
"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ...." Nema mendengar cerita Dewa begitu shock dan menangis histeris.
Sebelah tangan Nema terus meremas bajunya, dan sebelah lainnya mencari pegangan pada sisi ranjang yang Zalina tiduri.
"Nema ... apa Nema baik-baik saja? ayo, duduklah dulu!" ucap Aldo yang membawa Nema duduk di sofa.
"Hiks ... bagaimana bisa Zalina mendapatkan hal tersebut? apa salah cucuku? ya Allah, kasihan dia, aku yakin dia pasti ketakutan dan trauma sekali." Nema berkata dengan deraian air mata.
Nema sangat menyayangi Zalina, tidak pernah menyakiti hati cucunya tersebut, bagaimana mungkin cucu yang dibesarkannya disakiti oleh seorang pria bejat, bahkan akan menodainya. berkali-kali Nema beristighfar untuk menguatkan hatinya.
Aldo yang mendengar cerita Dewa pun tak kalah murka, dia pun berniat ingin menghajar Ferdy.
"Aku akan membuat perhitungan dengannya," ucap Aldo dengan kemarahan dan pergi dari ruangan tersebut.
"Kau tidak akan bisa menyentuhnya!" ujar Dewa.
"Apa maksud Anda, Pak Akbar?" tanya Aldo yang tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Dia sudah dijebloskan kepenjara, jadi ada pihak berwajib yang akan menanganinya." Dewa berbicara tanpa menolehkan pandangannya terhadap Zalina.
Aldo yang mendengar ucapan Dewa hanya meremas rambutnya frustasi. Dia seperti tidak berguna untuk Zalina saat ini.
"Tok ... "
"Tok ... "
"Tok ... "
Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut, dan orang tersebut adalah Marcel yang merupakan papanya Zalina.
"Bagaimana keadaan Zalina?" tanya Marcel pada semua orang di dalam ruangan.
Nema yang tersadar dengan suara seseorang, mengangkat kepalanya melihat ke sumber suara.
"Semua ini gara-gara kamu Marcel, gara-gara ke egoisanmu! lihatlah! dia putri kandungmu yang hampir di nodai oleh lelaki pilihanmu. Puas kamu sekarang! puas, hah!" Nema begitu marah melihat kedatangan Marcel.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Aku tahu aku salah, aku tidak menyangka semua ini akan terjadi, aku menyesal," ucap Marcel dengan penuh penyesalan.
"Kamu tidak pernah menyesal Marcel, dari dulu Kamu memang tidak mempedulikannya, yang kamu pedulikan adalah kebahagiaanmu sendiri. Pergilah! aku tidak mau kamu menjadikan cucuku lagi sebagai ladang bisnismu, bukan aku tidak tahu maksudmu menjodohkan dia dengan laki-laki bajingan itu, semua itu agar bisnismu tetap berjalan lancar dengan keluarganya. Sekarang juga pergilah, karena aku yakin saat Zalina sadarpun dia tidak akan mau melihat kehadiran mu," ucap Nema dengan penuh Emosi.
Marcel menunduk dan mengusap kasar wajahnya, ia tidak menolak semua ucapan mantan mertuanya tersebut. Ia mengakui, kalau kejadian ini juga karena kesalahannya. Marcel berniat meninggalkan ruangan tersebut, tapi urung melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Nema.
"Satu lagi yang harus kamu ingat, Marcel! dia memang darah daging mu, tapi aku yang membesarkannya, bukan kamu ataupun cindy. Jadi, mulai sekarang dan seterusnya, kamu tidak berhak mengatur kehidupannya, ingat itu!" Nema berkata tanpa menoleh ke arah Marcel.
Marcel memejamkan matanya menahan agar air mata penyesalan itu tidak menetes, menelan air ludah yang terasa berat di tenggorokannya. Ia pun kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Flashback OF
📞 "Hallo, Pak Marcel."
📞"Ya, hallo ... Pak Akbar, ada perlu apa menghubungi saya?"
📞"Maaf ... saya harus menghubungi Anda, karena tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, Zalina pingsan dan saat ini dirawat di RS X."
📞"Apa yang Anda bicarakan?"
📞"Saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar, silahkam datang kemari," ucap Dewa langsung mematikan panggilannya.
"Apa yang terjadi? kenapa Zalina bisa bersama Anda, Pak Akbar?" tanya Marcel.
Dewa Pun menceritakan apa yang sudah terjadi pada Zalina dan juga Ferdy yang ia jebloskan ke penjara. Marcel begitu terkejut mendengarnya, Setelah melihat kondisi Zalina, Marcel juga mengurus rawat inapnya dengan memilih ruangan VIP agar Zalina lebih nyaman.
"Pak Akbar, saya akan menghubungi nenek Zalina agar beliau datang kemari, sementara saya titip Zalina dulu, karena saya ingin ke kantor polisi."
Dewa hanya menganggukkan kepalanya.
Flashback ON
Nema terus menggenggam tangan cucunya berharap cucu kesayangannya itu segera bangun, Dewa dan Aldo sudah meninggalkan ruangan Zalina menjelang subuh tadi karena ada hal yang perlu mereka selesaikan. Zalina sadar setelah tidur cukup lama karena efek obat penenang yang diberikan oleh Dokter. Nema yang melihat pergerakan Zalina, merasa bahagia sekali.
"Sayang, ini Nema, Nak. Kamu butuh sesuatu?" tanya Nema.
__ADS_1
Zalina menatap Nema cukup lama, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Hikss ... Nema, Hiksss ... Zalina takut," ucap Zalina yang langsung memeluk Nema dengan tangisan menyayat hati.
"Huss ... sayang, sekarang ada Nema. Kamu tidak sendiri lagi, ada Nema jadi jangan takut, kamu aman di sini."
"Dia menyentuh Zalina, dia menyentuhku, aku jijik Nema, jijik ... " teriak Zalina yang tampak histeris kembali.
"Istighfar, Nak ... Istighfar. Ingat!! ada Allah yang tidak tidur, kamu harus kuat, Dia sudah di penjara dan dia harus menerima hukumannya. Jadi, tenanglah." Nema terus menenangkan Zalina.
Zalina mulai sedikit tenang, walaupun dimatanya tergambar kecemasan. Tidak berselang lama, Marcel pun masuk kedalam ruang rawat inap Zalina.
"Kamu sudah sadar, Nak?"
Zalina menoleh ke arah sumber suara, tapi kemudian menoleh kearah lain lagi.
"Nema, Zalina tidak ingin ditemui oleh siapapun, pokoknya siapapun, titik!" ucap Zalina masih membuang muka dari Marcel.
Nema yang mengerti perasaan Zalina hanya menghela Nafas pelan.
"Pergilah Marcel, saat ini Zalina masih ingin sendiri, biarkan dia tenang dulu," ucap Nema.
Marcel yang paham dengan situasi dan kondisi saat ini, dan tidak ingin membuat Zalina semakin histeris pun Keluar dari ruang rawat inap Zalina.
Setiap kali bayangan kejadian itu muncul di benaknya, Zalina menangis sesegukan, air matanya akan mengalir dengan sendiri.
"Nema tahu, apa yang kamu rasakan saat ini sangat membuat kamu terpukul. Tapi, mana Zalina yang Nema kenal, Zalina seorang perempuan cerdas yang tangguh dalam hal apapun. Zalina yang ceria, yang selalu bisa membuat Nema tersenyum bangga. Ayo Nak, kamu bisa melalui ini semua, setiap kamu mengingat hal itu, ingatlah Allah mari kita dekatkan diri kita lagi pada-Nya."
Nema memberikan semangat kepada Zalina, agar cucunya itu tidak larut dalam kesedihan. Zalina menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang diucapkan Nema.
"Zalina, apa kamu mau bertemu Rindu? Nema yakin, Rindu juga mengkhawatirkan kondisi kamu, Nak."
Zalina pun menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian Rindu pun masuk ke dalam ruangan. Rindu segera memeluk Zalina, mereka berdua menangis berpelukan.
"Hussh, sudah ... sudah, Beb. Padahal aku tadi kesini udah janji pada diriku untuk enggak nangis, tapi kamu malah ngajakin aku nangis, kan aku jadi ikut cengeng," ledek Rindu sembari menghapus air matanya dan juga air mata Zalina.
__ADS_1
"Sekarang dan selanjutnya tidak ada menangis lagi, hanya boleh tersenyum dan tertawa, dan sku akan menemani kamu, Lin," ucap Rindu yang diangguki oleh Zalina.
Rindu mendapat kabar dari Aldo setelah sholat Shubuh tadi, Aldo juga menceritakan bagaimana kondisi Zalina yang shock berat. Rindu juga menghubungi Nema dan bertanya kondisi Zalina, dan apakah ia boleh mengunjungi Zalina juga, setelah chat panjang lebar dengan Nema, disinilah ia sekarang. Dia akan menemani sahabatnya itu, agar tidak merasa sendiri, dan segera pulih kembali terutama psikisnya.