Muara Cinta Zalina

Muara Cinta Zalina
Bab. 50 Si biang Kerok


__ADS_3

Setelah 20 menit berlalu Zalina keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit d tubuh, sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil ditangannya.


Dia belum menyadari Dewa yang sudah terbangun, Zalina mengira suaminya tersebut masih terlelap tidur. Dengan santainya ia melenggang keluar kamar mandi sambil terus mengeringkan rambut. Dia mengambil pakaian ganti dan melepaskan handuk begitu saja hingga handuk itupun teronggok di lantai.


Dewa yang melihat pemandangan itu sudah panas dingin sedari tadi, melihat Zalina yang hanya menggunakan handuk sebatas paha saja sudah membuat ia menelan ludah, apa lagi tanpa menggunakan sehelai benang pun.


Saat Zalina akan memasangkan br* tidak sengaja matanya menghadap ke arah cermin meja rias. Alangkah terkejutnya ia saat tatapan matanya beradu dengan mata Dewa. Dewa yang menatap lurus dirinya sambil bersandar di kepala tempat tidur.


"Aaaaaaaaaa ..." teriak Zalina langsung mengambil handuk dari lantai.


"Ma-mas, kapan bangunnya?" tanya Zalina gugup bercampur malu.


"Udah sejak kamu mandi tadi," jawab Dewa dengan santainya.


"Jadi, dari tadi Mas udah lihat aku keluar dari kamar mandi?" Dewa mengganggukan kepalanya, tapi matanya masih menatap lurus Zalina.


"Mas Liat dari awal aku buka handuk?"


Lagi-lagi Dewa hanya mengangguk.


"Mas, ngapain liatin aku kayak gitu?" tanya Zalina yang salah tingkah dan bercampur malu. "Sana Mandi!"


"Cantik." Dewa memuji Zalina. "Lagian kenapa mesti pake teriak dan terkejut gitu? Lupa kalau udah nikah? jangan bilang yang tadi malam juga lupa?" tanya Dewa menaik turunkan alisnya.


"Dasar omes, Sana mandi." Zalina sungguh malu di godain oleh Dewa, ditambah mesti diingetin apa yang mereka lakukan tadi malam.


Dewa cengengesan dan mengambil handuknya.


"Sayang, mandi bareng yuk!"


"Ogah! bukannya mandi malah yang lain ntar yang terjadi."


"Hahahah, boleh juga idenya," ucap Dewa mengedipkan matanya.


Zalina memutar malas bola matanya. ia meninggalkan Dewa keluar kamar. Untung jenis kamar mereka presiden suite yang mempunyai bagian yang terpisah antara kamar tidur, ruang tamu dan dapur.


Dewa cengengesan melihat muka Zalina yang sudah memerah karena menahan malu. Dewa segera masuk kamar mandi, ia harus segera mendinginkan sesuatu yang sudah keburu bangun. Bisa berabe kalau lama-lama berada di dekat Zalina.


Setelah melakukan Shalat subuh mereka pun turun ke restoran hotel untuk menikmati sarapan pagi. Sepanjang jalan Dewa terus menggenggam tangan Zalina.


Zalina yang melihatnya tersenyum. Dia tidak menyangka kalau Dewa bisa seromantis ini.


"Kamu nggak malu atau risih kalau mas genggam seperti ini?" tanya Dewa saat mereka berada di dalam lift.

__ADS_1


Zalina tersenyum mendengar perkataan Dewa.


"Kenapa mesti malu, Mas? kan yang gandeng suami Zalina sendiri. Malu itu kalau digandeng sama suami orang."


"Kamu ini, jangan coba-coba kalau itu!"


"Ya nggaklah, Mas. Satu ini aja nggak habis-habis, masak mau nyoba yang lain lagi, palingan rasanya juga sama."


Dewa ngakak mendengar jawaban Zalina. Istrinya itu terkadang masih suka kelepasan berbicara, mungkin karena usianya masih tergolong muda jadi sudah terbiasa bicara tanpa filter.


"Ups, Hehehe ..." Maaf, Mas. Zalina menutup mulutnya. "maaf ya, Mas. Zalina masih suka bicara tanpa disaring dulu, kebiasaan bicara gini bareng sama Rindu," ucap Zalina cengengesan.


Dewa pun menggeleng kepalanya. "Nggak apa-apa, lagian Mas malah suka karena kamu menjadi versi dirimu sendiri, tanpa harus berubah menjadi versi orang lain."


Mereka pun tiba di restoran hotel, setelah sarapan yang mereka pesan datang, mereka pun menikmatinya. Mereka hanya sarapan berdua, karena keluarga mereka tidak ada yang ingin menginap d hotel, mereka pulang dan istirahat dirumah.


"Sayang, nginep di hotelnya masih lanjut atau kita pulang ke rumah?"


"Emang kenapa, Mas?" tanya Zalina.


"Nanti siang, Mas mau ke kantor dulu. Kebetulan tadi bawahan nelpon Mas, bilang kalau orang yang merencanakan kecelakaan pada Mas kemarin sudah tertangkap."


"Oh ya?" tanya Zalina kaget.


"Kalau begitu aku ikut ya, Mas. Aku mau tahu siapa orangnya," ucap Zalina.


"Okay," ucap Dewa. "Jadi gimana, kita tetap lanjut di sini gak? lumayan kalau di sini nggak ada gangguan."


Zalina mengerutkan keningnya.


"Nggak ada gangguan?" tanya Zalina.


"Iya, kita jadi bebas ...." Dewa menyatukan kedua ujung jari telunjuknya dan saling mengetukkannya.


"Ih, Mas. Dasar mesum."


"Mesum sama istri sendiri itu pahala loh, Mesum sama istri orang yang dosa," goda Dewa.


"Hahaha, gombal kamu Mas," Zalina tertawa pelan.


"Sayang, kamu pengen bulan madu ke mana?"


Zalina tampak berpikir sejenak.

__ADS_1


"Hmmm ... kalau nggak bulan madu gimana, Mas?"


"Loh, emang kenapa? biasanya pengantin baru itu 'kan pergi bulan madu? tapi kamu nggak mau pergi bulan madu."


"Gimana kalau kita Bulan Madu di rumah aja, Mas? bukankah Mas pernah bilang sama Bu Dewi, kalau setelah menikah kita akan tinggal di rumah kita sendiri? jadi aku penasaran Mas, gimana tempat tinggal kita nanti."


Dewa tersenyum dan mencium tangan Zalina.


"Baiklah kalau bagitu. Apapun yang kamu mau Mas akan nurutinnya."


"Makasih ya, Mas."


Setelah shalat dzuhur Zalina dan Dewa check out dari Hotel. Sebelum pulang ke rumah, mereka singgah ke kantor polisi terlebih dulu. Tiba di sana, para polisi yang sudah tahu maksud kedatangan Dewa pun langsung menghampirinya.


"Siang, Pak. Tersangka saat ini masih berada di ruang interogasi. Tersangka masih keras kepala dan bungkam untuk menjawab beberapa pertanyaan dari tim kita, Pak. Dia meminta untuk didampingi tim pengacaranya, dia mengatakan tidak akan menjawab apapun pertanyaan sampai pengacaranya hadir," ucap seorang petugas kepolisian.


"Baiklah, terima kasih informasinya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kerja keras kalian," ucap Dewa menepuk pelan pundak bawahannya tersebut.


"Sama-sama, Pak." ujar bawahan Dewa tersebut sambil memberi hormat.


Dewa pun mengajak Zalina masuk ke sebuah ruangan yang di atas pintu ada tulisan ruang interogasi. Saat pintu terbuka, di dalam ruangan itu hanya terdapat tiga orang. Dua orang laki-laki berseragam polisi dan satu orang wanita.


Dua pria yang berseragam polisi tersebut langsung berdiri dan memberi hormat saat Dewa memasuki ruangan. Sedangkan satu perempuan yang duduk dengan santai itu membalikkan badannya dan tersenyum sinis kepada Dewa dan juga Zalina.


"Hai, Mas Dewa."


"Kamu?" Dewa heran dan mengerutkan keningnya, melihat perempuan yang didepannya saat ini.


"Sepertinya kamu baik-baik saja, Mas? tidak ada yang perlu aku khawatirkan."


Zalina masih menatap bingung interaksi kedua orang tersebut.


"Jadi biang kerok semua ini adalah kamu Maura?" tanya Dewa. Ya, perempuan itu adalah Maura, temannya Dewi.


Maura tertawa terbahak sambil menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya, dan seketika dia langsung menghentikan tawanya dan menatap tajam kepada Dewa serta Zalina.


"Ya, aku yang melakukan semua ini pada mu, Mas. No ... no ... no ... bukan hanya padamu, tapi juga pada gadis ingusan murahan ini, ups ... aku lupa kalau gadis murahan ini adalah istrimu atau sugar babymu?"


"Lancang kamu, Maura! Tutup mulutmu!!!"


"Kenapa aku harus menutup mulutku, Mas? bukankah selama ini kau tidak pernah peduli padaku? jadi kalaupun sekarang aku bersuara dan melakukan apa semauku, kenapa kau harus peduli?"


"Aku memang tidak pernah peduli dan tidak ingin peduli padamu, tapi kalau kau sudah bermain dengan nyawa maka aku akan ikut turun tangan."

__ADS_1


__ADS_2