Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 34 Kejujuran Zalina pada Aldo


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang menyejukkan menyelinap masuk di celana ventilasi kamar Zalina. Ia merasa jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya, Zalina bertekad tidak akan membuat orang-orang disekelilingnya sedih, terutama Nema.


Setelah sarapan Zalina menuju belakang rumah ingin menikmati gemericik air dari kolam Ikan koi dirumahnya tersebut. Sudah lama rasanya dia tidak duduk seperti ini, menikmati kesendirian dengan keheningan yang ada. Cukup lama dia duduk di sana, sampai dia tidak sadar sudah berapa lama memandangi ikan-ikan yang berenang di dalam kolam.


"Mama cariin di kamar enggak ada, ternyata kamu di sini," ucap Cindy membuyarkan lamunan Zalina.


"Ada apa, Ma?"


"Di depan ada, Nak Aldo. Temuilah Nak! semalam kamu tidak menemuinya, sepertinya dia mengkhawatirkan kamu, kasian dia."


Zalina menggigit bibir bawahnya, berusaha menguatkan diri agar dia bisa menjumpai Aldo. Zalina berdiri dari duduknya dan segera menemui Aldo yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Kak Aldo ... "


"Zalina, apa kabar kamu?" tanya Aldo dengan senyum manisnya.


"Alhamdulillah, jauh lebih baik Kak. Kak Aldo Apa kabar?"


"Semakin baik setelah melihat kamu."


Ucapan Aldo sukses membuat Zalina salah tingkah.


"Kenapa Kak Aldo masih mau menemuiku? apa kakak ga il-feel setelah tahu keadaanku?" tanya Zalina yang membuat kening Aldo berkerut.


"Maksud kamu? emang ada apa dengan kamu Zalina? kenapa aku harus il-feel?" Aldo balik bertanya.


"A-aku ... "


Zalina pun tidak tahu harus mengatakan apa, seketika dirinya pun tidak tahu harus mengatakan apa pada Aldo.


"Lin, apapun yang terjadi kemarin pada kamu, itu bukan kesalahan ataupun kemauanmu. Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak il-feel padamu, yang harus kamu tahu, perasaanku masih sama Zalina. Aku ingin sekali bisa menjadi halal untukmu Lin, agar aku bisa menjagamu."


"Terima kasih, Kak. Terima kasih atas semua kebaikan kakak selama ini, terima kasih juga atas perasaan tulus yang kakak berikan padaku. Sungguh aku tidak ingin menyakiti hati kakak, tapi aku tidak ingin membohongi kakak juga dengan berpura-pura bisa menerima kakak. Zalina mohon! lupakan Zalina, Kak! karena aku yakin akan ada wanita lebih baik dari diriku yang pantas untuk orang sebaik kakak. Perasaanku hanya sebatas teman dan kakak saja terhadap Kak Aldo," ucap Zalina.


Apa yang dikatakan Zalina sukses membuat hati Aldo hancur berkeping-keping, walaupun sudah sering Zalina menolaknya entah kenapa penolakan Zalina kali ini begitu membuatnya patah. apa Aldo membenci Zalina? tentu tidak, karena rasa cintanya tulus. Kecewa? pasti, tapi ia yakin semua akan membaik dengan segera.


"Besok, aku akan ikut mama ke Jakarta, Kak. Aku tidak tahu kapan kembali. Oleh sebab itu, maafkan aku kak. Maaf kalau sudah melukai hati dan perasaan kakak," ucap Zalina tulus.


Aldo mengusap wajahnya, menarik nafas pelan.


"Baiklah, semoga kamu bahagia ke depannya Zalina, kalau kamu tidak keberatan, kita masih bisa berteman kan?"


"Tentu, Kak!" ucap Zalina tersenyum.

__ADS_1


Aldo pun pamit untuk pulang dan Zalina mengantarnya ke depan. Saat sampai di halaman, sebuah mobil sedan BMW 320i masuk dan terparkir di sebelah mobil Aldo. Zalina mengenali mobil yang datang tersebut, karena beberapa kali ia pernah duduk di dalamnya.


Seseorang pun turun dari mobil tersebut. Zalina mengerutkan keningnya melihat orang yang turun tersebut benar sesuai dugaannya.


"Pak Akbar?" gumam Aldo pelan.


Dewa berjalan menghampiri Zalina dengan gagahnya, tidak akan ada yang menyangka kalau pria tampan dan gagah tersebut usianya akan menyentuh angka 40. Kulitnya yang bersih, putih, badannya yang tinggi, tegap cocok dengan karirnya seorang anggota kepolisian, dan pahatan wajahnya yang sempurna karena memiliki hidung yang mancung.


"Assalamu'alaikum," ucap Dewa.


"Waalaikum salam," jawab Aldo dan Zalina bersamaan.


"Apa kedatangan saya mengganggu kalian berdua? kalau iya, lain kali saja saya balik kesini lagi," tanya Dewa datar.


"Oh ... tidak sama sekali, Pak Akbar. Kebetulan saya juga akan pulang. Zalina, kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum," ucap Aldo.


"Waalaikum salam," jawab Zalina.


Aldo pun menuju mobilnya, tidak sengaja matanya melihat kedalam mobil Dewa yang jendelanya diturunkan, dia bisa melihat sebuah buket bunga dan paper bag. Aldo menoleh sebentar pada Zalina dan Dewa. Zalina hanya tersenyum tipis pada Aldo, sedangkan Dewa dengan muka datarnya.


Aldo segera masuk mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Zalina.


"Silahkan masuk, Pak Dewa!" seru Zalina.


"Bagaimana kabar kamu?"


"Syukurlah, maaf saya baru bisa berkunjung sekarang, saya takut mengganggu waktu istirahat kamu.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga ingin berterima kasih karena bapak sudah menyelamatkan saya, Nema menceritakan pada saya semuanya, dan juga keadaan saya saat awal-awal di rumah sakit, Maaf ... Pak, sudah merepotkan Bapak, maaf juga kalau sikap saya saat itu membuat Bapak tidak nyaman," ucap Zalina menundukkan kepalanya.


"Hmm ... tidak perlu meminta maaf karena kamu tidak salah apapun. Saya hanya berharap kamu tetap kuat dan menjalani hari-hari kamu seperti dulu. Apa kamu tahu? Trauma dan rasa takut dalam diri seseorang itu terjadi karena ia selalu mengingatnya dan tidak mau berdamai dengan dirinya, selalu menyalahkan dirinya, selalu takut terjadi hal serupa kembali. Bahkan, memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Padahal di dalam diri setiap orang itu ada kekuatan untuk bisa melawan keadaan yang tidak disukai oleh hati dan perasaan nya, hanya saja dia tidak menyadari karena terus fokus menyalahkan diri dan menyesali keadaan."


"Saya ingin menceritakan sebuah kisah, dulu itu ada seseorang yang menjalani sebuah pernikahan, pernikahan yang diimpikan kedua insan yang saling mencintai, mereka menikah dengan begitu bahagia, tapi pernikahan itu tidak berlangsung lama bahkan belum genap 24 jam, karena mereka terpisah selama-lamanya, perpisahan yang tidak akan pernah bisa kembali, karena mereka dipisahkan oleh maut."


Zalina terus mendengarkan cerita Dewa dengan seksama.


"Kematian yang disebabkan oleh laki-laki yang sudah bergelar suaminya, karena keteledorannya, karena kecerobohannya dan karena laki-laki itu tidak mendengarkan ucapan istrinya, kekasih yang dicintainya. Mereka kecelakaan, mobil yang di kendarai laki-laki tersebut menabrak pembatas jalan, terpental jauh dan terbalik, sehingga merenggut nyawa wanitanya. hanya karena kecerobohannya yaitu membalas pesan di Hpnya saat menyetir."


"Menyesal? sudah pasti, dia sangat menyesali keadaan itu, dia menyesali kebodohannya, menyesali kesalahannya. Bahkan pihak keluarga istri menyalahkannya, menjebloskan dia ke penjara karena kelalaiannya. apa yang dirasakan laki-laki tersebut? Rasa bersalah berkepanjangan, rasa menyesal, rasa takut, rasa trauma. Tapi, suatu saat sebagian rasa itu bisa dilawannya sehingga dia bisa bangkit dan menghadapi dunia."


Dewa menarik nafas pelan, mengakhiri ceritanya. Zalina tertegun mendengar cerita Dewa, tidak menyangka akan ada kisah seperti itu dalam kehidupan nyata.


"Huffttt ... apa kamu mau tahu, siapa tokoh dalam cerita yang saya ceritakan padamu?" tanya Aldo.

__ADS_1


Zalina tidk mengangguk dan juga tidak menggeleng, dia hanya bingung harus bereaksi apa. kalau mengangguk berarti dia menikmati cerita dewa, kalo menggeleng dia penasaran, tanpa sadar diapun menganggukkan kepalanya tapi bibirnya berucap tidak.


"Upss...maaf, Pak" ucap Zalina menutup mulutnya.


Dewa tersenyum melihat tingkah Zalina. "Orang tersebut adalah saya."


"HAH!!" Zalina shock mendengar pernyataan Akbar, sehingga ia tidak sadar membuka mulutnya lebar.


"**-tapi kenapa Bapak menceritakannya pada saya?" tanya Zalina.


"Saya hanya memberikan gambaran, walau masalah kita berbeda, saya ingin agar kamu bisa mengambil pelajaran dari cerita saya, kalau rasa takut dan trauma itu bisa kamu lalui dan kamu lawan dengan sendirinya."


"Ooo, begitu. Tapi kalau bapak sudah tidak trauma lagi kenapa bapak masih menduda? upss," Zalina menoleh kesamping dan memukul bibirnya yang keceplosan bertanya. "Ya ampun ini mulut, kenapa rem nya bisa blong," ucap Zalina lirih hampir tidak terdengar.


Dewa tersenyum melihat sikap polos dan ceplas ceplos Zalina. "Ck ... ya sudah kalau begitu saya balik dulu, saya cuma mau lihat keadaan kamu, ternyata kamu jauh lebih sehat dari perkiraan saya,"


Zalina menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Terima kasih, kehadirannya Pak," ucap Zalina.


Zalina pun mengantarkan Dewa hingga ke Mobilnya. Saat Dewa masuk mobil dan Zalina ingin masuk rumah, Dewa memanggil Zalina.


"Zalina, tunggu!" ucap Dewa.


Zalina menghentikan langkahnya dan berbalik. Tampak Dewa turun dari mobilnya dan berputar kebelakang dan membuka pintu mobil belakang mengambil sebuah buket bunga dan paper bag.


"Ini buat kamu, sebenarnya mau kasih tadi saat baru datang, karena cuma ada satu saya khawatir teman kamu yang tadi menginginkannya pula, makanya saya urungkan untuk memberi tadi."


Zalina tersenyum mendengar alasan klise Dewa, yang menurutnya tidak masuk akal. "Bapak bisa aja, teman saya tadi kan laki-laki Pak, masa ya mau minta bunga juga. lagian dia bukan anak kecil yang mau rebutan lolipop, Pak. hehehe," jawab Zalina sambil nyengir.


Dewa yang salah tingkah hanya mengusap tengkuknya.


"Eh, tunggu ... tunggu, bunga ini adalah bunga yang sama yang saya terima tadi malam dan tempo hari pulang dari RS, berarti pengirim bungan yang sebelumnya adalah Bapak? iya?" tanya Zalina.


"Mungkin ... " jawab Dewa datar dan langsung masuk mobilnya dan duduk dibelakang kemudi. "Kalau begitu, saya pamit ya."


"Eh, Ya Pak. Makasih ya Pak," seru Zalina sambil mengangkat buket bunga dan paper bagnya.


Setelah Dewa meninggalkan rumah Zalina, dia pun segera masuk kerumah, dan menuju ruang makan ingin melihat isi paper bag yang berlogo makanan tersebut. Yang ternyata isinya es krim coklat dan jus sirsak favoritnya. Zalina pun memasukkan ke freezer agar Es krim itu membeku kembali dan bisa dinikmati nanti.


"Jadi, ternyata pengagum rahasia putri mama itu orangnya yang tadi? cakep sih, tapi kayaknya udah tuir?" tanya Cindy yang tiba-tiba hadir di belakang Zalina.


"Ih mama ... ngagetin aja, cuma support agar Zalina cepat sembuh mama, kan beliau bekerja sama dengan toko kita," jawab Zalina.


"Masa sih ... kayaknya enggak deh," ucap Cindy yang berlalu menuju dapur.

__ADS_1


"Maksud mama?" tanya Zalina yang gagal paham maksud perkataan mamanya.


Cindy yang berjalan tersenyum tanpa diketahui Zalina, karena ia tahu kalau putrinya itu tidak menyadarinya.


__ADS_2