Mischievous Boy

Mischievous Boy
Part 12


__ADS_3

"Ngapain lo berdua ke sini?!" pekik Letta kencang.


Ia baru saja memesan mi ayam dan meninggalkan Mira sendirian di meja kantin, tapi kenapa saat ia kembali sudah mendapati dua jenis makhluk astral sudah duduk manis di mejanya dan Mira.


"Kita berdua di kantin ya mau makan, masa iya mau ngelahirin bayi." celetuk Alex ngasal yang sudah duduk tepat di seberangnya.


Hal itu malah membuat tiga orang di depan Letta, termasuk Mira tertawa kencang mendengar penuturan dari mulut Alex. Letta hanya mendengus sebal karena ia yakin kalau acara makan siangnya ini pasti tidak akan berjalan lancar.


"Kalau mau makan bisa kan ambil meja lain, gak harus di sini." ketus Letta.


Ia jelas masih sedikit menyimpan dendam kesumat pada Alex, selain karena tadi pagi ia harus naik sepeda bolak balik hingga kakinya terasa mau lepas dari tempatnya, ternyata Alex itu satu kelas dengannya dan ia dengan gilanya meminta Letta duduk bersama.


"Sayangnya yang lain udah penuh semua." jawab Alex tenang. Tak melihat kalau Letta sudah dalam mode siap menyiram mi ayamnya ke muka cowok itu.


"Tenang aja, kita gak bakalan ambil jatah makan lo. Kita berdua masih punya duit buat beli makan sendiri." kata salah satu cowok yang ikut duduk di mejanya dan Mira.


Namanya Indra, sebelumnya Mira dan Letta sudah berteman baik dengan Indra. Indra ini teman baiknya Hami, juga teman baiknya Letta dan Mira. Tapi begitu Hami sering bersama pacarnya, Indra jadi sering lebih memilih menjauh karena takut mengganggu dan juga ada alasan lainnya.


"Meja di pojok sana masih kosong. Kenapa gak di sana aja sih." kata Letta galak.


"Kalau kita berduaan mojok bareng di kantin, nanti kalau ada orang mikir yang enggak-enggak gimana. Gue masih sayang umur gue." jawab Indra dengan enteng.


"Tapi kalau kalian di sini itu ganggu. Udah gitu gak lihat apa anak cewek pada ngelihatin ke arah sini semua." gerutu Letta kesal karena Indra dan Alex tetap tidak mau beranjak.


"Nasib jadi cowok ganteng jadi begini, ya nggak, Al?" Indra merangkul bahu Alex, lalu menaikkan alisnya meminta persetujuan.


"Yoi, bro."


Mira terkikik karena usaha Letta menyingkirkan dua makhluk ini gagal total.


"Udahlah, Ta. Biarin aja mereka makan bareng disini. Indra teman kita kan dari lama, sedangkan Alex kan hanya kenal kita bertiga doang."


"Tuh dengerin Mira, Mira aja gak protes, kenapa juga lo yang ribut." timpal Indra.


"Eh, gue mau beli bakso mercon, lo mau coba gak?" tambah Indra begitu ia menegakkan badannya hendak pergi membeli makanan ketika dirasa cacing di perutnya sudah tidak kuat menunggu terlalu lama lagi menunggu pasokan makanan datang.


"Boleh juga." jawab Alex.


Yang terjadi kemudian Indra melenggang pergi ke stand bakso mercon yang sudah ramai oleh anak cewek. Semua anak berdesakan, saling dorong satu sama lain takut tidak kebagian. Indra tipikal cowok yang tidak suka mengantri apalagi antriannya adalah calon emak-emak semua.


Tapi bukan Indra namanya kalau ia tidak bisa mengalihkan para cewek itu yang sedang membeli. Begitu melihat ada kesempatan, Indra langsung berteriak kencang.


"WOY... LIHAT ADA SHAWN MENDES DI LAPANGAN!!!"


See, semua anak cewek langsung berlarian ke lapangan begitu Indra menyelesaikan ucapannya. Pak Gito selaku pedagang bakso mercon hanya geleng kepala melihat kelakuan Indra yang sudah biasa terjadi ini. Tapi anehnya, walau sudah beberapa kali para cewek dikerjai seperti itu tapi mereka tetap saja percaya. Terlalu polos sih.


"Dua ya, Pak. Minumannya kayak biasa."


"Ini, Nak Indra. Sama es jeruk kan?" Pak Gito memberikan nampan berisi dua mangkuk bakso mercon dan dua es jeruk ke Indra


"Iya, berapa semuanya, Pak?"


"Dua puluh ribu."


"Ngebon kayak biasa."


"Siap."


Begitulah Indra, ia tidak pernah membayar bakso milik Pak Gito. Dan Pak Gito juga tidak masalah dengan hal itu karena istrinya bekerja di rumahnya Indra, jadi semua makanan Indra diberikan gratis oleh Pak Gito. Walau begitu, ayah Indra tetap selalu membayar semua makanan yang dibeli anaknya.


"Nih gue bawain bakso mercon langganan gue. Dijamin pedesnya ngalahin cabe-cabean." celetuk Indra tiba-tiba, menyodorkan mangkuk bakso ke depan Alex.


Letta dan Mira yang tadinya sedang menyantap mi ayam mereka spontan tersedak semua mendengar perkataan Indra yang tidak pernah disaring dulu.


"Lo kalau ngomong bisa kan filternya dipake gak usah asal jeplak." sungut Mira kesal karena ia merasakan pedih yang teramat di tenggorokannya akibat tersedak tadi.


Sedangkan Letta memilih menyeruput es tehnya lalu ikut menimpali. "Pantes lo berdua cepat akrab bahkan belum ada sehari. Sama-sama gila sih."


"Berisik. Tinggal makan gak usah kebanyakan omong." kata Alex membuat Letta membungkam mulutnya seketika.


Setelah itu hanya terdengar suara denting sendok dan mangkuk yang beradu. Tak ada di antara mereka berempat yang hendak memulai percakapan sampai makanan yang ada di depan mereka ini benar-benar habis.


"Letta," suara serak cowok menghentikan sejenak acara makan keempat orang itu.


Yang bernama Letta pun menghadapkan wajahnya ke atas, melihat Hami yang sudah berdiri di sampingnya sendirian. Sen-di-ri-an.


Benar-benar sendirian tanpa embel-embel Ajeng di sampingnya yang biasanya nempel terus kayak perangko sama lem. Suatu keajaiban dunia, karena selama Hami berpacaran, Ajeng selalu menempel tiap detik.


"Ada apa?" tanya Letta cuek. Dirinya mencoba mengabaikan Hami yang hanya bisa membuat hatinya sakit.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." kata Hami selanjutnya tanpa beban.

__ADS_1


"Kalau mau ngomong, ngomong disini aja." Bukan Letta yang mengatakannya, tapi Mira.


Sedangkan Indra yang melihat Hami datang menyeruput es jeruknya sampai tandas dengan kasar. Alex hanya diam melihat Hami yang mencoba menarik perhatian Letta karena Letta hanya cuek bebek.


"Gue udah selesai mau balik ke kelas. Ayo, Al." ajak Indra ke Alex. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Indra melengos pergi dari tempatnya, di belakangnya juga ada Alex.


"Dia siapa? Anak baru?" Hami mengernyitkan dahinya, setahunya ia tidak pernah melihat cowok dengan muka itu sebelumnya.


"Iya, dia anak baru. Kata Letta dia cucunya nenek Sari, tetangganya." terang Mira yang melihat Letta enggan menjawab pertanyaan Hami


Hami tersenyum simpul, tentu masih ingat dengan nenek tua rasa muda itu. Dulu ketika ia sering ke rumah Letta selalu saja disangka kalau ia pacarnya Letta, padahal bukan. Ia hanya teman.


"Ham, sebelum lo ngungkapin maksud lo. Gue cuma mau bilang kalau lo mau jelasin sesuatu harus sampai selesai gak usah setengah-setengah kayak kemarin-kemarin. Lo kalau emang mau niat minta maaf ke gue, minta maaf dengan bener. Jangan ninggalin gue kayak kemarin disaat gue belum ngasih jawaban apapun ke lo."


"Maaf soal yang kemarin."


"Lo duduk deh, Ham. Capek gue liat lo berdiri terus." kata Mira.


Hami lalu duduk di tempat yang tadi ditempati oleh Alex.


"Tumben gak sama Ajeng." tanya Letta sedikit sinis. Entah kenapa kalau sesuatu berkaitan dengan Ajeng ia akan selalu seperti ini, reflek. Mungkin karena rasa tidak sukanya pada Ajeng iti terlalu besar.


"Ajeng lagi sakit jadi gak sekolah."


Oh, mampus deh.


"Kalau gitu bisa lo ungkapin sekarang apa yang mau lo omongin ke gue?"


Mira disana hanya bisa diam mendengarkan apa yang dua orang itu sampaikan. Ia tahu diri dan tidak akan memperkeruh suasana.


***


Alex tidak tahu kenapa Indra tiba-tiba saja berhenti berjalan lalu menoleh ke belakang lagi tepatnya ke arah Letta yang sedang bicara dengan cowok yang tidak ia ketahui namanya.


"Ada apa?" tanya Alex.


Indra hanya menggeleng lalu melanjutkan jalannya. Keduanya ini berbeda kelas. Kalau Letta, Alex, dan juga Mira berada di kelas XI IPS 2, Indra ini anak IPA tepatnya di XI IPA 1.


Dua anak itu berjalan beriringan ke kelas. Beruntung karena koridor yang mereka lewati sama jadi Alex tidak sendirian ke kelasnya. Sedikit ngeri kalau membayangkan bagaimana dirinya berjalan sendirian disaat tatapan anak cewek menatapnya lapar.


Ya, kabar anak baru itu sudah menyebar ke seluruh sekolah jadi tidak perlu heran kalau sepanjang jalan Alex melangkah dirinya terus dipanggil namanya oleh anak cewek dan hanya ditanggapi Alex dengan senyuman singkat.


"Gila apa, tatapan meraka seakan mau nerkam gue bulet-bulet. Gue kira cuma di kota gue aja yang ceweknya ganas. Ternyata disini juga sama." Alex mengusap dadanya.


"Bener juga lo."


"Ngomong-ngomong lo kenal sama Letta sejak kapan? Perasaan lo kan anak baru disini kok bisa langsung kenal Letta yang notabennya jarang banget mau deketan sama cowok." tanya Indra sambil tetap melangkahkan kakinya sepanjang koridor.


"Dia kebetulan tetangga nenek gue. Dan begitu nenek gue tahu kalau gue satu sekolah sama tuh anak, otomatis nenek gue maksa gue buat sekolah bareng dia. Kenapa emangnya?"


"Gak apa-apa sih. Cuma pengen nanya aja." Indra mengangkat bahunya cuek.


"Kalau cowok yang tadi yang nyamperin siapa?" tanya Alex segera ketika ingatannya jatuh pada cowok yang tadi datang ke mejanya, dan malah Indra aneh karena memilih menjauh. Entah ini hanya perasaan Alex saja atau memang begitu karena ia merasa kalau Indra dan cowok itu seperti perang dingin.


"Lo mau tahu dia siapa?" Indra menepuk bahu Alex membuat si empunya menghentikan kakinya.


"Gak juga sih. Lagian tahu atau enggaknya juga gak ada sangkut pautnya sama gue." jawab Alex.


"Baguslah. Gue juga males banget njelasinnya ke lo."


"Yee si kunyuk." Alex menonjok bahu Indra dengan kepalan tangannya. Tidak keras, hanya untuk salam perpisahan karena ia sudah berada di depan kelas.


Setelahnya yang dilihat Alex adalah punggung Indra yang perlahan menjauh dan menghilang masuk ke dalam kelas.


Alex lalu masuk ke dalam kelas dan tak berapa lama kemudian Letta dan Mira masuk karena bel masuk sudah berbunyi.


"Kenapa wajahmya ditekuk begitu?" tanya Alex begitu melihat Letta masuk dan duduk dengan wajah teramat masam.


"Terus masalah buat lo gitu?" sinis Letta.


Ehh buset gue nanya baik-baik kali, Neng.


Alex tak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya ke atas. Ponsel Alex yang berada di saku bergetar sekali tanda ada pesan masuk. Ia kemudian membuka pesannya yang ternyata dari Indra yang mengatakan kalau mereka berdua akan pulang bersama, katanya sih Indra ingin tahu rumah Alex dimana.


Alex tentu saja mau, daripada naik sepeda tua seperti pagi tadi, lebih baik ia naik motor bersama Indra. Lebih cepat dan hemat tenaga.


Kalau ada yang bertanya kenapa kedua cowok itu terlihat sudah akrab, jawabannya karena memang keduanya sudah kenal dari SMP. Kedua cowok itu sama-sama penggemar band rock bernama Avenged Sevenfold, dimana Alex dan Indra tergabung dalam anggota official fans A7X Indonesia. Dari situlah mereka berdua kenalan.


Jadi tidak heran lagi kalau ketika kedua anak itu dipertemukan dalam kehidupan nyata, sudah tidak kaku dan bahkan cenderung layaknya teman biasa. Padahal baru sehari mereka bertemu tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun lamanya.


"Nanti gue balik sama Indra. Lo gak usah nungguin gue." bisik Alex karena guru sudah masuk jadi ia mengecilkan suaranya.

__ADS_1


Letta hanya mengernyit bingung. "Terus sangkutannya sama gue apa?"


"Otak lo ketinggalan dimana sih?! Masih di kantin? Atau masuk ke kuah bakso? Ya jelas ada hubungannya, secara gue kan berangkatnya sama lo tadi pagi."


"Oh," jawab Letta singkat dan padat.


"Lo langsung pulang. Gue males kalau nanti tiba-tiba nenek gue nanya lo kemana, kenapa gue gak bareng sama lo." bisik Alex sekali lagi dan dijawab dengan Letta yang mengangguk samar.


Sambil menunggu guru datang, Alex membuka group chat miliknya dan dua teman seperjuangannya di kota.


Fabian : Alex mana woy !!


Fabian : Alex keluarlah.... Bim salabim...


Melihat kalau dirinya dicari akhirnya ia memunculkan diri di group chatnya.


Alex : Apaan?


Fabian : Al, kapan pulang? Dedek cantik ini kesepian tanpamu...


Alex : Kalau gak penting gue tutup nih.


Fabian : Etdah, sabar kali bang.


Fabian : Tadi gue ketemu someone.


Alex : Terus?


Fabian : Dia nanya tentang lo.


Fabian : Ini yang read dua tapi yang nongol cuma satu. Gue sangsi kalau grup ini butuh ruqyah.


Alex : Siapa?


Fabian : Siapa apanya?


Alex : Yang nanyain gue bego!


Fabian : Mona.


Alex menghentikan jarinya yang akan mengetik begitu melihat sebuah nama yang dikirimkan oleh Fabian. Nama itu...


Dani : Lo ketemu sama Mona dimana?


Fabian : Akhirnya setannya muncul juga.


Dani : Gue pites lo entar pulang sekolah. Tunggu aja!


Fabian : Selow boss...


Fabian : Al


Fabian : Lex


Fabian : Lo kemana anyink


Dengan ragu Alex mulai mengetikan sesuatu. Ia tidak memperdulikan ketika guru sudah masuk ke dalam kelas. Toh, ia juga duduk di bangku paling belakang tidak akan terlihat.


Alex : Dia nanya apa?


Dani : Dia nanya apa? (2)


Fabian : Gak banyak. Cuma dia bilang kayak gini, "Alex sekarang di mana?"


Alex : Lo jawab apa.


Fabian : Gue jawab "Dia udah mati."


Alex : Bgst


Fabian : Gue jawab "Dia pindah sekolah ke desa, tinggal sama neneknya."


Fabian : Habis itu dia pergi deh...


Dani : Lo ketemu sama Mona dimana?


Fabian : Kemarin di supermarket. Dia lagi beli susu bumil anjir. Perutnya juga udah sedikit nonjol.


Dani : Beneran tuh bukan bayi lo, Al?


Alex : Bukan.

__ADS_1


Selanjutnya Alex mematikan data seluler, lalu melemparkan ponselnya ke dalam laci karena pelajaran sudah akan dimulai.


__ADS_2