai Letta tahu bagaimana perasaan Alex yang sesungguhnya. Dan terkutuklah Alex kalau nanti sampai cewek di depannya ini tahu.


Karena jelas, pertama Letta tidak menyukainya. Selama kenal, cewek ini hanya menyukai satu orang yaitu Hami. Apalagi sekarang hubungan Letta dan Hami membaik dan terus semakin dekat. Itu pasti membuat Letta sangat bahagia. Dan Alex tidak akan sejahat itu menghancurkan kebahagiaan Letta.


Kedua, Alex tidak ingin mengacaukan pertemanan mereka. Kalau Letta tahu Alex punya rasa pada cewek itu, bisa dipastikan kalau Letta akan menjauh darinya. Letta pasti akan tertutup dan canggung padanya. Kemudian semuanya akan berakhir, ia dan Letta tidak akan bisa bersama lagi. Jadi Alex tidak akan membuat Letta merasa terbebani dengan perasaannya.


Beberapa hari yang lalu mungkin Alex masih semangat menarik perhatian Letta dan tidak membiarkan siapa saja mendekati miliknya. Miliknya? Alex berpikir getir.


Bukankah ia sudah kalah. Sebetulnya memang sejak dulu Alex memang sudah kalah. Alex saja yang makin lama semakin terus mencoba merebut perhatian Letta. Ia terlalu mengabaikan Letta yang hanya suka Hami. Apalagi fakta bahwa mereka berdua itu sudah berteman sejak kecil. Cukup dengan kejadian tadi siang membuat Alex merasa tertampar, dan ia akan mencoba mundur secara perlahan.


"Alex." panggilan Letta membuat Alex mengerjap kembali tersadar dari pikirannya. Untuk kedua kalinya, Letta mendapati Alex terdiam melamun.


"Apa?"


"Lo kenapa? Tumben ngelamum." tanya Letta bingung.


Karena gue mikirin... Kita


"Capek aja." jawab Alex singkat agar Letta tidak menanyakan hal lebih lanjut.


"Pulang sekarang?" kata Alex kemudian.


Letta pun mengangguk mengiyakan. Keduanya pun pulang menaiki sepeda keluar meninggalkan sekolah. Alex terbayang sampai kapan hal seperti ini akan berlanjut. Ia, Letta, dan sepeda. Karena Alex tahu ada waktunya semua ini harus berakhir.


***


"Gue boleh mampir sebentar?" Alex bertanya begitu keduanya sampai di depan rumah Letta.


Letta yang sudah turun dari sepeda tidak menampik percikan rasa senangnya karena Alex minta mampir ke rumahnya. Bukan apa-apa, hanya saja selama seharian ini Alex menghilang dan Letta merasa kangen. Kebersamaan mereka hari ini kurang dan Letta sebenarnya juga masih ingin bersama Alex.


"Boleh banget." jawab Letta sambil **** senyum. Ia lalu membiarkan Alex mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Letta mempersilahkan Alex untuk duduk, sedangkan dirinya akan menyiapkan air minum dulu. Pasti cowok itu capek, setelah acara pensi ditambah naik sepeda dengan memboncengkan dirinya. Letta menarik air dingin dari dalam kulkas dan membawanya ke depan.

__ADS_1


Walau tidak tahu apa motif Alex datang ke rumahnya, ia tetap merasa senang.  Jujur saja, Letta itu sedikit merasa kecewa karena Alex sama sekali tidak membahas penampilan mereka selama di panggung. Menyentuh topik itu sajapun tidak. Malah, Alex tadi dua kali kepergok olehnya sedang melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan cowok itu.


Letta memberikan segelas air dingin ke Alex. Lalu dirinya duduk di seberangnya Alex. Mereka jadi duduk berhadapan.


"Jadi?" ujar Letta memulai pembicaraan.


"Gue mau minta maaf sama lo soal kejadian tadi siang." aku Alex.


Mendengar itu Letta menjadi siaga. Baru saja ia berpikir kalau Alex tidak akan membahasanya, tapi sekarang malah cowok ini sedang akan memulai topik itu. Dan sialnya kali ini Letta menjadi takut.


Bukan tanpa alasan kalau Letta takut. Karena Alex mengatakan kata maaf. Maaf karena apa? Karena jelas Alex jarang pake banget mengatakan kata maaf. Apakah Alex akan meminta maaf dan mengatakan dirinya menyesal soal kejadian di panggung tadi siang. Benarkah begitu? Kalau memang benar, lebih baik Letta tidak usah berharap topik ini diangkat. Ia tidak akan siap menerima fakta kalau Alex menyesalinya. Hal itu malah akan menyakitinya. Dan Letta tidak mau.


"Jadi gimana?'


Letta yang mendengarnya spontan mengerjap. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tak mendengarkan perkataan Alex. "Sorry, tapi tadi lo ngomong apa?"


Alex terkekeh sesaat. Kekehan yang sekarang jarang Letta lagi, dan kali ini ia melihatnya. Dulu Letta akan menganggap kekehan itu sebagai tanda Alex merendahkannya. Tapi sekarang rasanya terlihat seperti Alex geli pada tingkahnya. Entahlah, semenjak mempunyai rasa pada cowok di depannya ini, Letta jadi merasa otaknya sering kali berpikir tentang sesuatu lain.


"Tadi lo ngatain gue yang ngelamun, sekarang giliran lo, kan." jawab Alex seraya tertawa. Namun di telinga Letta, tawa ini terasa terdengar getir.


"Mana ada gue ngatain lo. Gue kan cuma bilang lo tumben ngelamun." kata Letta. "Udahlah, tadi lo itu ngomong apa?"


Alex menggelengkan kepalanya kecil. "Tadi gue bilang gue minta maaf sama lo karena udah menghilang dari setelah penampilan kelas kita selesai sampai pulang sekolah."


Oh begitu. Letta merasa lega karena ternyata Alex tidak meminta maaf karena menyesali penampilan mereka di panggung.


"Gue maafin kok, yang penting lo udah balik lagi." Kemudian Letta menambahkan dengan pelan. "Ngomong-ngomong lo gak nyesel soal--" ucapan Letta terhenti ketika Alex menaikkan alisnya seakan bertanya.


"Soal apa?"


"--Soal penampilan kita di panggung tadi. Waktu lo itu--"


"Nyium tangan lo?" sela Alex cepat.


Tanpa perlu melanjutkan kata-katanya, Letta mengangguk ragu. "Iya."


Letta menggeleng dengan cepat.  "Enggak sama sekali."


"Atau lo mau bilang lo yang nyesel dan marah gegara gue dengan seenaknya tanpa seijin lo, udah nyium tangan lo." tanya Alex dengan menyipitkan matanya.


"Bukan, bukan gitu." Letta segera menengahi sebelum Alex salah paham. Ia sama sekali tidak menyesal ataupun marah seperti yang dikatakan Alex, justru Letta malah senang. "Gue cuma nanya aja siapa tahu lo nyesel, makanya lo menghilang sehabis penampilan kelas kita."


"Bukan itu alasan gue ngilang. Dan gue udah bilang kan kalau gue tidur di kelas." ujar Alex dengan datar. Alex kini tengah menahan diri untuk tidak berteriak dan mengatakan ke Letta kalau Alex menghilang karena ia melihat Letta dan Hami berciuman. Alex terluka, perasaannya terluka.


Membayangkan Letta melakukan itu seketika membuat perut Alex merasa mual. Tapi apa benar itu yang keduanya lakukan. Bagaimana kalau Alex salah lihat.


Gak, lo gak salah lihat. Jelas-jelas posisi mereka itu--- cukup. Alex tidak bisa memikirkannya lagi lebih lama. Ia harus segera mengalihkan topik atau ia akan terancam marah dan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Toh kalau Letta mau berciuman dengan Hami, apa masalahnya? Keduanya jelas saling suka. Lagipula Letta bukan milik Alex, jadi buat apa dia cemburu, bukan?


Kalau Alex sampai marah, malah bisa berakibat hubungan mereka merenggang. Dan Alex tidak mau. Itu semakin membuat celah untuk Hami bisa lebih cepat memiliki Letta. Sudah cukup seperti ini saja, Letta tidak menjadi milik siapa-siapa sehingga Alex masih tetap terus bisa bersamanya.


Alex berdehem setelah jeda yang cukup lama. "Gue pikir masalah tadi gak perlu dibahas lagi. Seperti yang tadi awal lo bilang, yang penting gue udah kembali."


Letta mengangguk setuju. Ia tadinya takut karena atmosfer di antara mereka tiba-tiba saja berubah dan Alex menjadi diam. Letta takut ada yang salah. "Gue setuju."


"Oh iya, gue kayaknya lupa buat muji penampilan lo tadi siang. Lo keren."


Hanya pujian seperti itu saja membuat pipi Letta memanas. "Biasa aja. Gue tadi banyak salahnya."


"Lo harusnya muji diri lo, bukannya malah jelekin diri sendiri."


"Tapi emang begitu kenyatannya. Gue bahkan sempet mau lupa beberapa kalimatnya."


"Baru mau, kan, belum sampai lupa."


"Terserah lo deh." Lalu Letta teringat sesuatu. "Gue mau cerita nih, sebenarnya dulu gue juga pernah main drama dan jadi Snow White. Sama seperti sekarang."


Alex jadi merasa tertarik mendengar cerita Letta. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Letta kecil dengan balutan gaun cantik dam berperan sebagai Snow White. "Lo pernah jadi Snow White sebelumnya?"


"Iya, itupun gue baru sadar kemarin." jawab Letta sambil malu-malu.

__ADS_1


"Kapan?"


"Udah lama sih waktu masih SD. Gue lupa waktu kelas berapa. Waktu itu seingat gue buat ngisi acara pelepasan kelas enam gitu."


"Mungkin lo ditakdirin jadi Snow White." gumam Alex.


Namun Letta menggeleng cepat. "Gak maulah."


"Kenapa?" tanya Alex yang heran kenapa Letta tidak mau seperti Snow White. "Snow White kan cantik, baik, ketemu cinta sejatinya juga."


"Justru itu, menurut gue kasihan si Snow White ini. Dia harus nunggu cinta sejatinya datang lamaaa banget. Sampai bertahun-tahun lamanya kan. Itupun beberapa kali pangeran datang dan ternyata bukan cinta sejatinya, Snow White harus nunggu beberapa tahun lagi sampai akhirnya pangeran yang menjadi cinta sejatinya datang. Dan menurut gue, gue gak mau punya cerita seperti itu."


Alex mengernyit mendengarnya. "Lo berpikir sampai segitunya?"


Letta mengangguk. "Iya. Gue inget masih ada foto-foto pas jadi Snow White. Lo mau liat?" tawarnya.


"Boleh." Alex dengan senang hati mau melihatnya. Melihat bagaimana rupa Letta kecil menjadi Snow White.


"Tunggu bentar."


Sedetik kemudian, Letta pun mengambil album foto yang disimpan di dalam lemari. Album fotonya sedikit berdebu karena tidak pernah dibuka lagi. Letta mengibaskan debunya sampai hilang, baru menyerahkannya ke Alex.


Alex membuka buka album foto itu di meja. Letta yang duduk di depannya menerangkan sesuatu kalau Alex bertanya.


"Yang ini lo waktu jadi Snow White?"


"Iya itu gue."


"Kok beda banget."


"Kebanyakan orang emang bilang begitu."


"Pipi lo dulu lebih tembem, gak tirus seperti sekarang."


"Udah ah, ganti foto yang lain."


Berlanjut terus dan Letta dengan senang menjawab setiap pertanyaan Alex.


"Kalau lo jadi Snow Whitenya, pangerannya mana?"


Gak Hami gak Alex kenapa yang ditanya pangerannya, pikir Letta.


Letta menunjuk ke foto anak laki-laki yang di foto itu berdiri bersebelahan dengannya. "Ini, namanya Fikri. Cuman waktu lulus kelas enam, dia pindah transmigrasi sama keluarganya ke Kalimantan. Sampai sekarang mereka belum pernah pulang ke sini lagi. Mengingat disini juga udah gak ada kerabatnya."


Alex hanya mengangguk. Tidak mau mendengar Letta membicarakan cowok lain. Ia terus membuka album fotonya Letta. Nyatanya menurut Alex, Letta dari kecil sudah cantik seperti besarnya. Tidak heran kalau waktu masih SD saja Letta bisa mendapatkan peran utama sebagai seorang putri. Tapi anehnya, Alex merasa familier dengan foto Letta. Seakan pernah melihatnya sebelum ini.


"Udah habis sih segitu aja, ke belakangnya lagi foto-foto keluarga gue." papar Letta.


Namun Alex terus membuka-buka album foto itu lebih ke belakang. Tiba-tiba badannya menegang ketika matanya tak sengaja melihat foto dirinya di album foto itu. Foto Alex ada disana. Tidak hanya satu foto, tapi satu halaman itu isinya foto dirinya semua. Kenapa bisa?


"Ini--- ini sapa?" tanya Alex kaku.


Letta menggeleng dan seketika itu juga senyum di wajahnya ketika menjelaskan foto-foto tadi menghilang. "Gue gak tahu dia siapa. Tiap kali gue tanya ke mama papa, mereka cuma bilang kalau itu teman gue. Tapi temen seperti apa gue juga gak inget."


"Teman." gumam Alex parau.


"Iya, teman. Ada fotonya pas gue bareng sama dia." tanpa sadar Alex yang sudah kaku, Letta menarik albumnya dan membuka halaman belakangnya lagi. Kemudian Letta menyerahkan album itu ke Alex.


"Ini, di foto ini udah jelasin kalau gue sama dia berteman. Lihat deh kelihatannya akrab gitu." kata Letta dengan jari telunjuknya mengarah ke foto dimana dua anak kecil bersama.


Reaksi Alex begitu melihat foto itu seketika jantungya berdebar lebih cepat dan nafasnya memburu.


Tidak mungkin.


Kemudian Alex merasakan itu. Sengatan tajam di kepalanya. Lagi dan lagi seperti ketika ia melihat foto itu sebelumnya. Foto yang sama seperti yang ia dapat di rumah neneknya ketika Sari tidak sengaja menjatuhkan salah satu foto.


"Gue pulang dulu. Makasih." hanya itu. Dan Alex segera buru-buru keluar dari rumah Letta. Sepanjang perjalanan ke rumah, Alex terus memegangi kepalanya yang bertambah sakit.


Dari kejauhan, Letta yang terkejut sedang di teras dan hanya menatap Alex yang pergi menjauh. Satu pertanyaan dari Letta. Dia kenapa?

__ADS_1


__ADS_2