Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab 33 Amarah Cindy


__ADS_3

Hari kedua Zalina dirumah, Keadaannya lumayan lebih baik dari sebelumnya, walaupun masih betah di kamar, dan belum ceria seperti dulu, tapi sudah mau berbicara satu kalimat atau dua kalimat. Itu jauh lebih baik daripada dia hanya menganggukan kepala saja.


Siang itu Marcel datang bersama Liliana dan istrinya, karena Liliana ingin sekali dari kemarin menjenguk Zalina, cuma Marcel tidak memiliki keberanian untuk di usir kesekian kali lagi.


"Assalamu'alaikum, Mba Cindy. Apa kabar, Mbak?" tanya Liliana saat Cindy membuka pintu rumah.


Cindy terkejut melihat kedatangan Marcel sang mantan suami dan juga istrinya Liliana. Lebih tepatnya saat ini Cindy sedang menahan amarahnya pada Marcel, karena bagaimana pun musibah yang terjadi pada Zalina merupakan salah satu kesalahan dari Marcel.


"Waalaikum salam, Alhamdulillah baik. Ayo silahkan masuk," jawab cindy tanpa menoleh pada Marcel.


"Mbak, Apa boleh saya menjenguk Zalina?"


"Mungkin Kamu bisa menemuinya, tapi tidak untuk orang yang menyebabkan anakku terluka batin seperti ini," ucap Cindy melirik Marcel.


Marcel tau maksud ucapan Cindy yang menyinggung dirinya, dia hanya diam saja karena tidak ingin bertengkar dan memperkeruh suasana.


"Masuklah ke kamarnya, semoga dia tidak tidur," ucap Cindy yang diangguki kepala oleh Liliana. Dan Liliana pun segera menuju kamar Zalina.


Setelah Liliana berjalan menuju kamar Zalina, Cindy pun berlalu meninggalkan Marcel sendiri di ruang tamu.


"Zalina juga anakku, Cindy! dia putri kita," ucap Marcel yang membuat langkah kaki Cindy terhenti.


Cindy mengurungkan niatnya untuk kembali melangkah. Dia membalik badannya dan kembali melangkah ke posisinya semula.


"Ck ... Kamu itu lucu, Marcel. Kamu mengatakan kalau dia anakmu? apa arti anak untukmu Marcel? Kau tahu Marcel, aku juga ibunya, aku yang melahirkan dia, tapi aku ibu yang buruk karena tidak pernah membesarkannya, tidak pernah menyuapinya makan, tidak pernah membacakan dongeng untuknya sebelum tidur, tidak pernah mengantarkan dia sekolah, tidak pernah membuatkan makanan kesukaannya, hampir semua hal tidak pernah aku berikan. Oleh sebab itu, aku sadar aku ini ibu yang buruk untuk putriku itu. Karena kesalahan yang sudah banyak ku perbuat padanya aku sadar satu hal, kalau aku tidak berhak lebih tepatnya kehilangan hak untuk menentukan masa depannya," ucap Cindy sembari menghapus kasar air matanya.


"Tapi, apa yang kamu perbuat Marcel? apa karena didalam darahnya ada darahmu, kamu merasa memiliki hak mengatur hidupnya? apa katamu tadi? dia putrimu ... Jadi, menurutmu putrimu itu bisa kau atur semaumu termasuk membuat bisnismu semakin sukses, dan berjalan lancar? Prokkk ... prookkk ... Kamu tidak pernah menyayanginya dan peduli padanya Marcel, kamu belum berubah, karena kamu hanya peduli dengan bisnismu, sehingga kamu tidak pernah tahu apa yang disukai oleh putrimu? apa yang di inginkan oleh putrimu? atau mungkin kamu juga tidak pernah menganggap dia putrimu."


Setelah mengatakan banyak hal pada Marcel, Cindy pergi meninggalkan Marcel yang tercenung mendengar amarah Cindy. Marcel mati kutu, tidak bisa membantah apapun, setelah tempo hari amarah Nema, sekarang amarah Cindy yang harus diterimanya. Dia seperti tertampar, dan benar-benar merasa gagal menjadi seorang ayah. Dia yang selama ini hanya mempedulikan bagaimana bisnisnya bisa berkembang dan terus berkembang.


Bahkan anak-anaknya dengan Liliana pun tidak pernah di perhatikannya, menurutnya selagi kecukupan materi terpenuni itu sudah lebih daripada cukup. Marcel terduduk dengan lutut bertumpu pada lantai, kepalanya menunduk, bahunya bergetar hebat dengan air matanya yang mengalir. rasa penyesalan yang teramat banyak yang saat ini dirasakannya.


"Sudahlah, semua sudah terjadi dan semua yang hilang tidak akan bisa kembali lagi. Tapi, kamu bisa mengganti yang hilang dengan yang baru, dengan yang lebih baik lagi, Mas," ucap Liliana menyentuh pundak Marcel yang sedang menunduk menangis.

__ADS_1


Marcel menegakkan kepalanya dan menghapus air matanya.


"Semua yang tidak pernah kamu berikan pada anakmu dulu, bisa kamu berikan Sekarang dan yang akan datang. yang penting kamu menyesali nya, Mas. Saat ini, Zalina memang belum bisa bertemu kamu, anggap saja itu hukuman untuk kamu mas, tapi percayalah dia akan segera kembali padamu, pada kita semua."


Marcel segera memeluk Liliana, Liliana pun terkejut melihat aksi suaminya tersebut, dia menarik sudut bibirnya dan menepuk pelan punggung suaminya.


"Maaf ... dan terima kasih," ucap Marcel lirih.


Mata Liliana berkaca-kaca mendengar kata yang diucapkan Marcel. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Marcel. Liliana tahu kalau saat ini, suaminya itu tengah dalam perasaan yang menyesal sangat dalam, suami yang selama ini kehadirannya seperti bayangan di keluarga kecil mereka, karena hanya mementingkan bisnisnya dan tidak ada waktu untuknya dan juga anak-anaknya.


**


Malam harinya, Aldo datang kerumah Zalina dengan membawakan buket bunga mawar putih. Dia berharap orang yang dicintainya itu sudah sembuh dan mau bertemu dengannya.


"Maaf, Nak Aldo. Zalina sudah istirahat, Nema enggak tega bangunin dia," ujar Nema.


"Ya udah ... Nema, enggak apa-apa. Tapi keadaan Zalina udah membaikkan Nema? Aldo hanya ingin tahu keadaan Zalina, Nema."


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik."


"Ya, Nak Aldo. Terima kasih sudah jenguk Zalina."


Aldo pun segerakan meninggalkan kediaman Zalina. Sedangkan Nema, masuk ke kamar Zalina menyerahkan buket bunga bawaan Aldo tadi.


"Cucu Nema ini, udah bikin Nema jadi terpaksa berbohong tahu gak sih," ucap Nema mencolek hidung Zalina.


Zalina hanya memajukan bibirnya dan memeluk Nemanya.


"Sampai kapan kamu enggak mau nemuin Aldo, toh besok-besok dia bakal kesini lagi, dia itu gigih banget dekatin kamu," ucap Nema sembari mengusap rambut Zalina.


"Zalina malu ketemu, Kak Aldo. bukan Kak Aldo saja Nema, Zalina merasa minder ketemu laki-laki," ucap Zalina Lirih.


" Astaghfirullah, Sayang ... tidak semua laki-laki berpikiran picik, Nak. kalau semua laki-laki berpikir picik, maka takkan mungkin ada laki-laki yang menikahi dan mencintai wanita malam atau mantan pela**r."

__ADS_1


Zalina terperangah mendengar ucapan Nemanya, Ya! kenapa dia harus berpikir seperti itu, bukankah dirinya masih baik-baik saja, bahkan dia beruntung orang sebaik Aldo masih peduli padanya.


"Wwaah, lagi cerita apa nih? seru kayaknya, mama ga diajakin," ujar Cindy yang menghampiri Zalina dan Nema dikamar.


"Kamu bawa, Cin?" tanya Nema.


"Mama tahu gak? kalo ternyata dirumah ini ada yang punya penggemar rahasia," ucap Cindy menaik turunkan Alisnya.


"Maksud kamu?"


"Ini ... tadi ada kurir yang antar buket bunga dan jus sirsak, katanya sih untuk cucu mama yang cantik ini, tapi gak ada pengirimnya, cuma ada kartu ucapan aja 'semangat sembuh'," ucap Cindy menyerahkan buket pada Zalina.


"Bunga yang sama seperti tempo hari, Zalina? dan jus Sirsak ini juga dari orang yang sama?"


"Mungkin, Ma. kata kurir tadi 2 barang ini untuk Zalina dari seseorang, tapi kurir itu tidak diberitahu siapa orangnya," jawab Cindy.


"Oalah, ternyata cucu Nema ini ada pengagum rahasia toh, Nema ikut penasaran? siapa ya orangnya?"


Zalina hanya menarik bibirnya sedikit tersenyum, diapun tampak berpikir siapa gerangan yang mengirimi dia jus sirsak serta bunga Daisy dan bungan Iris? Zalina pun bingung seperti tidak menemukan jawabannya, tapi entah mengapa dia menyukainya dan mencium bunga tersebut.


"Zalina, mama mau ngomong sesuatu boleh?," tanya Cindy.


Zalina menganggukkan kepalanya, dan meletakkan buket bunga tersebut di atas nakas.


"Mama ingin mengajak kamu ke Jakarta agar kamu punya suasana yang baru dan lingkungan yang baru, apa kamu bersedia ikut mama?"


Zalina hanya diam tidak memberikan jawaban apapun. Nema melihat kebingungan di wajah Zalina.


"Zalina, untuk sementara, setidaknya sementara ini kamu bisa bertukar suasana sehingga perasaan dan jiwa kamu menjadi lebih baik lagi. Lagian kamu juga sudah lama tidak liburan keluar kota, pergilah Nak! Nema tidak apa-apa, jangan mengkhawatirkan apapun di sini, lagian di rumah nanti akan ada mbak Asih dan kang Asep yang Nema minta tinggal di rumah, dan toko ada Rindu yang bantu juga, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Nema hanya ingin kamu seperti dulu lagi," ucap Nema menyentuh tangan Zalina dengan penuh permohonan.


Zalina menarik nafasnya, dia melihat harapan besar di mata Nema dan juga mamanya. "Baiklah, Zalina mau."


"Alhamdulillah," ucap Nema dan Zalina bersamaam.

__ADS_1


"Kalau begitu lusa kita berangkat ya, Nak?" ucap Cindy.


"Ya ... Ma," jawab Zalina menganggukkan kepalanya.


__ADS_2