
Hari ini Zalina berangkat kerja pagi-pagi sekali dia berniat untuk singgah sebentar menjenguk sang sahabat yang kemarin terkena musibah.
"Ya ampun Beb, ngapain pakai repot pagi-pagi begini sih datang ke sini kan aku udah bilang aku nggak apa-apa."
"Aku khawatir sama kamu pengen jenguk kamu, tapi aku nggak bisa lama-lama dan ini aku bawain Kamu sarapan," ucap Zalina.
"Makasih sayangku tahu aja kalau aku belum sarapan."
"Gimana kabar kamu Rin?"
"Alhamdulillah udah baikan nggak ada yang luka parah cuma lecet-lecet aja," ucap Rindu.
"Nanti kalau pulang kerja sempat aku singgah lagi kalau nggak besok aku ke sini lagi ya kita harus cerita-cerita tuh gimana kejadiannya," ucap Zalina.
"Oke sip."
"Kalau gitu aku berangkat kerja dulu ya Rin, cepat sembuh," ucap Zalina.
"Iya ... makasih ya beb, Hati-hati di jalan ya."
Zalina pun segera pergi ke rumah sakit tiba di rumah sakit seperti biasa, Zalina mengerjakan semua pekerjaan yang memang harus dia kerjakan. Hari ini pulang dari rumah sakit Zalina langsung menuju kampusnya untuk mengikuti kuliah sore karena mata kuliah ini tidak dilakukan secara daring dan Zalina juga akan menyerahkan beberapa tugas yang diminta oleh salah satu Dosen Zalina. Malam hari selesai makan malam Zalina tampak duduk di ruang keluarga dia berbaring malas-malasan.
"Habis makan itu jangan langsung baring toh cah ayu, ndak baik ntar perutnya jadi sakit," ucap Nema.
"Hehehe iya Nema," ucap Rindu yang langsung duduk.
"Kayaknya capek banget hari ini banyak banget ya pasien di rumah sakit," ucap Nema.
"Kalau kerjaan dan pasien seperti biasanya aja Nema. Cuma karena tadi Zalina langsung ke kampus mungkin lebih capek karena bolak-balik jalannya Nema. kan, lumayan juga rutenya dari rumah ke rumah sakit terus ke kampus," ucap Zalina.
"Dijaga kesehatannya ya Nduk, harus cukup istirahatnya," ucap Nema.
"Iya Nema Insyaallah pesan Nema akan Zalina ingat dan Zalina kerjakan," ucap Zalina.
"Zalina, Nema boleh ngomong sesuatu nggak?" tanya Nema.
"Nemaku yang cantik ini mau ngomong apa sih, ngomong aja Nema," ucap Zalina.
"Cucu Nema ini udah ada kepikiran buat nikah belum sih?" tanya Nema.
"Kenapa Nema bertanya seperti itu padahal Nema tahu jawaban Zalina Seperti apa," ucap Zalina.
"Iya sih Nema tahu kamu mau selesaiin kuliah kamu yang ini dulu karena kamu nggak mau sampai keteteran dan telat wisudanya. Cuma ada teman Papa kamu katanya pengen ngenalin kamu sama anaknya. Kemarin Papa kamu telepon Nema," ucap Nema.
"Kenapa Papa nggak hubungin Zalina langsung, kenapa malah hubungi Nema?" tanya Zalina.
"Karena kata Papa kamu, kamu mungkin bakalan mendengarkan ucapan Nema daripada Papa kamu," ucap Nema.
"Hhhuuufftttt ... (Zalina menarik dan menghembuskan nafas ) Kalau niatnya hanya untuk berkenalan ya nggak salah Nema. boleh-boleh aja, tapi kalau untuk yang lebih serius Zalina minta maaf untuk saat ini. Karena Zalina ingin di saat Zalina punya hubungan dengan seorang lelaki maka Zalina akan menjalankannya dengan serius tidak main-main," ucap Zalina.
"Iya Nema paham dengan apa yang kamu katakan. Jadi, kalau Papa kamu ingin mengenalkan kamu dengan anak temannya kamu bersedia," ucap Nema.
"Kalau hanya untuk berkenalan dan tidak terikat hubungan yang serius untuk saat ini boleh-boleh aja," ucap Zalina.
Setelah obrolannya bersama sang nenek Zalina pun kembali ke kamarnya, tiba di kamar dia bersandar di kepala tempat tidur lalu Zalina mengambil novel favoritnya dan mulai membaca. karena matanya yang sudah mengantuk Zalina pun tertidur dengan sendirinya dengan novel yang masih dipegangnya.
Seminggu pun berlalu zelina hari ini berniat untuk menemani Rindu bertemu dengan orang yang yang telah menolongnya saat kecelakaan penjambretan tempo hari.
"Nema Zalina pamit pergi dulu ya, Zalina hari ini mau menemani Rindu ke suatu tempat," ucap Zalina.
"Ya hati-hati ya Nak, bawa kendaraannya juga hati-hati," ucap Nema.
"Iya Nema, Assalamualaikum," ucap Zalina.
" Waalaikumsalam."
Zalina pun menuju kediaman Rindu di sana Rindu sudah menunggunya, Rindu pun segera masuk ke dalam mobil Zalina.
"Udah lama aku nggak disetirin sama kamu Lin, sekarang aku yang jadi Nyonya kamu yang jadi sopirnya ya, hahaha ... " Rindu meledek Zalina.
Zalina mencebikkan bibirnya. "Sekarang kita ke mana Rin?" tanya Zalina yang mulai melajukan kendaraannya.
__ADS_1
"Aku udah chat orang yang kemarin nolongin aku, dia kasih alamat di Polda, katanya aku disuruh temuin dia di sana."
"Emang dia polisi?" tanya Zalina.
Aku juga nggak tahu Lin, aku nggak sempat kenalan banyak sama dia.
"Ya udah kalau gitu kita temuin dia di Polda," ucap Zalina.
Mereka berdua pun meninggalkan kediaman Rindu dan langsung menuju Polda tiba di sana Rindu menghubungi pria tersebut dan mengatakan kalau dia sudah berada di Polda dan pria tersebut mengatakan untuk menunggunya sebentar. Akhirnya Rindu dan Zalina menunggu pria tersebut di ruang tunggu. Hampir 30 menit mereka menunggu tapi yang ditunggu tidak kunjung datang.
"Dia beneran ke sini nggak sih Rin, jangan-jangan kita di pranknya lagi," ucap Zalina.
"Masa sih dia mau nge-prank kita, kurang kerjaan banget tuh cowok. Ya udah aku hubungi lagi deh," ucap Rindu.
Tapi saat akan menghubungi pria tersebut Rindu tidak sengaja melihat ke arah pintu masuk dan dia melihat pria tersebut berjalan bersama seorang polisi yang dia kenal. Mereka masuk dan mendekati Rindu dan Zalina. pria tersebut berhenti dekat Rindu, Zalina yang melihat Rindu berdiri reflek melihat ke arah tatapan Rindu dan Zalina pun terkejut melihat pria yang di depannya.
"Mas, ini saya mau kembaliin jas kepunyaan Mas kemarin, udah saya laundry terima kasih ya Mas," ucap Rindu.
"Iya sama-sama," ucap pria tersebut.
"Pak Dewa kerja di sini?" tanya Zalina dengan polosnya.
Dewa yang mendengar pertanyaan Zalina hanya diam dengan muka datarnya. Sedangkan Rindu dan pria tersebut hanya diam dengan kebingungan mereka sendiri, lebih tepatnya bingung dengan pertanyaan Zalina. Rindu menarik lengan Zalina dan berbisik ke telinga Zalina.
"Lin, kamu nggak tahu dia itu siapa?" tanya Rindu.
"Maksud kamu Rin? aku kenal kok, nama dia Pak Dewa," ucap Zalina balas berbisik.
"Issss ... ah sudahlah! kamu cari tahu aja sendiri," ucap Rindu.
Zalina masih bingung dengan ucapan Rindu, Zalina masih memperhatikan Dewa dengan setelan lengkapnya. Dewa dengan seragam kepolisiannya lengkap dengan pangkat di bahunya.
"Ya ampun ternyata dia seorang polisi berpangkat tinggi, berarti dia terkenal dong Masa aku nggak tahu," batin Zalina. "Pantas saja waktu di rumah sakit tempo hari kak Sari bilang wajahnya familiar ternyata akunya yang kudet. Ya allah Zalina, kamu kemana aja," ucap Zalina di dalam hati.
Dewa membisikkan sesuatu ke telinga Pria yang ingin ditemui Rindu tadi. Dan pria tersebut menganggukkan kepalanya, Dewa pun berlalu meninggal kan mereka.
"Pak Akbar, meminta Anda berdua untuk sarapan bersama di ruangannya," ucap Pria tersebut.
"Eh ... enggak perlu mas, kami pamit aja, ya kan Rin," ucap Zalina menolak halus.
Rindu yang merasa kapan lagi bisa makan bareng dengan pejabat tinggi dan cowok ganteng enggak akan menolak ajakan tersebut.
"Dengan senang hati mas, Kebetulan kami berdua belum sarapan," ucap Rindu.
Zalina yang mendengar ucapan Rindu hanya memutar bola matanya dengan malas. Zalina dan Rindu masuk ke dalam sebuah ruangan Rindu merasa bahagia bisa memasuki ruangan seorang polisi dengan jabatan tinggi. Sedangkan Zalina hanya memandang sekeliling ruangan tersebut dan seketika matanya bisa membaca dengan jelas nama orang yang terdapat di atas meja dalam ruangan tersebut 'Irjen Pol. Akbar Dewanda. S.H, M.H'
"Oh my God ... ternyata benar," batin Zalina.
"Silakan duduk di sini," ucap pria yang bersama Dewa tadi. "Perkenalkan, saya Rendi asistennya Pak Akbar, Maaf kemarin saya buru-buru jadi terpaksa meninggalkan Anda di klinik sendirian," ucap pria yang bernama Rendi tersebut.
"Nggak apa-apa Mas saya mengerti, perkenalkan saya Rindu dan ini sahabat saya Zalina," ucap Rindu.
Beberapa menit kemudian Dewa masuk ke ruangan tersebut dan disusul dengan seorang OB. Zalina ingat tempo hari sewaktu dia bersama Rayyan ke sini, OB tersebut memberikannya segelas jus sirsak.
"Ini kan OB yang hari itu," batin Zalina.
OB tersebut menyuguhkan dua gelas jus sirsak, satu gelas jus mangga dan jus jeruk serta 4 porsi gado-gado.
"Ayo, Silakan dinikmati," ucap Dewa mempersilahkan Rindu dan Zalina.
Rindu melirik ke arah Zalina sambil mengangkat alisnya. Zalina mengerti arti tatapan mata Rindu, seolah Rindu ingin mengatakan kenapa polisi bernama Akbar ini bisa tahu dengan minuman kesukaan Zalina? dan seolah polisi Akbar ini mengenal Zalina lebih dekat. Mereka pun langsung menikmati makanannya. Saat mereka sedang Menikmati makanan tersebut, Rendy menerima panggilan telepon.
"Maaf Pak, saya mau mengangkat telepon sebentar," ucap Rendy sopan.
"Silakan," jawab Dewa singkat.
Sedangkan Rindu juga terlihat membalas chat yang dari tadi terus masuk ke dalam handphonenya. Setelah menerima panggilan tersebut Rendy kemudian mendekati meja kembali.
"Maaf Pak Akbar, saya tidak bisa melanjutkan makan ini saya ada keperluan mendadak Apa saya boleh pergi sebentar nanti saya akan kembali lagi ke sini.
"Oh iya silakan, kebetulan hari ini jadwal saya tidak begitu padat, jadi saya bisa menghandle sendiri. kamu selesaikan saja urusan kamu dulu," ucap Dewa.
__ADS_1
Setelah Rendy pergi, Rindu pun berbisik ke arah Zalina dan menunjukkan isi chatnya.
"Ya udah kalau gitu ayo kita pulang," ucap Zalina.
"Jangan ... nggak enak kita sama Pak Akbar," ucap Rindu yang masih berbisik, tapi justru terdengar sama Dewa.
"Ada apa?" tanya Dewa yang baru selesai makan.
"Pak, kebetulan saya juga ada keperluan mendadak dan harus pergi sekarang," ucap Rindu.
"Oh silahkan, enggak apa-apa dan enggak perlu sungkan begitu," ucap Dewa.
"Kalau gitu ayo aku antar," ucap Zalina.
"Nggak usah Lin, aku pesan Taxi aja," ucap Rindu.
"Kelamaan nunggu Taxi, makanya biar aku antar," ucap Zalina.
"**-aapi Lin ... "
"Kamu pakai mobil Zalina saja, nanti Zalina saya yang antar pulang, saya ada perlu dengan dia dulu," ucap Dewa.
Zalina dan Rindu yang mendengar ucapan Dewa saling lirik. Rindu tidak mungkin menolak disaat seperti ini, karena dia harus pulang sekarang kalau dia tidak pulang maka si merah mobil kesayangan nya akan dijual sang Papa.
"Sorry Lin, aku bawa mobil kamu, ini demi si merah. Tapi kamu hutang penjelasan sama aku tentang pak Akbar," bisik Rindu.
Rindu pun segera menyambar kunci mobil Zalina di atas meja dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Zalina yang berada berdua di dalam ruangan Dewa merasa canggung sendiri.
"Maaf Pak, Pak Dewa Ada perlu apa ya dengan saya?" tanya Zalina.
"Ehm ... ( Dewa berdehem sebelum bicara) saya mau minta tolong sama kamu lusa ulang tahunnya Elea, Saya ingin kamu membantu saya memilihkan kado untuk dia," ucap Dewa.
"Oh begitu, Baik Pak. Saya akan membantu bapak mencarikan kado untuk Elea."
"Tapi saya mau meeting sebentar dulu kamu bisa menunggu saya di ruangan ini sampai saya selesai meeting," ucap Dewa.
Zalina yang mendengarkan ucapan Dewa hanya bisa mengganggukan kepalanya. Dewa pun pergi meeting di ruangan lain dan Zalina menunggu Dewa di ruangan tersebut. Hampir 60 menit berlalu Dewa pun kembali ke ruangan tersebut dan melihat Zalina yang tertidur bersandar di sofa.
"Cantik ... " ucap Dewa pelan. "Ehm ... Dewa kemudian berdehem. Zalina yang mendengar suara Dewa pun terbangun.
"Maaf Pak, saya ketiduran," ucap Zalina malu.
"Ya sudah, kalau begitu saya ganti pakaian sebentar habis itu kita akan pergi mencari kado untuk Elea," ucap Dewa.
Beberapa menit kemudian Dewa keluar dari ruang ganti dengan memakai celana jeans hitam dan baju kaos putih berkerah ditambah dengan kacamata hitam branded yang membuat tampilan dewa semakin keren. Zalina yang melihat Dewa pun Terkesima.
"Ya allah ganteng banget ciptaan Allah," ucap Zalina di dalam hati.
"Ayo kita pergi," ucap Dewa.
Zalina dan Dewa pergi ke sebuah Mall dan Zalina pun mengajak Dewa pergi ke sebuah toko khusus menjual perlengkapan anak-anak mulai dari pakaian dan mainan pun ada di situ setelah mencari-cari Zalina memilih sebuah boneka Barbie dan juga satu set jepitan rambut.
"Kalau ini gimana Pak," ucap Zalina.
"Oke, bagus juga pilihan kamu, Mbak ini tolong dibungkus ya." ucap Dewa kepada pelayan toko. Setelah membeli kado untuk Elea Mereka pun segera pulang.
"Makasih ya Zalina, udah membantu saya membeli kado untuk Elea dan maaf udah menyita waktu kamu, karena saya bingung mau memilih kado yang cocok untuk Elea," ucap Dewa.
"Iya Pak sama-sama," jawab Zalina. "Tapi maaf sebelumnya pak, kenapa tidak pergi dengan mama Elea saja mencarinya, mungkin beliau punya selera sendiri untuk Elea," ucap Zalina.
"Biarlah dia mencari kado sesuai seleranya, ini kado dari saya," jawab Dewa.
Zalina yang mendengar jawaban Dewa hanya mengerutkan keningnya, mau menyanggah apa haknya, mau heran apa hubungannya. "Ah, sudahlah," batin Zalina.
Dewa pun segera mengantarkan Zalina pulang ke rumahnya.
"Makasih Pak Dewa, udah ngantar saya pulang. Tapi, maaf saya ga bisa nawarin singgah dulu, soalnya dirumah lagi gak ada orang," ucap Zalina.
"Ya enggak apa-apa, saya juga masih ada keperluan lainnya," ujar Dewa.
Dewa pun segera berlalu meninggalkan rumah Zalina, dan Zalina segera masuk ke rumahnya.
__ADS_1