
"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti kalau bu Dewi tidak setuju denganku, semoga nanti seiringnya waktu bu Dewi bisa menerima pernikahan kita ya, Mas," ucap Zalina
Zalina menyadari bahwa ke depannya kehadirannya tentu tidak akan diterima dengan mudah oleh Dewi , seperti yang Zalina lihat tadi bahwa Dewi tidak menyukainya. Zalina hanya bisa berdoa semoga Dewi bisa segera menerima kehadirannya.
"Sayang, kita mampir makan dulu ya, setelah itu baru kita pulang ke rumah."
'Blush'
Panggilan sayang tersebut bukanlah yang pertama tapi selalu sukses membuat kulit di muka Yumna terasa panas dan memerah karena tersipu.
"Iya, Mas. Tapi jangan lama-lama ya, Mas. Soalnya Nema dan Mama bilang pamali pergi keluar rumah menjelang pernikahan, lantaran mau kenalan sama Bu Dewi aja, makanya dikasih izin sama Nema, kan nggak mungkin juga kenalan sama calon adik ipar pas sudah hari H."
"Bisa aja kamu," ucap Dewa sambil mengusap Puncak kepala zalina
**
"Apa-apaan sih, Mas Dewa. Bocah kemarin sore dijadiin istrinya, nggak bisa ... nggak bisa .... nggak bisa, Mas Dewa harus bisa nikah sama Maura, karena dari segi apapun Maura itu adalah yang terbaik." Dewi berbicara sambil memikirkan sebuah ide.
"Aku harus telepon Maura, aku yakin Maura akan kebakaran jenggot mendengar berita ini."
Dewi pun mengotak-atik ponselnya mencari nama Maura, dia menelpon Maura dengan seringai licik di bibirnya.
"Halo, Maura. Apa kabar?"
" ... "
"Kan kangen kamu makanya aku hubungi."
" .... "
"Oke deh, sebenarnya aku ada kabar yang bisa membuat kamu tidak nyenyak tidur, apa kamu mau mendengarnya?"
" ... "
"Mas Dewa, mau nikah besok lusa! gimana beritanya? bagus 'kan?"
" ... "
"Serius, buat apa juga aku bohong. Jangan marah-marah sama aku. Kenapa jadi aku yang kamu jadikan sasaran amarahmu."
" ... "
Panggilan itu pun langsung di matikan oleh Maura.
"Hahaha ... ternyata langsung dimatiin, beneran 'kan Maura pasti tidak akan tinggal diam," Dewi tertawa mengingat percakapannya dengan Maura.
**
__ADS_1
"Kurang ajar banget itu, Dewi. Udah lama nggak nelpon aku, sekali nelpon cuman mau ngabarin Kalau Mas Dewa mau nikah."
Maura kesal setelah menerima telepon dari Dewi. "Nggak boleh! mas Dewa gak boleh nikah dengan orang lain, kalau aku nggak bisa dapatin Mas Dewa maka yang lain juga nggak bisa dapatin dia."
Dewi berang memikirkan Dewa yang akan menikah.
"Aku penasaran, seperti apa perempuan pilihan mas Dewa itu? aku minta bantuan siapa ya."
Maura seperti memikirkan seseorang, setelah dia mengingatnya, senyuman licik pun terbit di wajah Maura.
**
Zalina dan Dewa sampai di sebuah restoran Jepang, karena Zalina lagi ingin makan makanan Jepang.
"Beneran 'kan Mas, nggak apa-apa kalau kita makan di sini?"
"Ya, Nggak apa-apa, Sayang. Ya udah, yuk! kita masuk."
Zalina hanya tersenyum melihat perlakuan Dewa, dia tidak mengeluh sedikitpun atau menolak kemauan Zalina. Karena setahu Zalina sejauh dia mengenal Dewa dia akan selalu makan di tempat yang menjual makanan ala Nusantara.
Mereka masuk ke restoran tersebut dan mencari tempat duduk, setelah menemukan meja mereka duduk dan memesan beberapa menu untuk mereka makan.
"Aku yang ini ya, Mas. Mas mau apa?"
"Samain aja deh, biar cepet."
"Mas, aku ke toilet sebentar ya."
"Apa mau aku temenin?"
"Nggak perlu, Mas. itu toiletnya juga deket kok."
"Okay, hati-hati ya! jangan lama-lama, takut kangen ntar."
Zalina tertawa dan geleng-geleng kepala dengar ucapan Dewa.
"Lebay kamu, Mas."
Zalina pun meninggalkan Dewa sendiri di meja, sepeninggal perginya Zalina ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya dan juga Dewa dari tadi. Sepasang Mata milik pria yang kini menuju meja Dewa.
"Hai, Pak Akbar. Apa saya boleh bicara sebentar?"
Dewa pun mengangkat pandangannya dan melihat seorang laki-laki yang beberapa waktu lalu pernah dilihatnya bersama Zalina.
"Anda teman Zalina 'kan?"
"Iya, Kenalkan saya Aldo."
__ADS_1
Dewa pun menyambut uluran tangan Aldo.
"Oh, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewa.
"Boleh saya berbicara dengan Anda sebentar, Pak?"
"Oh, ya tentu ... Silakan duduk!"
"Saya tidak ingin berbasa-basi, saya sudah mendengar pernikahan kalian yang akan digelar besok. Kebetulan saya juga mendapatkan undangan tersebut, saya hanya ingin mengatakan kalau Anda orang yang beruntung, Pak. Bisa mendapatkan hati Zalina, karena saya memperjuangkan mendapatkan hatinya itu selama kurang lebih 3 tahun. Tapi, dia sama sekali tidak menganggap saya lebih dari sekedar teman.
"Dia perempuan yang baik, perempuan yang tulus dan tidak pantas untuk disia-siakan. Saya hanya meminta kepada Bapak, tolong jangan pernah kecewakan dia!, tolong jangan pernah membuat dia sedih Tolong! jangan pernah membuat dia menangis."
"Saya senang kalau Zalina senang, menurut saya cinta tidak harus memiliki walaupun saya mencintai Zalina, tapi saya tidak akan memaksakan dia dengan saldo, menurut saya cinta sejati itu adalah melihat orang yang kita cintai itu bahagia dan kebahagiaan Zalina itu adalah dengan Bapak saya cuman ingin mengatakan itu."
"Sampaikan salam saya pada, Zalina Saya tidak akan datang pada pernikahan dia besok, Bapak pasti tahu alasannya.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, saya permisi" Aldo pun melangkah pergi tunggu.
"Aldo! senang berkenalan denganmu! tetaplah menjadi teman Zalina dan juga teman saya tentunya nanti. Semoga kamu Segera mendapatkan kebahagiaanmu," ucap Akbar sambil mengulurkan tangannya.
Aldo pun menerima uluran tangan tersebut dan setelah itu dia berbalik meninggalkan meja Zalina dan Dewa.
Dewa dan Aldo tidak menyadari kalau Zalina sudah melihat interaksi mereka berdua dari jarak beberapa meter. Zalina tersenyum melihat kebesaran hati Aldo menerima pernikahannya dan juga kebaikan Hati Dewa atas sikap Aldo.
Zalina pun kembali ke mejanya. "Maaf ya, Mas. Kalau aku lama."
"Oh, tidak makanannya juga baru aja datang. Ayo, kalau begitu kita makan."
Mereka pun menikmati makanan yang sudah datang tersebut, setelah menyelesaikan makannya mereka segera pulang ke rumah. Saat ini Zalina sudah berada di rumahnya, dia berada di kamarnya untuk mengistirahatkan badannya. karena sepulangnya dia berjalan dengan Dewa, tadi dia merasa sedikit lelah.
Hari pun beranjak menjadi sore, selepas mandi sore Zalina duduk di balkon kamarnya menikmati pemandangan sore hari ini, seseorang mengetuk pintunya Zalina pun membukakan pintu tersebut.
"Ya Allah, ada apa, Mbak Asih?" tanya zalina
"Mbak Zalina, ini Kebetulan ada paket tapi nggak ada pengirimnya."
Zalina pun mengerutkan keningnya. "Ya udah bawa sini, biar saya lihat sebuah kotak yang dibungkus sedemikian rupa diberi pita besar di atasnya Zalina Mencoba memperhatikan kotak tersebut Tapi tidak ada alamat atau nama pengirim nya, ia penasaran segera membukanya.
" Aaaagghhh ... Astaghfirullahaladzim." Zalina pun mencampakkan kotak tersebut , dan dia berteriak kuat sehingga Mengundang orang yang ada di luar kamarnya berlari masuk ke dalam kamar.
"Ya Allah, Nak. Zalina pun yang ketakutan berlari menghampiri nema dan memeluk nema."
"Ada apa sayang?" tanya Cindy.
Cindy mencoba mengambil kotak tersebut dan di dalamnya ada sebuah boneka yang sudah berdarah dan sepucuk surat yang isinya "Apa kau sudah menerima kado dariku? dan bagaimana? apa kau menyukai baju pengantinnya, Sayang?"
__ADS_1
Zalina segera beranjak dan membuka lemarinya, Alangkah terkejutnya dia melihat baju pengantin yang akan dipakainya rusak berlumuran dengan darah. Zalina pun ketakutan dan memeluk Mamanya.