Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 14 Mulai Bekerja


__ADS_3

Hari pertama pakai seragam putih putih tenaga medis dengan satus pekerja membuat hati Zalina senang tak terkira, berulang kali dia mematut dirinya di depan cermin. Merasa udah puas dengan penampilannya Zalina segera keluar kamar untuk sarapan.


"Masyaallah cucu Nema, kemaren baru mulai kuliah enggak tahunya sekarang udah kerja aja. Selamat ya sayang Insyaallah ini semua yang terbaik untukmu," ucap Nema.


"Aamiin, makasih Nemaku sayang," ucap Zalina memeluk Nema.


"Yuk sarapan dulu biar kuat menghadapi kenyataan, karena kalo cuma dengan senyuman ternyata enggak kuat tetap keroncongan," ucap Nema bercanda.


"Cieee ... eleh ... eleh ... Nema pinter pulaa berkata-kata sekarang," goda Zalina sambil duduk di kursi dan ditanggapi senyuman oleh Nema.


Setelah sarapan, Zalina segera pamit untuk berangkat bekerja. Hari pertama masuk, Zalina tidak ingin sampai terlambat sehingga memberi kesan jelek pada dirinya. pukul 06.45 wib jam di pergelangan tangannya, Zalina yang sudah diparkiran segera pergi ke ruangan anak, karena sesuai dengan permintaan HRD kemarin dia akan ditempatkan sementara diruang anak. Dengan rasa bahagia bercampur dag dig dug ser dia terus melangkah dan menaiki lift karena ruang anak ada dilantai 3. Setelah keluar dari lift berjalan sekitar 20 meter Zalina menuju ruangan anak yang berada sebelah kanan.


Tok ... tok ... tok ....


Kriiiieeettt ....


"Permisi Kak, saya Zalina, kemarin disuruh HRD mulai bekerja hari ini di ruang anak," ucap Zalina saat udah masuk kedalam.


"Oo ya Zalina, saya juga udah dikabari oleh HRD. Silahkan duduk dulu, sambil menunggu teman kita yang lainnya kenalkan saya Mita, sebagai Karu (kepala ruangan) di ruang anak, saya shift pagi. Jadi kalo saat kamu shift nya pagi maka kita akan bisa bekerja sama. Semoga kamu betah disini, apa yang tidak kamu tahu silahkan bertanya pada teman yang tahu karena kita semua disini adalah team," ucap mita.


"Baik kak, terima kasih sudah menerima saya dengan baik di sini, insyaallah saya akan bekerjasama dengan yang lain sebaik mungkin," ucap Zalina.


Tidak berselang lama rekan kerja Zalina yang lain datang dan Zalina pun berkenalan dengan mereka. Zalina senang sekali ternyata kehadiran dia sebagai anak baru di ruang anak disambut baik. Sehingga membuat Zalina lebih santai membawa diri. Zalina menerima dan mendengarkan penjelasan mengenai tugas yang harus dilakukan, karena Zalina orang yang cepat mengerti membuat dia lebih memahami dengan mudah pekerjaannya. Hari pertama Zalina bekerja dia sangat senang sekali walaupun belum banyak yang dilakukannya sendiri tapi bisa membuat dia bahagia dengan statusnya sekarang sebagai pegawai atau tenaga medis rumah sakit bhayangkara. Zalina juga senang karena pasien yah di hadapinya adalah anak anak yang menjadikan hiburan dan tantangan tersendiri untuk Zalina.


Sore hari pulang dari bekerja Zalina singgah ke toko Nemanya. Zalina membawa salad buah favorit Nemanya. "Mbak Sri, Nema ada di dalam ya?" tanya Zalina menunjuk ruangan sang nenek.


"Ya Mbak, Mbak Zalina masuk langsung ke dalam aja," ucap Sri.


Zalina pun langsung menuju ruangan Nemanya. Zalina membuka pelan ruangan Nema, dan melihat Nema sedang istirahat di sofa yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Nema langsung terbangun ketika Zalina menutup pintunya.


"Kamu sayang, udah pulang kerja Nak?"


"Maaf ya Nema, gara-gara Zalina Nema jadi terbangun deh," ucap Zalina.


"Enggak kok, lagian Nema udah dari tadi juga istirahatnya. Apyok sini duduk, itu kamu bawa apa?" tanya Nema.


"Zalina bawa salad buah kesukaan Nema dong, kita makan yuk, Nema," ucap Zalina.


"O ya? yok buruan, bangun tidur dan cuaca rada panas gini emang pas banget makan yang seger seger," ucap Nema.


Zalina dan Nema menikmati salad buah dengan diselingi cerita Zalina di hari pertama nya mulai bekerja. Selesai makan salad buah dan menunaikan sholat ashar, Zalina pun mengajak Nema pulang ke rumah. Tiba di rumah Zalina mengistirahatkan tubuhnya sebentar sambil main handphone nya, dia berniat ingin menghubungi sahabat tercintanya yang sudah beberapa hari ini tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing, Rindu bekerja di sebuah Klinik Bersalin punya Saudaranya.


Awalnya, rindu menawari Zalina agar ikut kerja di tempat yang sama dengan dirinya dan dia akan meminta mamanya untuk membantu Zalina agar bisa bekerja bareng dengan dirinya. Tapi Zalina terlebih dulu menolaknya dengan alasan dia ingin usaha sendiri mencari tempat kerjanya, alhasil Rindu enggak bisa memaksa sang sahabat.


"Bbeeeeeeiiiibbb ... aku kangen!" teriak Rindu ketika nomor yang Zalina hubungi langsung tersambung.


"Ya Allah Rindu, enggak perlu teriak-teriak Rind, budeg telinga aku tau gak," ucap Zalina sambil menggosok telinganya. "Bilang Assalamu'alaikum Rindu ... bukan langsung teriak-teriak," ucap Zalina .

__ADS_1


"Hehehe ... Assalamu'alaikum Zalina sayang, cantik, rajin menabung ... " ucap Rindu menggoda Zalina.


"Waalaikum salam, nah gitu donk," jawab Zalina. "Gimana kabar kamu dan kerjaan kamu Rin?" tanya Zalina.


"Alhamdulillah aku baik Zalina, kerjaan seru juga sih, seminggu disini lumayan juga la buat asah Ilmu yang didapat," jawab Rindu. "Kamu gimana tadi? hari pertama kerja senior baik-baik kan? ada yang songong gak?" tanya Rindu.


"Baik Rindu, Alhamdulillah semuanya baik, Semoga kedepannya jauh lebih baik ya Rin, kapan ada libur bareng kita nongkrong ya, dah lama juga ga ngakak bareng, kalo lewat hp gini kurang lepas ya kan," ucap Zalina.


"Ho oh ... kangen ngakak, kangen gosip ya kan Lin, wkwkwk ... " ucap Rindu cengengesan.


"Yessss beb, yo wes aku mau bersih-bersih dulu ya Rind, besok kita sambung lagi. Kamu lanjut kerja lagi, enggak enak juga lama-lama teleponan," ucap Zalina.


"Oke Lin, Assalamu'alaikum," ucap Rindu.


"Waalaikumsalam."


Zalina segera masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sambil menunggu sholat maghrib dan makan malam Zalina membaca novel dari penulis favoritnya, yang dibelinya beberapa waktu lalu tapi belum kelar dibacanya.


Semenjak SMP Zalina suka membaca mulai dari buku bacaan sejarah, majalah, buku pelajaran di perpustakaan, komik bahkan novel dengan berbagai genre. Setelah membaca sekitar delapan lembar novel adzan Maghrib terdengar berkumandang, Zalina segera mengambil wudhu


dan melaksanakan sholat Maghrib. Selepas sholat Maghrib Zalina segera Keluar kamar dan menuju meja makan. Di sana tampak Nema sedang menyusun makanan yang dimasak sore tadi oleh mbak Asih.


"Wwahh masakan kesukaan Zalina semua ini sepertinya," ucap Zalina.


"Iya Lin, tadi mbak Asih sengaja masak makanan kesukaan kamu, katanya mau kasih yang spesial buat kamu karena hari ini hari pertama kamu bekerja, gitu katanya," ucap Nema.


"Ya harus itu, dan jangan cuma makasih aja Lin, ntar pas gajian pertama jangan lupa traktir dia juga," ucap Nema.


"Insyaallah siap Nema, Nema dan mbak Asih orang yang peduli sama Zalina dan Zalina ga akan lupa itu. Terutama untuk Nema, Zalina sayang Nema," ucap Zalina memeluk Nema.


"Ya sudah, sekarang yok kita makan dulu, kasian makanan nya lama banget di anggurin," ucap Nema sambil tersenyum.


Zalina selalu bahagia bila bisa makan bareng dengan Nema. Baginya Nema adalah segalanya, karena orang yang selalu disamping Zalina adalah Nema. Orang yang selalu menyayanginya sedari dia kecil. Zalina tidak tahu bagaimana hidupnya jika Nema pergi meninggalkanya. Zalina ingin Nema panjang umur dan sehat selalu agar Zalina bisa membahagiakan Nema, membalas budi Nema dan akan terus membuat Nema bangga.


Ke esokan harinya Zalina begitu bersemangat untuk bekerja. Dia bersemangat bertemu dengan anak-anak yang menggemaskan. Sesampainya dirumah sakit, operan shift dan memulai semua pekerjaannya dengan optimis. Begitulah hari-hari Zalina. Seminggu berlalu, dua minggu berlalu bahkan sekarang satu bulan sudah Zalina bekerja di RS. Bhayangkara. Hari ini dimana jadwal Zalina masuk shift sore, sesampainya di rumah sakit dan meletakkan tas nya. Zalina segera melihat status pasien, kemudian melakukan operan shift. Setelah itu dia mempersiapkan Obat-obatan yang mesti diberikan pada pasien.


"Zalina bisa tolongin aku ga ya, ada pasien baru masuk tapi agak rewel jadi susah mau pasang abocath dari tadi gagal terus," ucap rekan kerja Zalina yang bernama Sari.


"Bisa kak, tunggu sebentar aku cuci tangan dulu ya, nanti aku akan menyusul ucap Zalina. Setelah mencuci tangan nya zalina segera menuju ruang rawatan tempat pasien tersebut di rawat.


"Aku bantu ngapain kak?" tanya Zalina yang sudah sampai di dekat ranjang pasien.


"Coba kamu yang pasang abocathnya, ini abocath nya enggak tahu gimana bisa dia lepasin. Dari tadi juga nangis terus enggak mau dipasang lagi, coba sebelah kanan aja ya yang kiri udah bengkak soalnya," ucap Sari.


"Baik kak," ucap Zalina.


"Hai anak cantik, boleh kakak tiup tangannya yang sakit gak," ucap Zalina membujuk anak yang menangis di gendongan seorang pria yang kemungkinan itu orang tuanya. Anak tersebut diam menangis tapi menggelengkan kepalanya yang masih di tenggelamkan di dada pria tersebut. Sedangkan pria tersebut langsung menatap Zalina sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya tapi tidak mengucapkan apapun. Zalina yang ditatap pun sedikit terkejut kemudian kembali menguasai keadaan.

__ADS_1


"Beneran nih enggak mau kakak suster obatin tangan yang sakit, kakak suster ada tempelan yang cantik lho ini, ada gambar princes, ada gambar hello kitty, ada mickey mouse juga, kalo anak cantik ini enggak mau, kakak suster kasih yang lain aja kalo gitu," ucap Zalina masih dengan nada membujuknya. Dan ternyata hal tersebut mampu mengalihkan perhatian anak tersebut dan menoleh pada Zalina dan memperhatikan Zalina cukup lama. Zalina yang diperhatikan hanya tersenyum dengan menunjukan plester luka custom kartun ditangannya.


"Kakak suster ini, kakak cantik yang waktu itu kan, yang beliin aku balon," ucap gadis kecil tersebut. sang pria yang menggendong gadis tersebut mendengarkan sambil tampak berfikir sesuatu.


"Hmmm ... ( sambil mengangguk kepala), ya bener, sekarang kakak mau tempel ini di tangan kamu yang sakit biar sakitnya berkurang, mau gak?" tanya Zalina. Dan gadis kecil itu pun segera menganggukkan kepalanya.


Satu keahlian Zalina dalam bekerja yaitu pandai membujuk anak-anak yang susah diberikan obat atau dipasang infus. Memasang plester motif kartun ide Zalina sendiri agar anak-anak mau dipasang infus dan mengurangi rasa takut anak-anak terhadap jarum atau obat, karena sejatinya anak-anak menyukai sesuatu yang indah dan lucu.


"Hap ... " Zalina segera mengambil gadis tersebut dari gendongan pria tersebut.


"Sekarang kalau mau ditempel ini, kamu harus baring disini dulu ya," ucap Zalina sambil membaringkan anak tersebut dan anak itupun menurut dengan patuh. Pria yang menggendong anak tersebut tersenyum tipis melihat Zalina berhasil membujuk gadis kecil tersebut.


"Sini tangannya, O ya nama anak cantik ini siapa sih?" tanya Zalina agar pasien cilik itu tidak begitu tegang.


"Kenalkan nama aku Elea amola kak, dan ini papi aku," ucap Elea masih dengan cedalnya.


Pria tersebut hanya tersenyum melihat Elea memperkenalkan dirinya.


"Oo berarti benar gadis ini putri pria ini toh." batin Zalina.


"Nah Elea, sekarang apa boleh kakak tempel plester cantik ini ditangan kamu?" tanya Zalina dan langsung di angguki kepala oleh Elea. Dan Zalina pun memasangkan plester gambar Hello Kitty tersebut di atas plester tangan kirinya.


"Sekarang coba liat, tangan Elea yang sakit tadi jadi cantik kan, sekarang boleh gak kalo tangan yang sebelahnya kakak tempel juga, tapi sebelum ditempel kakak mau pasang obat ini disini, kakak janji sakitnya sebentar aja. kalo Elea jadi anak hebat enggak nolak pas dipasang obatnya kakak janji pas Elea udah sembuh kakak beliin balon lagi gimana?" bujuk Zalina.


"Tapi aku enggak mau balon, aku mau es klim," ucap Elea cedal.


"Okay, kakak beliin es krim kalo Elea udah sembuh, sekarang mau ya kakak pasang obat di tangan kanannya," ucap Zalina.


"Ya aku mau, tapi janji ya nanti beli es klim kalo aku sembuh, telus pasang obatnya jangan lama-lama sakitnya," ucap Elea manja sambil menyodorkan kelingkingnya.


"Okay janji," ucap Zalina menautkan kelingking mereka. Kemudian Zalina pun memasangkan Abocath dan infus dengan cekatan.


"Okay selesai, sebagai hadiah karena kamu hebat, kakak akan tempel stiker princess ini disini ya," ucap Zalina sambil menempel plester custom princess di atas plester yang sudah terpasang. "Taaarraa ... bagus kan?" tanya Zalina.


"Iya bagus, makasih ya kakak sustel cantik," ucap Elea. Sedangkan papinya hanya tersenyum melihat keakraban mereka dari tadi. Dia pun kagum melihat usaha Zalina dalam membujuk Elea.


"Sama-sama, sekarang kamu istirahat ya, biar kamu cepat sembuh," ucap Zalina.


"Makasih ya Sus," ucap Papi Elea.


"Sama-sama Pak, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Zalina.


Saat keluar ruangan, teman Zalina berucap padanya.


"Zalina orang tua pasien tadi wajahnya familiar ga sih? tapi siapa ya?" tanya Sari.


"Iya ya kak? perasaan kakak aja kali," ucap Zalina sambil terus berlalu pergi ke ruangan mereka.

__ADS_1


Setelah berhasil satu pasien zalina segera ke ruangannya dan melihat tugas apa lagi yang akan dikerjakannya. Zalina mulai memberikan obat yang sudah terjadwal, menulis perkembangan pasien hari ini di satus pasien. Hingga tidak terasa waktu berlalu dan Zalina pun pulang kerumah.


__ADS_2