Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 10 Sidang Skripsi


__ADS_3

Zalina segera mencari keberadaan Rindu sahabatnya. "Hai Rin, gimana kamu udah beli semua yang diminta," tanya Zalina saat jumpa Rindu.


"Hikkzz ... belum Lin, semua yang di kantin enggak ada yang jual lengkap, kalaupun ada yang jual itupun cuma gula pasir. Tapi kan harga sebungkusnya 15.000, mana cukup duitnya, huaaaa ... aku pasti kena hukuman ini Lin, 5 menit lagi waktunya," ucap Rindu merengek.


"Hussstt enggak boleh pesimis, sini aku bantuin," ucap Zalina. Rindu yang pesimis hanya diam saja sambil selonjoran di lorong kampus, karena menurut nya mustahil bisa mendapatkan semuanya dengan harga 3000.


Tapi tidak dengan Zalina, dia coba berfikir. Menurut Zalina tidak mungkin juga mereka disuruh belanja barang-barang seperti itu di kantin kampus yang tidak menyediakannya. Lagian untuk apa juga barang tersebut kalaupun ada, setelah berfikir Zalina pun seperti menang jackpot atas jawabannya.


"Rindu, ayok berdiri ikut aku!" ucap Zalina sambil menarik Rindu berdiri dan membawanya berjalan cepat.


"Kita mau kemana Zalina, sebentar lagi waktu kita habis nih. Mending kita balik ke lapangan aja," ucap Rindu sambil mengikuti langkah Zalina yang lumayan cepat.


Tiba di kantin Zalina memperhatikan semua dagangan yang ada, kemudian matanya menangkap sebuah kue dan membelinya dengan uang yang ditangan Rindu.


"Untuk apa kue ini Lin?" tanya Rindu yang kebingungan dengan kue onde-onde kacang hijau ditangannya."


"Ini jawaban dari pertanyaan kamu Rindu, kue onde-onde ini adalah jawaban dari kertas undian kamu tadi. Di dalam kue ini ada tepung ketan, ada kelapa dijadikan santan buat adonan, ada kacang hijau isian, ada wijen dan minyak buat menggorengnya, dan harganya juga 3000 rupiah dapat semua bahan dan semuanya ada dikantin kampus," ucap Zalina menjelaskan panjang lebar.


"Ya Allah ijaaall ... ijaall ... emang sahabat the best," ucap Rindu sambil memeluk Zalina kegirangan dan jingkrak-jingkrak, kenapa otak kamu encer benerrr sih Neng," ucap Rindu.


Zalina yang mendengar pengakuan Rindu hanya Mencebikkan bibirnya.


"Kamu pinter juga kok Rin, pinter nyari alasan," ucap Zalina sambil berlalu pergi.


Akhirnya Ospek hari itu menyelamatkan Zalina dan Rindu dari hukuman. Dan semenjak hari itu juga Zalina jadi sering bertemu dengan Aldo. Suatu hari Zalina diajak oleh Nemanya untuk menemui teman Nemanya, ternyata disana Zalina bertemu dengan Aldo yang merupakan cucu dari teman Nemanya.


Zalina juga bergabung dengan organisasi Himaprodi kebidanan, dan sering mengikuti kegiatan yang kadang melibatkan BEM didalamnya sehingga membuat Zalina dan Aldo sering bertemu. Setahun perkenalan mereka Aldo menyatakan perasaannya, Zalina pun menolaknya dengan alasan ingin fokus kuliah. Tapi walaupun begitu, hubungan mereka tetap baik baik saja dengan cara berteman.


Dua tahun mengenal Aldo, hingga Aldo pun wisuda Zalina tetap dengan pendiriannya yang tidak ingin memiliki hubungan dengan siapapun karena ingin fokus kuliah. Tapi tidak dengan Aldo, meskipun Zalina menolaknya Aldo semakin mencintai perempuan tersebut. Menurutnya Zalina wanita yang punya prinsip hidup, wanita pintar dan cerdas, juga wanita yang memiliki kepedulian yang tinggi. Hal tersebut yang membuat Aldo semakin menaruh perasaan terhadap Zalina dan Aldo yakin suatu hari perasaannya akan terbalas, semua ini hanya soal waktu, begitulah pikir Aldo.


*Flashback Of


Zalina segera masuk kamar mandi dan ingin mengguyur tubuhnya ini segera, agar semua rasa penat ditubuhnya segera hilang. Karena Zalina ingin segera menyelesaikan sedikit perbaikan dari Dosen pembimbing tadi pagi, agar dia bisa segera memprint skripsi tersebut.

__ADS_1


Keesokan hari Zalina ke kampus mendaftarkan namanya untuk mengikuti sidang skripsi. Setelah selesai Zalina kemudian mempersiapkan skripsi yang perlu dijilid dan juga materi yang akan dia paparkan saat sidang.


Seminggu berlalu Zalina akhirnya mengikuti sidang, sidang tersebut dilaluinya dengan kepercayaan diri, dan persiapan yang matang. Zalina bisa melalui sidang dengan mudah, walau sedikit gugup tapi Zalina bisa menjawab pertanyaan penguji dengan benar. Zalina pun keluar ruang sidang dengan muka penuh kelegaan, didepan ruangan sang sahabat sudah menunggunya. "Rinduuuu ... aku berhasil," ucap Zalina sambil memeluk Rindu.


"Selamat beb kuh aku tau kamu pasti bisa, Alhamdulillah selamat ya. Enggak nyangka entar lagi kita bakal wisuda bareng," ucap Rindu yang juga senang karena dia akan wisuda bareng dengan Zalina. Rindu yang duluan satu hari dari Zalina jadwal sidangnya, makanya bisa menemani sang Sahabat yang sidang hari ini.


Kedua sahabat itupun merayakan keberhasilan mereka dengan makan disebuah cafe. Setelah kesibukan mereka akhir-akhir ini, membuat mereka jadi jarang bertemu. Rindu dan Zalina bukannya tidak memiliki teman yang lain, tapi karena terbiasa bersama dari SMA membuat mereka nyaman jika berdua. Zalina yang terlahir di keluarga broken home dan Rindu yang dibesarkan oleh orang tua yang punya karir masing-masing, membuat orang tuanya sibuk, dan tidak memiliki waktu dengan Rindu. Keadaan mereka yang hampir sama membuat mereka menjadi kuat satu sama lainnya.


Seminggu kemudian Zalina dan Rindu mengikuti Yudisium. Setelah yudisium mereka juga mengambil pakaian, toga serta undangan untuk wisuda. Keluar dari kampus Zalina dan Rindu menuju sebuah butik untuk mencari kebaya yang akan mereka gunakan. Mereka berencana ingin menggunakan warna yang senada. setelah memilih kebaya yang diinginkan, mereka segera meninggalkan butik tersebut.


"Undangan wisudanya ada dua Lin, kamu mau ajak siapa Zalina? papa mama kamu hadir kan, Lin?" tanya Rindu yang masih fokus nyetir.


Zalina yang ditanya hanya diam dengan mata yang menerawang kedepan. Sadar kalau Zalina enggak nyaman dengan pertanyaannya Rindu segera menoleh pada Zalina.


"Ee-ehh sorry beb, bukan maksud aku bikin kamu sedih, maaf ya aku salah." Rindu yang menyesal atas ucapannya, menyentuh tangan Zalina dengan tangan kirinya, sedangkan ia masih fokus menyetir mobil.


" Huufftt ... (Zalina menarik nafasnya) aku enggak apa-apa Rind, enggak ada yang salah dengan pertanyaan kamu juga. Sejujurnya aku juga ingin mereka hadir di wisuda aku kali ini, aku juga ingin mereka bangga pernah menghadirkan aku ke dunia ini. Tapi-, ah ... sudahlah, nanti aku fikirkan lagi, aku bakal minta pendapat Nema," ucap Zalina yang tidak mau membahas orang tuanya lagi.


"Masuk dulu yuk, belum terlalu sore juga," ucap Zalina.


"Lain kali ya Lin, tadi mama aku chat bilangnya mau ngajak makan malam diluar," ucap Rindu.


"O gitu, Hati-hati ya di jalan, salam sama tante Savira," ucap Rindu.


"Oke Ssiiipp ... " ucap Rindu sambil acungi jempolnya.


Zalina masuk kedalam rumah untuk menemui Nema, mencari keberadaan Nema yang ia temui ternyata berada di dapur dengan mbak Asih.


"Assalamu'alaikum ... Nema lagi ngapain?" tanya Zalina yang berjalan mendekati Nema.


"Waalaikum salam, udah pulang Nak sini duduk. Ini Nema lagi bantuin mbak Asih bikin jus Sirsak, kebetulan tadi sewaktu belanja keperluan sambal botol di pasar, Nema jumpa sirsaknya gedek-gedek banget, Nema ingat kamu yang doyan banget ama jus sirsak, Makanya Nema langsung beli.


"Huuuaaa ... Nema, Zalina jadi terharu. Nema selalu inget dan sayang Zalina, Zalina makin sayang Nema," ucap Zalina memeluk Nema.

__ADS_1


"Nema juga sayang kamu," ucap Nema sambil mengusap lengan Zalina.


"Oo ya Nema, Zalina ada sesuatu buat Nema. Tunggu di sini bentar ya, wait for minute okay," ucap Zalina berlalu meninggalkan dapur.


Berselang dua menit kemudian Zalina kembali kedapur dengan membawa paper bag.


"Zalina mau kasih liat ini, taaarrrraaa ... " ucap Zalina sambil mengeluarkan sebuah selempang dari dalam paper bag.


"MasyaAllah, ini selempang yudisium tadi Nak? ada tulisan Cumlaudenya juga? Alhamdulillah, Nema senang Nak, Nema bangga sama kamu," ucap Nema menggenggam selempang tersebut dan langsung memeluk Zalina.


"Makasih Nema, semua ini berkat doa dan support dari Nema," ucap Zalina sambil menggenggam kedua tangan Nema.


"Tidak sayang, ini semua karena kegigihan kamu, kamu memang anak pintar, anak cerdas, makanya bisa seperti ini. Nema yakin papa mama kamu pasti bangga," ucap Nema.


"Hhhmmm ... emang papa dan mama bakalan bangga sama Zalina?" tanya Zalina yang melepaskan genggamannya pada Nema dan duduk di kursi.


"Sayang, tidak ada orang tua yang tidak bangga memiliki anak secantik, sebaik, sepintar kamu Nak. tentu saja papa dan mama kamu akan bangga," ucap Nema yang tidak ingin Zalina kecewa.


"Tapi Nema, mereka tidak pernah mengunjungi Zalina selama kuliah, mereka menghubungi Zalina hanya untuk menanyakan apakah Zalina kekurangan uang? Zalina sadar, kalau mereka sudah punya kehidupan masing-masing, mungkin tanpa Zalina pun mereka akan tetap bahagia. Nema ... Zalina boleh bertanya sesuatu?"


"Ya sayang, kamu mau bertanya apa?" tanya Nema.


"Apakah kehadiran Zalina ini tidak pernah benar-benar diharapkan oleh orang tua Zalina Nema?" ucap Zalina sendu.


"Huuusssttt ... enggak boleh ngomong gitu nak," ucap Nema menempelkan jari di bibir Zalina. Papa dan mama kamu bukan tidak mengharapkan kamu Nak, kebersamaan yang tidak kamu dapatkan dengan mereka itu karena suatu hal tentunya takdir yang maha kuasa juga, tidak ada yang terjadi di muka bumi ini tanpa izinnya. percayalah Nak, kalau papa dan mama kamu tidak pernah menyesal memilikimu. Keadaanlah yang membuat mereka dan kamu menjadi seperti ini. Tapi percayalah Nak, kamu tumbuh menjadi seperti ini, karena allah menganggap kamu luar biasa dari yang lain," ucap Nema.


"Nema, Zalina ingin sekali papa dan mama hadir di wisuda Zalina," ucap Zalina menundukkan kepalanya.


"Hmmm ... kalau gitu Nema akan coba hubungi mereka ya Nak. Kalau mereka bisa hadir alhamdulillah, kalau enggak bisa kamu enggak boleh bersedih. Kan, ada Nema yang Nemani kamu," ucap Nema mengusap kepala Zalina. Sekarang, kamu istirahat dulu ke kamar, soal ini enggak usah dipikirkan biar Nema yang hubungi papa dan mama kamu.


Zalina pun hanya mengangguk berjalan menuju kamarnya.


"Marcel ... Cindy ... Lihatlah dia yang ceria dan tegar diluar, tetap rapuh dan merindukan kalian disampingnya." batin Nema.

__ADS_1


__ADS_2